Kamis, 14 Mei 2026
light_mode

Membawa Buruh Keluar dari Jebakan Angka Kemiskinan Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution

 

Sebagai Ketua DPC Konfederasi Serikat Buruh Muslim Indonesia Kabupaten Mandailing Natal, saya menyampaikan Selamat Hari Buruh kepada seluruh pekerja, penggerak serikat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan di daerah ini. May Day bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melihat dengan jujur kondisi buruh kita hari ini—dan arah yang harus kita tempuh bersama.

Di Mandailing Natal (Madina), kemiskinan sering disederhanakan menjadi angka. Ia dipresentasikan dalam persentase, diringkas dalam laporan, dan diumumkan sebagai capaian ketika berhasil ditekan. Namun di balik angka-angka itu, ada kenyataan yang lebih sunyi: orang-orang yang tidak pernah tercatat sebagai miskin, tetapi hidup dalam kekurangan setiap hari.

Mereka tetap berpakaian layak. Tetap hadir di acara adat. Tetap menjaga martabat keluarga. Namun diam-diam, mereka mengurangi makan, menunda berobat, dan berutang untuk bertahan hidup.

Di situlah buruh Madina berada.

Mereka bekerja di kebun-kebun sawit, di pabrik pengolahan, di sektor jasa, dan di berbagai pekerjaan informal. Mereka bukan penganggur. Mereka bukan pula penerima bantuan utama. Tetapi kerja yang mereka lakukan belum tentu cukup untuk memastikan hidup yang layak.

Inilah yang luput dari angka.

Upah mungkin tercatat. Pertumbuhan ekonomi mungkin dilaporkan. Tetapi biaya hidup yang terus naik, status kerja yang tidak pasti, serta akses jaminan sosial yang belum merata membuat banyak buruh hidup di batas yang rapuh. Sedikit saja guncangan—sakit, harga naik, pekerjaan terhenti—mereka bisa jatuh tanpa penyangga.

Masalahnya bukan sekadar ekonomi. Ini adalah masalah struktur.

Banyak buruh bekerja dalam status kontrak berulang, kerja harian lepas, atau sistem target yang tidak memberi kepastian. Dalam kondisi seperti ini, keberanian untuk bersuara menjadi mahal. Risiko kehilangan pekerjaan terlalu besar untuk ditukar dengan ketidakpastian hasil.

Akibatnya, masalah-masalah itu tidak pernah naik ke permukaan sebagai tuntutan kolektif. Ia berhenti sebagai keluhan pribadi.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat kondisi gerakan buruh itu sendiri. Di Mandailing Natal, organisasi buruh belum sepenuhnya hadir sebagai kekuatan yang mampu mengorganisir dan melindungi anggotanya secara luas. Hambatan administratif, keterbatasan akses, serta belum terbentuknya basis yang kuat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Namun justru di situlah letak persoalan sebenarnya.

Lemahnya gerakan buruh bukan berarti tidak ada masalah. Ia justru menunjukkan bahwa masalah besar sedang berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai.

Karena itu, kita perlu menggeser cara pandang. Persoalan buruh bukan hanya urusan kelompok tertentu. Ini adalah persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing Natal. Ini soal dapur rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan keberlanjutan hidup itu sendiri.

Kerja keras orang Madina tidak pernah kurang. Yang belum kita pastikan adalah apakah kerja keras itu cukup untuk hidup layak.

Jika kita serius ingin membawa buruh keluar dari jebakan angka kemiskinan, maka langkah yang diambil harus konkret dan dapat diuji.

Pertama, keterbukaan kondisi kerja di sektor-sektor utama, terutama perkebunan dan pengolahan sawit. Publik berhak mengetahui standar upah, jam kerja, serta pelaksanaan jaminan sosial.

Kedua, pembentukan ruang pengaduan buruh yang aman dan dapat diakses di tingkat kabupaten. Tanpa itu, banyak persoalan akan tetap menjadi keluhan yang tidak pernah tercatat.

Ketiga, audit menyeluruh terhadap kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja. Tidak boleh ada pekerja yang bekerja bertahun-tahun tanpa perlindungan dasar.

Keempat, forum dialog rutin antara buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha yang benar-benar menghasilkan keputusan—bukan sekadar pertemuan seremonial.

Sebagai bagian dari gerakan buruh di Mandailing Natal, kami juga menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dituntut ke luar. Ia harus dibangun dari dalam. Membangun basis, merapikan organisasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi anggota adalah langkah yang harus dikerjakan dengan konsisten.

