Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Penyematan Satu Nama Ruas Jalan Dibarter Satu Pulau? SungguhTerlalu!

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 3 Nov 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Minggu lalu tersiar satu kabar yang diinformasikan oleh Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Nasional Merah Johansyah. Ia menuliskan dalam akun twitter pribadinya bahwa 1 ruas jalan nama Presiden Joko Widodo Street di Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab ditukar dengan 256 ribu Ha di Kaltim. Ia menyebutkan bahwa luas 256 ribu Ha yang dibarter dengan nama Presiden tersebut sama dengan empat kali luas Jakarta. Wow, kelihatannya bisa membangun satu dinasti untuk UEA di Kaltim.

Menurut Johan, hal tersebut berkaitan dengan putra Mahkota Abu Dhabi yang menjadi ketua dewan pengarah Ibu Kota. Ia juga menyebutkan bahwa hal tersebut adalah peragaan bisnis pasca omnibus law Cilaka yang melindas buruh dan lingkungan. Johan Mera Merah juga menilai bahwa dalam Omnibus Law UU Cipta Kerja adalah  upaya menggadaikan sumber daya alam di Kaltim dengan dalih pemindahan Ibu Kota. Ia menegaskan menuju omnibus penggadaian selanjutnya berkedok proyek ibukota baru.

Fakta yang dikabarkan Johan terkait penamaan satu ruas jalan dengan nama Presiden Jokowi benar adanya. Sebab sebelumnya, melalui instagram pribadi Jokowi menceritakan namanya menjadi nama seruas jalan di Kota Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang diresmikan oleh Sheikh Khalid bin Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Chairman Abu Dhabi Executive Office.

Presiden mengatakan bahwa penyematan namanya adalah bentuk  penghargaan dan kehormatan. Namun bukan semata-mata untuk pribadi Jokowi tetapi untuk Indonesia. Jokowi lanjut mengatakan hal tersebut adalah sebuah gambaran betapa eratnya hubungan di antara dua negara yang kini bekerja sama dalam berbagai bidang. Masih menurut Jokowi, di balik penamaan jalan itu, tersimpan harapan hubungan kedua negara semakin kokoh, saling menguatkan, dan bermanfaat bagi rakyat Uni Emirat Arab dan Indonesia. (kompas.com. 22/10/2020).

Presiden boleh saja menilai penyematan namanya sebagai hal positif menurut hematnya. Akan tetapi, penilaian juga harus sesuai fakta, bukti dan analisis. Jika  sekedar menilai, yang ada hanya tipuan berkedok pencitraan. Apakah memang benar, bahwa penyematan nama Presiden Jokowi di UEA akan membawa manfaat bagi rakyat dan negeri ini? Manfaat seperti apa yang akan didapat? Tentu saja orang lain juga punya hak kebebasan yang dijamin untuk menyampaikan argument-argumen rasional dalam menyikapi setiap peristiwa. Termasuk peristiwa ini.  Rasanya sangat sulit mengaminkan pernyataan Presiden Jokowi.  Hal itu dapat dianalisis sebagai berikut.

Pertama, seperti yang disampaikan oleh Johan, bahwa penyematan nama Jokowi berhubungan dengan transaksi pelepasan lahan ratusan ribu hektar di Kaltim untuk Putra Mahkota Abu Dhabi sebagai dewan pengawas proyek ibukota baru. Artinya, penyematan nama itu bukanlah free. Bayangkan, satu ruas jalan dengan satu nama dibarter dengan satu wilayah yang luasnya bias mencapai satu  pulau? Sungguh terlalu.

Kedua, barter seperti itu sangat irrasional. Pasti ada kesepakatan yang sebenarnya tidak terpublikasi antara pemerintahan Jokowi- UEA terkait kepentingan yang menguntungkan mereka. Terlebih jika dikaitkan dengan  syahwat rencana pemindahan ibukota ke pulau Kalimantan. Dan UEA terlibat  didalamnya  sebagai dewan pengurus sekaligus merangkap sebagai bagian investor yang akan memberikan utang bagi Indonesia. Prinsip simbiosis kapitalisme akan berjalan antara Indonesia- UEA. Jika alasannya demikian, baru rasional dibarter dengan ratusan ribu ha tanah. Sebab utang investasi yang ditanam oleh UEA pun tidak akan sedikit dan tentunya haram rugi. Begitulah watak kapitalisme sesungguhnya. 

