Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode

BILIK BESI DI RUMAH MEWAH

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 1 Feb 2022
  • print Cetak

(Pola Bahasan Subtansi dalam Pro-Kontra)

 

Catatan ringkas: M. Daud Batubara

 

Tertangkaptangannya seorang kepala daerah di Sumut oleh lembaga anti rasuah, telah menambah keterpurukan kondisi Provinsi Sumut bahkan Indonesia dalam hal catatan korupsi.

Fenomena ini telah menjadi prokontra oleh para pegiat informasi.

Namun tulisan ini bukan membahas tentang tertangkaptangannya beliau, hanya saja pilihan thema ini, kronologinya bertalian dengan lingkungan kejadian tersebut, yakni adanya info dari berbagai pihak tentang manusia dalam bilik-bilik dengan fasilitas kurang layak di dalam lingkungan rumah berfasilitas mewah tersebut.

Lebih menarik lagi adalah pro-kontra dari banyak elemen terhadap fenomena yang muncul dengan persepsi yang diutarakan sebesar makna info yang masing-masing diperoleh berseluweran di lapangan dan media.

Beranjak dari pro-kontra pada berbagai media, maka bahasan ini berusaha untuk mendudukan pola analisa pembaca pada pentingnya berpikir, baik yang berasal dari sumber data yang benar, pada subtansi yang benar dan kukuh, analisa logis yang cerdas, serta kesimpulan yang runtun. Hal ini bertujuan agar tidak salah memberi kesimpulan yang berujung pada isi pembicaraan dan pola tindak, terutama era ini banyak hoaks yang terkadang dikemas seakan ilmiah untuk keperluan tertentu.

Sangat menariknya ketika di rumah megah seorang publik figur kaya ditemukan bilik-bilik kecil untuk manusia dengan pembatas besi. Ada dua hal menarik dalam kebisuan cerita tahunan bilik besi tersebut selama ini.

Pertama, ibadah diam dengan memberi perhatian dari sang kepala daerah bagi orang berkebutuhan.

Kedua, tekanan peradaban yang salah bila memang benar praktik perbudakan terjadi di era milenial dalam rumah mewah tersebut.

Dari kedua sisi yang berseberangan tersebut dapat dikategorikan perbuatan kepala daerah ini sebagai dosa atau pahala. Demikian pula bagi orang-orang yang menggoreng data ini untuk disajikan dalam dua versi tentu juga akan berbuah sebagai dosa atau pahala, yakni tergantung validasi data yang baik dan benar atau sebaliknya. Apalagi disajikan hanya atas persepsi belaka dan lebih runyam lagi bila hanya emosional sepihak belaka, meski apa saja latar belakang emosi tersebut.

Dapat disimak dari berbagai cerita dari berbagai sumber yang juga dibarengi dengan foto yang menggambarkan bahwa salah satu isi rumah kepala daerah yang relatif luas dan berfasilitas mewah tersebut ditemukan bilik-bilik yang dibatasi dengan besi mirip kerangkeng.

Bilik-bilik ini telah ada sejak tahun 2012 dan secara nyata dihuni oleh manusia yang disajikan dalam bentuk foto, video dan berbagai informasi lainnya, sehingga layak dipercaya informasi tersebut.

Kemudian berbagai channel di youtube menayangkan pula pro-kontra informasi seputar cerita dengan berbagai nara sumber terhadap keberadaan bilik-bilik terutama fungsinya. Tentu fungsi bilik-bilik inilah yang kemudian menjadi bahasan yang ramai di bicarakan. Disinilah pentingnya pola analisa dengan pemikiran yang cerdas dan netral terhadap semua informasi. Beranjak dari pro-kontra fungsi ini dapat disimak dari berbagai media sebagai berikut.

Mereka yang berada dalam bilik-bilik berbatas besi dan yang juga telah kembali ke masyarakat  mengungkapkan dalam wawancara pada beberapa channel youtube dengan lebih dominan bersifat positif. Mereka menyebut makan minimal 2 kali sehari. Bukankah di luar sini sedemikian sulitnya mencari makan 2 kali, sedangkan dalam bilik makannya gratis. Bukankah sebegitu banyaknya kabupaten/kota yang membiarkan orang terlantar dengan makan dari tong sampah termasuk penyalahguna narkoba. Dimanakah kabupaten/kota yang memiliki perawatan yang layak untuk penyalah guna narkoba. Jangankan layak, tempat sajapun masih sangat banyak yang belum ada. Mereka toh masih bernaung dalam ruang yang terlindung, bandingkan dengan sekian banyak orang tanpa perlidungan sama sekali, berada sering dan selalu melintas dekat pada diri dan rumah serta tempat kita kerja.

