Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Lasiak Lumban Dolok, di Gantian Air

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 19 Feb 2019
  • print Cetak

Petani cabai di Lumban Dolok, Siabu, Mandailing Natal

 

Catatan : Dahlan Batubara

 

Lasiak dari Lumban Dolok termasuk cabai yang populer. Terutama di kalangan pedagang. Keterkenalannya itu serupa dengan keterkenalan lasiak Sibanggor.

Lasiak dalam bahasa Mandailig. Cabai bahasa Indonesia-nya.

Desa Lumban Dolok berada di Kecamatan Siabu. Mandailing Natal. Sumatera Utara.

Lasiak Lumban Dolok tak sepedas lasiak Sibanggor.

Tapi, tak sepedas Sibanggor ini pula penyebab lasiak Lumban Dolok disukai tanah Minang.

Alhasil, mayoritasnya justru “diekspor”” ke Sumatera Barat.

Lasiak Lumban Dolok lebih cocok untuk saus. Untuk sambal balado. Boleh jadi, sambal yang melumuri Kerupuk Sanjai Balado. Yang dari Minangkabau itu. Cabainya dari Lumban Dolok. Perlu ditelusuri.

Berdasar pengakuan petani Lumban Dolok. Produksi lasiak mereka bisa lebih 1 ton per minggu. Data detailnya tak saya peroleh. Saya tak berhasil berjumpa dengan saudagar lasiak di sana.

Karena “ekspor” itulah, makanya tak banyak lasiak Lumban Dolok beredar di Mandailing Natal.

Dan, lasiak Lumban Dolok yang hanya sedikit beredar di sini itu, ditambah lasiak Sibanggor serta cabai dari berbagai kawasan di Mandailing Natal tak sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi cabai di Mandailing Natal.

Coba pantau pagi hari. Sekitar pukul 4.00 WIB. Di Pasar Baru Panyabungan. Akan ada selalu truk yang bongkar muatan. Membongkar cabai. Dari daerah Siborong-borong. Untuk disebarkan di pasar-pasar Mandailing Natal.

Cabai dari Soborong-borong ini. Memberikan fakta. Bahwa cabai masih kurang di Mandailing Natal. Untuk kebutuhan rumah tangga, rumah makan dan segala kuliner yang bersentuhan dengan bahan baku cabai.

Tetapi, mungkin cukup, jika lasiak Lumban Dolok tak “diekspor”.

Saya tak tahu berapa kebutuhan cabai di Madina. Per hari.

Saya juga belum tahu berapa produksi cabai lokal. Per hari. Mendatanya sangat rumit.

Tetapi, lasiak Lumban Dolok selalu berproduksi. Nyaris tiada henti. Dari tiga hamparan yang berbeda. Dengan cara : aplusan menanam cabai.

Saat ini. Bulan Pebruari ini. Hamparan Saba Sialang yang dapat giliran nanam cabai.

Sebelumnya hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong yang nanam cabai.

Aplusan alias bergilir alias gantian.

2 hamparan lawan 1 hamparan.

Jika giliran hamparan Saba Salang bercabai, maka hamparan Saba Padang dan Saba Aek Latong menanam padi.

Jika giliran Saba Padang dan Saba Aek Latong yang bercabai, maka hamparan Saba Salang bertanam padi.

Makanya cabai dari Lumban Dolok tak pernah berhenti.

Kok aplusan?

Ya, karena desa itu kekurangan air untuk pertanian. Sumber air hanya ada satu : Aek Latong. Yang debitnya tak mampu mengairi tiga hamparan itu sekaligus.

Makanya dilakukan gantian.

Awal Pebruari lalu saya ke Lumban Dolok. Rapat KTNA. Kontak Tani Nelayan Andalan. Rapatnya di rumah ketua KTNA Madina, Rosmala Dewi Nasution. Lalu rapat berlanjut ke pinggir sawah. Di satu saung.

Usai rapat itu, saya bertemu sejumlah petani. Petani cabai, eh..juga petani padi dong. Bertanya : sudah berapa lama aplusan ini?

Sudah lebih 30 tahun.

Padi butuh air mengalir ke hamparan sawah. Cabai tak butuh air mengalir, meski wajib untuk kebutuhan menyiram tanaman.

Karena air kurang. Maka diputuskan bergantian memakai air. Keputusan itu dulu. Hampir setengah abad lalu. Keputusan berdasar kearifan lokal.

Kekurangan air ini sebenarnya membawa berkah. Bukan membawa kesulitan.

Tanah yang ditanami padi harus basah. Harus digenangi air. Tetapi, tanah yang ditanami palawija pastinya kering. Tidak digenangi air.

Unsur hara akan semakin bagus di dalam tanah yang kering selama 6 bulan. Selama berpalawija.

Itu akan menyuburkan ketika giliran bertanam padi. Jumlah batang di tiap rumpun padi akan banyak. Padi subur. Panen melimpah. Dibanding yang senantiasa bertanam padi.

Saya teringat masa kecil. Dulu. Akhir 70-an. Petani di Panyabungan hanya bersawah sekali setahun. 6 bulan bersawah. 6 bulan berpalawija. Pupuk kimia belum terlalu dominan. Rumpun-rumpun padinya gemuk-gemuk. Malai padi rimbun-rimbun.

Aplusan padi-palawija itu berakhir di Panyabungan. Juga di Mandailing secara luas. Juga se-Indonesia secara nasional. Ketika pemerintah Indonesia di akhir 70-an mengumandangkan Revolusi Hijau. Di sektor pertanian.

