ALS: Kisah Sang Raja Jalanan Membelah Rimba Tropis demi Masa Depan Anak Mandailing dan Sumatera
- account_circle Moechtar Nasution
- calendar_month 29 menit yang lalu
- print Cetak
Oleh: Moechtar Nasution
Forum Lintas Studi Tulila*

Sang Raja Sumatera yang Membelah Kesunyian Rimba
Kalau ada yang berpikir bepergian menuju Medan atau Jawa adalah soal memesan tiket penerbangan murah, duduk manis dua jam, lalu mengeluh karena ruang kaki yang sempit, mereka baru saja melewatkan salah satu drama kebudayaan terbesar di aspal Indonesia. Di bawah dominasi langit biru maskapai penerbangan, ada sebuah raksasa hijau tua yang menolak tunduk pada diktator waktu: PT Antar Lintas Sumatera (ALS).
Bus ini dijuluki sebagai sang raja jalanan Sumatra, dikarenakan keberaniannya membelah kesunyian rimba tropis Sumatera demi menghantarkan anak-anak Mandailing menuju tanah pengharapan. Inilah kisahnya, inilah sejarahnya, inilah faktanya.
Membelah pekatnya belantara Sumatra bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah ritual menjinakkan “Setan Hijau” (De Groene Duivel)—begitu orang Belanda dulu gemetar menjuluki rimba raya yang sunyi, berkabut, dan sarat aura mistis ini. Namun bagi armada ALS, jalur legam yang dikepung kanopi hijau raksasa itu justru menjadi panggung rumah mereka, di mana raungan mesin tangguh dengan anggun menembus kesunyian fajar, menyapa aroma tanah basah pasca-hujan dan belaian kabut tipis yang dingin, lalu mengubah ketakutan kolonial masa lalu menjadi harmoni perjalanan yang asyik bagi para mahasiswa dan perantau yang merindukan pulang atau ingin berjibaku di medan perjuangan untuk merubah kehidupan.
Bagi mereka yang menjadi penghuni tetap kabin ALS—menghabiskan hari demi hari di dalam pelukan kursinya saat menimba ilmu ke kota Medan, Padang, Pakanbaru hingga Palembang—seperti berkuliah di Universitas Sriwijaya bersama ratusan mahasiswa lainnya—atau bagi mereka yang melaju jauh ke tanah Jawa untuk mengadu nasib sebagai perantau, ALS bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah gerbang pertama perjuangan, sebuah ruang kelas informal pra-kampus yang berjalan di atas roda, dan tempat di mana jutaan takdir masyarakat perantau dan mahasiswa dipertaruhkan sepanjang jalur lintas Sumatera. Saya termasuk penumpang setia menggunakan bus ini saat kuliah di Medan dahulu di tahun 1996.
Ketika bus meluncur membelah kegelapan malam, memotong rapatnya belantara hutan Bukit Barisan yang sunyi dan diselimuti kabut tebal, di situlah mental para perantau dan para calon sarjana ini mulai diuji dan ditempa. Kesunyian dan gelapnya rimba Sumatra di luar jendela seolah menjadi latar belakang yang megah bagi riuhnya mimpi-mimpi yang sedang dirajut di dalam kabin.
Dari Chevrolet Purba hingga Kesetiaan Bintang Tiga
Napas kultural yang berembus di dalam kabin bus ini sejatinya telah ditiupkan sejak 29 September 1966 di bumi Mandailing Natal. Lahir dari tangan dingin H. Sati Lubis bersama saudara-saudaranya sesama saudagar hasil bumi di Kotanopan, ALS tidak dirancang padukan di atas meja korporasi yang dingin.
