Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

Membawa Buruh Keluar dari Jebakan Angka Kemiskinan Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution

 

Sebagai Ketua DPC Konfederasi Serikat Buruh Muslim Indonesia Kabupaten Mandailing Natal, saya menyampaikan Selamat Hari Buruh kepada seluruh pekerja, penggerak serikat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan di daerah ini. May Day bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melihat dengan jujur kondisi buruh kita hari ini—dan arah yang harus kita tempuh bersama.

Di Mandailing Natal (Madina), kemiskinan sering disederhanakan menjadi angka. Ia dipresentasikan dalam persentase, diringkas dalam laporan, dan diumumkan sebagai capaian ketika berhasil ditekan. Namun di balik angka-angka itu, ada kenyataan yang lebih sunyi: orang-orang yang tidak pernah tercatat sebagai miskin, tetapi hidup dalam kekurangan setiap hari.

Mereka tetap berpakaian layak. Tetap hadir di acara adat. Tetap menjaga martabat keluarga. Namun diam-diam, mereka mengurangi makan, menunda berobat, dan berutang untuk bertahan hidup.

Di situlah buruh Madina berada.

Mereka bekerja di kebun-kebun sawit, di pabrik pengolahan, di sektor jasa, dan di berbagai pekerjaan informal. Mereka bukan penganggur. Mereka bukan pula penerima bantuan utama. Tetapi kerja yang mereka lakukan belum tentu cukup untuk memastikan hidup yang layak.

Inilah yang luput dari angka.

Upah mungkin tercatat. Pertumbuhan ekonomi mungkin dilaporkan. Tetapi biaya hidup yang terus naik, status kerja yang tidak pasti, serta akses jaminan sosial yang belum merata membuat banyak buruh hidup di batas yang rapuh. Sedikit saja guncangan—sakit, harga naik, pekerjaan terhenti—mereka bisa jatuh tanpa penyangga.

Masalahnya bukan sekadar ekonomi. Ini adalah masalah struktur.

Banyak buruh bekerja dalam status kontrak berulang, kerja harian lepas, atau sistem target yang tidak memberi kepastian. Dalam kondisi seperti ini, keberanian untuk bersuara menjadi mahal. Risiko kehilangan pekerjaan terlalu besar untuk ditukar dengan ketidakpastian hasil.

Akibatnya, masalah-masalah itu tidak pernah naik ke permukaan sebagai tuntutan kolektif. Ia berhenti sebagai keluhan pribadi.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat kondisi gerakan buruh itu sendiri. Di Mandailing Natal, organisasi buruh belum sepenuhnya hadir sebagai kekuatan yang mampu mengorganisir dan melindungi anggotanya secara luas. Hambatan administratif, keterbatasan akses, serta belum terbentuknya basis yang kuat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Namun justru di situlah letak persoalan sebenarnya.

Lemahnya gerakan buruh bukan berarti tidak ada masalah. Ia justru menunjukkan bahwa masalah besar sedang berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai.

Karena itu, kita perlu menggeser cara pandang. Persoalan buruh bukan hanya urusan kelompok tertentu. Ini adalah persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing Natal. Ini soal dapur rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan keberlanjutan hidup itu sendiri.

Kerja keras orang Madina tidak pernah kurang. Yang belum kita pastikan adalah apakah kerja keras itu cukup untuk hidup layak.

Jika kita serius ingin membawa buruh keluar dari jebakan angka kemiskinan, maka langkah yang diambil harus konkret dan dapat diuji.

Pertama, keterbukaan kondisi kerja di sektor-sektor utama, terutama perkebunan dan pengolahan sawit. Publik berhak mengetahui standar upah, jam kerja, serta pelaksanaan jaminan sosial.

Kedua, pembentukan ruang pengaduan buruh yang aman dan dapat diakses di tingkat kabupaten. Tanpa itu, banyak persoalan akan tetap menjadi keluhan yang tidak pernah tercatat.

Ketiga, audit menyeluruh terhadap kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja. Tidak boleh ada pekerja yang bekerja bertahun-tahun tanpa perlindungan dasar.

Keempat, forum dialog rutin antara buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha yang benar-benar menghasilkan keputusan—bukan sekadar pertemuan seremonial.

Sebagai bagian dari gerakan buruh di Mandailing Natal, kami juga menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dituntut ke luar. Ia harus dibangun dari dalam. Membangun basis, merapikan organisasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi anggota adalah langkah yang harus dikerjakan dengan konsisten.

