Minggu, 9 Agu 2026
light_mode

Apa Kabar Dana Desa, Sudahkah Tumbuh Ekonomi Desa?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 10 Des 2018
  • print Cetak

Ketika pemerintah Indonesia mengucurkan Dana Desa, salah satu poin penting yang dikampanyekan pemerintah adalah : Dana Desa harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi desa.

Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi desa adalah bergeraknya roda perekonomian warga desa. Pergerakan perekonomian warga ini akan mendorong kian kencangnya perputaran uang di desa itu akibat usaha-usaha yang dikelola warga semakin tumbuh.

Dana Desa sejak awal diharapkan mampu merangsang kelancaran aktifitas usaha warga desa, sehingga geliat usaha orang per orang di desa kian kencang akibat adanya daya dorong dari item-item program yang didanai Dana Desa.

Apakah Dana Desa telah berhasil mendorong pertumbuhan ekonomi desa di Mandailing Natal? Atau apakah 5 hingga 10 tahun ke depan sudah tergambar pertumbuhan ekonomi desa sebagai dampak dari daya dorong Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir? Ataukah “Dana Desa Habis-Rakyat Tetap Miskin”? Silahkan ditelusuri.

Pakar-pakar ekonomi telah me-warning bahwa uang bukan modal utama dalam upaya merangsang pertumbuhan ekonomi desa. Dana Desa adalah uang, tetapi dana yang dikucurkan kepada program yang nihil kajian akan berakhir dengan kegagalan.

Merangsang pertumbuhan ekonomi desa membutuhkan kajian-kajian konkrit dan ril melalui tim survey profesional untuk menghasilkan cetak biru. Tanpa cetak biru akan memustahilkan sasaran Dana Desa tepat sasaran.

Tak dapat disangkal, mayoritas pemerintah desa selama musim Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir terkesan masih bingung dalam memahami potensi desa, budaya masyarakat desa-nya, kendala dan peluang desa. Kondisi ini mengakibatkan kucuran Dana Desa belum mampu menimbukan kecerahan perekonomian masyarakat desa.

Paling tidak, apatisme di tengah-tengah masyarakat desa yang masih tinggi telah memberikan sinyal dan menunjukkan fakta bahwa Dana Desa masih belum mampu memberikan peluang untuk keberkembangan dan kemajuan mata pencaharian mereka ke arah yang lebih baik.

Dana Desa selam ini hanya ternikmati oleh sebagian warga melalui jasa : yakni upah kerena ikut dalam pekerjaan konstruksi meliputi jalan rabat beton pemukiman, pipanisasi air bersih dan lainnya yang bersifat menerima gaji tiap tahapan kucuran Dana Desa alias musiman, atau paling banter terlibat dalam pengelolaan BUMDes.

Dana Desa belum mampu mendorong perbaikan usaha yang selama ini digeluti mayoritas penduduk desa.

Oleh karena itu, upaya mensinergiskan antara Dana Desa dengan kebutuhan ril penduduknya harus menjadi perhatian serius pemerintah kabupaten dan kecamatan agar Dana Desa tahun depan mampu menjawab tantangan perekonoman penduduk desa.

 

Segmen

Jenis-jenis usaha yang dirangsang melalui Dana Desa ini banyak segmen, tergantung ragam potensi yang ada di wilayah desa dan telah pula membudaya di dalam masyarakat desa.

Untuk mayoritas desa di Mandailing Natal, segmen usaha yang memiliki modal primitif (sumber daya alam) adalah kebun, ladang, perikanan dan peternakan. Sementara sebagian kecil adalah persawahan.

Sedangkan segmen industri dan jasa umumnya masih berfokus di kota-kota kecamatan yang secara mayoritas masih dalam lingkup kelurahan, bukan desa.