Modal awalnya adalah truk-truk pengangkut hasil hutan yang kemudian bermutasi menjadi angkutan penumpang. Romantisme purba itu dimulai hanya dari dua unit bus moncong Chevrolet C50 Antar Lintas Sumatera yang merayap membelah jalur lokal Kotanopan menuju Medan pulang-pergi (PP). Tidak lama setelah merintis jalur lokal tersebut, ALS juga memperluas trayek awalnya ke rute Medan – Bukittinggi. Lintasannya kala itu bukanlah tol Trans-Sumatra yang mulus, melainkan jalanan tanah berbatu yang dikepung rimba belantara. Dahulu dikenal dengan julukan “Liku Sembilan”. Dari titik historis inilah terlihat bagaimana tekad besi para pencari ilmu dan petarung hidup mulai ditempa untuk menaklukkan jarak dan mengubah nasib keluarga. Tahun 1970-an, mulai beralih menjadi bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dengan membuka jaringan trayek ke berbagai kota besar di Pulau Sumatra seperti Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Jambi, Bengkulu, Palembang, hingga Bandar Lampung.
Ketika infrastruktur berkembang pada era 1980-an, sang raja jalanan Sumatra ini mengukir sejarah emas dengan menjadi pionir pertama yang nekat menyeberangkan bus utuh menggunakan kapal Ferry Ro-Ro melintasi Selat Sunda. Langkah berani ini seketika meruntuhkan sekat geografis, membuka rute langsung dari Medan hingga ke ujung Jawa di Jember. Perjalanan epik sejauh tiga ribu kilometer ini menjadi pembuktian ketangguhan yang tiada dua. Ini rute terpanjang di Indonesia. Jika disinonimkan perjalanan ini seperti dari London di Inggiris menuju Beirut di Libanon.
Menariknya, di saat PO bus lain kerap bergonta-ganti sasis demi mengikuti tren kosmetik, ALS tetap setia pada jalan lintasnya bersama sasis asal Jerman, Marcedes-Benz. Bagi manajemen dan para kru, memilih sasis bukan sekadar urusan estetika, melainkan perkara harga diri di atas jalur ekstrem. Menaklukkan liukan maut Sitinjau Lauik atau tanjakan kritis Sumatra seperti Lurah Baringin dan jalur ekstrim Kuburan Duo dan yang lainnya membutuhkan mesin dogmatis yang tangguh dan tidak manja. Deru khas mesin “Kuler” OH 1521 yang legal hingga desis halus suspensi udara unit modern di bawah lantai kabin menjadi lagu kebangsaan jalanan yang memberi garansi rasa aman bagi ratusan bahkan ribuan mungkin juga sudah jutaan nyawa mahasiswa dan perantau yang membawa tumpukan buku serta mimpi besar di tas mereka.
Rahim bagi Para Akademis, Birokrat, Guru dan Perantau yang berhasil
Kursi-kursi yang berderit itu sebenarnya adalah rahim dari lahirnya para intelektual dan tokoh besar. Tanpa ada catatan administratif resmi, sejarah migrasi darat mencatat bahwa bangku dingin ALS adalah saksi tidur tempat meringkuknya jutaan anak muda yang berangkat dengan modal nekat demi pendidikan dan pekerjaan. Di sinilah, berpuluh-puluh tahun lalu hingga hari ini, duduk para calon guru yang akan mencerdaskan bangsa, pengacara papan atas yang bersidang di pengadilan ibu kota, akademisi yang sekarang sudah menjadi guru besar, perwira tinggi TNI dan POLRI yang kelak mengenakan bintang di pundak, birokrat kementerian yang merumuskan kebijakan, anggota legislatif dan yudikatif hingga para perantau yang telah sukses mengepakkan sayap bisnisnya diperantauan.
Perjalanan berhari-hari menembus kerasnya jalanan Sumatra yang tidak semulus sekarang menuju gerbang kampus atau kota-kota perantauan di Sumatera dan Jawa adalah “pelatihan mental” non-formal pertama mereka sebelum menghadapi kerasnya rimba akademis dan dunia profesional. Keterbatasan ruang kaki, guncangan tanpa henti, dan kepulan debu jalanan justru menempa mereka menjadi manusia tangguh yang tahu arti sebuah proses. Mereka belajar tentang daya tahan, kesabaran, dan kegigihan langsung dari aspal jalanan, sebuah modal hidup berharga yang tidak akan pernah mereka dapatkan dari ruang kelas mana pun.
