Sulhan Nasution Soroti Pengadaan Benih Distan Madina, Dorong Penangkaran Bersertifikat
- account_circle Muhammad Hanapi
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Sulhan Nasution Tokoh Pemuda dan Pemerhati Pertanian
MADINA||Mandailing Online – Sulhan Nasution menyoroti pengadaan benih dan bibit pada Dinas Pertanian Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang nilainya ratusan juta rupiah.Ia mendorong pemerintah daerah membangun penangkaran benih bersertifikat untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap bantuan tahunan.
Gagasan itu, menurut Sulhan, berangkat dari pengamatan langsung terhadap kondisi di lapangan. Ia menilai, pengadaan benih tidak cukup diukur dari besarnya anggaran atau laporan penyaluran bantuan. Pemerintah juga perlu memastikan realisasi dan manfaatnya bagi petani.
Sulhan mengatakan, ia telah lama menyuarakan pentingnya membangun kemandirian benih di Madina. Menurut dia, pemerintah daerah dapat memulainya dari satu jenis komoditas, kemudian mengembangkannya secara bertahap dengan melibatkan tenaga berpengalaman.
“Muara akhirnya tetap petani juga. Jangan biarkan anggaran negara habis tanpa hasil nyata, sementara potensi SDM daerah tersedia,” tulis Sulhan dalam pernyataan yang dikirim ke redaksi Mandailing Online, Selasa (20/10).
Ia menilai, kebijakan pertanian semestinya tidak berhenti pada pemberian bantuan setiap tahun. Pemerintah perlu membangun sistem penyediaan benih yang berkelanjutan, disertai transparansi anggaran dan pengawasan penyaluran.
Menurut Sulhan, kepala dinas tidak cukup hanya menjalankan anggaran dan membagikan bantuan. Pejabat tersebut juga bertanggung jawab memastikan penggunaan anggaran sesuai ketentuan, tepat sasaran, serta memberikan manfaat nyata bagi petani.
Karena itu, ia meminta Dinas Pertanian Madina membuka informasi pengadaan benih dan bibit kepada publik. Informasi tersebut mencakup nilai anggaran, jenis dan jumlah barang, penyedia, kriteria penerima, realisasi penyaluran, hingga evaluasi hasil program sesuai ketentuan keterbukaan informasi publik.
“Jangan berhenti pada laporan bahwa bantuan sudah disalurkan. Masyarakat juga berhak mengetahui dampak dan hasilnya,” ujarnya.
Sulhan mencontohkan Komunitas PINARA yang mengolah sabut kelapa menjadi cocopeat sebagai salah satu gambaran pemanfaatan potensi lokal. Menurut dia, sumber daya daerah dapat memiliki nilai ekonomi apabila mendapat pembinaan dan pengembangan yang serius.
Ia mendorong pembangunan penangkaran benih bersertifikat di Madina dengan melibatkan petani berpengalaman, penyuluh pertanian, akademisi, serta penangkar lokal. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar program tersebut tidak hanya menjadi proyek pengadaan, tetapi berkembang menjadi sistem produksi benih yang berkelanjutan.
Bagi Sulhan, evaluasi program bantuan menjadi bagian penting dari upaya memperbaiki kebijakan pertanian. Pengadaan perlu dilakukan secara terbuka, penyaluran dapat ditelusuri, dan hasilnya harus bisa diukur.
Ia berharap pemerintah daerah tidak terus mengulang pola bantuan tahunan tanpa evaluasi yang jelas. Anggaran pertanian, menurut dia, semestinya menjadi instrumen untuk memperkuat kemampuan petani, bukan sekadar memenuhi realisasi belanja.
“Yang dibutuhkan adalah kebijakan yang tepat, transparansi anggaran, pengawasan penyaluran, dan keberanian membangun kemandirian benih Madina. Bukan sekadar bantuan setiap tahun, tetapi sistem yang membuat petani mandiri dan sejahtera,” tulisnya.
Dari data yang didapat memang, Dinas Pertanian Madina mengalokasikan anggaran untuk pengadaan bibit senilai Rp.399.174.450 yang bersumber dari APBD tahun 2026 Yang dipecah menjadi 20 komuditas.( fikri )
- Penulis: Muhammad Hanapi




