Jumat, 17 Jul 2026
light_mode

Mengapa Petani Indonesia Miskin, Padahal Selalu Bekerja Keras?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
  • print Cetak

Oleh : Irwan Daulay

 

Ekspor impor apa pun itu bukan suatu masalah. Tidak penting harus swasembada, surplus atau defisit. Ada saatnya swasembada, lalu surplus dan selanjutnya diekspor. Ada kalanya produksi menurun, stok berkurang lalu impor. Inilah dinamisnya persoalan produksi dan bukan suatu masalah. Yang penting ada strategi mitigasi yang berkelanjutan dan hal ini bisa diselesaikan akal manusia, karena dia ilmu pengetahuan, sainstek, dan berkaitan dengan tata kelola (manajemen), tentu dapat dipecahkan akal manusia.

Menjadi masalah jika persoalan distribusi kekayaan tidak diatur dengan benar. Soal ini akal manusia tidak sanggup memecahkannya dan sama sekali tidak sanggup. Hal inilah yang selalu menjadi persoalan utama dalam perekonomian bukan persoalan produksi, persoalan utama ekonomi soal distribusi kekayaan, dari persoalan ini manusia mencoba mengurainya sehingga bermunculan mazhab ekonomi. Sudah pasti tidak akan terpecahkan jika menggunakan akal manusia. Lihat apa yang terjadi, kesenjangan parah terjadi di mana-mana. Bahkan data membuktikan, kekayaan nasional atau global hanya dimiliki segelintir orang, sebagian yang lain dilanda kemiskinan ekstrem dan kelaparan.

Begitu juga dengan petani kita. Mereka berjuang luar biasa mencapai target produksi dan swasembada pangan. Kadang tercapai, kadang juga tidak, karena ini tabiat produksi. Ada masa melimpah, masa yang lain pas-pasan, dan kadang satu masa paceklik. Namun, nasib petaninya tetap miskin, papa, dan menderita sepanjang hayat. Mengapa?

Ada persoalan distribusi yang tidak dapat dipecahkan akal manusia, distribusi kekayaan, distribusi tanah, distribusi kekayaan SDA yang seperti apa yang boleh dan tidak boleh dimiliki privat, kekayaan seperti apa pula yang wajib dimiliki bersama (publik) dan terlarang dimiliki sektor privat, dan yang mana kekayaan yang harus dimiliki negara.

Soal distribusi ini tidak dapat dipecahkan akal manusia, sehingga muncul masalah, masalah yang tidak pernah tuntas sampai hari ini dan bahkan ke depan, karena akal manusia yang terbatas, juga dorongan hawa nafsu yang tidak terhindarkan manusia. Ini sangat naluriah dan alamiah, namun ini suatu masalah, masalah sebenarnya dalam perekonomian, masalah yang tidak dapat dipecahkan mazhab ekonomi mana pun.

Pencipta adalah pihak yang paling paham tabiat ciptaan-Nya. Pencipta Maha Tahu apa saja kelemahan manusia sehingga memberikan panduan soal ini. Demikian juga karena manusia memiliki misi dalam kehidupan, misi yang ditetapkan Sang Pencipta, maka manusia diberi akal agar memahami segala sesuatunya sehingga manusia dapat menjalani misi kehidupan yang benar, model kehidupan yang diserukan Pencipta untuk dijalankan. Karena atas kehendak Pencipta ada jalan lain, jalan buruk, jalan orang-orang durhaka, jalan orang-orang sesat, dan jalan yang harus dihindari.

Pencipta melalui akal, perasaan, dan naluri manusia memberi dua pilihan, antara memilih jalan lurus atau jalan sesat, dalam menjalani misi kehidupan. Benar-benar diberi pilihan karena kasih sayang-Nya dan sebagai bentuk ujian, ujian yang membedakan siapa yang taat dan siapa yang ingkar. Masing-masing pilihan jalan diberi informasi, petunjuk, atau bimbingan, yang mana jalur yang benar dan yang mana pula jalur yang buruk. Pencipta menyediakan informasinya secara rinci, tidak ada yang terlewat, sehingga manusia dapat membedakan yang mana yang benar dan yang mana pula yang buruk.

Termasuk soal kepemilikan. Pencipta tidak mengatur soal produksi karena hal itu dapat dipecahkan akal, nafsu, dan naluri manusia. Namun yang menjadi persoalan ialah urusan distribusi, urusan yang nampak sederhana namun sebenarnya sangat prinsipil, karena soal inilah yang membedakan lahirnya pemikiran ekonomi, mazhab ekonomi, sistem ekonomi, bahkan ideologi dalam soal ekonomi.

Sama sekali pemahaman tentang distribusi kekayaan, kapitalisme berbeda pemikirannya tentang distribusi kekayaan, demikian juga sosialisme, apalagi Islam.

Oleh karena itu, mengapa petani kita miskin sementara mereka terus berproduksi? Sementara di lain pihak ada yang hanya ongkang-ongkang kaki hidupnya berkelimpahan dari hasil pertanian, sama sekali karena persoalan distribusi, spesifik distribusi tanah pertanian. Dari persoalan distribusi inilah masalah pertanian muncul, muncul feodalisme dalam pertanahan, kapitalisme, dan sosialisme yang sangat tidak adil, sehingga selalu saja petani pihak yang dirugikan karena selalu berada di pihak yang dilemahkan.

