Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Membawa Buruh Keluar dari Jebakan Angka Kemiskinan Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution

 

Sebagai Ketua DPC Konfederasi Serikat Buruh Muslim Indonesia Kabupaten Mandailing Natal, saya menyampaikan Selamat Hari Buruh kepada seluruh pekerja, penggerak serikat, pelaku usaha, dan pemerintah daerah yang menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan di daerah ini. May Day bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk melihat dengan jujur kondisi buruh kita hari ini—dan arah yang harus kita tempuh bersama.

Di Mandailing Natal (Madina), kemiskinan sering disederhanakan menjadi angka. Ia dipresentasikan dalam persentase, diringkas dalam laporan, dan diumumkan sebagai capaian ketika berhasil ditekan. Namun di balik angka-angka itu, ada kenyataan yang lebih sunyi: orang-orang yang tidak pernah tercatat sebagai miskin, tetapi hidup dalam kekurangan setiap hari.

Mereka tetap berpakaian layak. Tetap hadir di acara adat. Tetap menjaga martabat keluarga. Namun diam-diam, mereka mengurangi makan, menunda berobat, dan berutang untuk bertahan hidup.

Di situlah buruh Madina berada.

Mereka bekerja di kebun-kebun sawit, di pabrik pengolahan, di sektor jasa, dan di berbagai pekerjaan informal. Mereka bukan penganggur. Mereka bukan pula penerima bantuan utama. Tetapi kerja yang mereka lakukan belum tentu cukup untuk memastikan hidup yang layak.

Inilah yang luput dari angka.

Upah mungkin tercatat. Pertumbuhan ekonomi mungkin dilaporkan. Tetapi biaya hidup yang terus naik, status kerja yang tidak pasti, serta akses jaminan sosial yang belum merata membuat banyak buruh hidup di batas yang rapuh. Sedikit saja guncangan—sakit, harga naik, pekerjaan terhenti—mereka bisa jatuh tanpa penyangga.

Masalahnya bukan sekadar ekonomi. Ini adalah masalah struktur.

Banyak buruh bekerja dalam status kontrak berulang, kerja harian lepas, atau sistem target yang tidak memberi kepastian. Dalam kondisi seperti ini, keberanian untuk bersuara menjadi mahal. Risiko kehilangan pekerjaan terlalu besar untuk ditukar dengan ketidakpastian hasil.

Akibatnya, masalah-masalah itu tidak pernah naik ke permukaan sebagai tuntutan kolektif. Ia berhenti sebagai keluhan pribadi.

Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat kondisi gerakan buruh itu sendiri. Di Mandailing Natal, organisasi buruh belum sepenuhnya hadir sebagai kekuatan yang mampu mengorganisir dan melindungi anggotanya secara luas. Hambatan administratif, keterbatasan akses, serta belum terbentuknya basis yang kuat menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa diabaikan.

Namun justru di situlah letak persoalan sebenarnya.

Lemahnya gerakan buruh bukan berarti tidak ada masalah. Ia justru menunjukkan bahwa masalah besar sedang berjalan tanpa pengorganisasian yang memadai.

Karena itu, kita perlu menggeser cara pandang. Persoalan buruh bukan hanya urusan kelompok tertentu. Ini adalah persoalan kehidupan sehari-hari masyarakat Mandailing Natal. Ini soal dapur rumah tangga, pendidikan anak, kesehatan keluarga, dan keberlanjutan hidup itu sendiri.

Kerja keras orang Madina tidak pernah kurang. Yang belum kita pastikan adalah apakah kerja keras itu cukup untuk hidup layak.

Jika kita serius ingin membawa buruh keluar dari jebakan angka kemiskinan, maka langkah yang diambil harus konkret dan dapat diuji.

Pertama, keterbukaan kondisi kerja di sektor-sektor utama, terutama perkebunan dan pengolahan sawit. Publik berhak mengetahui standar upah, jam kerja, serta pelaksanaan jaminan sosial.

Kedua, pembentukan ruang pengaduan buruh yang aman dan dapat diakses di tingkat kabupaten. Tanpa itu, banyak persoalan akan tetap menjadi keluhan yang tidak pernah tercatat.

Ketiga, audit menyeluruh terhadap kepesertaan jaminan sosial tenaga kerja. Tidak boleh ada pekerja yang bekerja bertahun-tahun tanpa perlindungan dasar.

Keempat, forum dialog rutin antara buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha yang benar-benar menghasilkan keputusan—bukan sekadar pertemuan seremonial.

Sebagai bagian dari gerakan buruh di Mandailing Natal, kami juga menyadari bahwa perubahan tidak bisa hanya dituntut ke luar. Ia harus dibangun dari dalam. Membangun basis, merapikan organisasi, serta menghadirkan manfaat nyata bagi anggota adalah langkah yang harus dikerjakan dengan konsisten.

