Senin, 20 Apr 2026
light_mode

Pengumuman Proklamasi Kemerdekaan Pertamakali di Panyabungan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 21 Mei 2018
  • print Cetak

Foto Ibrahim Dalimunthe (kiri) menceritakan secara lisan yang dicatat Ir. M.Noor El Husein Dalimunte

 

Catatan ini adalah hasil pencatatan terhadap penuturan lisan Almarhum Ibrahim Dalimunthe saat masih hidup di Medan tanggal 7 April 1995 yang dicatatat oleh Ir. M.Noor El Husein Dalimunte.

Penuturan langsung dari pelaku di Panyabungan, Mandailing, Sumatera Utara pada hari-hari setelah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan di Jakarta.

Berikut ini hasil catatannya :

Pada tanggal 18 Agustus 1945 beberapa tokoh masyarakat di Panyabungan antara lain: Amar Ma’roef dan Ibrahim Dalimunthe mengirim utusan pemuda ke Hutabargot, diantara mereka: Tholib Nasution, Ahmad Banjir, dan Syamsir Lubis untuk menyampaikan Surat Kawat yang saya terima dari Dr. A.K. Gani dari Palembang kepada Bung Noeddin Pulungan. Isi surat kawat ialah tentang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia kemarin tanggal 17 Agustus 1945, atas nama Bangsa Indonesia: Soekarno dan Hatta di Jakarta.

Bung Nuddin Pulungan adalah Ketua BAPEN (Badan Pertahanan Nasional) pada masa itu (Pemerintah Jepang) di Panyabungan. Beliau adalah bekas tahanan politik (Digulis) oleh Pemerintah Hindia Belanda. Terakhir setelah dibebaskan dari penjara Sukamiskin, Bung Karno meminta agar beliau kembali saja ke kampung asalnya karena sudah terlalu tua berjuang dan pokok-pokok pemikirannya sangat dibutuhkan pemuda/masyarakat desa.

Setelah menerima surat kawat tersebut, Bung Nuddin Pulungan dan Amar Ma’ruf berangkat ke Kotanopan menemui tokoh masyarakat disana antara lain Bapak Abdul Aziz dan Raja Junjungan Lubis, guna membicarakan cara-cara yang akan ditempuh mengumumkan Proklamasi di Mandailing. Pada hari itu juga tanggal 18 Agustus 1945, saya Ibrahim Dalimunthe mengibarkan Bendera Merah Putih di kantor BAPEN itu dibawah ancaman tentera Jepang. Sekembali utusan dari Kotanopan mengadakan musyawarah untuk membentuk Panitia setempat yang akan mengumumkan resmi Proklamasi di Panyabungan.

Pada mulanya berita tentang Proklamasi Kemerdekaan disampaikan secara berbisik serta mengestafetkannya kepada teman lainnya, tetapi hasilnya kurang efektip. Cara lain Panitia menerbitkan selebaran dan membagikan kepada siapa saja yang datang atau berurusan dengan loket di pusat pasar Panyabungan. Hal ini mendapat hambatan sengit dari petugas Kempetai Jepang, mereka menyita selebaran serta mengancam akan menangkap siapa saja yang memiliki serta mencoba menyebar luaskannya.

Panitia beserta tokoh masyarakat kembali berunding dibawah pokok mangga di dekat Kantor Pos tempo doeloe yang berhampiran dengan jalan raya yang saat itu akan dilalui rombongan (Penutur tidak ingat namanya). Tokoh-tokoh masyarakat merasa yakin bahwa dalam rombongan tersebut ada Dr. A.K. Gani yang sudah kami kenal. Amar Ma’ruf dan saya Ibrahim Dalimunthe memberanikan menghadang dan ternyata rombongan beserta tentara keamanan mau berhenti sejenak dan memberi penjelasan bahwa Proklamasi itu benar. Setelah itu rombongan meninggalkan Panyabungan menuju Kotanopan, menurut kabar yang diterima memberikan jawaban yang sama. Untuk itu utusan Panitia dari Panyabungan kembali menemui tokoh masyarakat di Kotanopan dan sepakat agar masing-masing mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dalam suatu Rapat Umum.

Ibrahim Dalimunthe dan naskah catatan yang sudah diketik serta tandatangannya

Rapat Umum pengumuman Proklamasi di Panyabungan diadakan kira-kira 4 hari sesudah saat itu bertempat di lokasi halaman Pesanggerahan yang lama. Tenggang waktu tersebut dipergunakan untuk menyampaikan undangan ke setiap desa di Kecamatan Panyabungan agar mengirimkan wakil-wakil pemudanya.

