Kamis, 23 Jul 2026
light_mode

Apakah Tapian Siri-siri Bisa Hanyut? : Dari Dila Ni Aek Hingga Persatuan Batu-Batu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 25 Jul 2016
  • print Cetak
Dahlan Batubara

Dahlan Batubara

Catatan : Dahlan Batubara
Pemimpin Redaksi Mandailing Online

Ada istilah di dalam tataran sifat arus sungai : “manjalaki na toruk, mangkojar na lampas” (mencari yang rendah, mengejar yang tinggi). Itu istilah bagi para  “parsaba na i topi aek” (petani yang bertani di tepi sungai) dalam memahami sifat-sifat arus sungai. Suatu pemahaman yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi kaum tani yang bertani di pinggiran sungai.

Sehingga, para  “parsaba na i topi aek” sudah faham benar tabiat-tabiat arus sungai serta memiliki pula metoda khas dalam merekayasa badan sungai bagi kepentingan kelanjutan pertanian di hamparan sawah atau ladang atau kebun yang berposisi di tepian sungai.

Selain daripada itu, para “parsaba na i topi aek” itu juga sangat memahami fungsi-fungsi pasir, kerikil, batuan kecil dan batuan besar dalam perekayasaan alamiah terhadap kekuatan daya terjang arus deras sungai. Perekayasaan alamiah itu adalah : “Orsik maniop karekel, karekel maniop batu namenek, batu namenek maniop batu nagodang, batu nagodang mambola gogo ni aek” (pasir memegang kerikil, kerikil memegang batuan kecil, batuan kecil memegang batuan besar, batuan besar membelah kekuatan arus air).

Itulah suatu persekutuan batu-batu atau persatuan bebatuan atau jalinan “triad” bebatuan yang kuat dalam kondisi ikat mengikat dalam rangka menjinakkan kekuatan arus air deras.

Persekutuan pasir, krikil, batuan kecil dan batuan besar ini secara alamiah telah memecah satuan arus menjadi banyak satuan-satuan kecil melalui celah-celah batuan-batuan besar yang tertancap kokoh di badan sungai, sehingga arus sungai tak lagi memiliki kekuatan kuat menerjang kiri kanan tanah-tanah pinggiran sungai (abrasi).

Persatuan batu-batu ini makin sempurna manakala tebing-tebing sungai adalah jenis batu cadas (karak), sehingga abrasi tak pernah terjadi. Bilamana tebing sungai bukan batuan cadas tetapi tanah lembut, maka “parsaba na i topi aek” akan menanam rumpun bambu di pinggiran sungai agar tebing sungai menjadi kuat oleh “persatuan” akar-akar bambu. Jenis yang lazin ditanam adalah “bulu artobol” dan “bulu arduri”, karena kedua jenis rumpun bambu ini dinilai lebih banyak pasukan akarnya. Tetapi, sebagian petani malah menanam pohon kelapa, bukan bambu. Katanya biar “dua kapetor” : sudah menguatkan ketahanan tanah, terjual pula buah kelapanya.

“Parsaba na i topi aek” tidak memilki kamus, tetapi memiliki kamus. Kamus mereka tidak ada di atas kertas atau di dalam kitab yang dicetak perusahaan penerbit kitab, karena kamus mereka ada di kepala, di lisan yang dituturkan kepada anak cucu ketika mereka berada di hamparan sawah atau di tepi sungai atau ketika mandi di sungai atau saat menonton banjir bandang kala melanda.

Ada yang dusebut “dila ni aek”. Ada “aek mamolus”. Ada “mapopo”. Ada  “tano natoruk”. Ada “tobing”. Ada “aek manangging”. Ada “jalakian ni aek”. Ada “aek marpindah”. Ada “ompang”. Ada “ompang namabulak” dan lain sebagainya. Kesemuanya merupakan kamus dan kalimat baku yang berkaitan dengan pemahaman-pemahaman “parsaba na i topi aek” dan lahir dari proses pengelolaan dan dinamika bertani di tepian sungai yang terpatri sebagai simbol-simbol kearifan lokal.