Otoritas Serikat di Balik Sebaris Angka
Keunikan sosiologis ALS kian menebal melalui mistisismenya tersendiri berupa sebaris angka di lambung bus yang dikenal sebagai nomor pintu atau akrab disebut nopin. Bagi orang awam, angka ini mungkin dikira nomor registrasi operasional biasa. Namun, nomor pintu adalah manifesto silsilah keluarga pemilik modal. Struktur internal ALS yang berbentuk serikat pemilik modal membuat tiap nomor pintu memiliki otoritas mandiri yang mencerminkan karakter pemiliknya, mulai dari keluarga Lubis, Nursewan, hingga jajaran direksi utama.
Sistem desentralisasi yang unik ini melahirkan kompetisi internal yang sehat namun sangat personal. Sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan pelaju daerah bahwa beda nomor pintu berarti beda pula dunianya. Beda nomor pintu berarti beda gaya mengemudi sopirnya—ada yang terkenal santai, ada yang terkenal sebagai penakluk waktu yang agresif. Beda nomor pintu juga berarti beda tingkat kebersihan kabinnya, variasi fasilitas interiornya, bahkan beda pula ritme kecepatan jalannya menuju tempat perantauan. Penumpang senior bahkan memiliki daftar nomor pintu favorit mereka sendiri, sebuah pengetahuan lokal yang diturunkan antar-generasi perantau demi mendapatkan pengalaman perjalanan terbaik.
Panggilan Subuh dan Ikatan Persaudaraan Asal
Di balik ketangguhan fisik menembus rimba, ada nilai spiritualitas mendalam yang mengakar kuat di aspal jalan lintas Sumatera. ALS diakui sebagai bus pertama yang mengenalkan tradisi istirahat di saat azan subuh bergema. Trip Kotanopan – Panyabungan – Medan sangat mempedomani ini. Ketika fajar menyingsing dan panggilan azan Subuh bersahut-sahutan di udara Sumatra yang dingin, sang sopir tidak akan memacu mesinnya demi mengejar waktu atau setoran. Kru bus akan dengan sabar mencari masjid terdekat, memarkirkan badan busnya yang besar di halaman pelataran, sembari suara ramah kondektur membuka pintu kabin dan membangunkan penumpang yang lelap untuk turun sejenak menunaikan perintah salat subuh. Auranya memang sangat berbeda.
Nilai religius ini berkelindan erat dengan rasa kemanusiaan kolektif yang sangat kental. Di setiap pemberhentian apakah rumah makan atau masjid, menjadi sebuah kebiasaan sakral bagi kru untuk selalu mengingatkan penumpang yang sudah duduk kembali agar melihat ke kanan dan kirinya: “Coba tengok kawan sebelahnya, apakah masih ada yang belum masuk bus?” Ini bukan sekadar formalitas, melainkan wujud kepedulian komunal yang memastikan tidak ada satu pun jiwa yang tertinggal setelah jeda istirahat. Di ruang liminal ini, keselamatan dan kebersamaan rombongan adalah hukum tertinggi yang dijunjung bersama.
Itulah salah satu keunikan yang sejak dahulu menjadi tradisi yang dijunjung dan dihormati para kru. Makanya bagi para perantau Sumatera di Jawa jika bertemu bus ini diperantauan sedikit banyaknya “lungun niroha” ke kampung halaman terobati. ALS bermetaforfosis sebagai “jembatan” kerinduan yang intim dan bersahaja.
