Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Orang Miskin Terus Disalahkan, Kenapa Tidak Mengevaluasi Sistem yang Sudah Memiskinkan?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 24 Apr 2021
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamatan Politik

UYM kembali menjadi perbincangan jagat sosial media. Pasalnya, UYM mengeluarkan komentar yang dianggap nitizen tidak layak untuk diucapkan oleh seoarang penceramah. Seperti dilansir dari @geloranews, Jumat (16/04/2021) menyebutkna bahwa pernyataan Ustaz Yusuf Mansur  menuai kontroversi. Pasalnya UYM menyebut bahwa orang miskin pasti kurang ibadah. Kisruh ini berawal dari cuitan Feby Indriani subuh tadi. Di mana ia lebih dulu mengomentari pernyataan UYM di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Feby menuilskan, UYM mengatakan di Metro tv jika orang miskin, pasti ibadahnya kurang. Menyatakan rasa kasihan  dengan orang miskin yang ditindas struktur lalu menyalahkan ustaz yang kaya raya. Menurut Feby, yang dikatakan UYM tersebut di atas berbeda dengan visi Rasulullah yang berusaha mewujudkan keadilan. Sementara UYM malah menjadi agen kapitalisme yang melulu menyalahkan orang miskin.

Padahal lanjut Feby, orang miskin kerap tidak bisa keluar dari kemiskinan karena kebijakan-kebijakan dan sistem belum berpihak pada mereka. Tak hanya Feby, tokoh Nahdlatul Ulama juga turut mengomentari pernyataan Ustaz Yusum Mansur barusan. Pengurus Cabang Istimewa NU Akhmad Sahal, ia membandingkannya dengan doa Nabi Muhammad SAW. Lebih lanjut, Gus Sahal menilai UYM keliru dalam membuat pernyatan tersebut. Sebab menurut Gus Sahal, orang miskin tidak semata-mata karena kurang ibadah.

Kenapa Harus Menyalahkan Orang Miskin?

Banyak orang yang salah paham melihat suatu fenomen kehidupan. Bahkan menakwil dalil juga tidak segan-segan demi membenarkan argumennya. Padahal, Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Adanya suatu peristiwa/kejadian di alam semesta tidak selalu berkaitan dengan kaidah kausalitas (sebab – akibat). Karena kehidupan manusia tidak hanya dikendalikan oleh dirinya sendiri, melainkan juga ada Zat yang mengendalikan.

Oleh karena itu, terkait ucapan UYM tersebut perlu untuk didudukkan sesuai dengan konteks ajaran Islam yang benar.

Pertama, kondisi kemiskinan yang disebutkan sebagai akibat kurangnya beribadah, kurang tepat. Sebab, banyak yang kaya tetapi ibadahnya hancur-hancuran bahkan tidak mengerti soal ibadah. Kenapa? Karena tidak mendapatkan pelajaran ibadah atau cara beribadah sesuai ajaran agamanya sejak kecil. Mungkin mereka dari kalangan keluarga yang super sibuk dengan aktifitas duniawi sehingga orangtuanya lupa atau bahkan tidak peduli dengan masa depan agama anak-anaknya. Maka jadilah kelompok yang ibadahnya kurang tetapi kaya harta.

Kedua, hakikatnya antara kaya, miskin, dan ibadah tidak memiliki korelasi langsung. Sehingga orang yang rajin ibadah akan serta merta mendapatkan kekayaan. Dan yang ibadahnya kurang, langsung diberikan kemiskinan oleh Allah. Karena jika kaya-miskin diartikan dalam konsep rezeki, maka rezeki itu minallah. Artinya, jika Allah berkehendak, akan diberikan. Jika  tidak, ya tidak.

Kerja dan ibadah hanyalah usaha yang menjadi ikhtiar wilayah manusia. Namun bukan mutlak menjadi asbab yang menjadikan manusia kaya.  Allah memang telah berjanji tidak akan menyalahi usaha. Artinya, hasil selalu berbading lurus dengan usaha, dan hasil tidak pernah menyalahi proses. Bagi yang berusaha untuk mendapatkan rezeki, semisal mengumpulkan harta, tegantung usahanya seperti apa, ya dikasih, baik halal maupun haram. Karena kelak yang dihisab adalah usaha yang ditempuh dalam menjemput rezekinya bukan jumlah yang didapat.

