Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (3)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 14 Nov 2013
  • print Cetak

oleh : Z. Pangaduan Lubis

Pengaruh Hindu Terhadap Pribumi Mandailing

Pada uraian yang di atas sudah dikemukan mengenai peninggalan-peninggalan dari zaman pra sejarah yang ditemukan di beberapa tempat di Mandailing. Peninggalan-peninggalan ini membuktikan bahwa sudah ada manusia yang mendiami wilayah Mandailing pada masa tersebut. Sebagai pribumi Mandailing, mereka terus berkembang sampai orang-orang Hindu datang dan menetap di Mandailing.

Besar kemungkinan antara penduduk pribumi hidup berdampingan secara damai dengan orang-orang Hindu yang menetap dan kemudian membangun kerajaan di wilayah Mandailing. Dugaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun banyak ditemukan peninggalan dari zaman Hindu di wilayah Mandailing, tapi ditemukan juga peninggalan kebudayaan pribumi Mandailing yang berkembang sendiri tanpa didominasi oleh pengaruh Hindu.

Misalnya, patung-patung batu seperti yang terdapat di halaman Bagas Godang Panyabungan Tonga-Tonga dan patung-patung kayu yang terdapat di Hua Godang. Demikian juga ornamen-ornamen tradisional yang terdapat pada Bagas Godang dan Sopo Godang yang hanya sedikit sekali memperlihatkan pengaruh Hindu. Yakni pada ornamen berbentuk segitiga yang disebut bindu (pusuk robung) yang merupakan lambang dari Dalian Na Tolu.

Dalam kebudayaan Hindu, Bindu (bentuk segitiga) merupakan lambang mistik hubungan manusia dengan dewa trimurti. Bagian-bagian lain dari ornamen tradisional tidak memperlihatkan adanya pengaruh Hindu.

Dari bentuknya, ornamen-ornamen yang ada sampai sekarang ini hanya menggunakan garis-garis geometris (garis lurus), kecuali ornamen benda alam, buatan dan hewan seperti matahari, bulan, bintang, pedang, ular dll. Bentuk ornamen yang hanya menggunakan garis-garis geometris ini membuktikan ornamen tersebut berasal dari zaman yang sudah lama sekali (primitif).

Pengaruh Hindu juga terdapat pada budaya tradisional Mandailing, antara lain pada penamaan desa na ualu (mata angin) dan pada gelar kebangsawanan seperti Mangaraja, Soripada, Batara Guru serta nama gunung seperti Dolok Malea. Keaneragaman bahasa Mandailing yang terdiri dari hata somal, hata sibaso, hata parkapur, hata teas dohot jampolak dan hata andung yang kosa katanya masing-masing berlainan menunjukkan budaya pribumi Mandailing sudah lama berkembang yang tentunya dihasilkan dari peradaban yang sudah tinggi yang tidak banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa meskipun orang Hindu lama menetap dan mengembangkan budayanya tetapi pribumi Mandailing tidak didominasi oleh orang-orang Hindu dan bebas mengembangkan budayanya sendiri.

Adanya dua masyarakat, yaitu pribumi Mandailing dan orang Hindu yang masing-masing mengembangkan budayanya pada masa yang lalu di lingkuangan alam yang subur dan kaya dengan emas diduga kemungkinan besar Mandailing merupakan pusat peradaban di Sumatera pada masa awal abad-abad Masehi.

Salah satu bukti mengenai hal ini adalah adanya ragam bahasa yang sudah disebutkan di atas dan adanya aksara yang dinamakan Surat Tulak-Tulak yang kemudian berkembang ke arah utara mulai dari Toba, Simalungun sampai Karo dan Pakpak. Penelitian para pakar sudah membuktikan bahwa aksara Mandailing (Surat Tulak-Tulak). Bahasa yang halus dan aksara yang dimiliki oleh sesuatu bangsa menunjukkan bahwa bangsa tersebut sudah mempunyai peradaban yang tinggi.

Ada permasalahan yang sampai sekarang belum terpecahkan, yaitu kapan orang Hindu lenyap dari wilayah Mandailing dan apa yang menyebabkan mereka hilang dari Mandailing. Setelah orang Hindu lenyap dari Mandailing, pribumi Mandailing terus mengembangkan kebudayaannya. Budaya Mandailing berkembang tanpa memperlihatkan pengaruh budaya Hindu yang esensial.

Dalam kebudayaan Hindu salah satu yang esensial adalah konsep bahwa raja adalah wakil dewa di bumi yang mendasari feodalisme dalam pelaksanaan pemerintahan kerajaan. Masyarakat Mandailing tidak menganut konsep yang demikian itu tetapi pemerintahan yang demokratis yang dijalankan bersama-sama oleh Namora Natoras dan Raja.