DILA NI AEK

“Parsaba na i topi aek” sudah memahami benar, bahwa jika sungai meluap atau bandang, arus air akan menggerus tebing sungai, tapi tidak menggerus hamparan tanah dataran rendah. Arus air hanya “mamolus” (melewati) pinggiran sungai yang dataran rendah, sehingga tanaman rerumputan atau padi atau sayuran atau palawija yang ada di atas dataran rendah tersebut hanya “mapopo” (rebah) karena arus air hanya sekedar numpang lewat.

Dataran rendah itu lazim disebut “tano natoruk” (tanah yang rendah). Ketinggiannya hanya beberapa centi meter setaranya dengan ketinggian permukaan air sungai.  Petani sangat menyukai hamparan seperti ini karena subur. Jika posisinya berada setelah kelokan sungai maka dinamakan “dila ni aek” (lidah air).

Hamparan “dila ni aek” itu terbentuk oleh endapan-endapan lumpur dan material lapuk yang terangkut oleh air, lalu mengendap berupa lapisan-lapisan membentuk hamparan tanah rendah dan datar. Itulah pemahaman petani terhadap delta. Delta sungai.

Posisi hamparan Tapian Siri-siri Syariah bagi para “parsaba na i topi aek” akan disebut sebagai “dila ni aek” (delta). Posisi ini relatif aman dari terjangan arus sungai jika meluap, karena “dila ni aek” tidak akan digerus oleh arus (abrasi) karena mungkin hanya “dibolus” air saja sehingga korbannya hanya rerumputan atau padi atau palawija atau sayur mayur dengan tingkat keparahannya hanya “mapopo”.

Tetapi..!!, “dila ni aek” bisa berubah tipe konturnya secara drastis menjadi “tobing” (tebing dan tak lagi setara ketinggiannya dengan permukaan air) bila mana terjadi apa yang disebut “aek manangging” (kecepatan arus air berubah super cepat akibat di kawasan hilir sungai terjadi proses perendahan sedimen).

Proses perendahan sedimen badan sungai biasanya terjadi akibat : empang di kawasan hilir jebol menyebabkan sedimen badan sungai tergerus arus sungai. Perendahan sedimen itu akan menyebabkan tepian “dila ni aek” (delta) menjadi tebing (tobing nalampas). Jika sudah berubah menjadi tebing, maka di peristiwa bandang kelak, tebing ini akan menjadi bulan-bulanan “jalakian ni aek” atau diterjang arus sugai. Bahkan, jika abrasinya masuk kategori super atau sangat super, maka seluruh hamparan delta itu akan habis tergerus. Itulah yang disebut “aek marpindah” (sungai berpindah  jalur).

Apakah Tapian Siri-siri Syariah akan tergerus? Tergantung “ompang” yang ada di hilir, yaitu Bendungan Irigasi Batang Gadis dan seterusnya tergantung mozaik zik-zak badan sungai.

“Ompang namabulak” (bendungan yang jebol) akan menimbulkan gerusan pada sedimen sungai, sehingga sedimen akan kembali pada posisi awal, posisi sedimen sebelum menebal, posisi sedimen sebelum pembangunan bendungan.

Bilamana posisi sedimen sudah rendah dan arus air sudah memiliki kecepatan gerak alir yang teramat tinggi, maka gerusan-gerusan pada tebing sungai akan terjadi. Tebing akan abrasi sedepa demi sedepa. Dan akan lebih dari sedepa demi sedepa pula jika terjadi peristiwa bandang super atau sangat super. Peristiwa meluap atau bandang setelahnya biasanya akan merubah peta badan sungai.

Ekstrim atau “moderat”-nya perubahan-perubahan peta badan sungai itu, tergantung pula pada tipe zik-zak kelokan sungai. Sebab, sungai yang memiliki tebing yang relatif rawan abrasi akan menimbulkan posisi kelokan-kelokan huruf “Z” atau lekukan zik-zak yang tajam-tajam. Serta merta pula peristiwa itu akan melahirkan “dila ni aek” atau delta baru lainnya di titik lain.