May Day harus menjadi pengingat bahwa kekuatan buruh dibangun dari kerja-kerja sunyi yang berlangsung setiap hari—bukan hanya dari perayaan sesaat.

Akhirnya, melalui momentum Hari Buruh ini, saya mengajak seluruh pihak—buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha—untuk bersama-sama keluar dari jebakan angka, dan mulai membangun kenyataan yang lebih adil bagi semua.

Selama buruh hanya hadir dalam angka—dan tidak hadir sebagai kekuatan—maka kemiskinan akan terus terlihat menurun di laporan, tetapi tetap terasa dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita keluar dari jebakan itu.

Selamat Hari Buruh. Hidup Buruh.***

Muhammad Ludfan Nasution adalah Ketua DPC Konfederasi Sarbumusi NU Madina dan Anggota DPRD Madina Periode 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 210 Lulusan MAN Panyabungan Masuk PTN

    210 Lulusan MAN Panyabungan Masuk PTN

    • calendar_month Senin, 18 Mei 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – MAN Panyabungan kembali mengukir prestasi. Dari total 320 yang lulus, sebanyak 210 orang  berhasil masuk ke berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia melalui jalur bebas testing (SNMPTN / undangan).  Angka ini jauh melampaui tahun sebelumnya  yang berjumlah 126 orang. Kepala MAN Panyabungan, Drs. Darwin Nasution kepada wartawan menyatakan, data […]

  • Bupati Madina: Usulan dari Desa Acuan Penting

    Bupati Madina: Usulan dari Desa Acuan Penting

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Usulan masyarkat desa harus menjadi acuan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dalam melanjutkan pembangunan karena merupakan kebutuhan yang datang dari akar rumput. Usulan dari desa itu melalui skema musyawarah pembangunan (musrembang) di tingkat desa atau kecamatan. “Program kegiatan di desa yang diusulkan berdasarkan hasil musrembang kecamatan serta […]

  • Zubaidah Nasution : Musrenbang Harus Jadi Program Urgen di APBD

    Zubaidah Nasution : Musrenbang Harus Jadi Program Urgen di APBD

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NAGAJUANG (Mandailing Online) – Anggota DPRD Madina dari Dapil 5 Zubaidah Nasution menekankan agar Musrenbang Nagajuang memberi kontribusi besar bagi pembangunan sektor-sektor urgen yang dibutuhkan rakyat. Serta menjadi program penting APBD daerah. Itu dikatakan Zubaidah dalam sambutannya saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Naga Juang, Selasa (11/2). Dalam sambutannya, politisi Partai Golkar itu […]

  • Budidaya Jamur di Tapsel Menjanjikan

    Budidaya Jamur di Tapsel Menjanjikan

    • calendar_month Senin, 28 Des 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Tapsel – Usaha budidaya jamur tiram memang sangat menjanjikan. Dilihat dari finansial usaha ini layak untuk dikembangkan sebagai usaha home industri yang dapat menopang ekonomi keluarga. Sudarto (37) warga lingkungan II Kelurahan Sigalangan, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) ini misalnya telah memulai atau merintis budidaya jamur tiram di rumahnya sendiri. Awalnya hanya coba-coba ternyata bisa. […]

  • Cawabup Ichwan Husein Konsolidasi Pemenangan dengan Partai PBB

    Cawabup Ichwan Husein Konsolidasi Pemenangan dengan Partai PBB

    • calendar_month Kamis, 24 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Usai melaksanakan sholad subuh di masjid Baitulrohmanirrohim di jalan Abri, Kelurahan Panyabungan II, Kecamatan Panyabungan.Calon wakil bupati madina nomor urut 1 Muhammad Ichwan Husein menyempatkan diri bersilaturahmi denga Ketua Partai Bulan Bintang ( PBB ) Syahruddin ST ( Ucok Ocing ) bersama kader dan simpatisan serta tokoh masyarakat jalan Abri. […]

  • Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar Diberhentikan DPRD

    Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar Diberhentikan DPRD

    • calendar_month Sabtu, 12 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATUBARA : Perseteruan DPRD dengan Wakil Bupati Batubara Gongmatua Siregar berujung dengan terbitnya rekomendasi pemberhentian Gongmatua dari jabatannya. Keputusan ini merupakan hasil rapat paripurna anggota Dewan setempat yang digelar, Jumat 11 Februari 2011. Anggota DPRD Batubara yang berjumlah 35 anggota secara bulat menyetujui terbitnya rekomendasi pemberhentian wakil bupati tersebut. “Rekomendasi itu akan segera kami sampaikan […]

expand_less