Selasa, 2 Jun 2026
light_mode

Intoleransi Politik di Kalangan Anak Muda, Benarkah Ada?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 26 Mar 2021
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi mengatakan, masih banyak anak muda yang tidak toleran dalam hal politik, dibandingkan intoleransi pada praktik ritual sosial keagamaan. Hal ini menjadi temuan dalam hasil survei suara anak muda tentang isu-isu sosial politik bangsa pada Maret 2021.

Ia memaparkan, sebanyak 39 persen anak muda menyatakan keberatan jika orang non-Muslim menjadi presiden, sedangkan anak muda yang tidak keberatan 27 persen, dan tergantung 28 persen. Sementara, mayoritas anak muda menyatakan tidak keberatan apabila orang non-Muslim menjadi gubernur (36 persen) maupun bupati/wali kota (35 persen), ada 29 persen yang keberatan, serta 30 persen dan 32 persen tergantung.

Burhanuddin menuturkan, persentase intoleransi atau yang menyatakan keberatan pada anak muda lebih rendah dibandingkan hasil survei kepada populasi umum di tahun-tahun sebelumnya, dalam bidang keagamaan. Meskipun tingkat intoleransi pada anak muda lebih rendah, menurut Burhanuddin, hal ini perlu dibenahi. (republika.co.id. 21/03/2021)

Gaya hidup kalangan anak muda selalu menjadi trend dan tidak habis untuk dibahas. Sebelumnya, kehadiran atau keterlibatan kaula muda dalam kancah politik tidak terlalu dipedulikan bahkan ruangnya juga tidak begitu luas.

Anak muda sepuluh tahun silam, lebih banyak memilih terjun berkecimpung di dunia akademis untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang yang paling tinggi. Setelah itu, mencari kehidupan masing-masing berdasarkan latar belakang pendidikan atau setidaknya mendapatkan pekerjaan yang layak sebagai pengakuan bagi kerja kerasnya dalam menuntut ilmu.

Namun kini, polarisasi politik berubah. Kehadiran para kaum muda sudah semakin menggeliat. Mulai dari menghidupkan kembali orkam-orkam dan ormas, sampai bertarung di pemilihan umum, baik pilkada maupun pileg. Usia-usia belia yang dulunya masih fokus belajar, kini semakin meminati dunia politik.

Belum lagi, keterlibatan anak muda saat unjuk rasa menolak kebijakan pemerintah yang dianggap tidak adil. Sebut saja aksi penolakan UU omnibus law, juga saat mengawal keputusan KPU dalam pengumuman hasil pilpres. Tidak hanya itu, bahkan mengawal kegiatan keagamaan pun, anak muda usia-usia pelajar kini jadi wajah baru dalam life style pemuda di negeri ini.

Seperti yang disampaikan oleh Burhanuddin, bahwa anak-anak muda ternyata masih banyak yang tidak toleran (intoleran) berpolitik berdasarkan hasil survei yang ia lakukan. Namun, seharusnya Burhanudiin menjelaskan, beberapa indikator yang menjadi ukuran intolerannya anak muda berpolitik, yang menurutnya masih tinggi angkanya.

Sayangnya, indikator yang diharapkan tidak dimunculkan. Dan tentu saja bisa mengundang tanda tanya besar bagi masyarakat, benarkah anak muda sekarang intoleran? Sejauh mana peran anak muda dalam politik hari ini hingga bisa diindikasikan dengan ketidaktoleranan mereka di dunai politik? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, tentu dibuthkan analisis. Maka analisis tersebut berangkat dari hasil survei yang sudah dilakukan oleh Burhanuddin tersebut sebagai berikut.

Pertama, penyematan kata intoleran tanpa merumuskan beberapa indikator yang jelas sebenarnya terlalu gegabah. Karena persoalan intoleran membutuhkan data dan fakta yang terjadi di lapangan dan tentu saja perilaku intoleran tersebut harus sudah menjadi habit dikalangan anak muda. Artinya, kejadian itu kontiniu dilakukan bukan sekedar asumsi belaka. Namun, survei itu tidak menyebutkan rentan waktu pemikiran atau perilaku intoleran itu terjadi. Sehingga sulit diterima.

Kedua, dalam survei tersebut, disebutkan bahwa 39% anak muda keberatan jika non muslim jadi presiden. Adakah ini indikator utama survei? Andaipun itu benar ada penolakan, harusnya penyurvei memahami bahwa sebanyak 27% dari jumlah penduduk Indonesia adalah kalangan muda, yang tentunya mayoritas beragama Islam. Jadi, jika mereka menolak sebanyak 39%, harusnya itu bukan intoleran, tetapi sudah diatas toleran. Sebab artinya, 61% persen lagi menerima bukan? Jadi, sangat toleran hingga menabrak ajaran agamanya sendiri.

Ketiga, apakah toleran dalam berpolitik yang dimaksud harus mencapai 100% penerimanaan kalangan muda utuk dipimpin oleh non muslim dari umat Islam? Oke, mungkin mustahil demikian, katakan saja 70-90%. Di atas 50% saja itu sudah mewakili suara mayoritas alias sudah demokratis, bukan? Lalu, kenapa masih disebut intoleran?

