Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 15 Sep 2015
  • print Cetak

Menghadapi perubahan bukanlah hal mudah. Proses adaptasi membutuhkan setiap orang dalam organisasi untuk membangun pola pikir dan kebiasaan berbeda, dan hal itu menuntut upaya keras untuk keluar dari zona kebiasaan yang nyaman menuju sebuah ketidakpastian. Yang namanya ketidakpastian, bagi sebagian orang sangatlah menantang, namun bagi sebagian yang lain justru menjadi masalah.

Proses adaptasi yang menjadi masalah bagi sebagian orang, berpotensi menimbulkan keluhan. Seperti kita ketahui bersama bahwa keluhan seringkali membuat orang tidak produktif, dan jika keluhan beberapa orang menjadi sebuah forum ‘kesamaan nasib’, maka justru menjurus pada kontra produktif. Bukannya membuat langkah maju, justru akan menjadi alasan dan pembenaran untuk kembali ke cara lama.

Menghadapi kondisi ini, seorang pemimpin bisa saja melihat dari atas dan menurunkan perintah-perintah langsung untuk diikuti. Namun cara tersebut hanya akan menghasilkan perubahan positif sesaat, dan akan segera kembali ke asal. Proses adaptasi sebuah organisasi membutuhkan gerak bersama, baik pemimpin maupun tim di bawahnya. Proses gerak bersama akan kuat jika didasari kesadaran penuh akan pentingnya adaptasi yang dilakukan. Meraih kesadaran bukan sebuah hasil instan dari turunnya perintah, melainkan proses dalam memahami esensi dari sebuah langkah kedepan.

Salah satu bagian dari proses tersebut adalah sebuah kegalauan yang keluar dalam bentuk perasaan tak aman, dan kadang keluhan. Di sinilah titik kritis terjadi. Jika tak mampu diakomodir akan menjadi kontra produktif. Jika keluhan tersebut difasilitasi dengan baik, pintu pikiran untuk memahami hal baru dapat terbuka.

Di sinilah pentingnya seorang pemimpin menjadi pendengar yang baik bagi anggota timnya. Hindari pandangan bahwa masyarakat atau anggota tim yang mengeluh adalah sosok-sosok malas dan tak bisa diandalkan. Keluhan tersebut wajar, dan justru menjadi bukti bahwa ia sudah mulai meninggalkan zona nyamannya menuju area ketidakpastian. Bukankah itu sudah merupakan langkah maju dalam adaptasi terhadap perubahan?

Ahli-ahli kepemimpinan, management dan motivator di dunia juga sudah mengingatkan pentingnya komunikasi ini. Stephen Covey, penulis buku, “The 7 Habits of Highly Effective People,” mengatakan bahwa, komunikasi adalah ‘skill’ terpenting dalam hidup kita. Hal senada juga disampaikan oleh Zig Ziglar, 85 % kesuksesan tergantung kepada ‘relational atau interpersonal skill’: yakni seberapa pandai kita ‘mengenal’ orang lain dan berinteraksi dengan mereka. Sementara itu, Thomas Faranda mengatakan,”Tidak ada yang lebih penting bagi seorang pemimpin ketimbang kemampuan berkomunikasi secara efektif.”

Komunikasi yang efektif itu akan terjadi ketika seseorang berhasil memperoleh pemahaman yang sesuai (diharapkan), menstimulasi orang lain untuk melakukan sebuah tindakan dan mendorong orang untuk berpikir dengan cara yang berbeda. Hal inilah yang coba diupayakan oleh Bapak Dahlan Hasan Nasution dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai Kepala Daerah. Beliau tidak puas hanya mendengarkan laporan yang disampaikan oleh bawahannya, melainkan setahap demi setahap mulai terjun ke masyarakat untuk melihat kebenaran yang disampaikan oleh bawahannya selama ini. Inilah suatu bukti yang coba dihadirkan oleh seorang Bapak Dahlan Hasan Nasution yang anti kemapanan, yang tidak nyaman dengan sesuatu yang telah ada, dan ingin selalu membuat suatu terobosan baru. Kepemimpinannya diuji disini dan terbukti dia mampu menghadirkan situasi dan kondisi yang berbeda atas temuannya dilapangan ketika dia berdialektika dengan masyarakat tentang plus minus pembangunan yang dirancangnya selama ini.

