Jumat, 30 Okt 2026
light_mode

Dari Tolak Bala Hingga Mengayun: Jejak Tradisi Kelahiran di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara

  • account_circle Nur'ainun Ritonga
  • calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
  • print Cetak

Oleh: Nur’ainun Ritonga & Yunizar Ritonga
Dosen Bahasa dan Sastra Arab STAIN Mandailing Natal & Guru Sekolah Dasar Swasta Shinta Jaya, Labuhanbatu Utara

 

 

Kelahiran seorang anak bukan sekadar peristiwa biologis, tetapi juga peristiwa sosial dan sarat makna budaya. Di Kampung Mesjid, Labuhanbatu Utara, kelahiran masih diiringi sejumlah tradisi yang melibatkan keluarga, tetangga, mencerminkan nilai-nilai keagamaan, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Tradisi tersebut dipandang sebagai bagian dari ats-tsaqafah al- mahalliyah (الثقافة المحلية) yaitu budaya lokal yang tumbuh dari pengalaman, kebiasaan, nilai, dan pengetahuan masyarakat. Di dalamnya terdapat doa, harapan, makanan tradisional, praktik perawatan, serta berbagai simbol yang mencerminkan cara masyarakat memaknai kelahiran.

Jika dilihat dari perspektif antropologi budaya, rangkaian tradisi tersebut tidak hanya merupakan serangkaian upacara yang dilakukan menjelang atau setelah kelahiran. Di dalamnya terdapat cara masyarakat memahami kehidupan, membangun hubungan sosial, mewariskan pengetahuan, serta memberi makna terhadap setiap kelahiran. Karena itu, tradisi kelahiran dapat dipandang sebagai bagian dari kebudayaan yang terus hidup melalui praktik, simbol, makanan, istilah lokal dan cerita yang diwariskan antargenerasi.

Istilah Tolak Bala dan sajian Tradisional

Ketika usia kehamilan mendekati persalinan, sebagian keluarga mengundang saudara dan tetangga untuk datang ke rumah dan biasanya acara ini dilaksanakan pada malam hari usai salat Magrib atau Isya.  Al-Qur’an dibaca, zikir dilantunkan dan doa dipanjatkan agar ibu dan bayi memperoleh keselamatan. Kegiatan ini dikenal oleh masyarakat dengan istilah tolak bala. Selain bacaan Al-Qur’an, do’a dan zikir, para tamu juga disuguhi berbagai panganan tradisional, seperti kue talam, nasi manis (wajik), kue malako (Malaka), kue masidah, pisang, bortih dan makanan tradisional lainnya.

Diantara berbagai panganan tersebut, bortih menjadi salah satu sajian khas dalam tradisi tolak bala masyarakat Kampung Mesjid. Bortih dibuat dari beras yang disangrai hingga mengembang, kemudian diberi gula putih dan dicampurkan dengan kue-kue tradisional lainnya sebelum disajikan di atas talam.

Sajian sederhana tersebut bukan sekedar hidangan bagi tamu. Di dalamnya terdapat pengetahuan kuliner yang diwariskan dalam keluarga, sekaligus cara masyarakat membangun hubungan sosial melalui kegiatan berbagi makanan.

Ketika Bidan Medis dan Bidan Kampung Berdampingan

Seiring perkembangan zaman, masyarakat Kampung Mesjid kini memanfaatkan tenaga kesehatan atau bidan medis dalam membantu proses persalinan. Sedangkan bidan kampung memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan mayoritas masyarakat. Tidak hanya dalam perawatan tradisional setelah lahiran, sebelum persalinan (Qabla (قبل، para calon ibu masih datang untuk bekusuk (pijat tradisional). Kehadiran kedua peran tersebut menunjukkan bahwa perubahan zaman tidak serta merta memutus hubungan masyarakat dengan tradisi. Pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi tetap bertahan dengan menyesuaikan diri, berjalan berdampingan dengan layanan kesehatan modern dalam kehidupan masyarakat.

Setelah persalinan (Ba’da بعد،), dikenal beberapa praktik perawatan bagi ibu, antara lain bekusuk atau pijat, bapilis atau pilis, dan batangas atau tangas. Bekusuk merupakan tradisi urut atau pijat tradisional pada tubuh ibu pasca lahiran. Dalam pengetahuan masyarakat setempat, praktik ini dipercaya membantu memulihkan kondisi tubuh ibu setelah persalinan. Berikutnya bapilis atau pilis, yaitu praktik mengoleskan ramuan tradisional pada bagian dahi dan pelipis. Ramuan tersebut umumnya dibuat dari bahan-bahan rempah yang dihaluskan, kemudian dicampur sedikit air hingga berbentuk pasta. Dalam kepercayaan masyarakat, pilis digunakan untuk memberikan rasa hangat dan membantu mengurangi rasa tidak nyaman atau pusing pasca lahiran. Adapun batangas atau tangas merupakan praktik penguapan tradisional bagi ibu pasca lahiran. Tubuh ibu dipaparkan pada uap atau asap yang berasal dari ramuan tradisional yang telah direbus atau dibakar dalam wadah tertentu. Praktik ini merupakan bagian dari pengetahuan perawatan tardisional yang dilakukan oleh tukang urut atau bidan kampung dan diwariskan secara turun-temurun.

