Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Menelisik Asal Nama ‘Sumatra’ dalam Catatan Penjelajah Barat dan Islam

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 22 Nov 2021
  • print Cetak

Tak selamanya Pulau Sumatra bernama Sumatra. Nama ‘Sumatra’ sejatinya tidak diketahui oleh penduduk di pulau itu. Berbagai nama dibubuhkan untuk pulau terbesar keenam di dunia ini oleh para penjelajah asing.

Nama yang dikenal justru adalah Pulau Perca (atau Pritcho dalam dialek Melayu selatan) dan Indalas berdasarkan karya sastra Melayu yang merujuk pada pulau-pulau sekitar semenanjung Malaya.

Namun, orientalis Inggris abad ke-19 yang pernah singgah ke Bencoolen (Bengkulu) William Marsden berpendapat ‘Indalas’ sangat mirip dengan nama ‘Andalusia’—kekuasaan orang Arab di Spanyol di masa kejayaannya.

Dalam The History of Sumatra, dia menemukan penggunaan nama ini sudah marak, bahkan Selat Malaka sebelumnya dikenal sebagai Laut Indalas. Konon, orang Sumatra masa itu yakin Selat Malaka dahulu memiliki jembatan yang dihancurkan oleh Iskandar Agung.

Sementara ‘Perca’, memang berasal dari bahasa Melayu yang berarti potongan atau sobekan. Marsden menulis, penamaan dengan istilah ini adalah sesuatu “yang ganjil karena mengacu pada sebuah kejadian tentang robeknya layar kapal ketika mengelilingi pulau ini untuk pertama kalinya.”

“Namun, ada kemungkinan yang lebih masuk akal yaitu mengacu pada patahan daratan di pesisir timur yang menakjubkan. Memang dapat dilihat di peta, di suatu kawasan yang disebut Selat Rupat, terdapat tempat yang sesuai dengan arti nama yang disebut sebagai Pulau Perca yang berarti pulau yang terpotong-potong.”

Orang Eropa seperti Yunani dan Romawi, pengetahuannya baru memahahami peradaban Timur baru sampai Srilangka. Sumatra pada abad pertengahan justru dinamai sebagai Taprobana, yang mungkin juga mengacu untuk Srilangka. Nama itu lebih dikenal selama abad pertengahan di Barat, padahal Sumatra sudah sejak lama menjadi gerbang menuju Kepulauan Maluku yang terkenal akan rempahnya.

Ahli pelayaran Eropa di masa lalu, menurut Marsden, menyebut Sumatra sebagai Ophir. Penggunaan nama ini tidak dapat dibuktikan karena hanya merujuk pada kisah Alkitab tentang Sulaiman yang mencari daging emas dan gading di daerah khatulistiwa. Meski di Sumatra Barat memiliki gunung tertinggi bernama Ophir (Gunung Talamau), tetapi nama ini sangat asing bagi orang Sumatra itu sendiri.

“Sampai ditemukannya jalur menuju India melalui Tanjung Harapan, identitas pulau Sumatra sering digambarkan atau disinggung oleh para penulis secara tidak jelas, atau disimpulkan hanya berdasarkan yang terjadi saat itu,” terangnya.

Penamaan dengan lokasi yang lebih akurat baru terjadi pada abad kesembilan oleh penjelajah bangsa Arab pertama. Mereka menyebut Ramni sebagai pulau yang terletak di jalur antara Sarandib (Srilangka) dan Sin (Tiongkok), dengan hasil bumi yang sangat cocok pada Sumatra.

Keakuratan itu juga tertuang dalam penyebutan sebagai pulau yang memisahkan Laut Herkend (Samudra Hindia) dan Laut Shelahet—yang Marsden anggap sebagai penyebutan ‘Selat’ untuk Selat Malaka.

Pada abad ke-12, Al-Idrisi, seorang kartografer Andalusia membuat peta untuk Roger II dari Sisilia. Hampir seperti penjelajah Arab lainnya, ia menamakan Sumatra sebagai Al-Rami. Namun dalam petanya memiliki kesalahan dalam penulisan jarak dari Srilangka yang hanya tiga hari berlayar, padahal seharusnya 15 hari.

“Satu abad berikutnya, Marco Polo sebagai penjelajah Eropa pertama ke Asia Tenggara melakukan perjalanan. Dia menyebut Sumatra sebagai Java Minor “sebagai macam analogi yang artinya sudah terlupakan, atau belum mempelajari penduduk aslinya tentang penamaan yang sesuai.”

