Membawa Buruh Keluar dari Jebakan Angka Kemiskinan Madina
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 1 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution
Sebagai Ketua DPC Konfederasi Serikat Buruh Muslim Indonesia Kabupaten Mandailing Natal, saya menyampaikan Selamat Hari Buruh kepada seluruh pekerja, penggerak serikat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan di daerah ini. May Day bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melihat dengan jujur kondisi buruh kita hari ini—dan arah yang harus kita tempuh bersama.
Di Mandailing Natal (Madina), kemiskinan sering disederhanakan menjadi angka. Ia dipresentasikan dalam persentase, diringkas dalam laporan, dan diumumkan sebagai capaian ketika berhasil ditekan. Namun di balik angka-angka itu, ada kenyataan yang lebih sunyi: orang-orang yang tidak pernah tercatat sebagai miskin, tetapi hidup dalam kekurangan setiap hari.
Mereka tetap berpakaian layak. Tetap hadir di acara adat. Tetap menjaga martabat keluarga. Namun diam-diam, mereka mengurangi makan, menunda berobat, dan berutang untuk bertahan hidup.
Di situlah buruh Madina berada.
Mereka bekerja di kebun-kebun sawit, di pabrik pengolahan, di sektor jasa, dan di berbagai pekerjaan informal. Mereka bukan penganggur. Mereka bukan pula penerima bantuan utama. Tetapi kerja yang mereka lakukan belum tentu cukup untuk memastikan hidup yang layak.
Inilah yang luput dari angka.
Upah mungkin tercatat. Pertumbuhan ekonomi mungkin dilaporkan. Tetapi biaya hidup yang terus naik, status kerja yang tidak pasti, serta akses jaminan sosial yang belum merata membuat banyak buruh hidup di batas yang rapuh. Sedikit saja guncangan—sakit, harga naik, pekerjaan terhenti—mereka bisa jatuh tanpa penyangga.
Masalahnya bukan sekadar ekonomi. Ini adalah masalah struktur.
Banyak buruh bekerja dalam status kontrak berulang, kerja harian lepas, atau sistem target yang tidak memberi kepastian. Dalam kondisi seperti ini, keberanian untuk bersuara menjadi mahal. Risiko kehilangan pekerjaan terlalu besar untuk ditukar dengan ketidakpastian hasil.
Akibatnya, masalah-masalah itu tidak pernah naik ke permukaan sebagai tuntutan kolektif. Ia berhenti sebagai keluhan pribadi.
Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat kondisi gerakan buruh itu sendiri. Di Mandailing Natal, organisasi buruh belum sepenuhnya hadir sebagai kekuatan yang mampu mengorganisir dan melindungi anggotanya secara luas. Hambatan administratif, keterbatasan akses, serta belum terbentuknya basis yang kuat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.
Namun justru di situlah letak persoalan sebenarnya.
Lemahnya gerakan buruh bukan berarti tidak ada masalah. Ia justru menunjukkan bahwa masalah besar sedang berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai.
Karena itu, kita perlu menggeser cara pandang. Persoalan buruh bukan hanya urusan kelompok tertentu. Ini adalah persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing Natal. Ini soal dapur rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan keberlanjutan hidup itu sendiri.
Kerja keras orang Madina tidak pernah kurang. Yang belum kita pastikan adalah apakah kerja keras itu cukup untuk hidup layak.
Jika kita serius ingin membawa buruh keluar dari jebakan angka kemiskinan, maka langkah yang diambil harus konkret dan dapat diuji.
Pertama, keterbukaan kondisi kerja di sektor-sektor utama, terutama perkebunan dan pengolahan sawit. Publik berhak mengetahui standar upah, jam kerja, serta pelaksanaan jaminan sosial.
Kedua, pembentukan ruang pengaduan buruh yang aman dan dapat diakses di tingkat kabupaten. Tanpa itu, banyak persoalan akan tetap menjadi keluhan yang tidak pernah tercatat.
Ketiga, audit menyeluruh terhadap kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja. Tidak boleh ada pekerja yang bekerja bertahun-tahun tanpa perlindungan dasar.
Keempat, forum dialog rutin antara buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha yang benar-benar menghasilkan keputusan—bukan sekadar pertemuan seremonial.
Sebagai bagian dari gerakan buruh di Mandailing Natal, kami juga menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dituntut ke luar. Ia harus dibangun dari dalam. Membangun basis, merapikan organisasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi anggota adalah langkah yang harus dikerjakan dengan konsisten.
May Day harus menjadi pengingat bahwa kekuatan buruh dibangun dari kerja-kerja sunyi yang berlangsung setiap hari—bukan hanya dari perayaan sesaat.
Akhirnya, melalui momentum Hari Buruh ini, saya mengajak seluruh pihak—buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha—untuk bersama-sama keluar dari jebakan angka, dan mulai membangun kenyataan yang lebih adil bagi semua.
Selama buruh hanya hadir dalam angka—dan tidak hadir sebagai kekuatan—maka kemiskinan akan terus terlihat menurun di laporan, tetapi tetap terasa dalam kehidupan.
Sudah saatnya kita keluar dari jebakan itu.
Selamat Hari Buruh. Hidup Buruh.***
Muhammad Ludfan Nasution adalah Ketua DPC Konfederasi Sarbumusi NU Madina dan Anggota DPRD Madina Periode 2014-2019.
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