Dan tepian delta Tapian Siri-siri Syariah sudah pasti akan menjadi tebing, tetapi tidak bisa pula diprediksi akan tergerus sampai habis. Sebab, tergantung pula pada 3 kondisi : 1. Posisi tebing di bagian arah hulu, 2. Kondisi tebing yang di seberang, 3. Perubahan ketazaman dan perubahan posisi zik-zak dari arah hulu hingga di hilir.

Jika posisi zik-zak di bagian arah hulu berubah, dimana perubahannya adalah “pantulan” terjangannya mengarah pada delta Tapian Sirisiri, maka delta Tapian Siri-siri akan dihajar arus.

Tetapi, bilamana posisi zik-zak di bagian arah hulu menerjang beberapa derajat ke arah hilir tebing yang di seberang, maka biasanya “pantulan” terjangan dari tebing yang di seberang itu akan mengarah geser agak jauh di sisi hilir Tapian Siri-siri. Mirip cara anak kecil yang tidak tepat menggeser relif gambar ketika menimpakannya di atas gambar relif yang sama di atas kertas.

Situasi itu pula akan merubah peta zik-zak di hilir, sehingga posisi delta Tapian Siri-siri justru akan kian bertambah luas, meski tak lagi sama rendah-sama tinggi dengan delta yang baru terbentuk itu. Tetapi, jangan bertenang hati, sebab di peristiwa bandang di lain waktu bisa saja perubahan zik-zak sungai akan menghantam Tapian Siri-siri jika bendungan yang jebol tak segera dibangun ulang.

Kesemuanya itu, mengarah pada ketergantungan delta Siri-siri kepada bendungan Irigasi Batang Gadis. Seperti kata pepatah “dia yang membuatmu, dia pula yang mengakhirimu”.  Bendungan Irigasi Batang Gadis itu dimungkinkan telah “membuat” delta Siri-siri : mengumpulkan endapan-endapan lapisan sedimen yang sedemikian tebal, menutupi tebing-tebing di kiri kanan sungai, menjadikan posisi permukaan air sungai menjadi di atas, memperlambat aliran arus sehingga melahirkan beberapa “karya” yang salah satu diantaranya adalah delta yang kini dijadikan lapangan bernama Tapian Siri-siri Syariah. Bila bendungan itu jebol, maka bendungan itu akan “mengakhiri” karyanya.

Lalu, apakah hanya bendungan Irigasi Batang Gadis? Tidak. Masih ada faktor ketergantungan lain: kondisi tebing dan bebatuan di bagian arah hulu. Bilamana bebatuan dan type tebing di bagian arah hulu delta itu kondisinya adalah : ada batuan-batuan besar serta persatuan bebatuan itu sangat kuat; tipe tebing adalah jenis jenis batu cadas (karak), maka posisi  zik-zak badan sungai di bagian arah hulu tak akan mudah berubah. Itu berindikasi bahwa posisi delta Tapian Siri-siri aman, meski “aek mamolus” menyebabkan rerumputan “mapopo” bisa saja terjadi. Tetapi, bila sebaliknya, maka perubahan posisi zikzak akan menghanyutkan Tapian Siri-siri di suatu masa.

Saya belum pernah melakukan investigasi ke beberapa kelokan bagian arah hulu Tapian Siri-siri itu, makanya saya tak menulis sisi itu panjang lebar.

Bah fuang..kenapa saya tak melakukan “investigasi” ke bagian arah hulu itu? kan dekatnya itu lokasinya dari kawasan Dalan Lidang? Ya iyala dekat. Tetapi, kan saya tak punya kepentingan apa-apa terhadap Tapian Siri-siri, sehingga saya tak memiliki alasan apapun untuk berkemauan dan berkeinginan ke sana. Tulisan ini pun saya tulis sebenarnya adalah karena terdorong oleh keprihatinan, prihatin pada kondisi ketiadaan seorang pun jurnalis yang mau mengupas Tapian Siri-siri itu.