Saat saya menulisi ini, saya mencoba scroll ditiktok dan menemukan tontonan yang sangat unik. Terlihat seorang bapak dengan kenderaan pribadi mendekati dengan memepet bus ALS di jalanan sembari tangan kanannya memegang beberapa lembar uang yang kemudian disambut “kernet” sembari mengeluarkan muka dan tangan kanan sambil mengucapkan terimakasih. Suatu bentuk ketulusan dan keikhlasan yang sederhana. Mungkin bisa jadi si bapak itu dulunya merantau dengan menumpang ALS. Melankolis bukan?
Naik sebagai Penumpang, Turun sebagai Saudara
Jiwa dari perjalanan epik ini dijaga oleh para sopir batangan, kru tetap yang mengomandoi armada lintas pulau ini selama berhari-hari di jalanan. Mereka adalah kombinasi langka antara nakhoda karismatik, petarung jalanan, dan mekanik andal yang menemani di sepanjang jalan. Satu armada jarak jauh biasanya diisi oleh dua hingga tiga sopir dan dua kenek yang hidup, makan, dan tidur bersama di dalam kabin temaram. Ketika bus mengalami kendala teknis di tengah pekat dan sunyinya hutan Sumatra, tidak ada ruang untuk menunggu layanan derek modern. Dengan tangan yang legam oleh oli, para sopir ini akan turun ke aspal, mendiagnosis mesin secara mandiri, dan menghidupkan kembali denyut nadi armada.
Dari rahim perjuangan hidup dan mati di jalanan inilah, sebuah kearifan lokal yang paling mengharukan lahir. Ada rahasia umum yang diwariskan dari mulut ke mulut di kalangan perantau dan mahasiswa berkantong tipis: dulu, jika uang di dompet sudah pas-pasan dan tidak ada lagi sisa untuk membeli makan di rumah makan, cukup jumpai dan ketuk hati sang sopir. Insyaallah, urusan perut selama sisa perjalanan akan aman. Tanpa banyak tanya, sang sopir akan menarik tangan sang mahasiswa atau perantau malang itu, mengajaknya duduk bersama di meja khusus kru bus, lalu menjamunya makan dengan lauk yang sama dengan yang mereka makan. Di sinilah falsafah kultural “Naik sebagai penumpang, turun sebagai saudara” bukan sekadar slogan kosmetik di kaca bus, melainkan sebuah ikatan kekeluargaan organik yang sakral untuk menyelamatkan lambung sekaligus martabat manusia di tengah kerasnya roda kehidupan. Bahkan banyak perantau yang gagal di tano pandaraman pulang ke kampung menaiki bus ini dengan ongkos seadanya. Itu fakta sejarah..!!
Kode Sapaan Klakson Lintas Pulau
Kehangatan komunal bus ini tidak hanya terwujud secara internal di dalam kabin, melainkan juga terpancar ke sesama saudara hijau di aspal jalan raya. Setiap kali ada dua armada bus ALS yang saling berpapasan—baik di kelokan sunyi jalur Sumatra hingga ke jalur cepat di Pulau Jawa—terdapat sebuah ritual wajib yang tidak tertulis: mereka wajib saling menyapa dengan membunyikan klakson. Saya tidak tahu pastinya sekarang apakah masih seperti itu.
Perhatikanlah kode suara itu. Bunyi klakson tersebut bukti empiris tentang sinyal pengikat persaudaraan, pengingat solidaritas, dan penegas rasa kekeluargaan yang sangat kental di perantauan. Di tengah kerasnya aspal lintas provinsi yang penuh marabahaya, sapaan klakson itu seolah menjadi mantra pelindung yang saling berbisik: “Hati-hati di jalan, Kawan, kita mengemban misi dan takdir yang sama.” Bagi para penumpang fanatik dan mahasiswa yang mendengarnya, klakson balasan itu selalu berhasil menghadirkan rasa tenang, sebuah konfirmasi visual bahwa mereka berada di bawah perlindungan sebuah keluarga besar jalanan yang saling menjaga.