Islam hadir memecahkan persoalan feodalisme, kapitalisme, dan sosialisme/komunisme dalam pertanian, yaitu keadilan distribusi tanah pertanian. Dalam Islam asas tanah pertanian adalah produksi. Jika Anda tidak mampu mengolah tanah pertanian milik Anda untuk berproduksi atau menelantarkan tanah tersebut selama tiga tahun berturut-turut, tidak ada hak kepemilikan bagi Anda. Anda tidak boleh menyewakannya karena asasnya produksi, menyewakan dan bekerja sama dalam permodalan pun terlarang.

Jika Anda tidak mampu mengelolanya sendiri, Anda hanya dapat menggaji orang mengerjakannya, dengan gaji yang sesuai dengan beban kerja dan kesepakatan. Jika juga tidak mampu dan Anda tetap berkeinginan memiliki tanahnya, serahkan pengelolaannya kepada saudara Anda dengan syarat tidak disewakan (gratis). Jika tidak sanggup juga dan terlantar selama tiga tahun maka negara berhak membatalkan kepemilikan Anda dan menyerahkannya kepada yang dapat mengelolanya.

Oleh pemikiran ini maka setiap petani pasti memiliki lahan pertanian atau memiliki gaji yang tinggi jika dia dipekerjakan. Inilah solusi Islam tehadap petani dan tanah pertanian, solusi yang adil dan berperikemanusiaan.

Referensi:

1. Nidzamul Iqtishadi oleh An-Nabhani
2. Iqtishaduna oleh Baqir As-Sadr.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru di Kota Berlebih, di Desa Terpencil Kekurangan

    Guru di Kota Berlebih, di Desa Terpencil Kekurangan

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Penyebaran tenaga pendidik di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tidak  proporsional. Guru menumpuk di sekolah-sekolah daerah perkotaan, sementara di  daerah pinggiran dan pedalaman banyak sekolah yang kekurangan guru, bahkan  banyak sekolah dasar yang hanya dididik oleh 2 atau 3 orang guru saja. “Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Dan pemerintah terkesan mengabaikan […]

  • Butuh Pelayanan Maksimal.

    Butuh Pelayanan Maksimal.

    • calendar_month Sabtu, 16 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelayan Pemerintah Kecamatan Panyabungan Timur didalam memudahkan masyarakat Kelurahan Gunung Baringin untuk urusan administrasi sangat diharapkan, terutama dalam penempatan lurah pada kelurahan itu, dimana sudah 2 tahun kelurahan tersebut tidak mempunyai lurah.(MOL)

  • Darmin, Petani Madina Dinobatkan Sebagai Petani Teladan Nasional, Akan Bertemu Presiden Jokowi

    Darmin, Petani Madina Dinobatkan Sebagai Petani Teladan Nasional, Akan Bertemu Presiden Jokowi

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Petani bernama Darmin dari Kecamatan Puncak Sorik Marapi dinobatkan sebagaio salah satu petani teladan nasional dan diundang presiden Jokowi ke Istana Negara di Jakarta. Selain itu, dia juga akan mengikuti temu ramah/resepsi kenegaraan dengan Presiden RI Joko Widodo di Istana Bogor usai peringatan HUT RI. Kepala Badan Penyuluh Pertanian Ketahanan […]

  • Kondisi Batahan Sudah Mulai Tenang Pasca Dihantam Puting Beliung

    Kondisi Batahan Sudah Mulai Tenang Pasca Dihantam Puting Beliung

    • calendar_month Kamis, 4 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kondisi kecamatan Batahan Kabupaten Mandailing Natal usai dihantam puting beliung pada Senin (1/11) sore terlihat sudah mulai tenang dan warga pelaksanakan aktivitas bergotong royong memperbaiki rumah yang rusak dengan swadaya masyarakat. Salah seorang warga Ramadi kepada wartawan, Selasa (2/11) mengakui puting beliung yang menimpa 4 Desa di Kecamatan Batahan mengakibatkan 80 rumah rusak berat […]

  • MPC PP Madina Adakan Berbagai Lomba Jelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

    MPC PP Madina Adakan Berbagai Lomba Jelang Peringatan Hari Kesaktian Pancasila

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menjelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2021 pada Jumat 1 Oktober 2021, Majelis Pimpinan Cabang Pemuda Pancasila Mandailing Natal (MPC PP Madina) menggelar berbagai lomba dengan hadiah menarik. Kegiatan bertajuk MPC PP Kab Madina Competition diisi dengan aneka lomba yakni lomba karya tulis ilmiah, fotografi, puisi, dan video kreatif bertemakan patriotisme, […]

  • Judi togel ‘menggurita’ di Madina

    Judi togel ‘menggurita’ di Madina

    • calendar_month Senin, 29 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Penyakit masyarakat, seperti judi toto gelap (togel) dan kim mulai menggurita di wilayah Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Malah untuk mendapatkan permainan haram itu sangat mudah diakses dalam dunia maya ataupun internet. “Saat ini keberadaan judi itu menjadi buah bibir masyarakat di Madina. Dan, apabila ini tidak segera diantisipasi pemerintah, maka dikhawatirkan akan merusak […]

expand_less