Minggu, 11 Okt 2026
light_mode

BAHASA DAN AKSARA MANDAILING (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Apr 2018
  • print Cetak

Askolani Nasution dan Surat Tulak-tulak

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION

Budayawan

  

Pengantar

Bahasa Mandailing adalah bahasa yang digunakan sebagai bahasa adat dan budaya di wilayah bekas Asisten Residen Angkola Mandailing atau di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Penyebutan Tapanuli Bagian Selatan dalam konteks ini, hanya untuk menjelaskan satu kawasan yang berbeda dengan Tapanuli lainnya, baik dari sisi bahasa maupun budaya.

Penyebutan Angkola-Mandailing pun hanya satu acuan yang merujuk pada kawasan yang sama, yang sejak masa kolonialisme Belanda selalu disebut dengan istilah itu. Jadi wilayah yang saat ini kita namai kawasan Sipirok dan Padang Lawas, pada masa dahulu dianggap sebagai bagian dari entitas Mandailing Angkola, baik secara administratif maupun budaya.

Dengan begitu, tulisan ini tidak menimbulkan keraguan bahwa penyebutan Angkola-Mandailing bukan hanya satuan yang berlaku di wilayah Kabupaten Mandailing Natal saja, tetapi seluruh wilayah Tapanuli Bagian Selatan yang menjadi wilayah administrasi Asisten Residen Angkola Mandailing sejak tahun 1830, tanpa bermaksud menyebut bahwa satu sub-kawasan sebagai subordinasi kawasan lainnya.

Selain itu, memang tidak ada perbedaan diksi dan relasi makna bahasa di masing-masing sub-kawasan Tapanuli Bagian Selatan tersebut, kecuali sebatas perbedaan lafal. Tentu saja, setiap daerah memiliki varian diksi atau ungkapan tertentu, dan itu tetap dalam ranah kekayaan bahasa Angkola-Mandailing.

Dari ribuan bahasa daerah yang ada di Nusantara, bahasa Angkola-Mandailing ditetapkan sebagai bahasa adat dan budaya yang utuh, baik dalam tataran lisan maupun tulisan. Tataran tulisan misalnya, bahasa Angkola Mandailing juga memiliki bentuk huruf tersendiri yang bukan menjadi bagian dari aksara daerah lain.

Dalam berbagai studi ilmiah, rumpun bahasa Angkola-Mandailing hanya disebut sebagai bahasa Mandailing saja. Tidak ditemukan sebutan untuk bahasa Angkola. Itu karena penutur bahasa Angkola pun hanya menggunakan rumpun bahasa Mandailing. Perbedaannya hanya tingkat pelafalan. Perbedaan pelafalan itu tampak pada perubahan fonem akhir suku pertama setiap diksi, jika fonem suku kata kedua berfonem konsonan. Misalnya, kata [dangka] di kawasan Mandailing, dilafalkan menjadi [dak-ka] pada penutur Angkola. Dalam tataran tertulis dan makna bahasa, semuanya sama.

 

Rumpun Bahasa

Rumpun bahasa Tapanuli sejak masa kolonial sering dikelompokkan atas lima sub-bahasa, yakni sub-bahasa Angkola-Mandailing, Toba, Karo, Simalungun dan Pakpak-Dairi. Penetapan itu terjadi sejak masa kolonial dan seolah-olah menjadi hal yang diterima bersama, baik di lingkungan umum, maupun lingkungan akademis. Itu ekuivalen dengan pendapat yang juga menyamakan adat dan budaya Angkola-Mandailing sebagai sub-bagian dari adat dan budaya Tapanuli.

Penyamaan itu sebenarnya diciptakan oleh pemerintah kolonial untuk menggeneralisasikan satu luasan teritori  yang  diapit oleh dua kekuasaan besar, yakni kekuasaan Aceh di belahan utara dan kekuasaan Minangkabau di belahan selatan, dan keduanya berkarakter Islam. Penyamaan itu bukan atas kajian kesamaan karakteristik budaya yang analitik.