Alunan Musik dan Akulturasi Lintas Bahasa
Suasana batin di dalam bus kian terasa intim dan magis ketika malam merayap di Jalur Lintas Sumatera. Di tengah temaram lampu kabin, terjadi ruang akulturasi linguistik berjalan yang unik. Mahasiswa asal Mandailing Natal, Tapsel, Toba, Karo, hingga perantau Jawa yang sudah menetap di Sumatra saling bertukar dialek dalam bahasa campuran khas jalintas. Keintiman ini semakin pekat saat tape bus mulai memutarkan alunan musik daerah yang mendayu-dayu.
Lagu-lagu Mandailing legendaris seperti “Terminal ALS” milik Yenti Morta seolah mengalun menjadi mantra pelipur lara di sepanjang jalan. Lirik yang bercerita tentang air mata perpisahan di depan loket, lambaian tangan yang berat, dan janji suci perantau seakan beresonansi langsung dengan dada para mahasiswa dan pengembara yang terdiam menatap kaca jendela yang berdebu. Musik itu bukan sekadar hiburan pengusir kantuk bagi sopir; ia adalah medium katarsis, sebuah perekat emosional yang menyatukan seluruh isi bus dalam satu frekuensi kerinduan dan harapan yang sama.
“Bangku Tempel” jelang Lebaran
Namun, semua romansa keteraturan nomor pintu itu seolah luruh ketika kalender mendekati bulan Ramadan dan denyut mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri mulai memuncak. Di sinilah lahir sebuah fenomena musiman yang sangat ekstrem sekaligus legendaris: fenomena “bangku tempel”.
Di saat arus mudik membeludak dan tiket reguler sudah lumat terjual habis memaksa hukum pasar jalanan mulai berlaku. Demi mengakomodasi ribuan perantau dan mahasiswa yang didera rasa rindu akut dan tidak rela melewatkan Idul Fitri di tanah orang, pihak bus mengeluarkan kebijakan darurat yang luar biasa humanis.
Mereka menambahkan kursi-kursi tambahan darurat berupa bangku plastik, bangku kayu kecil, atau papan yang sengaja “ditempelkan” dan dijajarkan secara paksa di sepanjang lorong tengah (gangway) bus, memotong jalur berjalan di antara kursi reguler kaki dan kanan. Bagi para pelaju yang terpaksa mendudukinya, bangku tempel adalah sebuah siksaan fisik yang brutal—tanpa sandaran punggung yang layak, tanpa ruang gerak kaki, dan terombang-ambing selama puluhan jam perjalanan menembus rute darat. Saya beberapa kali mengalami ini.
Anehnya, fenomena ini tidak pernah melahirkan amarah. Alih-alih mengeluh, kabin bus justru dipenuhi tawa dan rasa maklum diselingi tangisan anak-ana. Hanya di bus ini dengan mudah ditemukan kain panjang atau ”parompa” diikatkan untuk mengayun “mambue-bue” anak kecilnya supaya bisa tidur.
Duduk berhimpitan di atas bangku tempel menjelma menjadi simbol solidaritas tertinggi sesama pengembara. Semua orang menurunkan ego, melipat kaki lebih rapat agar lorong darurat itu muat, karena semua paham: di atas bangku tempel yang keras itu, ada mimpi anak manusia yang sedang berjuang keras demi bisa mencium tangan keriput ayah dan ibunya di hari raya kemenangan.
Atap Lambang Kebebasan Ekonomi Rakyat
Lanskap visual bus ini pun menasbihkan dirinya sebagai “Raja Paket” Nusantara jika mendongak ke atas melihat atap bus yang sarat akan muatan yang menggunung tinggi menyerupai punuk unta. Di era ketika transportasi lain menghitung bagasi secara ketat dan mengenakan tarif per kilogram yang mencekik leher, atap ALS adalah simbol kebebasan ekonomi mikro rakyat yang mengagumkan.