Untuk persawahan (yang lahan kebunnya sangat minim sehingga masyarakatya mayoritas bersawah dan budidaya ikan) secara geografis berada di sebagian kecamatan Siabu dan Natal sehingga kalkulasi tingkat keberhasilan daya dorong dari Dana Desa untuk segmen sawah dan perikanan memiliki peluang keberhasilan.

Di dua kecamatan ini, masih banyak ditemukan luas pengelolaan sawah antara 0,8 hingga 1,5 hektar  per kepala keluarga. Investasi pemerintah desa dalam bentuk program yang merangsang pertumbuhan ekonomi petani sawah dan ikan masih belum mengkhawatirkan kegagalan. Sebab, luas 1 hektar sawah per/KK masih berada dalam tingkat ekonomi sedang.

Berbeda dengan desa dengan modal primitif kebun. Mengucurkan dana untuk segmen sawah di kawasan desa yang mayoritas kebun (dimana umumnya sawah sangat sedikit) akan berresiko gagal alias “Dana Habis Petani Sawah Tetap Miskin”. Sebab, rata-rata luas pengelolaan sawah di desa berkategori modal primitif-nya kebun umumnya hanya sekitar 0,3 hingga 0,5 hektar  per kepala keluarga.

Invesatasi dari Dana Desa untuk segmen sawah di desa berkategori modal primitif kebun akan berresiko gagal alias “Dana Habis Petani Sawah Tetap Miskin”. Sebab, bagaimanapun seriusnya pemerintah desa merangsang pendapatan petani sawah, jika lahan per KK hanya rata-rata 0,3 hingga 0,5 hektar maka petani tetap tak tertolong, karena pendapatan dari lahan 0,5 hektar itu tak cukup mensejahterakan warga. Oleh karenanya, investasi dari Dana Desa hanya layak ke segmen kebun.

Berdasar kondisi itu, sebaiknya pemerintah desa berkategori ini memfokuskan pada infrastruktur perkebunan. Sebab, petani sawah yang hanya bergelut di lahan yang 0,5 hektar dapat dialihkan pendapatan primernya dari sawah ke segemen kebun.

Pemerintah Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia telah berhasil “mengusir” petani sawah ke segmen non sawah, disebut dengan istilah “konsolidasi lahan”. Sebgaian besar petani sawah beralih ke sektor industri dan jasa, dan petani sawah yang tersisa terkonsolidasi untuk meneglola lahan seluas 5 hingga 10 hektar per KK.

Mandailing Natal tentunya bukan Amerika Serikat, Jepang atau Malaysia yang mampu membangun industri dan jasa dengan memulainya dari sisi regulasi yang ketat hingga dukungan akses-akses jalan tol dan pelabuhan laut, desa-desa Mandailing Natal mayoritas berkategori kawasan kebun sebagai modal primitif-nya sehingga merangsang pertumbuhan perkebunan menjadi sangat relevan untuk fokus Dana Desa.

Perkebunan sebagai segmen utama untuk memfokuskan Dana Desa memiliki akar yang kuat, sebab, mayoritas kecamatan di Mandailing Natal adalah kawasan perkebunan. Budaya masyarakat secara mayoritas juga berkebun. Sisanya segmen peternakan.

Sektor lain semacam industri tak akan mampu dirangsang. Industri di Mandailing Natal masih disandera oleh ketidaksiapan infrastruktur jalan dan pelabuhan laut. Pelaku indutri akan kalah bersaing dengan pelaku industri dari daerah lain yang sudah terdukung infrastruktur.

Oleh karena itu, pemerintah desa yang berkategori segmen kebun sebagai basis modal primitif-nya harus mengkaji peluang-peluang pengembangan perkebunan bagi warganya. Dan pemerintah daerah, pemerintah kecamatan hingga TPID (Tim Pelaksana Inovasi Desa) harus juga turut mendorong pemerintah desa ke segmen ini.