Berbagai tradisi tersebut merupakan bagian dari pengetahuan lokal masyarakat. Dalam penerapannya tentu perlu memperhatikan kondisi ibu dan bayi serta berjalan seiring dengan anjuran tenaga kesehatan. Bidan kampung juga menyiapkan nasi lado (nasi lada) yaitu panganan tradisional berupa nasi yang dipadukan dengan beragam rempah-rempah, serta minuman berbahan rempah. Sajian tersebut menghadirkan cita rasa gurih, hangat, dan aroma rempah yang khas menjadi bagian dari sajian tradisional yang diberikan kepada ibu setelah persalinan.

Upah-Upah dan Tradisi Menurunkan

Setelah kelahiran, sebagian keluarga melaksanakan tradisi mangupah upah atau upah-upah sebagai bentuk doa, harapan baik, nasihat dan penguatan bagi keluarga serta anak yang baru lahir. Dalam pandangan masyarakat, upah-upah juga berkaitan dengan upaya mengembalikan semangat atau tondi kepada sang ibu setelah melewati proses persalinan yang menguras tenaga dan membutuhkan kekuatan fisik dan mental.

Selain upah-upah, terdapat pula tradisi yang dikenal dengan istilah “menurunkan”. Dalam prosesi ini, bayi digendong oleh bidan kampung menggunakan Kain Panjang, kemudian dibawa keluar dari rumah dengan membawa payung dan beberapa perlengkapan bayi. Prosesi biasanya dilakukan di sekitar rumah, terutama di halaman dan diiringi oleh anak-anak hingga remaja.

Sesampainya di halaman rumah, kaki bayi diturunkan dan menyentuh tanah. Prosesi yang tampak sederhana tersebut memiliki makna sosial tersendiri. Bayi untuk pertama kalinya diperkenalkan kepada lingkungan di luar rumah dan kepada masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, kelahiran seorang anak tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi keluarga inti, tetapi menjaga kegembiraan bersama lingkungan sosialnya.

Aqiqah dan Mengayun Bayi

Aqiqah menjadi salah satu bentuk ungkapan syukur atas kelahiran anak. Sebagian keluarga yang memiliki kemampuan, melaksanakan aqiqah dan menyertakan tradisi upah-upah dan juga acara mengayun. Bayi diayun di dalam ayunan yang dibuat dalam bentuk beragam, salah satunya ayunan berbentuk miniatur bot atau perahu. Bentuk ayunan tersebut bukan sekedar hiasan tetapi juga mencerminkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan dan kehidupan sungai atau pesisir.  Dalam prosesi mengayun, bayi diletakkan di atas ayunan kemudian diayun secara perlahan sambil diiringi doa, lantunan shalawat atau nyayian tertentu, serta pembacaan barzanji. Pemberian nama dan mencukur rambut bayi juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan tersebut.

Namun, tidak semua keluarga menjalankan seluruh tradisi dengan cara yang sama. Pelaksanaannya dapat berbeda berdasarkan kemampuan, keyakinan, kondisi dan pilihan masing-masing keluarga. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa tradisi selalu mengalami penyesuaian dengan kehidupan masyarakat.

Menjaga Ingatan Tentang Kelahiran

Jika diperhatikan, rangkaian tradisi tersebut menunjukkan bahwa kelahiran di Kampung Mesjid bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Ada doa dalam tolak bala, sajian panganan tradisional, perawatan ibu, peran bidan medis dan bidan kampung, upah-upah, menurunkan hingga aqiqah dan mengayun bayi.

Tradisi tidak harus dipertahankan dalam bentuk yang kaku, terlebih penting adalah nilai, pengetahuan, istilah lokal dan cerita yang terkandung di dalamnya tetap dikenali dan didokumentasikan. Dalam hal perawatan ibu dan bayi, praktik tradisional juga perlu berjalan berdampingan dengan pengetahuan serta standar kesehatan modern. Sebab, ketika sebuah tradisi hilang, yang mungkin ikut hilang bukan hanya sebuah prosesi, tetapi juga istilah lokal, makanan tradisional, bahasa, pengetahuan para bidan kampung, serta cerita tentang bagaimana masyarakat dahulu menyambut kehidupan baru.

