Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Kontektualitas PKI di Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 11 Okt 2021
  • print Cetak

Grafis

Catatan: Askolani Nasution
Budayawan

Di Tugu Perintis Kotanopan, ada tulisan tentang Pemberontakan Rakyat tahun 30-an. Tak banyak yang tahu kalau pemberontakan yang meluas di nyaris semua wilayah Hindia Belanda itu berkaitan dengan Pemberontakan Silungkang malam tahun baru 1927 di Sumatera Barat. Lalu menjalar ke berbagai wilayah, termasuk ke kawasan Mandailing.

Ada tiga kelompok perjuangan penting di Mandailing masa awal 30-an: Partindo yang berafiliasi ke Soekarno, Permi yang yang dimotori kelompok nasionalis Islam, dan PKI. Ketiganya mengusung isu kemerdekaan dengan ideologi yang berbeda. PKI misalnya mengusung jargon membubarkan pemerintahan kolonial di Indonesia.

Partindo basisnya di Hutapungkut. Permi basisnya di Pesantren Subulus Salam Sayurmaincat, dan PKI menyebar di wilayah Mandailing Julu dan Mandailing Godang.

PKI belum menonjolkan ideologi anti tuhan dalam bayangan kita, tetapi lebih kepada pola-pola perjuangannya, aksi massa, isu tentang kemiskinan dan penderitaan rakyat, dst. Partindo, Permi, dan PKI sama-sama luas pendukungnya.

Setelah Partindo dibubarkan, orang-orangnya beralih ke PNI, Permi masuk Masyumi. Dalam Pemilu 1955, PNI, Masyumi, dan PKI sama-sama menjadi peraih suara terbanyak. Tapi Masyumi mendominasi wilayah Mandailing. Ini menjadi persoalan baru.

Masyumi awalnya didukung NU dan Muhammadiyah. Lalu karena menjadi pemenang pemilu, Masyumi mendapat kue besar untuk mengisi jabatan-jabatan pemerintahan di Mandailing. Namanya pejabat pemerintah, mereka tidak boleh pakai sarung.

Menjadi persoalan karena yang basic NU di Masyumi tidak mau menanggalkan sarung. Padahal mereka akan menjadi asisten wedana (camat), dan lain-lain. Karena itu semua jabatan pemerintahan didominasi oleh orang Muhammadiyah. Itu yang menguatkan keluarnya NU dari Masyumi dan membentuk partai sendiri.

Tahun 57, Masyumi mendukung PRRI di Mandailing. PKI mendukung pemerintahan pusat. Maka rivalitas antara Masyumi dan PKI makin meruncing. Ketika Pusat kemudian memadamkan pemberontakan tahun 1958 — masa itu disebut “margabung” di Mandailing — orang-orang Masyumi mulai tersingkir dari pemerintahan. Digantikan oleh PNI, NU, dan PKI.

Tahun 1958 sampai 1965, itu masa jaya PKI di Mandailing. Tokoh-tokoh PKI mendominasi berbagai akses ekonomi. Hutan misalnya, hak tebang kayu diserahkan kepada orang-orang PKI. PKI juga mendomasi pemerintahan desa. Bahkan tukang cukur pun didomonasi orang PKI. Sebaliknya, orang-orang masyumi mendapat perendahan yang luar biasa.

Askolani Nasution

Orang-orang Masyumi membangun kedekatan dengan tentera melalui Buterpera (Koramil). Karena TNI-AD memang menjadi lawan politik utama PKI, terutama faksi Jenderal Nasution.

Bagaimana selanjutnya orang-orang PKI dibantai di Mandailing? Ah, itu top secret.

 

Naskah: dicopy dari akun facebook Askolani II.

Judul artikel: Mandailing Online

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalinsum Batu Jomba Sipirok Nyaris Putus

    Jalinsum Batu Jomba Sipirok Nyaris Putus

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel  – Kondisi ruas Jalan Lintas Sumatera Utara (Jalinsum) Batu Jomba di Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan nyaris terputus. Bagi para pengguna jalan yang melewati daerah itu agar ekstra hati-hati. Pantauan MedanBisnis, Jumat (12/12) jalan lintas yang menghubungkan Sipirok-Tarutung sempat terputus. Hal itu menyebabkan antrean panjang kendaraan. Informai diperoleh dilokasi menyebutkan pada […]

  • Integrasi Bisnis Ayam Kampung Harus Ada di Tiap Provinsi

    Integrasi Bisnis Ayam Kampung Harus Ada di Tiap Provinsi

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SULTRA – “Setiap provinsi perlu ada percontohan integrasi bisnis ayam kampung yang menggerakkan para peternak,” ujar Menteri Pertanian, Syahrul YL. Itu dikatakannya saat membuka peringatan Hari Pangan Sedunia ke-39 Tahun 2019 di Konawe Selatan, Sulawesi Utara (2/11/2019). Teknologi pertanian di Indonesia sudah banyak tersedia.  Untuk memajukan pertanian, mandiri dan modern yang kurang adalah gebrakannya […]

  • Gula Aren Morsip Disukai Turis Mancanegara

    Gula Aren Morsip Disukai Turis Mancanegara

    • calendar_month Kamis, 6 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Gulo bargot atau gula Aren buatan Desa Ranjo Batu, Kecamatan Muara Sipongi ternyata sangat digemari turis mancanegara. Pasalnya, bus pariwisata setiap hari selalu singgah di warung gulo bargot buatan Elmi (32) yang berada di pinggir Jalur Lintas Sumatera titik Desa Ranjo Batu. Ibu 2 orang anak ini menjawab wartawan, Kamis […]

  • Tambang Emas Ilegal Bermunculan

    Tambang Emas Ilegal Bermunculan

    • calendar_month Senin, 28 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Distamben Tapteng akan Lakukan Penertiban Pandan (Mandailing Online) – Aktifitas penambangan emas ilegal di Desa Gunung Marijo, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), semakin meresahkan masyarat desa sekitar. Warga khawatir aktifitas para penambang yang disinyalir menggunaan bahan kimia seperti merkuri itu berdampak negatif secara langsung kepada masyarakat dan lingkungan hidup sekitar lokasi pertambangan. Masyarakat amat […]

  • Organda Sumut Minta Tuntaskan Jalan Lingkar Kotanopan

    Organda Sumut Minta Tuntaskan Jalan Lingkar Kotanopan

    • calendar_month Selasa, 28 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    KOTANOPAN (MO) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) didesak agar segera menuntaskan pembangunan jalan Lingkar Barat Kotanopan sepanjang lebih kurang 7 Km yang sampai saat ini masih terbengkalai. Desakan ini di keluarkan untuk mengurangi kemacetan yang sering terjadi di pusat Pasar Kotanopan. Desakan ini dinyatakan Ketua I DPD Organda Sumut, H. Ikhwan Efendi Lubis di […]

  • Laporan dari Arab Saudi, Jamaah Dilarang Bawa Air Zam-zam, Ada Sweeping di Bandara

    Laporan dari Arab Saudi, Jamaah Dilarang Bawa Air Zam-zam, Ada Sweeping di Bandara

    • calendar_month Minggu, 28 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Madinah, Untuk keselamatan penerbangan, jamaah haji dilarang membawa air zam-zam saat terbang pulang ke tanah air. Air zam-zam juga tidak boleh diselipkan di dalam koper karena tetap saja berbahaya bila tumpah. Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Madinah Subakin Abdul Muthalib menjelaskan, kementerian agama dan pihak penerbangan sudah membuat kesepakatan bila jamaah akan diberikan air zam-zam saat […]

expand_less