Berbicara jeruji, secara rasional tentu dengan segala keterbatasan binaan dengan warga binaan yang pasti berperilaku kurang terkontrol, maka haruslah dibuat dalam pembatas yang kuat untuk melindungi sekitar rumah. Atau, apakah masuk akal bila warga binaan narkoba kemudian dibiarkan berkeliran bebas dan merusak ingkungan rumah pribadi sang kepala daerah.

Para orangtua mereka menyatakan bahwa mereka benar mengantar dan menyerahkan anak mereka dengan membuat perjanjian, dengan berharap sembuh dari berbagai kondisi yang dialami sang anak. Adakah orangtua yang dengan senang hati menyerahkan anaknya pada orang lain untuk disiksa. Bukankahkah siksaan bagi sang anak adalah pertaruhan nyawa bagi orangtua. Lantas kenapa mereka serahkan. Bahkan ketika anak mereka yang masih dalam binaan kemudian akan dipindahkan dan direhabilitasi oleh lembaga yang punya hak dan kewajiban dengan serba standar pelayanannya, ternyata tak diberi izin oleh orangtuanya. Bahkan, mereka menganggap lebih baik berada di rumah saja dengan ketidakberdayaan mereka untuk membinanya. Orangtua yang bagaimana yang menyerahkan anaknya untuk perbudakan.

Masyarakat setempat malah meminta membuka kembali tempat binaan dan dilanjutkan untuk mereka yang selama ini ternyata telah menyaksikan keluarnya orang dari bilik-bilik binaan yang selama ini diserahkan orang tuanya karena menyalahgunakan narkoba, kemudian kembali bermasyarakat dengan baik.

Mereka secara nyata telah melihat dan merasakan manusia-manusia yang berseluweran di jalan-jalan karena keterbatasan orangtua kemudian mendapat binaan dengan gratis. Lantas apakah binaan gratis tidak boleh mempekerjakan warga binaan untuk membantu hidup mereka. Bukankah dengan mempekerjakan warga binaan juga merupakan bagian dari proses melatih hidup mereka ketika kembali ke masrakat.

Secara prosedur kenegaraan, kita harus mengakui bahwa kepala daerah non aktif ini mungkin ada kesalahan perizinan dan standar-standar lainnya. Dan juga tentu akan salah bila ternyata dengan sengaja melakukan perbudakan di era mileneal ini. Apalagi jika benar melakukan penganiayaan. Demikian juga bila ternyata ada eksploitasi manusia, bahkan perdagangan manusia berkedok pembinaan penyalah guna narkoba.

Namun, bila dicermati dari sisi niat dan pengorbanan yang bersangkutan, bukankah sudah sulit mencari orang dengan kepedulian seperti ini. Dengan kata lain, bahwa dibalik kesalahan beliau hingga tertangkap lembaga anti rasuah, ternyata beliau masih ada gerak ibadah sosial yang cukup baik selama ini, setidaknya dapat dilihat dari niatnya. Inilah yang dimaksud sebagai ibadah yang dilakukan secara diam-diam tanpa ingin harus terlihat publik oleh sang birokrat.

Penyidik polisi yang sudah bekerja siang malam, dan juga tidak semudah itu menjustifikasi keadaan sebelum ditemukan fakta-faktanya. Lantas, kenapa banyak orang yang terpelajar dengan mudah memojokkan politisi yang beberapa saat lalu bertugas sebagai birokrasi seakan menjadi tempat menumpuknya hujatan ketidakbaikan. Bahkan menghubung-hubungkan kebaikan ini dengan keburukan birokrasi. Bukankah kita harus melihat konteks subtansi yang satu dengan yang lain atas dasar data yang valid dengan tidak hanya berasumsi dan mencampuradukkan satu subtansi dengan subtansi yang lain menjadi satu.

