Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Apa Kabar Dana Desa, Sudahkah Tumbuh Ekonomi Desa?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 10 Des 2018
  • print Cetak

Ketika pemerintah Indonesia mengucurkan Dana Desa, salah satu poin penting yang dikampanyekan pemerintah adalah : Dana Desa harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi desa adalah bergeraknya roda perekonomian warga desa. Pergerakan perekonomian warga ini akan mendorong kian kencangnya perputaran uang di desa itu akibat usaha-usaha yang dikelola warga semakin tumbuh.

Dana Desa sejak awal diharapkan mampu merangsang kelancaran aktifitas usaha warga desa, sehingga geliat usaha orang per orang di desa kian kencang akibat adanya daya dorong dari item-item program yang didanai Dana Desa.

Apakah Dana Desa telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi desa di Mandailing Natal? Atau apakah 5 hingga 10 tahun ke depan sudah tergambar pertumbuhan ekonomi desa sebagai dampak dari daya dorong Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir? Ataukah “Dana Desa Habis-Rakyat Tetap Miskin”? Silahkan ditelusuri.

Pakar-pakar ekonomi telah me-warning bahwa uang bukan modal utama dalam upaya merangsang pertumbuhan ekonomi desa. Dana Desa adalah uang, tetapi dana yang dikucurkan kepada program yang nihil kajian akan berakhir dengan kegagalan.

Merangsang pertumbuhan ekonomi desa membutuhkan kajian-kajian konkrit dan ril melalui tim survey profesional untuk menghasilkan cetak biru. Tanpa cetak biru akan memustahilkan sasaran Dana Desa tepat sasaran.

Tak dapat disangkal, mayoritas pemerintah desa selama musim Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir terkesan masih bingung dalam memahami potensi desa, budaya masyarakat desa-nya, kendala dan peluang desa. Kondisi ini mengakibatkan kucuran Dana Desa belum mampu menimbukan kecerahan perekonomian masyarakat desa.

Paling tidak, apatisme di tengah-tengah masyarakat desa yang masih tinggi telah memberikan sinyal dan menunjukkan fakta bahwa Dana Desa masih belum mampu memberikan peluang untuk keberkembangan dan kemajuan mata pencaharian mereka ke arah yang lebih baik.

Dana Desa selam ini hanya ternikmati oleh sebagian warga melalui jasa : yakni upah kerena ikut dalam pekerjaan konstruksi meliputi jalan rabat beton pemukiman, pipanisasi air bersih dan lainnya yang bersifat menerima gaji tiap tahapan kucuran Dana Desa alias musiman, atau paling banter terlibat dalam pengelolaan BUMDes.

Dana Desa belum mampu mendorong perbaikan usaha yang selama ini digeluti mayoritas penduduk desa.

Oleh karena itu, upaya mensinergiskan antara Dana Desa dengan kebutuhan ril penduduknya harus menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten dan kecamatan agar Dana Desa tahun depan mampu menjawab tantangan perekonoman penduduk desa.

 

Segmen

Jenis-jenis usaha yang dirangsang melalui Dana Desa ini banyak segmen, tergantung ragam potensi yang ada di wilayah desa dan telah pula membudaya di dalam masyarakat desa.

Untuk mayoritas desa di Mandailing Natal, segmen usaha yang memiliki modal primitif (sumber daya alam) adalah kebun, ladang, perikanan dan peternakan. Sementara sebagian kecil adalah persawahan.

Sedangkan segmen industri dan jasa umumnya masih berfokus di kota-kota kecamatan yang secara mayoritas masih dalam lingkup kelurahan, bukan desa.

Untuk persawahan (yang lahan kebunnya sangat minim sehingga masyarakatya mayoritas bersawah dan budidaya ikan) secara geografis berada di sebagian kecamatan Siabu dan Natal sehingga kalkulasi tingkat keberhasilan daya dorong dari Dana Desa untuk segmen sawah dan perikanan memiliki peluang keberhasilan.

Di dua kecamatan ini, masih banyak ditemukan luas pengelolaan sawah antara 0,8 hingga 1,5 hektar  per kepala keluarga. Investasi pemerintah desa dalam bentuk program yang merangsang pertumbuhan ekonomi petani sawah dan ikan masih belum mengkhawatirkan kegagalan. Sebab, luas 1 hektar sawah per/KK masih berada dalam tingkat ekonomi sedang.

Berbeda dengan desa dengan modal primitif kebun. Mengucurkan dana untuk segmen sawah di kawasan desa yang mayoritas kebun (dimana umumnya sawah sangat sedikit) akan berresiko gagal alias “Dana Habis Petani Sawah Tetap Miskin”. Sebab, rata-rata luas pengelolaan sawah di desa berkategori modal primitif-nya kebun umumnya hanya sekitar 0,3 hingga 0,5 hektar  per kepala keluarga.

Invesatasi dari Dana Desa untuk segmen sawah di desa berkategori modal primitif kebun akan berresiko gagal alias “Dana Habis Petani Sawah Tetap Miskin”. Sebab, bagaimanapun seriusnya pemerintah desa merangsang pendapatan petani sawah, jika lahan per KK hanya rata-rata 0,3 hingga 0,5 hektar maka petani tetap tak tertolong, karena pendapatan dari lahan 0,5 hektar itu tak cukup mensejahterakan warga. Oleh karenanya, investasi dari Dana Desa hanya layak ke segmen kebun.

Berdasar kondisi itu, sebaiknya pemerintah desa berkategori ini memfokuskan pada infrastruktur perkebunan. Sebab, petani sawah yang hanya bergelut di lahan yang 0,5 hektar dapat dialihkan pendapatan primernya dari sawah ke segemen kebun.

