Sabtu, 7 Nov 2026
light_mode

Masdoelhak Nasoetion, Kematiannya Menimbulkan Kemarahan PBB (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 30 Jan 2017
  • print Cetak

Masdoelhak Nasoetion

Dewan Keamanan PBB marah besar. Pimpinan organisasi bangsa-bangsa yang berkantor di New York meminta sebuah tim netral di Belanda untuk melakukan penyelidikan segera atas kematian Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion di Yogyakarta 21 Desember 1948. Reaksi cepat badan PBB ini untuk menanggapi berita yang beredar dan dilansir di London sebagaimana diberitakan De Heerenveensche koerier : onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en Noord-Overijssel, 01-02-1949.

Koran ini mengutip pernyataan pers dari kepala kantor Republik Indonesia di London yang pernyataannya sebagai berikut: ‘sejumlah intelektual terkemuka di Indonesia, diantaranya Masdulhak, seorang penasihat pemerintah dibunuh hingga tewas tanpa diadili’.

Mengapa PBB demikian marahnya atas kasus ini? Masdoelhak adalah seorang intelektual paling terkemuka di jajaran inti pemerintahan Republik Indonesia. Masdoelhak adalah akademisi muda bergelar doktor di bidang hukum lulusan Eropa. Masdoelhak juga menjadi adviseur der regering (penasehat pemerintah), penasehat pimpinan republik (Soekarno dan Hatta). Masdoelhak adalah satu-satunya sarjana bergelar doktor di lingkaran satu pemerintahan Republik Indonesia. Inilah alasan mengapa petinggi Belanda (van Moek dan Spoor)  menaruh nama Masdoelhak pada baris pertama dalam list orang yang paling dicari sesegera mungkin (wanted): dead or alive.

De waarheid, 25-02-1949 melaporkan duduk perkara yang mengerikan itu dari ruang pengadilan. Kejadian ini bermula ketika Belanda mulai menyerang Yogya pukul lima pagi, 19 Januari 1948, tentara Belanda bergerak dan intelijen bekerja. Akhirnya pasukan Belanda menemukan dimana Masdoelhak. Lalu tentara menciduk Masdoelhak di rumahnya di Kaliurang dan membawanya ke Pakem di sebuah ladang jagung. Masdoelhak di rantai dengan penjagaan ketat dengan todongan senjata.

Selama menunggu, Masdoelhak hanya bisa berdoa dan makan apa adanya dari jagung mentah. Akhirnya setelah beberapa waktu, beberapa tahanan berhasil dikumpulkan, total berjumlah enam orang. Lalu keenam orang ini dilepas di tengah ladang lalu diburu, dor..dor..dor. Masdoelhak tewas ditempat. Seorang diantara mereka (Mr. Santoso, Sekjen Kemendagri) terluka sempat berhasil melarikan diri, tetapi ketika di dalam mobil dalam perjalanan ke Yogya dapat dicegat tentara lalu disuruh berjongkok di tepi jalan lalu ditembak dan tewas ditempat. Di pengadilan, menurut De waarheid jaksa penuntut umum menganggap pembunuhan ini sebagai ‘pembunuhan pengecut’.

Koran ‘De waarheid’ (waarheid=truth=‘kebenaran’) melihat kasus ini selama ini sengaja ditutup-tutupi. Awalnya resolusi Dewan Keamanan hanya menuntut Belanda bahwa semua tahanan politik harus dibebaskan, malahan membunuh dengan cara keji begini. Koran ini memberi judul beritanya sebagai metode teror fasis (Fascistische terreur-methoden). Desas-desus yang sebelumnya diterima Dewan Keamaman PBB yang membuat mereka marah dan meminta dilakukan penyelidikan secara tuntas akhirnya terungkap di pengadilan. Hasilnya penyelidikan yang diungkapkan oleh koran ‘kebenaran’ ini sebagai: pembunuhan keji para intelektual, pembunuhan secara pengecut dan penggunaan metode fasis.

Respon cepat dari pihak Belanda atas permintaan badan PBB itu karena pada tanggal 1 Maret 1949 komisi PBB akan datang ke Indonesia. Karena itu delegasi Belanda secepat mungkin pula datang ke Batavia untuk melakukan penyelidikan atas kasus kematian Masdoelhak. Pihak Belanda coba menutup-nutupi kasus ini dan bocoran sidang pengadilan itu dapat diketahui wartawan sebagaimana dilaporkan De waarheid, 25-02-1949 tersebut. Dalam berita itu, wartawannya bertanya: Seberapa lama warga Belanda akan mentolerir cara-cara serupa ini? 