May Day harus menjadi pengingat bahwa kekuatan buruh dibangun dari kerja-kerja sunyi yang berlangsung setiap hari—bukan hanya dari perayaan sesaat.

Akhirnya, melalui momentum Hari Buruh ini, saya mengajak seluruh pihak—buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha—untuk bersama-sama keluar dari jebakan angka, dan mulai membangun kenyataan yang lebih adil bagi semua.

Selama buruh hanya hadir dalam angka—dan tidak hadir sebagai kekuatan—maka kemiskinan akan terus terlihat menurun di laporan, tetapi tetap terasa dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita keluar dari jebakan itu.

Selamat Hari Buruh. Hidup Buruh.***

Muhammad Ludfan Nasution adalah Ketua DPC Konfederasi Sarbumusi NU Madina dan Anggota DPRD Madina Periode 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Madina Lepas Peserta MTQ Tingkat Provinsi

    Bupati Madina Lepas Peserta MTQ Tingkat Provinsi

    • calendar_month Kamis, 20 Jun 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA- Mandailing Online: Bupati Madina Ja’kfar Sukhairi Nasution lepas 52 peserta Kafilah Musabaqoh Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke 39 asal Madina yang akan bersaing di tingkat Provinsi. Kamis, (20/06/2024). Sebelum melepas peserta MTQ Bupati Madina Muhammad Ja’kfar Sukhairi Nasution berikan arahan dan bimbingan. Kata Sukhairi Momentum MTQ tersebut tak hanya sebatas mencari gelar juara. Namun, […]

  • Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    Gatot Lantik Bupati dan Wakil Bupati Karo

    • calendar_month Sabtu, 26 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelayanan Buruk KABAJAHE- Dari hasil evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah tahun 2010, Kabupaten Karo berada di urutan ke-22 dari 25 kabupaten/kota se-Sumatera Utara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakatnya. Diharapkan dengan kepala daerah yang baru ini, Karo dapat berbenah ke arah yang lebih baik. Demikian pesan Plt Gubernur Sumatera Utara, H Gatot Pudjonugroho ST pada acara pengambilan […]

  • Dugaan Malapraktik, Dua Dokter Dipolisikan

    Dugaan Malapraktik, Dua Dokter Dipolisikan

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dugaan tindak pidana kejahatan praktik kedokteran di Rumah Sakit Permata Madina dan dua dokter spesialis, diadukan ke Polres Mandailing Natal (Madina), Kamis (4/6/2026). Laporan ini terkait nasib yang menimpa RSH, remaja 18 tahun asal Kelurahan Panyabungan II, yang terpaksa kehilangan tangan kirinya akibat diamputasi pasca menerima penanganan medis di […]

  • DCS Dapil 1 Nasdem Madina

    DCS Dapil 1 Nasdem Madina

    • calendar_month Sabtu, 6 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    DAFTAR CALON SEMENTARA ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PEMILIHAN UMUM TAHUN 2014 Partai Nasional Demokrat ( NasDem ) Dapil 1 Madina

  • Tympanum Produksi Film Biola Na Mabugang 2

    Tympanum Produksi Film Biola Na Mabugang 2

    • calendar_month Jumat, 20 Jul 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 6Komentar

    Setelah sukses di film berbahasa mandailing “Biola Na Mabugang”, Tympanum Novem Film kembali membuat skuel kedua rencananya berjudul “ Tias Ni Bugang (Biola Na Mabugang 2)”. Film garapan sutradara Askolani Nasution ini ditarget akan dirilis menjelang lebaran nanti. Saat ini tahapan penggarapan “Tias Ni Bugang” sedang tahapan dubbing atau pengisian suara, setelah beberapa minggu melakukan […]

  • 2011, Era Kebangkitan Pendidikan Sumut

    2011, Era Kebangkitan Pendidikan Sumut

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN : Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara Syaiful Syafri mengatakan, tahun 2011 akan dijadikan sebagai era kebangkitan dan percepatan peningkatan kualitas pendidikan di daerah itu. “Langkah-langkah percepatan peningkatan kualitas tersebut di antaranya dengan mengejar ketertinggalan, dimana ada kekurangan akan langsung diisi dan kelemahan-kelemahan segera diperbaiki. Metode mana yang lemah itu akan terus ditingkatkan, kemudian sarana […]

expand_less