Hal ini dilambangkan oleh bangunan Sopo Godang sebagai balai sidang adat (pemerintahan) yang sengaja dibuat tidak berdinding agar rakyat dapat secara langsung melihat dan mendengar segala hal yang dibicarakan oleh para pemimpin mereka. Semuanya berlangsung secara transparan yang langsung disaksikan sendiri oleh rakyat.

Setelah Belanda menjajah Mandailing, keadaan yang demikian itu mengalami banyak perubahan sehingga akhirnya muncul hal-hal yang feodalistis. Karena untuk memperkuat kedudukannya di Mandailing, Belanda berusaha mengembangkan hal-hal yang feodalistis untuk dapat menguasai rakyat Mandailing yang demokratis. Sifat rakyat Mandailing yang demokratis itu pada akhirnya mendorong munculnya pergerakan nasional di Mandailing sebagai pelopor pergerakan di Sumatera Utara. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dinas Perdagangan Madina Raih PAD 116,47 Persen

    Dinas Perdagangan Madina Raih PAD 116,47 Persen

    • calendar_month Selasa, 7 Jan 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dinas Perdagangan Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut merealisasikan capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) di atas target. Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Madina mencatat rekor perolehan PAD oleh Dinas Perdagangan Madina dari sektor Retribusi Pelayanan Pasar dan Kios  yang mencapai 116,47 persen dari target yang ditetapkan untuk tahun 2024. “Itu meningkat signifikan […]

  • Sekeluarga Tinggal di ‘Kandang Kambing’

    Sekeluarga Tinggal di ‘Kandang Kambing’

    • calendar_month Senin, 11 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Satu keluarga terdiri atas lima warga Desa Sarak Matua, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal, selama 15 tahun terakhir tinggal di rumah papan kecil dekat dengan kandang kambing milik warga. Adalah Husni (50) alias Jaidup dan empat anaknya, Ega (20), Nurhalimah (13), Aliatas (10) dan si bungsu Daud (8), yang tinggal berdesak-desakan di rumah berukuran […]

  • 13 Anak Punk Terjaring Razia

    13 Anak Punk Terjaring Razia

    • calendar_month Rabu, 22 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BINJAI- Dalam beberapa bulan terakhir, anak punk semakin menjamur di Kota Binjai. Untuk melakukan penertiban terhadap anak-anak punk itu, Pemerintah Kota (Pemko) Binjai, menggelar razia yang dilakukan langsung oleh Satuan Polsi Pamung Peraja (Sat Pol PP), Senin (20/2) pagi pukul 09.00 WIB. Dalam razia yang dilakukan itu, petugas Sat Pol PP mengamankan 13 anak punk […]

  • Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    Lagi-lagi KKB Berulah, Kapankah Papua Aman?

    • calendar_month Jumat, 24 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Susi Ummu Ameera Pegiat Literasi Sebanyak sembilan tenaga kesehatan (nakes) korban kekerasan yang dilakukan KKB (kelompok kriminal bersenjata) di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada Senin lalu, saat ini sedang menjalani pemulihan trauma dan pengobatan. (19/7). Pelayanan kesehatan dihentikan, seraya menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas. Namun hingga […]

  • DPRD Tak Diberitahu 2 Anggota Dewan Diperiksa KPK

    • calendar_month Rabu, 5 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemeriksaan terhadap dua anggota DPRD Madina, Ali Mutiara Rangkuti dan Ahmad Husein, tanpa pemberitahuan terhadap lembaga DPRD Madina. Sehingga pimpinan DPRD Madina tidak tahu terkait pemeriksaan kepada dua anggota dewan itu. Sekretaris DPRD Madina Sahnan Batubara kepada wartawan, kemarin mengatakan, pihaknya tidak mengetahui berapa jumlah anggota DPRD Madina yang diperiksa KPK […]

  • Disdik Madina Sosialisasi Peraturan UN

    Disdik Madina Sosialisasi Peraturan UN

    • calendar_month Minggu, 5 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Dinas Pendidikan (Disdik) Mandailing Natal (Madina) mensosialisasikan aturan soal ujian nasional tahun ajaran 2011/2012, di aula SMKN 2 Panyabungan, Kamis (2/2). Kegiatan itu diikuti 171 peserta dari SMP, MTs, SMA, MA, SMK. Acara dibuka Kadisdik H Imron Lubis, dengan narasumber Erwin Ahmad menyampaikan materi kisi-kisi UN, Mustamin membahas Permendikbud dan peraturan operasional standar (POS) […]

expand_less