Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

Ayo Mudik, Kawan!

  • account_circle Roy Adam
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

Mochtar Nasution/Istimewa.

ARTIKEL (Mandailing Online) – Lebih kurang tiga tahun sudah kita “Berperang” dengan virus Corona. Perang sengit yang banyak memakan korban dan selama berlangsung banyak dampak yang ditimbulkannya. Bukan hanya krisis kesehatan semata, tapi juga upaya pencegahan yang dinilai banyak orang bertabrakan dengan kaidah spritual dan keyakinan beragama yang dimiliki.

Perang terhadap virus ini tidak hanya memorak-porandakan perekonomian, tapi juga mendisrupsi tradisi dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Salah satunya adalah mudik yang dalam dua tahun terakhir terpaksa ditiadakan. Bahkan terkesan mustahil untuk dilakukan.

Dalam kurun waktu dua itu, sebagai makhluk pribadi dan sosial kita dikenalkan dengan berbagai metode baru sebuah perayaan, mulai model pesta pernikahan memakai zoominar hingga salat berjamaah dengan ketentuan jarak. Bahkan pada awal-awal pandemi banyak rumah ibadah yang terpaksa ditutup demi mencegah penyebaran virus yang telah menelan jutaan korban di seluruh dunia.

Pun, hal yang sama juga diberlakukan untuk pusat keramaian, termasuk rumah makan atau restoran. Kemudian, melihat sekelompok orang berjemur pada awal-awal matahari terbit menjadi hal yang jamak. Beragam kegiatan yang pada mulanya begitu sulit dikerjakan justru menjadi kebiasaan seiring pemberlakuan lockdown mini, PSBB, PPKM dan sederet istilah lainnya.

Sebagian dari publik menjadi frustrasi akibat pemberitaan Covid-19 secara massif dan bertubi-tubi. Sialnya, diperparah dengan regulasi yang silih berganti. Para pekerja baik kantoran maupun swasta terpaksa dan dipaksa untuk WFH ( Work From Home), suatu kegiatan yang awalnya sangat membingungkan sekaligus ‘membagongkan’, terlebih bagi mereka yang gaptek (gagap teknologi).

Tahun ini seiring dengan melandainya penyebaran Covid-19 berikut dengan virus turunannya, mudik pun mulai diperbolehkan kendatipun tetap mengetatkan prokes sebagai syarat utamanya. Cuti bersama yang selama dua tahun ini ‘hilang” kembali hadir. Geliat ekonomi meski pelan, tapi pasti mengalami peningkatan.

Dalam dua tahun terakhir kita ‘dipaksa’ menjadi kaum rebahan dengan segala dinamika dan tantangannya. Dua tahun juga tak terasa air mata sering menetes mendengar sanak famili dan keluarga yang wafat akibat virus ini. Akhirnya di tahun 1443 H ini kita bisa kembali mengunjungi ayah/ibu dan sanak saudara lainnya di kampung. Kondisi ini bisa diibaratkan seperti anak kecil yang diberi permen. Pelonggaran mudik ini pun disambut dengan penuh suka cita.

Suatu hal yang amat sangat diidamkan dan dirindukan untuk bisa sungkem dikaki orang tua, bersilaturrahmi dengan saudara, berbagi cerita suka dan duka, dan saling bertegur sapa untuk mengenang kembali masa lalu akhirnya bisa ditunaikan. Dua tahun terakhir ini kita hanya bisa silaturahmi melalui video call, tapi tahun ini bisa bersimpuh, bersalaman, dan berpelukan langsung.

Perasaan rindu yang membuncah akhirnya tertuntaskan dengan adanya pelonggaran mudik tahun ini. Bahkan banyak pemerintah daerah turut serta memudahkan para pemudik dengan mengadakan program mudik gratis. Begitu ada informasi yang membolehkan mudik, hati yang selama ini was-was berubah jadi gembira. Kita pun mulai sibuk menghitung biaya perjalanan, biaya tiket, biaya oleh-oleh, uang THR dan sebagainya. Kita seakan mendapat durian runtuh dan tentu saja hal ini tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bahkan celengan anak-anak dirumah pun ‘dikorbankan” untuk menambah biaya selama di kampung nantinya.

Mudik bukan hanya sebatas itu, Kawan. Bukan sekadar melepas rindu dengan kampung halaman.Tidak hanya untuk bersalaman dan silaturrahmi saja. Bukan pula hanya untuk tanya kabar sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa. Mudik tentu bukan sekedar pulang kampung semata.

Setiap saat kita bisa pulang kampung dan tidak mesti menunggu momen hari raya. Mudik juga bukan karena suka cita meluapkan kegembiraan menyambut 1 Syawal, tapi lebih dari itu. Ada sesuatu yang nilainya abstrak dalam mudik ini sehingga meskipun berdesak-desakan, berjubel, bahkan menggunakan mode transportasi roda dua pun dilakukan untuk menempuh perjalanan pulang kampung.