Revolusi Hijau menekankan kepada petani memakai pupuk kimia, pestisida, bibit impor. Ujung-ujungnya : padi ditanam 2 kali setahun. Tak ada lagi selingan berpalawija.

Terhenti pula penyuburan tanah melalui pengembangan unsur hara selama berpalawija.

Dampak I : tanaman padi kecanduan pupuk kimia dan pestisida. Ibarat narkoba, kecanduan ganja atau sabu-sabu.

Dampak II : tanah jadi gersang. Akibat dampak negatif kimiawi. Padi tak akan subur lagi jika tak dibius sabu-sabu eh pupuk kimia.

Belakangan pemerintah sadar. Lalu muncul kampanye pupuk organik. Agar unsur hara kembali normal.

Tetapi Lumban Dolok tetap berpadi dan berpalawija. Seperti sebelum 70-an itu. Gara-gara debit Aek Latong yang kurang debit itu.

Dan, petani di Lumban Dolok kian mahir menguasai hama cabai, penyakit cabai, parasit pengganggu akar tanaman cabai, pola pupuk, pengaruh perubahan cuaca terhadap cabai. Dan itu tadi, lasiak Lumban Dolok merambah Sumatera Barat. Untuk sambal. Untuk saus.

Jadinya : Lumban Dolok selain menghasilkan padi, juga tukang “ekspor” lasiak ke negeri Minangkabau.

Tetapi, Lumban Dolok tak hanya bertanam cabai.

Ada juga petani yang bertanam kacang, tomat dll yang tidak membutuhkan air mengalir. Ketika giliran berpalawija.***

 

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persatuan dan Kesatuan Sebagai Modal Awal Pembangunan di Kabupaten Mandailing Natal

    Persatuan dan Kesatuan Sebagai Modal Awal Pembangunan di Kabupaten Mandailing Natal

    • calendar_month Jumat, 1 Mar 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    Oleh : Maradotang Pulungan Kabupaten Mandailing Natal dikenal sebagai daerah yang majemuk, ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama dan budaya di dalamnya. Di sisi lain, masyarakat Mandailing Natal dikenal sebagai masyarakat multikultural, masyarakat yang anggotanya memiliki latar belakang budaya (cultural background) beragam. Kemajemukan dan multikulturalitas mengisyaratkan adanya perbedaan. Namun bila ini dikelola secara benar, kemajemukan […]

  • Kaum Ibu di Desa Hutapuli Nyatakan Saroha dengan Atika

    Kaum Ibu di Desa Hutapuli Nyatakan Saroha dengan Atika

    • calendar_month Rabu, 9 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Sejumlah ibu-ibu di Desa Hutapuli, Kecamatan Siabu, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) mengaku sepakat memilih perempuan pada pemilihan bupati dan wakil bupati kabupaten ini. Bagi mereka, perempuan lebih peka dan mengerti keadaan kaum hawa. Hotmaida Hasibuan, salah satu warga Desa Hutapuli, yang diwawancarai seputar pilihan pada Pilkada ini mengaku akan memilih Atika […]

  • Seorang Napi LP Sipaga-paga Panyabungan Meninggal

    Seorang Napi LP Sipaga-paga Panyabungan Meninggal

    • calendar_month Rabu, 6 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diduga terkena serangan jantung, salah seorang Narapidana Lembaga Permasyarakatan Kelas II B Sipaga-paga, Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), meninggal dunia di selnya, Selasa (29/03/2011). Korban meninggal bernama Adreas alias Deras, ditahan di LP Sipaga-paga dalam kasus pembunuhan dengan hukuman 18 tahun penjara. Jenazah Adreas tampak diotopsi di Ruangan Instalasi Jenazah RSUD Panyabungan. (Ist) Sumber : […]

  • Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelayanan Buruk KABAJAHE- Dari hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah tahun 2010, Kabupaten Karo berada di urutan ke-22 dari 25 kabupaten/kota se-Sumatera Utara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Diharapkan dengan kepala daerah yang baru ini, Karo dapat berbenah ke arah yang lebih baik. Demikian pesan Plt Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pudjonugroho ST pada acara pengambilan […]

  • Siswi SMK AKP Tewas Digilas Dump Truk

    Siswi SMK AKP Tewas Digilas Dump Truk

    • calendar_month Rabu, 28 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LUBUKPAKAM, (MO) – Wiwik Sundari(15) warga Dusun II Desa Sidourip Kecamatan Beringin, siswi kelas I SMK Yayasan Awal Karya Pembangunan (AKP) di Pasar Sore Kecamatan Beringin, tewas terlindas dump truk pengangkut tanah di Jalan Lintas Sidourip tepatnya di Dusun Sunda Desa Pasar V Kebun Kelapa Kecamatan Beringin, Selasa (27/11), sekitar pukul 11.00 Wib. Sebelumnya korban, […]

  • Musim Kemarau di Sipirok, Warga Kesulitan Air Bersih

    Musim Kemarau di Sipirok, Warga Kesulitan Air Bersih

    • calendar_month Selasa, 13 Agt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    TAPSEL, – Musim kemarau yang melanda wilayah Tapanuli Selatan dalam sebulan terakhir, mengakibatkan warga kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan, seperti memasak, mandi, cuci dan kakus (MCK). Banyak warga yang mengambil air dari sumur tetangga atau dari mata air di perkampungan. Di Kecamatan Sipirok, Tapsel, keberadaan tiga titik pemandian air panas yang ada selalu […]

expand_less