Ketiga, fenomen kaya-miskin adalah pelengkap kehidupan. Dan sudah suannatullahnya diciptakan Allah. Ada yang kaya untuk berbagi dengan si miskin. Karena sebagian harta kita adalah milik orang lain. Adanya orang miskin jadi ujian bagi orang kaya, apakah memahami hakikat harta kekayaannya. Bisa membawanya ke surga atau ke neraka. Adanya yang miskin juga ujian, apakah terus akan berusaha di jalan yang benar dan terus beribadah, atau malah merasa bosan lalu menghalalkan yang diharamkan.

Idealnya, begitulah konteks memahami kaya-miskin dalam  kehidupan ini menurut perpesktif Islam. Namun, ada satu hal yang harus dipahami lagi dan tidak kalah penting. Bahwa setiap keadaan baik miskin maupun kaya bisa berubah. Dan Allah telah berjanji akan mengubah kondisi suatu kaum jika mau mengubahnya. Artinya, dari kacamata konsep kaidah kausalitas, dan dikaitkan dengan situasi hari ini, kita dapat melihat bahwa kemiskinan yang terjadi bukanlah karena turun dari langit alias tanpa sebab.

Fenomena banyaknya orang miskin di zaman modern ini tidak lepas dari program atau upaya untuk memiskinkan secara struktutal atau sistemik. Sebaba apa? Sebab kesalahan dalam mengelola sumber kekayaan alam milik rakyat. Allah swt menciptakan manusia di bumi lengkap dengan potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran hidup makhluk hidup di dalamnya, khususnya manusia. Sayang, potensi sumber daya alam tersebut telah dikelola oleh segelintir elit politik, penguasa, dan para cukong asing yang bekerjasama. Walhasil, sumber dirampok, yang menikmati hanya segelintir elit, sementara rakyat tinggal gigit jari.

Itulah akar masalah kemiskinan yang ada di negeri ini. Kalau dikaitkan dengan ibadah, bukan rakyat harusnya yang disalah. Tetapi tanyalah para penguasa yang memimpin bagaimana ibadah mereka kepada Sang Pencipta? Apakah menjual aset rakyat itu ibadah? Apakah mengeruk uang rakyat itu ibadah? Tapi kenapa mereka kaya raya dengan gelimangan materi?

Tidak bisa dipungkiri, kaum muslimin hampir di seluruh wilayah penjuru negeri muslim dalam keadaan miskin. Seperti Indonesia, dijajah dan dirampok secara politik oleh ekonomi kapitalis. Ada yang miskin karena negerinya dibombardir hingga luluh lantak lalu terlunta-lunta. Apakah mereka kurang ibadah? Justeru sebaliknya.  Mereka adalah umat Islam yang rajin beribadah dan ingin terus beribadah secara sempurna yang membuat mereka ditindas dan dijajah serta dimiskinkan. Sebab jika mengelola aset negara sesuai dengan perintah yang mereka ibadahi yaitu Allah swt, mewajibkan pemimpin untuk mengiktui aturan Sang Mudabbir. Tetapi justru karena itulah yang membuat penguasa-penguasa kapitalisme enggan.

Dengan demikian, sebagai seorang yang memahami agama, UYM seharusnya mencerdaskan umat dengan memahamkan antara ibadah dan fenomen kehidupan kaya-miskin. Dan harus dijelaskan bahwa kaya tidak selalu didefenisikan dengan harta materi. Kaya hati, kaya pikiran dan kaya ilmu serta iman juga merupakan kekayaan yang bahkan tidak dapat dinilai materi. Sementara miskin, juga sebaliknya. Miskin hati, miskin ide, miskin ilmu dan iman adalah kondisi miskin yang sangat menyedihkan dari miskin harta materi.

Sehingga jelas dengan gamblang, jika kemiskinan yang terjadi adalah karena sebab-akibat, maka tentu bisa diubah dan diperbaiki. Caranya, dengan mengganti aturan dan kebijakan yang telah memiskinkan rakyat dengan aturan yang menjanjikan bahkan sudah membuktikan mampu memberikan kesejahteraan. Saking sejahteranya, tidak ada yang layak menerima zakat.