Perlu disampaikan bahwa penting melihat satu subtansi dengan data yang yang berhubungan untuk membangun kesadaran persepsi yang baik dan penguatan letak subtansi. Dan inilah yang menjadi harapan dari tulisan ini, sedang alur kondisi pro-kontra hanya perkuatan dalam fenomena yang nyata sedang terjadi, sehingga lebih menarik.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Antisipasi Banjir Kecamatan Panyabungan akan Galakkan Gotong-Royong

    Antisipasi Banjir Kecamatan Panyabungan akan Galakkan Gotong-Royong

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA; Untuk mengantisipasi seringnya terjadi banjir di Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) akibat drainase yang sumbat, Kecamatan Panyabungan akan menggalakkan gotong-royong dengan membersihkan selokan air dan upaya lainnya. Hal ini diungkapkan Camat Kecamatan Panyabungan, Zukkhairi SE di hadapan Tim Penilai Kecamatan terbaik Provinsi Sumatera Utara saat melakukan kunjungan di Kantor Camat Panyabungan, Senin (11/10) […]

  • Jadi Pelacur di Panyabungan Gara-gara Butuh Biaya Operasi Orang Tua

    Jadi Pelacur di Panyabungan Gara-gara Butuh Biaya Operasi Orang Tua

    • calendar_month Senin, 18 Apr 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Seeorang wanita terpaksa jadi pelacur di Panyabungan gara-gara kebutuhan biaya operasi orang tuanya. Wanita dari Kecamatan Panyabungan Barat berumur sekitar 20 tahun ini terjaring razia pelacur di Panyabungan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Mandailing Natal, Sabtu malam atau Minggu dinihari (17/04) di satu cafe di Panyabungan. Menjawab wartawan, dia […]

  • Seluruh Bank di Aceh Wajib Sistem Syariah di Tahun 2022

    Seluruh Bank di Aceh Wajib Sistem Syariah di Tahun 2022

    • calendar_month Sabtu, 17 Apr 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Sesuai dengan qanun yang berlaku di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) seluruh bank sudah bersistem syariah sejak Januari 2022. Sejumlah cabang bank nasional di NAD sudah mempersiapkan diri sejak 2019 menuju bank syariah itu. Sejauh ini bank yang akan menerapkan sistem syariah itu antara lain bank BRI, BNI, Mandiri, CIMB Niaga. Sedangkan […]

  • Kesbang Linmas Palas Gelar Sosialisasi Narkoba

    Kesbang Linmas Palas Gelar Sosialisasi Narkoba

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas –  Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Padang Lawas, gelar sosialisasi bahaya narkoba bagi para pelajar tingkat SLTA sederajat di daerah ini. Sosialisasi berlangsung selama tiga hari, (17-19/11) dipusatkan di tiga wilayah kecamatan se-Kabupaten Palas. Untuk wilayah 1 dipusatkan di Binanga terdiri dari 4 kecamatan yakni Kecamatan Barumun Tengah, Sihapas Barumun, Huristak […]

  • Lagi, Unimed kecolongan ijazah palsu

    Lagi, Unimed kecolongan ijazah palsu

    • calendar_month Kamis, 19 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Belum lagi usai pengungkapan otak pelaku ijazah palsu di Universitas Negeri Medan (Unimed) yang ditangani Polsek Percut Sei Tuan, kini kembali ditemukan dari tangan seseorang yang hendak melegalisir ijazah tersebut. Modus kejahatan dengan cara menawarkan ijazah palsu bukan rahasia. Pemberi layanan ini pun bersikap bak ‘malaikat’ dengan menawarkan ijazah ‘bodong’ bagi mereka yang […]

  • Yusuf-Imron Temui Hidayat Batubara

    Yusuf-Imron Temui Hidayat Batubara

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      BERTEMU MANTAN BUPATI MADINA – Pasangan Calon bupati/wakil bupati Madina Yusuf Nasution-Imron Lubis menemui mantan bupati Mandailing Natal (Madina) Hidayat Batubara di LP Tanjung Gusta, Medan, kemarin. Kunjungan ini merupakan silaturrahim pasangan ini ke berbagai tokoh pasca pendaftaran mereka sebagai calon bupati/wakil bupati ke KPU Madina, Minggu (26/7) lalu. Sebelumnya, pasangan Yusuf Nasution-Imron Lubis […]

expand_less