Ketiga, tidak cukup hanya dengan barter tanah/pulau. Tanah-tanah yang dijanjikan juga tidaklah sembarang tanah kosong. Tetapi tanah yang subur untuk menanam investasi baik untuk tanaman maupun isi pulau berupa sumber daya alam yang tersimpan dalam perutnya. Dapat tanah, plus bonus sumber kekayaannya. Bukankah Indonesia memiliki 13 ribu pulau yang sebagian besar belum terjamah dan masih banyak menyimpan misteri kekayaan? Para investor asing, apakah itu China, USA, UEA, Korea, Autraslia jelas saja sangat bersemangat menjadi partner bisnis pembangunan ibukota baru. Karena keuntungan yang didapat berlipat-lipat dari modal yang dikeluarkan. Watak kapitalisme bukan?

Ketiga,  Presiden Jokowi mengatakan bahwa penyematan namanya adalah kebanggan bagi Indonesia dan bermanafaat dalam relasi bilateral kedua Negara. Oh really? Kebanggan bagi Indonesia maksudnya seperti apa? Bukankah yang ditulis jadi satu ruas jalan hanya nama Jalan Jokowi bukan Jalan Indonesia? Lalu, kenapa Indonesia harus bangga? Mungkin secara personal, Jokowi merasa tersanjung dan bahagia.Tetapi Jokowi jangan salah, sebelumnya juga sudah ada nama tokoh nasional yang namanya disematkan di ruas jalan Negara luar. Tapi tak memberi pengaruh apapun, selain hanya tulisan. Dan andai beberapa tahun kemudian, UEA mencabut nama Jokowi dari jalan tersebut, apakah itu menandakan hubungan jadi memburuk? Apakah baik-buruk relasi bilateral dipengaruhi oleh nama ruas jalan? Very imposibble! Darimana menilainya?

Keempat, secara karakter alamiah, masyarakat negeri ini memang suka disanjung dan dipuji. Khususnya para pejabat atau penguasa. Bahkan sampai lupa diri. Dulu juga pernah Ada mantan Presiden mendapat gelar kehormatan Ratu Inggris. Apakah semua itu membuat Indonesia lebih baik dimata dunia? Atau semakin kuat posisinya di panggung politik global? Atau ekonominya semakin membaik dari penyematan gelar-gelar tersebut? Dari sanjungan-sanjungan yang diberikan? Terkadang musuh sangat lihai membaca karakter lawannya untuk menguasai kelemahannya. Tetapi sayang, yang dikuasai malah merasa terlena seperti di atas awan. Hingga semakin bisa dikuasai dan terus dikuasai.

Inilah hakikat nyata karakter Penguasa negara – Negara yang mengadopsi ideologi kapitalis. Antar penguasa kapitalis akan memainkan dan menerima perannya dengan dua posisi. Sebagai peraih untung atau yang buntung. Jokowi merasa beruntung dengan investasi asing yang ditanamkan para pemodal dalam mega proyek ibukota baru, karena impian hadirnya infrasturktur supermegah dan modern segera terwujud. Namun yang sebenarnya posisi Jokowi dan Indonesia adalah buntung.

Disisi lain, para investor telah menghitung-hitung keuntungan yang akan diraih. Mulai dari keuntungan bagi negaranya, rakyatnya, pribadinya serta kelompoknya. Proyek diterima, modal ditanam, tenaga kerja dibawa, serta keuntungan pribadi masuk rekening. Sementara Negara yang dibangun seperti Indonesia, hanya fisik yang berubah, dan dibangun di atas utang yang akan membebankan rakyat. Memangkas lapangan kerja, menumpuk utang riba, menggadaikan tanah air, hingga menguasaia sumber daya alam yang seharusnya milik rakyat dan demi kesejahteraan hidup manusia didalamnya. Inikah keuntungan dari relasi bilateral atau multilateral dengan Negara-negara kapitalis?

Sungguh terlalu! Rakyat harus disuguhkan dengan informasi kecil dan menyembunyikan kebenaran yang pahit. Sudah seharusnya praktik-praktik kedzaliman kapitalisme segera diakhiri. Tentu saja harus dengan mencampakkan kapitalisme itu sendiri, lalu menggantinya dengan sistem Islam yang akan mensejahterakan dan membawa berkah bagi pertiwi. Serta mampu   memutus ketergantungan utang terhadap Negara-negara serakah kapitalis.