Pada akhirnya, seorang anak tidak lahir dan tumbuh sendirian. Ia hadir dalam pelukan keluarga, disambut oleh doa, diterima oleh masyarakat dan diperkenalkan pada nilai-nilai agama serta budaya yang hidup di sekitarnya. Dari tolak bala hingga menurunkan, dari upah-upah hingga aqiqah dan mengayun bayi, setiap tradisi menyimpan jejak tentang cara masyarakat Kampung Mesjid memaknai kelahiran. Merawat tradisi bukan sekedar menjaga masa lalu, tetapi menjaga ingatan dan identitas agar tetap dapat dikenali oleh generasi yang akan datang. ***

 

  • Penulis: Nur'ainun Ritonga
  • Editor: Dahlan Batubara

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daya Tarik Atika Bikin Kaum Ibu Desa Tabuyung Pilih SAHATA

    Daya Tarik Atika Bikin Kaum Ibu Desa Tabuyung Pilih SAHATA

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Kesamaan gender dengan calon wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Atika Azmi Utammi Nasution membuat sejumlah ibu rumah tangga di Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG), Madina, sepakat mendukung dan berkomitmen memilih pasangan calon (Paslon) Saipullah-Atika (SAHATA) pada Pilkada Madina 2024. Kesepakatan itu disampaikan […]

  • Model Syur Majalah Playboy Masuk Islam dan Berhijab

    Model Syur Majalah Playboy Masuk Islam dan Berhijab

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Di bulan suci penuh berkah ini seorang mantan model majalah pria dewasa, Playboy, mendapat hidayah untuk memeluk agama Islam, Kamis malam (3/7). Felixia Yeap, model asal Malaysia yang pernah berpose bugil di Majalah Playboy Filipina menggambarkan transisi perubahan dalam hidupnya sebagai seorang yang "lahir kembali". Dalam pesan yang diposting pada halaman facebook-nya, Yeap mengatakan kepada […]

  • Bupati Ambil Sumpah ASN Formasi Tahun 2018

    Bupati Ambil Sumpah ASN Formasi Tahun 2018

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) mengambil sumpah 170 ASN yang lulus seleksi tahun 2018 di gedung serbaguna Desa Parbangunan, Panyabungan. Pengambilan sumpah tersebut berdasarkan keputusan Bupati Madina nomor: 821.12/0250/K/2022 dan nomor: 821.14/0251/K/2022 tanggal 25 Febuari 2022. Dari 170 ASN yang lulus tersebut, 136 orang merupakan golongan III dan 34 orang golongan II. […]

  • Kejar Pelaku Jambret, Korban Tewas Ditabrak Mini Bus

    Kejar Pelaku Jambret, Korban Tewas Ditabrak Mini Bus

    • calendar_month Senin, 17 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PADANGSIDIMPUAN (Mandailing Online) – Seorang korban jambret di Padangsidimpuan tewas ditabrak mini bus ketika mengejar pelaku. Peristiwa penjambretan ini terjadi di Jalan Rajainal Siregar Batunadua Kota Padangsidimpuan, Minggu (16/1) siang. Berdasarkan informasi dari warga setempat, korban awalnya sedang mengendarai sepeda motor lalu tiba-tiba dipepet pelaku yang berboncengan dan menjambret tas milik korban. Korban kemudian mengejar […]

  • Akhir 2011, Seluruh Jembatan Lintas Pantai Barat Selesai Dikerjakan

    Akhir 2011, Seluruh Jembatan Lintas Pantai Barat Selesai Dikerjakan

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    P. Sidimpuan, Akhir tahun 2011, seluruh jembatan lintas pantai barat mulai dari Batang Toru menuju Batu Mundom hingga perbatasan Kabupaten Mandailing Natal (Madina) melewati Desa Hapesong-Hapesong Baru-Riniate selesai dikerjakan. “Ditargetkan paling lama Desember tahun ini, hampir seratus persen jembatan yang ada di lintas pantai barat sudah dapat dilalui, “ujar Bupati Syahrul M Pasaribu dalam safari […]

  • Yusuf-Imron Akan Perjuangkan Pengembangan Industri Kecil

    Yusuf-Imron Akan Perjuangkan Pengembangan Industri Kecil

    • calendar_month Sabtu, 5 Des 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    HUTABARGOT (Mandailing Online) –  Bahwa keterpurukan ekonomi yang melanda masyarakat harus menjadi perhatian yang serius. Karena itu pasangan calon bupati Mandailing Natal nomor urut 1 Yusuf Nasution-Imron Lubis akan gigih memperjuangkan anggaran bagi tumbuh kembangnya kelompok-kelompok usaha bersama (kube) di dalam masyarakat dalam rangka mendongkrak pertumbuhan ekonomi sehingga kesejahteraan dapat semakin meningkat. Itu yang dikatakan […]

expand_less