Dalam tulisan “Sejarah Aksara Batak” Prof Uli Kozok menggambarkan sebaran Aksara Mandailing ke belahan Tapanuli lainnya. Dengan begitu tidak ada keraguan bahwa bahasa dan Aksara Mandailing menyebar dari Selatan menuju Utara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Meskipun bahasa Mandailing menjadi bahasa yang berdiri sendiri, tetapi penggunaannya amat terbatas. Berbeda dengan bahasa etnik lainnya, bahasa Angkola-Mandailing nyaris tidak pernah dipergunakan untuk menulis cerita, kecuali sekedar tulisan ungkapan perasaan seseorang yang ditulis di sebilah bambu. Tulisan di sebilah bambu itu disebut dengan Ratapan, atau ungkapan literer perasaan dan emosional seseorang terhadap suatu kejadian. Selebihnya, tulisan Angkola-Mandailing, atau yang disebut Aksara Tulak-Tulak, lebih banyak digunakan untuk menulis perjanjian keamanan antar-desa, tarombo (silsilah), poda (nasehat), hapantunon (sikap), dan hadatuon (mantra).

Ragaman tulisan itu dibuat di media kulit kayu, yakni kulit kayu Alim yang diolah sedemikian rupa sehingga menyerupai kertas. Dibuat seperti buku, berlipat-lipat dan panjangnya beberapa meter. Setiap lipatannya merupakan lembar penulisan. Tulisan aksara Tulak-Tulak di atas kulit kayu tersebut disebut Pustaha atau Pustaha Laklak. Sebutan “laklak” tersebut, mengacu kepada kulit kayu yang menjadi mediumnya.

Tidak semua penduduk asli Angkola-Mandailing bisa menulis dan membaca Aksara Tulak-Tulak. Bahkan masa sebelum munculnya dominasi huruf Latin yang dibawa oleh kolonialisme, diperkirakan hanya 30 persen laki-laki dan 10 persen perempuan penduduk Mandailing-Angkola yang bisa menggunakan huruf tersebut.  Dengan begitu, sekalipun bahasa Angkola-Mandailing menjadi bahasa pengantar sehari-hari, tetapi hanya sebagian kecil penutur yang mampu mengaksarakannya. Itu juga yang membuat Aksara Tulak-Tulak tidak dikenal luas, bahkan oleh penutur bahasa itu sendiri.

Biasanya yang paling sering menggunakan huruf tersebut adalah datu, yakni seseorang yang diyakini memiliki kekuatan supranatural, sehingga bisa berkomunikasi dengan roh leluhur atau dewa. Datu  menggunakan huruf tersebut untuk menuliskan mantra atau resep obat tradisional. Resep obat tersebut disebut dengan pulungan ni ubat. Mantra adalah prosesi literer yang diucapkan datu  saat berkomunikasi dengan roh leluhur. Karena itu, bahasa bagi masyarakat tradisional Angkola-Mandailing bukan hanya sebagai alat komunikasi antarmanusia, tetapi juga sarana berkomunikasi dengan roh leluhur atau Tuhan.

Terbatasnya penggunaan Aksara Tulak-tulak dalam bentuk tulisan, membuat banyak konsep etika dan falsafah Angkola-Mandailing tidak terpublikasi sebagaimana daerah lain. Ditambah lagi, saat invasi Minangkabau atas wilayah Angkola-Mandailing tahun 1830-an, banyak Pustaha Lak-lak yang dimusnahkan karena dianggap tidak sesuai dengan misi Islam yang dibawa oleh Perang Paderi.

Selain itu, masuknya misionaris Kristen di Mandailing tahun 1850-an, banyak pustaha-pustaha tersebut yang diboyong ke Eropah untuk penelitian ilmiah.  Pustaha-pustaha yang dikenal sekarang diduga yang ditulis pasca berakhirnya dominasi Perang Paderi, yakni tahun 1875. Karena itu, banyak jejak klasik dalam Pustaha sebelum masuknya kolonialisme, tidak ditemukan lagi di kawasan Angkola-Mandailing.

