Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Ayo Mudik, Kawan!

  • account_circle Roy Adam
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

Mochtar Nasution/Istimewa.

ARTIKEL (Mandailing Online) – Lebih kurang tiga tahun sudah kita “Berperang” dengan virus Corona. Perang sengit yang banyak memakan korban dan selama berlangsung banyak dampak yang ditimbulkannya. Bukan hanya krisis kesehatan semata, tapi juga upaya pencegahan yang dinilai banyak orang bertabrakan dengan kaidah spritual dan keyakinan beragama yang dimiliki.

Perang terhadap virus ini tidak hanya memorak-porandakan perekonomian, tapi juga mendisrupsi tradisi dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Salah satunya adalah mudik yang dalam dua tahun terakhir terpaksa ditiadakan. Bahkan terkesan mustahil untuk dilakukan.

Dalam kurun waktu dua itu, sebagai makhluk pribadi dan sosial kita dikenalkan dengan berbagai metode baru sebuah perayaan, mulai model pesta pernikahan memakai zoominar hingga salat berjamaah dengan ketentuan jarak. Bahkan pada awal-awal pandemi banyak rumah ibadah yang terpaksa ditutup demi mencegah penyebaran virus yang telah menelan jutaan korban di seluruh dunia.

Pun, hal yang sama juga diberlakukan untuk pusat keramaian, termasuk rumah makan atau restoran. Kemudian, melihat sekelompok orang berjemur pada awal-awal matahari terbit menjadi hal yang jamak. Beragam kegiatan yang pada mulanya begitu sulit dikerjakan justru menjadi kebiasaan seiring pemberlakuan lockdown mini, PSBB, PPKM dan sederet istilah lainnya.

Sebagian dari publik menjadi frustrasi akibat pemberitaan Covid-19 secara massif dan bertubi-tubi. Sialnya, diperparah dengan regulasi yang silih berganti. Para pekerja baik kantoran maupun swasta terpaksa dan dipaksa untuk WFH ( Work From Home), suatu kegiatan yang awalnya sangat membingungkan sekaligus ‘membagongkan’, terlebih bagi mereka yang gaptek (gagap teknologi).

Tahun ini seiring dengan melandainya penyebaran Covid-19 berikut dengan virus turunannya, mudik pun mulai diperbolehkan kendatipun tetap mengetatkan prokes sebagai syarat utamanya. Cuti bersama yang selama dua tahun ini ‘hilang” kembali hadir. Geliat ekonomi meski pelan, tapi pasti mengalami peningkatan.

Dalam dua tahun terakhir kita ‘dipaksa’ menjadi kaum rebahan dengan segala dinamika dan tantangannya. Dua tahun juga tak terasa air mata sering menetes mendengar sanak famili dan keluarga yang wafat akibat virus ini. Akhirnya di tahun 1443 H ini kita bisa kembali mengunjungi ayah/ibu dan sanak saudara lainnya di kampung. Kondisi ini bisa diibaratkan seperti anak kecil yang diberi permen. Pelonggaran mudik ini pun disambut dengan penuh suka cita.

Suatu hal yang amat sangat diidamkan dan dirindukan untuk bisa sungkem dikaki orang tua, bersilaturrahmi dengan saudara, berbagi cerita suka dan duka, dan saling bertegur sapa untuk mengenang kembali masa lalu akhirnya bisa ditunaikan. Dua tahun terakhir ini kita hanya bisa silaturahmi melalui video call, tapi tahun ini bisa bersimpuh, bersalaman, dan berpelukan langsung.

Perasaan rindu yang membuncah akhirnya tertuntaskan dengan adanya pelonggaran mudik tahun ini. Bahkan banyak pemerintah daerah turut serta memudahkan para pemudik dengan mengadakan program mudik gratis. Begitu ada informasi yang membolehkan mudik, hati yang selama ini was-was berubah jadi gembira. Kita pun mulai sibuk menghitung biaya perjalanan, biaya tiket, biaya oleh-oleh, uang THR dan sebagainya. Kita seakan mendapat durian runtuh dan tentu saja hal ini tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bahkan celengan anak-anak dirumah pun ‘dikorbankan” untuk menambah biaya selama di kampung nantinya.

Mudik bukan hanya sebatas itu, Kawan. Bukan sekadar melepas rindu dengan kampung halaman.Tidak hanya untuk bersalaman dan silaturrahmi saja. Bukan pula hanya untuk tanya kabar sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa. Mudik tentu bukan sekedar pulang kampung semata.

Setiap saat kita bisa pulang kampung dan tidak mesti menunggu momen hari raya. Mudik juga bukan karena suka cita meluapkan kegembiraan menyambut 1 Syawal, tapi lebih dari itu. Ada sesuatu yang nilainya abstrak dalam mudik ini sehingga meskipun berdesak-desakan, berjubel, bahkan menggunakan mode transportasi roda dua pun dilakukan untuk menempuh perjalanan pulang kampung.

