BANDARA DI TENGAH JALAN ASPAL (bagian 1)
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 48 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum
Mengapa JB AH Nasution Tidak Bisa Hidup Hanya dengan Politik dan Landasan Pacu
Pertemuan Bupati Madina H. Saipullah Nasution dengan pemilik Lion Air, Rusdi Kirana, yang dikawal Marwan Dasopang, memberi satu sinyal penting:
Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (JB AH Nasution) belum menyerah.
Rute Medan–Madina dan Madina–Padang yang sedang diupayakan memang layak diapresiasi. Sebab bagi daerah seperti Mandailing Natal (Madina), konektivitas udara bukan sekadar soal transportasi.
Ia menyangkut:
* percepatan ekonomi,
* akses investasi,
* mobilitas manusia,
* hingga posisi strategis kawasan di peta Sumatera.
Tetapi justru karena itu, pembahasan soal bandara tidak boleh berhenti pada romantisme pesawat mendarat.
Karena masalah sebenarnya jauh lebih besar:
bagaimana membuat bandara tetap hidup di tengah perubahan besar ekosistem transportasi Sumatera.
Dulu pesawat menjadi solusi karena jalan darat:
* rusak,
* lambat,
* melelahkan,
* dan mahal secara waktu.
Tetapi sekarang keadaan berubah.
Jalur lintas:
* Sumut–Madina,
* Madina–Padang,
* pantai barat Sumatera,
perlahan makin terkoneksi.
Bus executive tumbuh.
Travel makin fleksibel.
Mobil pribadi makin dominan.
Logistik darat makin efisien.
Akibatnya masyarakat mulai berpikir rasional:
“Kalau selisih waktu tidak terlalu jauh, mengapa harus membayar tiket lebih mahal?”
Di sinilah bandara kecil menghadapi tantangan paling brutal:
bersaing dengan jalan raya yang semakin baik.
Masalah lainnya adalah cara berpikir pembangunan kita yang terlalu sering melihat bandara sebagai:
* simbol kemajuan,
* proyek prestise,
* atau monumen politik pembangunan.
Padahal industri penerbangan tidak hidup dari seremoni.
Maskapai hanya percaya pada:
* jumlah penumpang,
* kesinambungan pasar,
* dan profitabilitas.
Kalau pasar tidak stabil, rute akan ditutup — seberapa megah pun terminalnya.
Karena itu, menjaga napas JB AH Nasution bukan sekadar urusan membuka jalur penerbangan.
Yang jauh lebih penting adalah:
membangun alasan mengapa orang harus terus datang dan pergi dari Madina.
Kalau:
* investasi belum tumbuh,
* wisata belum serius,
* logistik belum hidup,
* mobilitas bisnis belum kuat,
maka bandara akan terus berada dalam siklus lama: dibuka, dirayakan, sepi, lalu mati suri.
Di titik inilah Madina harus berhenti berpikir sebagai kabupaten terisolasi.
Bandara JB AH Nasution tidak boleh hanya menjadi “bandara orang Madina”.
Ia harus diposisikan sebagai:
simpul konektivitas regional Sumatera bagian barat.
Artinya:
* terhubung dengan Sumut,
* Sumbar,
* Pantai Barat,
* Tabagsel,
* hingga jalur perdagangan regional.
Kalau hanya mengandalkan penumpang lokal, oksigen bandara akan cepat habis.
Dan itulah mengapa perjuangan sebenarnya bukan sekadar mendatangkan pesawat.
Tetapi membangun: ekosistem mobilitas regional yang benar-benar hidup. (bersambung)
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