Mulai dari sepeda motor, tumpukan paket logistik, ban serep berukuran raksasa, hingga kardus-kardus dan goni berisi beras makanan kiriman orang tua, semuanya diikat dengan tali yang kokoh di atas sana. Atap bus itu adalah penyambung rindu yang nyata. Ia menjadi ruang bertumpunya cinta dan doa dari orang tua di kampung halaman yang mengirimkan modal kehidupan serta beras terbaik hasil panen untuk anaknya yang sedang berjuang di ruang-ruang kuliah atau rimba beton perkotaan. Atap yang sarat muatan itu adalah penanda visual bahwa bus ini sedang membawa beban kehidupan sekaligus harapan dari ribuan keluarga di pelosok Sumatra.
Modernitas Tanpa Meninggalkan Tradisi
Meski sarat akan romansa masa lalu dan cerita-cerita klasik jalanan, raksasa hijau ini tidak pernah menutup mata dari sengatan modernitas yang menuntut kenyamanan lebih. Kesegaran armada terbaru mereka tetap terlihat nyata lewat adopsi bodi mutakhir Jetbus 5 MHD besutan Karoseri Adiputro. Sentuhan lampu LED depan yang tajam, aerodinamis, dan futuristik kini berpadu apik dengan skema warna hijau klasik yang legendaris.
Ketika armada ini memasuki terminal, ia langsung mencuri perhatian dengan tampilannya yang gagah namun tetap membawa identitas historisnya. Di dalam kabin eksekutif terbarunya, para penumpang, mahasiswa, dan perantau dimanjakan dengan kursi ergonomis yang empuk, dilengkapi dengan penopang kaki (leg rest), toilet yang bersih, hingga port pengisian daya modern untuk memastikan gawai mereka tetap menyala sepanjang jalan. Langkah peremajaan ini membuktikan bahwa ALS mampu merawat tradisi dan nilai-nilai lamanya dengan sangat baik tanpa harus mengorbankan kenyamanan dan tuntutan teknologi zaman sekarang. ALS 381 unit baru special edition dan ini jawabannya. Unit baru ini kemungkinan dipersiapkan untuk memperkuat rute jarak jauh (seperti lintas Malang – Surabaya – Jakarta – Medan atau rute Kotanopan). Kehadirannya sekaligus menandai peremajaan kelas premium PO ALS yang genap berusia 60 tahun pada hari Selasa nanti.
Jamuan Kehormatan Jemaah Haji
Kepedulian dan kehangatan sosial ALS tidak berhenti di bangku kabin dan warung lintas pulau saja. Nilai-nilai kemanusiaan ini termanifestasi nyata hingga ke institusi tertinggi manajemen. Selama sepuluh tahun terakhir ini, jajaran direksi ALS secara konsisten merawat sebuah tradisi mulia di Asrama Haji. Mereka secara rutin menjamu makan para jemaah haji Mandailing Natal, dan kabupaten/ kota lainnya. Para Duyufurrahman (tamu Allah) disuguhkan dengan masakan otentik gulai khas Mandailing lengkap dengan lauk pauk tradisional seperti daun ubi tumbuk sebelum keberangkatan atau sesudah kepulangan dari ibadah suci di tanah suci.
Menu ini disuguhkan khusus untuk mengobati rasa rindu jemaah haji pada cita rasa kampung halaman mereka yang otentik. Di tengah momen emosional ibadah haji, aroma gulai yang harum dan kehangatan sambutan dari manajemen bus legendaris ini menjadi jembatan batin yang sangat membekas. Tradisi kedermawanan ini membuktikan bahwa manajemen ALS mengemban tanggung jawab kultural dan keagamaan yang besar. Mereka tidak melihat masyarakat hanya sebagai konsumen, melainkan sebagai kerabat dekat dan tamu agung yang patut dimuliakan sebelum dan sesudah melintasi perjalanan spiritual terjauh mereka.