Pemerintah Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia telah berhasil “mengusir” petani sawah ke segmen non sawah, disebut dengan istilah “konsolidasi lahan”. Sebgaian besar petani sawah beralih ke sektor industri dan jasa, dan petani sawah yang tersisa terkonsolidasi untuk meneglola lahan seluas 5 hingga 10 hektar per KK.

Mandailing Natal tentunya bukan Amerika Serikat, Jepang atau Malaysia yang mampu membangun industri dan jasa dengan memulainya dari sisi regulasi yang ketat hingga dukungan akses-akses jalan tol dan pelabuhan laut, desa-desa Mandailing Natal mayoritas berkategori kawasan kebun sebagai modal primitif-nya sehingga merangsang pertumbuhan perkebunan menjadi sangat relevan untuk fokus Dana Desa.

Perkebunan sebagai segmen utama untuk memfokuskan Dana Desa memiliki akar yang kuat, sebab, mayoritas kecamatan di Mandailing Natal adalah kawasan perkebunan. Budaya masyarakat secara mayoritas juga berkebun. Sisanya segmen peternakan.

Sektor lain semacam industri tak akan mampu dirangsang. Industri di Mandailing Natal masih disandera oleh ketidaksiapan infrastruktur jalan dan pelabuhan laut. Pelaku indutri akan kalah bersaing dengan pelaku industri dari daerah lain yang sudah terdukung infrastruktur.

Oleh karena itu, pemerintah desa yang berkategori segmen kebun sebagai basis modal primitif-nya harus mengkaji peluang-peluang pengembangan perkebunan bagi warganya. Dan pemerintah daerah, pemerintah kecamatan hingga TPID (Tim Pelaksana Inovasi Desa) harus juga turut mendorong pemerintah desa ke segmen ini.

Dan mendorong saja juga tak bakalan maksimal, dibutuhkan kajian yang profesiaonal terhadap seluruh sektor di desa itu utuk mengahasilkan cetak biru sebagai landasan perencanaan pembangunan desa. (Dahlan Batubara)

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dinas Perdagangan Madina dan Mahasiswa Akan Mendata di Pasar Tradisional dan Pasar Rakyat

    Dinas Perdagangan Madina dan Mahasiswa Akan Mendata di Pasar Tradisional dan Pasar Rakyat

    • calendar_month Kamis, 23 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar 10 mahasiswa dari dua perguruan tinggi melakukan magang dan praktikum di Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut. Para mahasiswa akan melakukan pendataan pluktuasi jumlah pedagang di seluruh pasar tradisional dan pasar rakyat yang ada di Madina. Dua perguruan tinggi itu adalah STAIN Madina yang mengirim 6 mahasiswa smester 8 […]

  • Pimpinan DPRD Madina Harus Mengagendakan Hak Interpelasi

    Pimpinan DPRD Madina Harus Mengagendakan Hak Interpelasi

    • calendar_month Rabu, 10 Des 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menyusul telah secara resmi 26 anggpta DPRD Mandailing Natal (Madina) mengusulkan hak interpelasi kepada bupati, maka pimpinan DPRD Madina harus mengagendakannya menuju paripurna. Dalam temu pers, Rabu (10/12) Binsar Nasution, salah seorang yang menandatangani usul hak interplasi itu menyatakan bahwa jumlah tandatangan anggota dewan yang mengusulkan hak interpelasi itu […]

  • KAMI BUKAN PKI

    KAMI BUKAN PKI

    • calendar_month Jumat, 22 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – “Kami ini bukan PKI, kami ini bukan pemberontak, kami juga bukan teroris.  Masa begini dibuat,” kata seorang ibu rumah tangga. Perempuan ini berteriak ditengah kerumunan ribuan massa yang memblokir jalan negara Lintas Sumatera di titik Desa Jambur Padang Matinggi, Panyabungan Utara, Mandailing Natal (Madina), Jum’at 22 Maret 2013. Dia berteriak bahwa […]

  • Biaya Jembatan Selat Sunda Rp100 triliun

    Biaya Jembatan Selat Sunda Rp100 triliun

    • calendar_month Selasa, 7 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA : Biaya pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang membutuhkan dana minimal Rp100 triliun tak bisa ditutup jika hanya mengandalkan tarif tol. Namun diperlukan juga semacam sumber pembiayaan lain. “Dari hasil Pra Feasibility Study kita memperoleh hasil dengan nilai investasi US$10 miliar, itu tidak bisa dikembalikan semata-mata hanya mengandalkan tarif tol saja,” kata Direktur Utama […]

  • Kemhan Pantau Isu Penyadapan Rombongan KTT G-20

    Kemhan Pantau Isu Penyadapan Rombongan KTT G-20

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    JAKARTA, – Isu penyadapan terhadap rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam KTT G-20 di Inggris tak hanya didalami Badan Intelijen Negara (BIN). Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga meneliti kasus ini agar tidak menjadi ancaman nasional. “Kita sekarang masih dalami. Supaya harus jelas, harus dilacak darimana sumber awal informasinya itu,” ujar Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dalam […]

  • Warga Lembah Sorik Marapi Siap Menangkan Saparuddin-Miswar

    Warga Lembah Sorik Marapi Siap Menangkan Saparuddin-Miswar

    • calendar_month Senin, 23 Nov 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MAGA (Mandailing Online) – Sambutan hangat dan antusias diberikan warga Lereng Sorik Marapi yang terdiri dari beberapa kelurahan/desa kepada pasangan calon Bupati-Wakil Bupati Mandailing Natal nomor urut 3, Saparuddin Haji-Miswaruddin Daulay, SPd. Sambutan hangat tersebut terlihat saat Saparuddin Haji bersilaturahmi ke Kelurahan Pasar Maga, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Kamis (20/11). Salim, salah seorang tokoh masyarakat […]

expand_less