Tentu saja ini sesuatu yang signifikan dan positif untuk bahan kajian pembangunan karena memang harus diakui semua pembangunan yang dilaksanakan ujungnya adalah penciptaan kesejahteraan masyarakat. Gencarnya beliau turun kelapangan harus dimaknai sebagai suatu pertanggungjawaban kinerja yang tentunya tidaklah semata dipertanggungjawabkan kepada masyarakat yang dipimpinnya, namun lebih dari itu hal ini merupakan pertanggungjawaban yang paling khakiki sebagai pemimpin atas kepemimpinannya dihadapan zat yang maha esa. Inilah esensi dari akuntabiltas yang sesungguhnya dan lagi-lagi Dahlan Hasan Nasution membuktikan kepada khalayak bahwa pertanggungjawaban yang paling berat selalu menjadi prioritasnya. Beliau hadir ditengah masyarakat kendatipun hujanan fitnah dan pembunuhan karakter mengelilinginya. Beliau tidak ambil pusing dengan semua tuduhan itu karena baginya mengabdi bagi masyarakat adalah ibadah.

Komunikasi akan bisa terwujud dengan baik apabila seorang pemimpin bisa mengetahui kondisi riil masyarakat, yaitu dengan cara berbaur dan terbuka dengan rakyatnya. Untuk mengetahui perbandingan sebagai bahan evaluasi ke depan, dan tidak hanya duduk sembari menunggu laporan yang disampaikan bawahan. Bapak Dahlan Hasan Nasution adalah seorang pemimpin yang terbuka bagi siapa saja dan tak sungkan turun ke tengah-tengah masyarakat marginal. Beliau turun ke masyarakat untuk mendengarkan kegalauan dan jeritan hati masyarakat dengan sungguh-sungguh dan bukan sekedar pura-pura mendengar. “Lips Service” tidak pernah ada dalam kamus pengabdiannya sebagai birokrat yang matang. Beliau mendengar dan menerima setiap masukan dan keluhan dengan terbuka tanpa justifikasi apalagi apologi seperti yang selama ini kerap dijadikan sebagai “senjata” untuk membunuh karakternya perlahan lahan.

Mendengar aspirasi masyarakat dengan terjun langsung ke tengah-tengah masyarakat adalah merupakan suatu bentuk pencarian solusi dalam memperbaiki Mandailing Natal ke depan. Ini bukan pencitraan karena pencitraan amat sarat dengan pesan-pesan kepentingan. Sebagaimana yang diketahui bahwa setiap permasalahan mempunyai solusi, setiap solusi harus sesuai dengan permasalahan (problem solving). Tidak ada artinya sebuah solusi jika tidak mengetahui persoalan yang sebenarnya, sebab cenderung akan melahirkan solusi kontra aspirasi. Karena selama ini, beberapa kali timbul solusi yang tidak sesuai dengan aspirasi serta persoalannya. Oleh karena itu, untuk menghindari kejadian yang sama disebabkan oleh oknum-oknum tertentu, Dahlan Hasan Nasution langsung pasang badan bertemu dengan masyarakat dan berbaur serta bercengkrama sehingga kondisi di masyarakat yang sebenarnya dapat dicari solusi terbaiknya.