Dengan demikian, mengakhiri hubungan yang fasad dan batil kepada Negara asing kapitalis adalah kewajiban bersama masyarakat negeri ini. Saling mengajak untuk menerapakan aturan Islam bersama dari semua kalangan masyarakat. Tidak ada solusi lain untuk Indonesia lebih baik selain dengan Islam. Meskipun partner mega proyek pembangunan negeri ini bersama negeri muslim seperti UEA, hakikatnya juga termasuk Negara penganut kapitalisme tulen yang bahkan hanyalah boneka-boneka Tuan Amerika dan China. Wallahu a’lam bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dukung Ekonomi Kerakyatan, Cabup Harun Mustafa Nasution Makan Lontong Sertek di Sipolu Polu

    Dukung Ekonomi Kerakyatan, Cabup Harun Mustafa Nasution Makan Lontong Sertek di Sipolu Polu

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungan ( Mandailing Online): Calon Bupati Madina nomor 1 Harun Mustafa Nasution membuktikan komitmen untuk mendukung UMKM dan ekonomi kreatif serta menyatu bersama rakyat. Pagi ini 17/10/2024 Harun Mustafa Nasution makan lontong bersama sejumlah tokoh masyarakat di Kelurahan Sipolu Polu, Kecamatan Panyabungan. Harun sendiri datang ke warung lontong sertek yang ada di jalan mesjid Alfalah […]

  • Tanpa Sapujagat

    Tanpa Sapujagat

    • calendar_month Selasa, 26 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Er Gham Kok Malaysia bisa. Padahal masalahnya sama. ———————– Membaca komentar Er Gham di Disway Jumat lalu itu saya langsung menghubungi ahli satu ini: Prof Dr Hendri Saparini. Dia terkenal dalam urusan “menghadirkan kembali fungsi negara dan rakyat untuk menegakkan kedaulatan pangan Indonesia”. Dia bisa bicara fasih apa yang dilakukan oleh Malaysia. Dr Saparini […]

  • Gara-gara Parkir Sepeda Motor, Mahasiswa UMSU Bentrok

    Gara-gara Parkir Sepeda Motor, Mahasiswa UMSU Bentrok

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sesama Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Sumatera Utara (UMSU) terlibat bentrok, gara-gara parkir sepeda motor di pelataran parkir Kampus UMSU, Jalan Mukhtar Basri, Medan, Rabu (02/03/2011) sore. Salah seorang pemilik warung yang dekat dengan pelataran parkir mengatakan, tawuran antar mahasiswa terjadi pada saat mahasiswa sore masuk ke kampus sekitar pukul 15.00 WIB. “Awalnya seorang mahasiswa memakirkan […]

  • Alih Status Pegawai KPK Menjadi ASN : Apakah KPK Masih Independen?

    Alih Status Pegawai KPK Menjadi ASN : Apakah KPK Masih Independen?

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rahma Hayati, M.Pd   Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 2020 Tentang Pengalihan Pegawai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Menjadi Pegawai Aparatur Sipil Negara (ASN) resmi diterbitkan. Perturan tersebut ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 24 Juli 2020 dan diundangkan pada 27 Juli 2020. Dengan terbitnya aturan ini, maka pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi […]

  • Kasus Spanduk Bupati Madina Pemakai Sabu-Sabu Bisa Picu Konflik Horizontal

    Kasus Spanduk Bupati Madina Pemakai Sabu-Sabu Bisa Picu Konflik Horizontal

    • calendar_month Selasa, 24 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasus spanduk di kota Panyabungan tahun 2012 lalu yang menuduh bupati Madina pemakai narkotika jenis sabu-sabu dan sempat masuk ranah hukum hingga kini tak diketahui akhir penanganannya. Kasus spanduk ini menyeret Ketua Umum Gemmpar (Gerakan Masyarakat Mahasiswa Pemantau Aparatur Negara), Ramlan T Daulay, S.Sos sebagai pihak yang dituduh menghasut pembuatan dan […]

  • Pelunasan untuk Guru Swasta Dulu

    Pelunasan untuk Guru Swasta Dulu

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Kemenag Cicil Hutang Tunjangan Sertifikasi JAKARTA, – Kementerian Agama (Kemenag) akhirnya menunjukkan tanda-tanda kewalahan menuntaskan tunggakan hutang pembayaran sertifikasi guru. Mereka memutuskan melunasinya dengan sistem dicicil. Pelunasan dimulai tahun depan dengan mendahulunan guru swata. Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Nur Syam menuturkan bahwa total hutang Kemenag untuk membayar sejumlah tunjangan, termasuk tunjangan sertifikasi […]

expand_less