Nilai abstrak itu tidak akan ditemukan di perkantoran, di perkotaan, di bangku kuliah juga tidak akan ditemukan sekalipun di kompleks rumah mewah tempat Anda tinggal. Nilai ini jualah yang akan memaksa Anda untuk pulang. Ada perasaan damai di rumah orang tua meskipun hanya dibalut papan seadanya, tidur tanpa AC, dan keleluasaan jalan-jalan tanpa khawatir dibegal.

Mudik sudah menjadi tradisi dan kultur yang tidak akan lekang oleh transformasi zaman sekalipun nanti kita jauh meninggalkan revolusi industri 4,0. Mudik akan tetap menjadi kebutuhan spritual lengkap dengan dimensi kemanusiaan. Selamanya akan dituturkan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ayo mudik, Kawan!T

Taqobbalallohu Minna Waminkum.

 

 

Oleh: Mochtar Nasution

Penulis adalah Kolomnis Mandailing Online

Berdomisili di Panyabungan, Mandailing Natal

  • Penulis: Roy Adam

Rekomendasi Untuk Anda

  • PSMS masih banyak kekurangan

    PSMS masih banyak kekurangan

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – PSMS Medan hanya mampu menang tipis di laga ujicoba ketiganya. Menghadapi PS Kampus USU di Stadion Mini USU, Kamis, tim besutan Edi Syahputra itu menang 2-1. Bermain di hadapan ratusan suporternya, skuad Ayam Kinantan bermain menyerang. Namun gol yang ditunggu-tunggu baru tercipta di menit 15. Menerima umpan terobosan Tri Yudha Handoko, Fajar Adinata […]

  • Hujan Es Memang Ada, Tapi Langsung Cair

    Hujan Es Memang Ada, Tapi Langsung Cair

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rumor hujan es yang terjadi di desa Tarutung Panjang, Kecamatan Naga Juang pada Jumat (26/7/2013) lalu tak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. “Ada memang butiran yang beku, tapi hanya sedikit diatara butiran hujan. Setelah jatuh ke tanah lalu cair beberapa detik kemudian,” ungkap Nainggolan seorang warga menjawab wartawan, Sabtu (27/7/2013). “Memang […]

  • Tidak Semua Dana ADD Untuk Pembangunan Desa

    Tidak Semua Dana ADD Untuk Pembangunan Desa

    • calendar_month Kamis, 6 Nov 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dari total dana untuk Anggaran Dana Desa (ADD) untuk tiap desa, tidak semuanya dialokasikan bagi pembangunan desa, sebab sebagaian besar diperuntukkan bagi honor aparat serta ATK kantor desa. Alokasi pembangunan desa dari dana ADD itu tak bisa dipatok. “Kita mengambil contoh misalnya desa itu menerima Rp.48 juta (ADD) dalam satu […]

  • Foto Pasar Panyabungan Tahun 1926

    Foto Pasar Panyabungan Tahun 1926

    • calendar_month Sabtu, 4 Agt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Foto ini dicopy Mandailing Online dari https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Straatgezicht_bij_de_markt_en_het_busstation_in_Panjaboengan.jpg Dari sumber Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen Diberi judul “Straatgezicht bij de markt en het busstation in Panjaboengan” Berdasar keterangan yang tertera di website tersbut foto ini diabadikan pada tahun 1926. Dalam keterangan yang disertakan, dijelaskan bahwa yang ada di dalam foto itu adalah stasiun bus di […]

  • Ini Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2022

    Ini Capaian Kinerja Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2022

    • calendar_month Rabu, 5 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Capaian kinerja pemerintah Kabupaten Mandailing Natal tahun 2022 merupakan potret atas apa-apa saja yang sudah dilakukan selama tahun 2022 sehingga dapat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Secara moral pemerintah Kabupaten Mandailing Natal merasa perlu menyampaikan hal ini, agar seluruh masyarakat bisa mengetahui perbaikan yang dilakukan di berbagai sektor dengan cara yang […]

  • Kontraktor Jembatan Gantung di Kampung Baru Ngeluh, Masyarakat Banyak Permintaan

    Kontraktor Jembatan Gantung di Kampung Baru Ngeluh, Masyarakat Banyak Permintaan

    • calendar_month Rabu, 31 Mei 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN-( Mandailing Online ) : Pembangunan jembatan gantung sungai batang gadis di desa kampung baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal mulai berjalan, saat ini progres pembangunan jembatan gantung sendiri sudah dikisaran 10 persen, namun kontraktor mengaku banyak persoalan yang di hadapi salah satunya adanya warga meminta ganti rugi dan sewa lahan meski lokasi nya […]

expand_less