Itulah standar kaya-miskin secara maal (harta materi) dalam perspektif Islam. Disebut kaya jika sudah tidak layak menerima zakat.  Dan hal itu sudah terjadi di masa kejayaan peradaban Islam. Pemimpin dan rakyat sama–sama memiliki kesadaran iman untuk mengamalkan/mengimplementasikan Islam secara totalitas. Walhasil, miskin secara materi karena dimiskinkan oleh peraturan/ kebijakan adalah mimpi yang dianggap tidak bisa jadi kenyataan jika aturan Islam diimplementasikan secara keseluruhan. Wallahu a’alam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wabup Madina Ikuti Rakornas TPID Secara Virtual

    Wabup Madina Ikuti Rakornas TPID Secara Virtual

    • calendar_month Jumat, 1 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengikuti Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui zoom meeting di ruang kerja wakil bupati, Komplek Perkantoran Payaloting, Kecamatan Panyabungan, Madina, Sumut, Kamis (31/8/2023). Pengendalian Inflasi merupakan pertemuan tahunan tingkat nasional berkaitan dengan koordinasi pengendalian inflasi. Pertemuan […]

  • Aksi Pencurian Toko Pakaian di Panyabungan Terekam CCTV

    Aksi Pencurian Toko Pakaian di Panyabungan Terekam CCTV

    • calendar_month Kamis, 28 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) Aksi pencurian di sebuah toko pakaian jadi di kota Panyabungan, Mandailing Natal( Madina ) terekam cctv. Dalam video itu terlihat tiga orang turun dari mobil pribadi jenis avansa mendatangi toko milik Ilham(,31 th) berlokasi di jalan lintas sumatera, pasar jonjong panyabungan. Dalam video itu terlihat 2 wanita satu laki laki seolah hendak […]

  • Kadis Pendidikan Madina: Peran Orangtua Penting Tingkatkan Kualitas Pendidikan

    Kadis Pendidikan Madina: Peran Orangtua Penting Tingkatkan Kualitas Pendidikan

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Kadis Pendidikan Imron Lubis MM mengatakan, peran orangtua penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Mandailing Natal. “Sesuai data masih banyak orangtua memanfaatkan tenaga anaknya membantu mencari nafkah yang seharusnya mengecam pendidikan,” ujar Imron Lubis MM di ruang kerjanya kepada wartawan, Senin (2/5). “Untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di […]

  • Hutan Mangrove di Sumut Kian Kritis

    Hutan Mangrove di Sumut Kian Kritis

    • calendar_month Jumat, 15 Nov 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Hutan mangrove di Sumut kian kritis. Hanya tersisa 50 persen. Pemusnahan hutan mangrove atau hutan bakau terjadi akibat alih fungsi ke perkebunan sawit oleh perusahaan-perusahaan kapitalis dan illegal loging. Berbagai undang-undang (UU) pun dinilai tak mempan menghempang pemusnahan mangrove. UU terkait hutan mangrove yakni UU No 41/1999 tentang Kehutanan, UU No 26/2007 tentang Penataan […]

  • Penerimaan CPNS Pemprov Sumut Dimulai Oktober 2010

    Penerimaan CPNS Pemprov Sumut Dimulai Oktober 2010

    • calendar_month Kamis, 30 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Proses penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) untuk pemprov Sumut dijadwalkan akan mulai dilakukan pada pertengahan Oktober 2010 mendatang. Maka untuk itu, masyarakat yang ingin melamar sudah bisa menyiapkan berkas-berkasnya. Kepastian itu disampaikan Kepala Bidang Pengadaan dan Pembinaan pada Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemprov Sumut, Pandapotan Siregar. “Pertengahan Oktober ini sudah bisa berjalan […]

  • Terkait Perangkat Desa Hutaraja Tak Terima Siltap. Dinas PMD Madina Panggil Kades Rahmad Parmonangan

    Terkait Perangkat Desa Hutaraja Tak Terima Siltap. Dinas PMD Madina Panggil Kades Rahmad Parmonangan

    • calendar_month Sabtu, 15 Feb 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA – (Mandailing Online) – Terkait dugaan kuat Kepala Desa Hutaraja di Panyabungan Selatan, Madina yang tidak memberikan penghasilan tetap ( siltap ) bagi perangkat desa, BPD, bilal mayit, dan guru MDA. Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa ( PMD ) Madina akhirnya memanggil Parmonangan Nasution ( Kades ) dan BPD Desa. Pemanggilan Kades Hutaraja dan BPD […]

expand_less