Meski ada beberapa kekeliruan dalam catatan perjalanannya dan sempat terabaikan, dia memiliki bukti keaslian yang kuat. Yang membuat sukar adalah tidak ada keterangan pasti kapan Marco Polo menyambangi Java Minor itu. Marsden berpendapat kedatangannya ke Sumatra berlangsung pada 1290, berdasarkan perhitungan awal perjalanannya hingga kembalinya ke Venesia pada 1295.

Sebenarnya ia hampir mendekati Sumatra pada 1280 di Champa, ketika kawasan Timur didominasi kekuatan Kubilai Khan. Menurutnya, dari Champa menuju Java Major (Pulau Jawa) adalah 15.000 mil, tetapi keterangan ini bukan didapat dari pengalamannya melainkan sumber lain.

Sementara, terkait Java Minor digambarkan ada enam kerajaan yang berkuasa. Pertama yang disebut sebagai Ferlech atau Perlak, yang berada di ujung timur pantai utara yang beberapa penduduknya sudah beragama Islam. Kerajaan lain dituliskan sebagai Basma atau Basman, yang Marsden perkirakan merujuk pada Pasai karena keselarasan dengan bahasa Portugis yang menyebutnya sebagai Pacem.

Peta Sumatra yang ukuran luasnya belum bisa dipastikan oleh kartografer. Banyak penjelajah di masa lalu memberikan berbagai nama yang membuatnya sukar mencari nama asli dari pulau terbesar keenam di dunia ini. (Willem Lodewijcksz/Koleksi Bertelle Gallery)

Ada juga Samara atau yang diperkirakan sebagai Samarlanga di pantai utara Aceh, dan pernah disambangi Marco Polo selama lima bulan untuk menunggu perubahan musim. Kerajaan berikutnya ada Dragoian atau yang diperkirakan sebagai Indragiri di pantai timur, dan Lambri yang dianggap sebagai asal mula nama ‘Jambi’.

Terakhir, ada pula Fanfur atau Fansur yang diperkirakan adalah Kampar yang menghasilkan kamper berkualitas dan nilainya sebanding dengan emas. Marco Polo menggambarkan penduduknya suka mengonsumsi beras dan mengolah minuman keras dari pohon tertentu.

Sekitar dua puluh tahun dari kepulangan Marco Polo ke Italia, seorang pendeta Odorikus dari Pordenone melakukan penjelajahan ke Timur sejak 1318. Catatannya menceritakan perjalanan 20 hari pelayaran menuju Lamori yang merujuk pada istilah Al-Rami bahasa Arab. Perjalanan selanjutnya menuju ke selatan dan menemukan pulau Jawa. 

Penyebutan Sumatra sebagai nama kawasan muncul secara gamblang dalam Al-Rihlah, catatan karya musafir asal Maroko, Ibnu Battutah sekitar 1345. Menurut Hamka melalui buku Sedjarah Islam di Sumatera pada 1950, Ibnu Battutah menulis Sumathara atau Sumathra karena merujuk pada ‘Samudera’ pada nama kesultanan yang berdiri di Aceh sekitar abad ke-13.

Penjelasan lebih detail terkait orang Sumatra dijelaskan oleh pengalaman Nicolo de Conti dari Italia yang melakukan perjalanan ke Asia pada 1449. Sepulangnya, ia menyampaikan pada Paus Eugenius IV tentang Sumatra dengan penjelasan yang lebih detil daripada penjelajah sebelumnya.

Nicolo de Conti menyebut pulau itu Sumatra dengan penjelasan nama terdahulunya sebagai Taprobana. Catatannya menyebutkan tanaman lada, buah durian, dan adat-istiadatnya.

Penyebutan nama Sumatra kemudian makin kuat dalam buku perjalanan Itinerarium Portugallensium yang dicetak di Milan 1508. Kemudian, bangsa Portugis banyak melakukan perjalanan yang menyebutkan Sumatra seperti Odardus Barbosa dari Lisbon.

Sementara rekan Ferdinad Magellan, Antonia Pigafetta, menuturkan perjalanan keliling dunia dari arah Atlantik tembus ke Filipina dan Sumatra. Perjalanan itu melewati Pulau Timor dan sisi selatan Nusantara—laut kidul karena takut ditundukkan kapal-kapal Portugis.