Dan mendorong saja juga tak bakalan maksimal, dibutuhkan kajian yang profesiaonal terhadap seluruh sektor di desa itu utuk mengahasilkan cetak biru sebagai landasan perencanaan pembangunan desa. (Dahlan Batubara)

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Oknum Guru SMPN 4 Siantar Dituding Jual Lembaran Ujian

    Oknum Guru SMPN 4 Siantar Dituding Jual Lembaran Ujian

    • calendar_month Jumat, 3 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PEMATANGSIANTAR : Orang tua siswa/i di SMP Negeri 4Kota Pematangsiantar merasa resah adanya tindakan salah seorang oknum guru yang menjual lembaran ujian. Uniknya lembaran soal itu bidang study seni budaya itu dijual oknum guru berinisial ESN pada seluruh siswa/i kelas 2. Menurut salah seorang orang tua siswa, yang tidak bersedia disebut namanya, mengatakan, tindakan guru […]

  • Reses Anggota DPRD Sumut Masalah Infrastruktur Dominasi Aspirasi Warga Siabu

    Reses Anggota DPRD Sumut Masalah Infrastruktur Dominasi Aspirasi Warga Siabu

    • calendar_month Kamis, 9 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Persoalan infrastruktur jalan mendominasi aspirasi masyarakat Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madia) yang disampaikan saat menghadiri reses anggota DPRD Sumut, Ti Aisah Ritonga, yang dipusatkan di aula Kantor Camat Siabu, Rabu (8/2). Masalah lainnya adalah persoalan tapal batas antara Madina-Tapsel, yang jika tidak segera dituntaskan dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang sangat rumit.Hal itu disampaikan […]

  • Makna Kemerdekaan dari Kacamata Seorang Guru

    Makna Kemerdekaan dari Kacamata Seorang Guru

    • calendar_month Jumat, 16 Agt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Muttaqin Kholis Ali Guru Informatika SMA Negeri 1 Tambangan, Mandailing Natal Kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan, tetapi juga tentang bagaimana kita mengisi kemerdekaan itu dengan hal-hal yang bermakna. Di tengah hingar-bingar perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, sering kali kita lupa bahwa salah satu pilar utama kemerdekaan adalah pendidikan. Sayangnya, ketika kita […]

  • Kemenko Polhukam: Seorang Tewas akibat Penyerangan Syiah

    Kemenko Polhukam: Seorang Tewas akibat Penyerangan Syiah

    • calendar_month Senin, 27 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Jakarta- (MO), Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) mencatat satu orang tewas dan lima orang luka-luka akibat penyerangan kelompok Islam Syiah di Sampang, Jawa Timur, pada Minggu siang. Deputi V Menko Polhukam Irjen Pol Bambang Suparno melalui pesan singkat kepada Antara, di Jakarta, Minggu, mengatakan berdasarkan informasi yang diperoleh peristiwa itu bermula […]

  • Presiden: Jangan Biarkan Setiap Upaya Ingin Robek Perdamaian Aceh

    Presiden: Jangan Biarkan Setiap Upaya Ingin Robek Perdamaian Aceh

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banda Aceh, Presiden SBY didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf, duduk di kursi perdamaian yang diserahkan oleh rakyat Aceh kepada Presiden, Senin (29/11). Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali mengajak seluruh rakyat Indonesia dan Aceh khususnya untuk terus mempertahankan dan menjaga perdamaian yang dicapai setelah melalui jalan panjang dan perjuangan yang […]

  • PELESTARIAN WARISAN BUDAYA MANDAILING (1)

    PELESTARIAN WARISAN BUDAYA MANDAILING (1)

    • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Z Pengaduan Lubis Bangsa Mandailing, suku bangsa Mandailing atau kelompok etnis (ethnic group) Mandailing adalah salah satu dari sekain ratus suku bangsa penduduk asli Nusantara. Dari zaman dahulu sampai sekarang suku bangsa tersebut turun-temurun mendiami wilayah etnisnya sendiri yang terletak di Provinsi Sumatra Utara. Menurut tradisinya orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya itu “Tano Rura […]

expand_less