Rapat Umum dihadiri massa yang berdatangan dari seluruh pelosok/pedesaan, menyaksikan pengibaran Bendera Merah Putih secara resmi di Panyabungan. Bertindak sebagai Pembicara I Bung Nuddin Pulungan, Pembicara II Amar Ma’ruf dan Pembicara III saya Ibrahim Dalimunthe dengan judul “Bendera Merah Putih Sebagai Lambang Negara dan Kemerdekaan”.

Lapangan itu kemudian menjadi lokasi Upacara Pengibaran Bendera setiap 17 Agustus dan disana Pemerintah Daerah setempat kemudian membangun sebuah Tugu Proklamasi.

Penutur : H. Ibrahim Dalimunthe

Penulis : Ir. M.Noor El Husein Dalimunte.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konflik Pemuda Desa Tabuyung dan Bintuas, Ketua Pemuda Pancasila: Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

    Konflik Pemuda Desa Tabuyung dan Bintuas, Ketua Pemuda Pancasila: Kekerasan Tidak Menyelesaikan Masalah

    • calendar_month Minggu, 30 Jan 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Konflik antar pemuda Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis (MBG) dan Desa Bintuas, Kecamatan Natal yang bermula pada sekitar 2 bulan berujung pembakaran gudang ikan dan gudang minyak warga Bintuas pada Sabtu (29/1) malam. Akibatnya sebagian warga Bintuas dikabarkan terpaksa mengevakuasi diri ke tempat yang aman. Menanggapi kejadian tersebut, Ketua Majelis […]

  • Industri Keripik Kesulitan Bahan Baku

    Industri Keripik Kesulitan Bahan Baku

    • calendar_month Kamis, 4 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Industri keripik di Mandailing Natal (Madina) masih terus dihantui kendala bahan baku singkong alias ubi kayu. Dampaknya, banyak industri keripik kayu ubi mengubah produknya produk keripik tepung. Kondisi itu berakibat semakin lemahnya pelaku industri kripik Madina menghadapi gempuran produk sejenis dari Sumatera Barat dalam persaingan pasar Madina. Ilmanuddin, salah satu pengusaha […]

  • Marbue-Bue Disopo Saba

    Marbue-Bue Disopo Saba

    • calendar_month Selasa, 12 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Maso-maso nadung salpu pala langkama damang dohot dainang tuparusahon ima tusaba balik sanga tu saba bariba, atope tu saba jambu, ipaturema anggunan ni danak di sopo pantar gogat, marbue-buema simatobangna dadaboru papodom-podom danak anso bisa harejo marbabo eme sangape mangarabi duru. Indaba songon saro sannari papodom-podom danak logu-logu na mardorung-dorung naso tangiononkondo baen roncamna, manombo […]

  • Kasus Maga, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

    Kasus Maga, Polisi Tetapkan 5 Tersangka

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polres Mandailing Natal (Madina) sejauh ini telah menetapkan lima orang tersangka dalam kasus pengeroyokan di Desa Maga Lombang, Kecamatan Lembah Sorik Marapi. Pengeroyokan terjadi pada Selasa (20/1) oleh massa seratusan orang menyebabkan Ispara Sakti Nasution alias 'Adek' (50) warga Desa Maga Lombang meninggal dunia. “Sementara ini ada sekitar lima orang […]

  • Kopi Luwak Mandailing Dipromosikan ke Jepang

    Kopi Luwak Mandailing Dipromosikan ke Jepang

    • calendar_month Selasa, 24 Sep 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    TAPSEL, – Organisasi perdagangan dan industri Jepang (The Japan Chamber of Commerce and Industry International Division) melalui Mr Hiroyuki Amaya, bermitra dengan Forum Pengelolaan DAS Lintas Kabupaten dan Lembaga Sipirok Lestari, membuka peluang promosi kopi luwak Sipirok dan Pakantan ke Provinsi Sizuoka dan Fukuoka di Jepang. Seperti yang dikatakan ketua Forum Pengelolaan DAS (Daerah Aliran […]

  • Tambang Sere Kembali Telan Korban, 5 Tewas, 1 Kritis

    Tambang Sere Kembali Telan Korban, 5 Tewas, 1 Kritis

    • calendar_month Rabu, 3 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA SIPONGI (Mandailing Online) – Tambang sere atau tambang emas di Mandailing Natal (Madina) kembali memakan korban jiwa. Kali ini terjadi di areal Dusun Tambang Ubi, Desa Aek Botung Kecamatan Muara Sipongi, Senin (1/8/2014). Sebanyak 5 orang tewas dan 1 orang kritis. Mereka diduga menghirup gas beracun saat berada di dalam lobang tambang yang mereka […]

expand_less