Dia mencatat bahwa Taprobana sempat populer untuk menggambarkan Sumatra. “Nama tersebut juga diketahui dari penduduk lokal pulau tersebut yang berada di atas kapal, yang membantu mereka sebagai penerjemah di berbagai tempat yang mereka kunjungi dan merupakan pengenalan awal terhadap bahasa Melayu,” ungkap Marsden.

Dicopy dari: Nationalgeographic.co.id

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemerintah Setuju Pembukaan Kantor Imigrasi di Madina

    Pemerintah Setuju Pembukaan Kantor Imigrasi di Madina

    • calendar_month Selasa, 13 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Dirjen Imigrasi Kemenkumham Indonesia menyetujui usulan pembukaan kantor perwakilannya di Kabupaten Mandailing Natal. Pembukaan kantor imigrasi ini bertujuan untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat, utamanya dalam pembuatan paspor dan urusan yang berkaitan dengan keimigrasian. Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution usai melakukan pertemuan dengan Direktorat Jendral Imigrasi Kementerian Hukum dan Ham, Ronny […]

  • Antrean Panjang di Jembatan Aek Ranto Puran

    Antrean Panjang di Jembatan Aek Ranto Puran

    • calendar_month Jumat, 24 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ANTRE PANJANG Ratusan kendaraan antre panjang di Jalan Lintas Sumatera tepatnya dekat Jembatan Aek Rantopuran Gunungtua Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal yang ambruk beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut disebabkan jembatan bialley sebagai jembatan pengganti hanya bisa dilewati kendaraan satu arah secara bergantian.(medanbisnis/zamharir rangkuti)

  • Evaline Sago Duduk di Komisi II DPRD Madina

    Evaline Sago Duduk di Komisi II DPRD Madina

    • calendar_month Kamis, 7 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Evaline Sago tercatat masuk di Komisi II DPRD Mandailing Natal. Putri pengusaha perkebunan sawit Ignasius Sago itu berposisi sebagai anggota di Komisi yang membidangi Pertanian itu. Dinas Pertanian Mandailing Natal merupakan instansi yang menangani bidang perkebunan. Berdasar data profil PT.Sago Nauli di www.sagonauli.com tercatat Drs. Ignasius Sago sebagai Direktur Utama […]

  • Pelantikan Bupati Padang Lawas Ditunda

    Pelantikan Bupati Padang Lawas Ditunda

    • calendar_month Senin, 12 Nov 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA, (MO) – Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta memutuskan pelantikan Ali Sutan Harahap sebagai bupati defenitif Padanglawas (Palas), Sumatera Utara ditunda. Keputusan PTUN Jakarta tersebut dikeluarkan Jumat (9/11) lalu.“Kami sudah menerima salinan putusan PTUN Jakarta itu,”kata kuasa hukum mantan Bupati Palas Basyrah Lubis dari Kantor Hukum Izha & Izha, Jamaluddin Karim di Jakarta, Minggu […]

  • Lia Eden Bebas

    Lia Eden Bebas

    • calendar_month Sabtu, 16 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Lia Aminudin alias Lia Eden (64), terpidana kasus penodaan agama dijemput tujuh orang pengikutnya saat keluar dari Lapas Wanita Tangerang, Banten, Jumat (15/4). Lia Eden bebas setelah menjalani masa tahanan 2,5 tahun yang dijatuhkan vonis oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang diketuai Sujbacran pada 2 Juni 2009. Sumber : Analisa

  • Bupati Madina Terima Waspada Award, Ketua PP: Cermin Pemkab Madina Dekat dengan Pers

    Bupati Madina Terima Waspada Award, Ketua PP: Cermin Pemkab Madina Dekat dengan Pers

    • calendar_month Kamis, 13 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keberhasilan Bupati Mandailing Natal (Madina) meraih anugerah Waspada Award pada Selasa (11/1) kemarin mendapat apresiasi dari MPC Pemuda Pancasila Madina. Apresiasi itu disampaikan Ketua MPC PP Akhmad Arjun Nasution kepada Mandailing Online, Rabu (12/1) di kantor MPC PP Madina, Pidoli Dolok. Arjun menilai pemberian award tersebut menunjukkan kedekatan Pemkab Madina dengan […]

expand_less