May Day harus menjadi pengingat bahwa kekuatan buruh dibangun dari kerja-kerja sunyi yang berlangsung setiap hari—bukan hanya dari perayaan sesaat.

Akhirnya, melalui momentum Hari Buruh ini, saya mengajak seluruh pihak—buruh, pemerintah daerah, dan pelaku usaha—untuk bersama-sama keluar dari jebakan angka, dan mulai membangun kenyataan yang lebih adil bagi semua.

Selama buruh hanya hadir dalam angka—dan tidak hadir sebagai kekuatan—maka kemiskinan akan terus terlihat menurun di laporan, tetapi tetap terasa dalam kehidupan.

Sudah saatnya kita keluar dari jebakan itu.

Selamat Hari Buruh. Hidup Buruh.***

Muhammad Ludfan Nasution adalah Ketua DPC Konfederasi Sarbumusi NU Madina dan Anggota DPRD Madina Periode 2014-2019.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pertama di Indonesia, Hakim Agung Mengundurkan Diri

    Pertama di Indonesia, Hakim Agung Mengundurkan Diri

    • calendar_month Kamis, 15 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA,(MO)- Kabar mengejutkan datang dari lembaga peradilan tertinggi di Indonesia, Mahkamah Agung (MA). Seorang hakim agung mengundurkan diri dari jabatannya sebelum masa tugasnya berakhir. “Seorang hakim agung mengajukan pengunduran diri, diajukan Rabu, (14/11/2012) kemarin,” kata sumber kuat dan terpercaya di lembaga peradilan yang tidak mau disebut nama dan meminta dirahasiakan identitasnya, Kamis (15/11/2012). Juru bicara […]

  • PBB Terkejut Atas Kondisi Muslim Myanmar

    PBB Terkejut Atas Kondisi Muslim Myanmar

    • calendar_month Kamis, 6 Des 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    NEW YORK, (MO) – Pejabat kemanusiaan PBB Valerie Amos mengatakan ia sangat terkejut melihat kondisi warga Muslim Rohingya yang mengungsi akibat konflik di Myanmar barat. Lebih dari 135.000 orang tinggal di kamp-kamp sementara di negara bagian Rakhine, sebagian besar adalah pengungsi Rohingya. Wartawan BBC Jonah Fisher yang melakukan perjalanan bersama Amos ke Rakhine mengatakan ribuan […]

  • Ini Masukan Pemkab Madina pada Rakorwil APKASI

    Ini Masukan Pemkab Madina pada Rakorwil APKASI

    • calendar_month Jumat, 20 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) melalui Wakil Bupati Atika Azmi Utammi menyampaikan beberapa masukan pada acara rakorwil Apkasi yang dilaksanakan di Serdang Begadai, Kamis (19/5). “Sebagai pemerintahan yang mengutamakan kepentingan masyarakat, Pemkab Madina juga punya beberapa saran dan masukan yang nantinya diharapkan bisa didengar oleh pemerintah pusat,” tulis Atika pada […]

  • Kabar Baik, Pemkab Madina Jangka Dekat Buka Formasi PPPK Tahun 2023

    Kabar Baik, Pemkab Madina Jangka Dekat Buka Formasi PPPK Tahun 2023

    • calendar_month Selasa, 1 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) Kabar baik bagi pegawai tenaga honor di lingkungan Pemkab Mandailing Natal, Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia ( BKPSDM) akan kembali buka formasi Pegawai Pemerintah dengan perjanjian kerja ( PPPK ). Formasi itu kabarnya akan dibuka untuk tenaga guru dan kesehatan. Plt Kepala Dinas BKPSDM Abdul Hamid Nasution yang […]

  • Mantan Birokrat Senior Pemkab Madina Dukung SAHATA, karena Alasan Ini

    Mantan Birokrat Senior Pemkab Madina Dukung SAHATA, karena Alasan Ini

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dukungan para mantan birokrat senior di Pemkab Mandailing Natal (Madina) kepada pasangan calon nomor urut 2, Saipullah Nasution-Atika Azmi Utammi Nasution (SAHATA) terus mengalir. Setidaknya sosok Saipullah dinilai memiliki tiga faktor sebagai syarat yang diyakini mampu membawa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madina menjadi pemerintah daerah yang berwibawa. Tiga faktor itu adalah […]

  • Karang Taruna Madina Konsisten Jaga Nilai Kearifan Lokal

    Karang Taruna Madina Konsisten Jaga Nilai Kearifan Lokal

    • calendar_month Kamis, 28 Jan 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) : Forum Pengurus Karang Taruna Kabupaten Mandailing Natal sebagai organisasi sosial kepemudaan akan tetap konsisten mewarisi nilai-nilai tradisi leluhur dan tetap menjaga nilai kearifan lokal Mandailing. “Ciri khas yang digali dari unsur-unsur tradisionil Mandailing yang turun temurun dari leluhur kita harus tetap kita jaga dan pertahankan. Kearifan lokal (local genius) Mandailing harus […]

expand_less