Anehnya, dalam buku-buku yang diterbitkan kemudian, kejadian 'pembunuhan keji' ini sengaja atau tidak sengaja dikerdilkan dan kematian Masdoelhak hanya disebutkan hanya sekadar ‘mati ditembak di rumahnya’ [lihat, antara lain dalam buku: ‘Mohamad Roem 70 tahun: pejuang perunding’ (1978) dan buku ‘Southeast Asia: A Testament’ oleh George McT. Kahin (2003)]. Apakah penulis-penulis ini tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya atau hanya mengandalkan sumber (mulut ke mulut) dari pihak Belanda saja? Kita tidak tahu. Good news, bad news, yang jelas koran ‘De waarheid’ memiliki informasi yang berbeda (cover both side). (Bersambung. *Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan berbagai sumber tempo doeloe / Tapanuli Selatan Dalam Angka)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Helmi Nasution belum diserahkan ke Jaksa

    Helmi Nasution belum diserahkan ke Jaksa

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Penyidik Kepolisian Daerah Sumut gagal, atau belum dapat menyerahkan Ketua Yayasan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Helmi Nasution dan Rektor Chairul Mursin ke Kejaksaan, karena keduanya berada di luar kota. Helmi dan Chairul diperiksa sebagai tersangka karena menjalankan akademik tanpa izin pemerintah. “Semestinya keduanya diserahkan ke Jaksa kemarin. Tetapi karena alasan mengikuti kegiatan […]

  • Petasan Dilarang Beredar!

    Petasan Dilarang Beredar!

    • calendar_month Minggu, 7 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Kapolres Madina AKBP Ahmad Fauzi Dalimunte menegaskan, segala bentuk dan ukuran petasan dilarang digunakan. Sebab bisa membahayakan keamanan dan ketertiban masyarakat. Sementara itu, untuk kembang api juga memiliki ukuran yang bisa digunakan atau tidak. Menurut kapolres, dalam waktu dekat Polres Madina akan merazia petasan yang dijajakan di pasar Panyabungan. “Para pedagang petasan itu tidak ada […]

  • Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 1)

    Dahlan Hasan, Mendengar dan Berbuat Bagi Perubahan (bagian 1)

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Menghadapi perubahan bukanlah hal mudah. Proses adaptasi membutuhkan setiap orang dalam organisasi untuk membangun pola pikir dan kebiasaan berbeda, dan hal itu menuntut upaya keras untuk keluar dari zona kebiasaan yang nyaman menuju sebuah ketidakpastian. Yang namanya ketidakpastian, bagi sebagian orang sangatlah menantang, namun bagi sebagian yang lain justru menjadi masalah. Proses adaptasi yang menjadi […]

  • Bupati Hidayat Siap Nonaktif

    Bupati Hidayat Siap Nonaktif

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 7Komentar

    MEDAN, – Masa jabatan Bupati Mandailing Natal (Madina) Muhammad Hidayat Batubara tinggal menghitung setelah resmi menjadi terdakwa korupsi pembangunan RSUD Panyabungan, sejak Selasa (24/9). Tim Jaksa Penuntut Umum KPK melimpahkan berkas dakwaan Hidayat dan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Khairul Anwar Daulay ke Pengadilan Tipikor Medan, kemarin. Juru bicara Pengadilan Negeri (PN) Medan Nelson Japasar […]

  • Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    Pameran Pembangunan HUT 17 tahun Madina

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    Hari Pertama pameran pembangunan Ulang Tahun ke 17 Kabupaten Mandailing Natal, yang dimeriahkan SKPD dan Swasta yang berdomisili di kabupaten Madina. Tetap terlihat kemeriahan meskipun  di protes para pengunjung karena lokasi sekarang yang ada di Tapian Siri Siri sulit di akses pengunjung terutama yang datang secara rombongan. Terlalu jauh untuk jalan kaki, sementara kalau naik […]

  • Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    Bentuk Rasa Syukur, SMSI Madina Berbagi Nasi Kotak

    • calendar_month Jumat, 15 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Sebagai bentuk rasa syukur setahun Serikat Media Siber Indonesia ( SMSI ) berdiri di Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ), pengurus bagikan nasi kotak kepada jamaah masjid usai sholad jum’at 15/9/2023. Pembagian nasi kotak ini dilakukan di dua Masjid yang berbeda yakni Mesjid Agung Nur Ala Nur dan Mesjid Raya Al Qurro’ […]

expand_less