Begitulah pemikiran demokrasi-sekuler yang diadopsi oleh politisi dan penguasa di negeri ini. Melihat angka 39% saja menolak pemimpin non muslim sudah dianggap dan dijadikan sebagai indikator intoleransi. Padahal, sah-sah saja jika ada pilihan berbeda di kalangan masyarakat khususnya anak muda dalam memandang dunia politik khususnya kepemimpinan. Secara demokrasi yang didewakan kaum berkiblat Barat, katanya perbedaan adalah hak asasi. Lalu kenapa menuntut harus sama?

Belum lagi angka 39% tersebut adalah anak muda yang beragama Islam. Berlatar belakang dari keluarga muslim dan mendapatkan pendidikan agama yang baik di keluarganya. Atau bisa juga dari kalangan pelajar/mahasiswi sekolah Islam atau organisasi kepemudaan berbasis Islam. Tentu saja, su’ur Islam mereka masih bagus dan menggelora. Dan sesuai ajaran Islam, haram memilih pemimpin non muslim. Itu suatu ajaran agama. Apakah negeri ini berani mengatakan bahwa ajaran agama Islam tidak relevan untuk diyakini lagi? Wallahu a’alam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Potensi Konflik Horizontal Pilkada?  Karya Demokrasi Barat Yang Nyata

    Potensi Konflik Horizontal Pilkada? Karya Demokrasi Barat Yang Nyata

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Kepolisian Daerah (Polda) Kalimantan Utara menjelaskan bahwa Kalimantan Utara tergolong daerah rawan konflik dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020. Hal tersebut disampaikan oleh AKBP. Budi Rachmat, S.I.k, Kabid Humas Kepolisian Daerah Kalimantan Utara saat dikonfirmasi oleh awak media bahwa sesuai hasil survey Mabes Polri, tentang indeks […]

  • Batan Kenalkan Hasil Litbang Bidang Pertanian di Madina

    Batan Kenalkan Hasil Litbang Bidang Pertanian di Madina

    • calendar_month Jumat, 21 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) melakukan pengenalan teknologi kegiatan pemanfaatan hasil litbangyasa Iptek Nuklir bidang pertanian dan peternakan di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). “Sebagai putra daerah, saya punya beban dan tanggung jawab meningkatkan kegiatan pemanfaatan hasil litbang nuklir di bidang pertanian dan peternakan. Apalagi dari segi lahan dan petaninya, Madina sudah […]

  • SKPD Madina harus direalisasikan

    SKPD Madina harus direalisasikan

    • calendar_month Senin, 6 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Realisasi perampingan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mandailing Natal (Madina) harus secepatnya direalisasikan dengan mengirim langsung ke Menteri Dalam Negeri (Mendagri) untuk dieksaminasi. Ketua DPC PPP Madina, Yulizar Parlagutan Lubis, mengatakan pengiriman hasil rapat paripurna DPRD tentang pengesahan Ranperda, khususnya penciutan SKPD bersama rancangan peraturan daerah tentang retribusi […]

  • Menko Perekonomian Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    Menko Perekonomian Kunjungi Kampoeng Kaos Madina

    • calendar_month Jumat, 11 Mei 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Menteri Perekonomian RI, Darmin Nasution menyatakan industri salah satu upaya mendongkrak perekonomian daerah. Itu dikatakannya saat mengunjungi Kampoeng Kaos Madina di Panyabungan, Mandailing Natal, Sumut, Jum’at (11/5/2018). Kampoeng Kaos merupakan industri kreatif yang memproduksi berbagai jenis kaos, batik Mandailing, Gordang Sambilan serta banyak ragam pernak pernik khas Mandailing. Darmin menyatakan, industri […]

  • Hingga September Realisasi PAD Madina Baru 65%

    Hingga September Realisasi PAD Madina Baru 65%

    • calendar_month Rabu, 22 Okt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasarkan data yang tercatat di Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) hingga September 2025 Capaian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Mandailing Natal senilai 125M dari target sekitar 191M. Kaban Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Ahmad Yasir Lubis, SP., MM. Pada Mandailing Online mengatakan, capaian PAD tersebut terhitung hingga September, dan optimis memenuhi target yang […]

  • Efek Bahaya Melihat Langsung Gerhana Matahari

    Efek Bahaya Melihat Langsung Gerhana Matahari

    • calendar_month Selasa, 8 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masyarakat wajib berhati-hati saat melihat Gerhana Matahari Total (GMT) besok, Rabu 9 Maret 2016. Masyarakat diimbau tidak menggunakan mata telanjang saat melihat gerhana. Sebab efek samping yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi mata. Menurut Dokter Spesialis Mata Bayu Sasangko melihat langsung Gerhana Matahari dapat menimbulkan beberapa efek kerusakan pada mata yang disebut solar eclips retinopathy. Gejalanya, […]

expand_less