Kenapa ini penting? Setidaknya beliau mengetahui persoalan yang sedang dialami dan dihadapi rakyatnya. Karena itulah seorang Dahlan Hasan Nasution bisa disebut sebagai pemimpin yang merakyat. Penting baginya untuk menyempatkan diri mengunjungi desa-desa terpencil, tertinggal, terisolir, terpinggirkan, terbelakang dan lain-lain disela tugas-tugas penting lainnya. Meskipun tidak banyak yang mengetahui tentang hal ini, baginya ini bukanlah persoalan. Baginya ini sekali lagi adalah ibadah. Baginya ini adalah pengabdian. Baginya ini adalah tanggungjawab. Beliau seakan terkesan tidak pernah mempublikasikan kegiatannya karena ini baginya bukanlah ajang mencari popularitas semata. Karena disadari “berbuat” menurutnya adalah pengabdian tanpa henti. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puluhan Desa Di Madina Belum Dialiri Listrik

    Puluhan Desa Di Madina Belum Dialiri Listrik

    • calendar_month Kamis, 28 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN, : Puluhan desa di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara belum dialiri listrik, sehingga warga tidak bisa beraktivitas pada malam hari karena perangkat elektronik seperti televisi juga tidak berfungsi. Syukuran kecil diadakan warga tiga desa di Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal, sebagai luapan kegembiraan setelah puluhan tahun menunggu dan pada HUT PLN ke-65, Rabu (27/10) […]

  • Ustad Somad di Madina

    Ustad Somad di Madina

    • calendar_month Senin, 8 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Lebih dari 10.000 umat Muslim menghadiri tausiah Ustad Abdul Somad di Pondok Pesantren Musthofawiyah Purba Baru, Mandailing Natal, Sumut,Senin (8/4/2019). Acara itu merupakan peringatan Isra’ Mi’raj Rasululloh Muhammad SAW. Tausiah yang disampaikan Ustad Abdul Somad banyak sisi, mulai dari sisi zakat, solat, hingga politik. Serta kepemimpinan yang meneladani Rasululloh SAW. Dia […]

  • Napi Narkoba Yang Kabur Gunakan Sarung Manjat Tembok LP

    Napi Narkoba Yang Kabur Gunakan Sarung Manjat Tembok LP

    • calendar_month Rabu, 2 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Nara Pidana atau Warga Binaan Pemasyarakatan ( WBP ) yang kabur dari Lembaga Pemasyarakatan kelas II B Panyabungan pada senin pagi 1/8/2023 kemaren diduga menggunakan sarung untuk memanjat tembok. Hal ini di ungkapkan Kepala Lapas kelas II B Panyabungan Mustafa Kamal Simamora Rabu 02/8/2023 saat di konfirmasi. ” dugaan kami, dia […]

  • KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menetapkan perolehan suara pasangan calon (Paslon) pada pemilihan bupati dan wakil bupati Madina, Selasa (3/12/2024) pukul 22.15 Wib di aula kantor KPU Madina. Hadir dalam penetapan perolehan suara Paslon yakni, lima orang komisioner termasuk Ketua KPU Madina Muhammad Ikhsan Matondang, Ketua Bawaslu Madina […]

  • Lima Desa di Madina Belum Dialiri Listrik

    Lima Desa di Madina Belum Dialiri Listrik

    • calendar_month Selasa, 15 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Puluhan Tahun Warga Tak Pernah Nonton TV MADINA- Sedikitnya lima desa di Kabupaten Mandailing Natal belum dialiri listrik sejak Indonesia merdeka 65 tahun lalu. Selama itu pula, warga yang berdomisili di sana memanfaatkan obor dan lampu teplok saat malam hari. “Jadi, selama puluhan tahun terakhir hingga hari ini , kami sama sekali tidak pernah menonton […]

  • Tahun Ini jumlah Caloh Haji Madina 459 Orang

    Tahun Ini jumlah Caloh Haji Madina 459 Orang

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tahun 2016 ini jumlah calon haji dari Kabupaten Mandailing Natal sebanyak 459 orang. Data itu diketahui saat Pemkab Mandailing Natal (Madina) menggelar zikir dan doa di penutupan manasik akbar keberangkatan haji tahun 2016 yang diselenggarakan di mesjid agung  Nur Ala Nur, Panyabungan, Senin (1/8). Staf Ahli Bidang Pemerintahan Umum Pemkab Madina, […]

expand_less