Jika pun ada jurnalis yang menulisnya, tetapi hanya sebatas menulis pernyataan pejabat di pemkab, atau opini public saja, bukan mengupas lebih dalam. Oleh karenanya, jika pembaca kebetulan melakukan “investigasi” di bagian arah hulu itu, tentu pembaca akan bisa menyimpulkan keamanan delta Tapian Siri-siri.***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hingga Pukul 9 Malam Jumlah Korban 41 Orang

    Hingga Pukul 9 Malam Jumlah Korban 41 Orang

    • calendar_month Selasa, 27 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Jumlah korban di kalangan warga Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu, Kecamatan Puncak Sorik Marapi, Mandailing Natal (Madina), Sumut, kian bertambah masuk rumah sakit. Pantauan Mandailing Online, hingga pukul 20:01 WIB, Selasa (27/9/2022), jumlah korban yang masuk UGD RSU Panyabungan dan RSU Permata Madina sekitar 41 orang. Para korban mengalami badan lemas. […]

  • Kolaborasi Polisi dan Pemerintah Desa Menekan Angka Kasus Pencurian

    Kolaborasi Polisi dan Pemerintah Desa Menekan Angka Kasus Pencurian

    • calendar_month Minggu, 18 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Arya Damanik Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh Perkembangan kehidupan masyarakat yang begitu cepat sebagai hasil dan proses pelaksanaan pembangunan di segala bidang kehidupan sosial terutama dalam bidang keamanan telah membawa pula dampak negatif berupa peningkatan kualitas dan kuantitas berbagai macam kejahatan yang sangat merugikan dan meresahkan masyarakat, salah satunya adalah tindak pidana pencurian. Pencurian […]

  • Kunjungi Home Industry Kerupuk, Saipullah Komit Kembangkan UMKM

    Kunjungi Home Industry Kerupuk, Saipullah Komit Kembangkan UMKM

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Calon bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 H. Saipullah Nasution mengatakan ekonomi Indonesia, termasuk daerah, bisa kuat karena ditopang oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Itu sebabnya, pemerintah harus menunjukkan dukungan secara riil terhadap sektor ini. Saipullah megungkapkan hal itu di sela-sela kunjungan ke beberapa industri rumahan kerupuk di […]

  • Tambang Martabe Bantu 13 Poktan di Tapsel

    Tambang Martabe Bantu 13 Poktan di Tapsel

    • calendar_month Senin, 5 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Medan, – PT Agincourt Resources – Tambang Emas Martabe memberikan bantuan pupuk 24,5 ton, bibit padi 7,5 ton dan alat penyemprot 24 unit kepada 13 kelompok tani (Poktan) di Kecamatan Batangtoru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Jumat (2/8). Bantuan berupa pupuk, masing-masing kelompok menerima rata-rata 1,5 ton – 2 ton, bibit padi rata-rata 500 kg dan […]

  • Riadoh Gantikan Suami di DPRD

    Riadoh Gantikan Suami di DPRD

    • calendar_month Minggu, 14 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA- Hj Riadoh Rangkuti dilantik menjadi anggota DPRD Kabupaten Mandailing Natal dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggantikan suaminya H Abdurrahman Mustafa Nasution yang meninggal dunia 3 Agustus lalu. Pelantikan anggota dewan dari Pergantian Antar Waktu (PAW) itu digelar di gedung DPRD Madina, Kamis (11/11). Abdurrahman Nasution saat duduk di lembaga legislatif menjabat sebagai Wakil Ketua […]

  • 792 Calhaj Madina Tahun 2024 Wajib Lakukan Istita’ah

    792 Calhaj Madina Tahun 2024 Wajib Lakukan Istita’ah

    • calendar_month Jumat, 12 Jan 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 792 Calon Jamaah Haji ( Calhaj ) dari Mandailing Natal ( Madina ) wajib melakukan Istita’ah. Istithaah sendiri merupakan istilah mampu atau tidaknya seorang jamaah haji menunaikan ibadah haji. “Berbeda dengan Tahun sebelumnya, Salah satu penentu calhaj Tahun 2024 yang bisa diberangkatkan harus melakukan Istita’ah kesehatan bagi calhaj. Artinya, Istitaah […]

expand_less