Apalagi sastranya. Karena tidak pernah digunakan untuk menuliskan cerita, maka bahasa Angkola-Mandailing tidak mengenal tradisi lisan dalam bercerita. Berbagai cerita legenda etnik Angkola-Mandailing hanya diturunkan secara lisan. Karena itu, sastra Angkola-Mandailing adalah sastra lisan. Cerita “Sampuraga” atau “Si Bisuk Na Oto” misalnya, hanya diceritakan dari mulut ke mulut. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ini Jadwal Keberangkatan Calhaj Asal Madina

    Ini Jadwal Keberangkatan Calhaj Asal Madina

    • calendar_month Selasa, 30 Apr 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – ada tiga jadwal keberangkatan calon jamaah haji ( Calhaj ) asal Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) tahun ini. Sesuai jadwal resmi dari kantor urusan haji Kementerian Agama daerah ini, Calhaj asal Madina untuk kloter 3 embarkasi kualanamu medan berangkat pada 13 Mei 2024 dari Madina menuju Asrama Haji Medan. Kepala Seksi […]

  • Ayu Ting Ting Main Film Layar Lebar

    Ayu Ting Ting Main Film Layar Lebar

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Sukses sebagai pedangdut, Ayu Ting Ting mulai percaya diri terjun ke dunia seni peran. Pelantun ‘Sik Asik’ ini akan bermain dalam sebuah film layar lebar. “Target 2012 ini insya Allah bakal main film. Tapi masih dirahasiakan. Pokoknya tunggu saja, nanti juga keluar,” kata Ayu saat ditemui di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat, 3 Februari […]

  • Tantangan Era TV Digital bagi Komisioner Baru Sumut (Bagian 1)

    Tantangan Era TV Digital bagi Komisioner Baru Sumut (Bagian 1)

    • calendar_month Kamis, 2 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Muhammad Ludfan Nasution Tenaga Ahli Pimpinan DPRD Mandailing Natal   TAK bisa dielakkan, era televisi digital sudah di depan mata. Ketua KPI Pusat, Agung Suprio menggambarkan (koran-jakarta.com), migrasi dari siaran analog ke siaran digital, bakal memaksa KPI Pusat dan KPID untuk mengawasi tidak lagi hanya 18 stasiun televisi, melainkan bisa bertambah hingga 68 stasiun. […]

  • Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (4-Selesai)

    Seri HUT Madina : Mandailing Melahirkan Banyak Ulama Kharismatik (4-Selesai)

    • calendar_month Jumat, 10 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : BASYRAL HAMIDI HARAHAP (In Memorial) Sejarahwan Mandailing     Haji Muhammad Siddiq Nasution (1925-1982) lahir pada tanggal 11 Februari 1925 d Gunung Tua, ia adalah putera tertua Sutan Parimpunan dari Gunung Tua, Mandailing. Ibunya Rukiyah Dalimunthe dari Sigalangan. Belum lagi menamatkan HIS ia berangkat bersama kakek dan neneknya, Syekh Haji  Hasan dan Ramlah […]

  • Polisi Pastikan Gas Beracun Penyebab Tewas Penambang Sere

    Polisi Pastikan Gas Beracun Penyebab Tewas Penambang Sere

    • calendar_month Rabu, 3 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Kapolsek Muara Sipongi, AKP Arlen Siagian melalui Kanit Reskrim Aipda Ibrahim Iksan yang dihubungi, Selasa (2/9/2014) memastikan faktor gas beracun penyebab tewasnya para penambang di Muara Sipongi. Dia menyatakan bahwa kejadiannya pada Senin sore (1/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Jenazah kelima korban tewas baru bisa dikeluarkan sekitar pukul 18.00 WIB. […]

  • SDN 100760 Terancam Roboh

    SDN 100760 Terancam Roboh

    • calendar_month Sabtu, 28 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Tiang Lapuk, Plafon Bolong, Atap Bocor Sektor pendidikan adalah salahsatu prioritas pembangunan nasional. Sayangnya, sarana pendidikan seperti, bangunan SDN 100760 Kecamatan Arse, Tapsel terancam roboh. Pasalnya, selain atap tiga ruangan bocor, plafon banyak yang bolong bahkan tiang penyangga atap lapuk. Jika bangunan sekolah ini tidak segera diperbaiki pemerintah, dikhawatirkan atap dan plafon sekolah itu akan […]

expand_less