Sebuah Epilog Perjuangan di Atas Roda
Menjadi bagian dari penghuni tetap kabin ALS menuju tempat menimba ilmu atau mengadu nasib di tanah Jawa adalah sebuah tindakan sadar dan bertanggung jawab untuk menghargai proses sebuah perjuangan hidup. Di atas roda-rodanya yang berputar konstan melintasi batas-batas provinsi, waktu dibiarkan mengalir dengan jujur tanpa ada yang berusaha mempercepatnya.
Para penumpang seolah diajak untuk menikmati pergantian lanskap alam yang megah—dari perkebunan sawit yang luas, hamparan sawah, hingga pegunungan yang hijau—jalan sempit, jurang yang menganga, tanjakan dan tikungan maut sembari mendengarkan obrolan hangat dan renyah dari sesama perantau di dalam kabin sembari mendengarkan lagu Mandailing, Batak, Minang, Karo dan yang lainnya.
Perjalanan ini mengingatkan setiap orang untuk merenungkan kembali tanggung jawab besar dan mimpi yang menanti di ujung pemberhentian nanti. Selama api rindu akan kampung halaman, alunan musik Mandailing yang syahdu, ketaatan beribadah sholat di pinggir jalan, dan semangat membara untuk mengubah nasib tetap menyala di dada manusia Sumatera khususnya anak Mandailing maka sang raja jalanan lintas Sumatra ini dipastikan akan selalu bergerak maju, menjadi saksi tidur sekaligus bidan lahirnya generasi-generasi pemenang berikutnya.
Penutup
Boleh disebut tidak ada lagi kota di sepanjang jalan Sumatera dan Jawa yang tidak memiliki kantor perwakilan ALS dan Selasa nanti, 29 September 2026 genap sudah usia PT.ALS (Antar Lintas Sumatera) 60 tahun. Terimakasih banyak telah mewarnai kehidupan dan peradaban. Di atas bus inilah, ribuan bahkan jutaan cerita perjalanan, tawa, tangis dipahat selama berhari-hari di jalanan. ALS telah bertahan melewati transformasi zaman yang silih berganti dan kepemimpinan nasional yang berganti setiap lima tahun sekali dan satu hal yang pasti ketangguhannya hingga mencapai usia 60 sekarang ini adalah cermin semangat dan kegigihan orang-orang Mandailing yang pantang menyerah.
Sejarah perjalanan panjang hingga hari ini tentunya adalah bentuk pengabdian, kejuangan, keberanian, kepeloporan dan yang pastinya semua itu dirawat dengan kecintaan, kekeluargaan dan persaudaraan. Di momen Diamond Jubilee ulang tahun ke-60 PT Antar Lintas Sumatera (ALS) ini, kehadiran unit baru New ALS 381 Special Edition Jetbus 5 MHD eks-pameran GIIAS ini menjadi simbol kebangkitan yang memicu gelombang doa dan rasa haru dari para perantau Sumatra.
Doa-doa terbaik pun mengalir agar bus legendaris ini semakin jaya, selalu diberi keselamatan di setiap perjalanan membelah nusantara, serta terus menyejahterakan seluruh krunya dalam mengemban amanah sebagai jembatan penghubung kasih sayang menuju kampung halaman.
Horas! Horas! Horas!
Selamat Ulang Tahun ALS kebanggaan,
Selamat Ulang Tahun Bus sarat legenda dan kenangan,’
Selamat Ulang Tahun Bus persaudaraan dan kekeluargaan,
Selamat Ulang Tahun Bus bersejarah pembentuk peradaban.
Dari Kotanopan untuk Indonesia, mengukir sejarah di setiap jengkal aspal nusantara.
Wallohu Aqlam Bisshawab…
- Forum Lingkar Studi Tulila adalah Lembaga nirlaba tempat eksperimen berpikir dan ruang diskusi terbuka—sebuah ikhtiar kecil untuk menjadi kurator nalar dan peradaban di tanah kelahiran.
- Penulis: Moechtar Nasution
- Editor: Dahlan Batubara