Nilai abstrak itu tidak akan ditemukan di perkantoran, di perkotaan, di bangku kuliah juga tidak akan ditemukan sekalipun di kompleks rumah mewah tempat Anda tinggal. Nilai ini jualah yang akan memaksa Anda untuk pulang. Ada perasaan damai di rumah orang tua meskipun hanya dibalut papan seadanya, tidur tanpa AC, dan keleluasaan jalan-jalan tanpa khawatir dibegal.

Mudik sudah menjadi tradisi dan kultur yang tidak akan lekang oleh transformasi zaman sekalipun nanti kita jauh meninggalkan revolusi industri 4,0. Mudik akan tetap menjadi kebutuhan spritual lengkap dengan dimensi kemanusiaan. Selamanya akan dituturkan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ayo mudik, Kawan!T

Taqobbalallohu Minna Waminkum.

 

 

Oleh: Mochtar Nasution

Penulis adalah Kolomnis Mandailing Online

Berdomisili di Panyabungan, Mandailing Natal

  • Penulis: Roy Adam

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saksi Mangkir, Sidang Ramli Ditunda

    Saksi Mangkir, Sidang Ramli Ditunda

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi ruislag Kebun Binatang Medan (KBM) dengan terdakwa mantan Sekda Kota Medan Ramli Lubis, mantan Kepala Kantor PBB Tarmidzi dan Direktur PT Gemilang Kreasi Utama (GKU) Haryono, Senin (24/01/2011), terpaksa ditunda karena saksi tidak hadir. Seharusnya sidang digelar dengan agenda mendengarkan keterangan saksi-saksi pemilik tanah antara lain Zatak, staf Bapedda […]

  • Pemberhentian Madoronuddin Sebagai Ketua KUD Pelita Andesma Cacat Hukum

    Pemberhentian Madoronuddin Sebagai Ketua KUD Pelita Andesma Cacat Hukum

    • calendar_month Kamis, 7 Jul 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) Surat yang dikeluarkan Dinas Koperasi dan UKM Mandailing Natal (Madina) terkait pemberhentian Ketua KUD Pelita Andesma Madoronuddin dan pengangkatan Alam Syahputra dipandang cacat hukum. Hal itu disampaikan oleh Sekretaris KUD Pelita Andesma Ilu Prima Sagara kepada Mandailing Online, di resto Dapoer Nenek, Panyabungan. “Kita memandang surat yang dikeluarkan Dinas Koperasi tersebut cacat […]

  • Zubaidah Nasution Desak Polisi Temukan Pembuang Bayi di Hutapungkut

    Zubaidah Nasution Desak Polisi Temukan Pembuang Bayi di Hutapungkut

    • calendar_month Jumat, 13 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG) Zubaidah Nasution mendesak pihak kepolisian untuk segera menemukan pembuang bayi di Aek Pungkut, Hutapungkut. Zubaidah menilai perlu keseriusan polisi dalam memburu pelaku pembuang bayi tak berdosa itu. “Kita berharap polisi serius dan segera menemukan pelaku pembunuhan dan pembuang bayi yang tali pusarnya saja belum putus […]

  • Kaum Ibu di Panyabungan Sebut Saipullah-Atika Pemimpin Masa Depan Madina

    Kaum Ibu di Panyabungan Sebut Saipullah-Atika Pemimpin Masa Depan Madina

    • calendar_month Minggu, 13 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dukungan terhadap calon bupati dan wakil bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) makin menguat. Kali ini dukungan disampaikan oleh kaum umak-umak (ibu-ibu) di Panyabungan. Mereka sahata (sepakat) menentukan pilihan kepala Saipullah-Atika untuk menjadi bupati dan wakil bupati Madina priode berikutnya. Ada beragam […]

  • Tiang Bangunan Pasar Baru Panyabungan Roboh

    Tiang Bangunan Pasar Baru Panyabungan Roboh

    • calendar_month Senin, 12 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu tiang yang baru dicor untuk gedung Pasar Baru Panyabungan, Mandailing Natal, dikabarkan roboh pada Minggu siang (11/4/2021). Akibatnya, sejumlah rangka besi tiang tiang lain ikut oleng membengkok karena satu sama lain terkait dalam sistem penyangga. Sejauh ini tidak ada kabar luka-luka dialami pekerja. Tidak banyak yang tahu peristiwa itu karena […]

  • Fraksi Golkar Melihat Tampungan RKPD Hanya Diisi Satu Pihak

    Fraksi Golkar Melihat Tampungan RKPD Hanya Diisi Satu Pihak

    • calendar_month Sabtu, 27 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Fraksi Partai Golongan Karya (Golkar) dalam pandangan fraksi yang disampaikan pada Paripurna Penyampaian Nota Keuangan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) 2022 melihat tampungan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) hanya diisi oleh satu pihak saja. Adanya pernyataan pemerintah yang tidak mengambil kesempatan untuk mengubah RKPD menimbulkan pertanyaan sensitivitas pemerintah terhadap […]

expand_less