Jumat, 16 Okt 2026
light_mode

Sssstt… Ada “Bupati Galak” di Deli Serdang, Kedan! Awak Takut Dipecat, Ah…

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
  • print Cetak

 

Oleh: Muhammad Ludfan Nasution

 

Deli Serdang belakangan terasa berbeda. Ada desas-desus. Merambat di kalangan birokrat.

Di kantor-kantor pemerintahan, suasananya lebih tegang. Di ruang guru sekolah, orang mulai bicara pelan. Di lorong dinas, ASN saling mengingatkan:

“Hati-hati ngomong…!”
“Hati-hati tanda tangan…!”
“Hati-hati, bisa dicopot… atau sipecat, Wak”

Dan di atas semua suasana itu, berdiri satu citra yang makin kuat di ruang publik Sumut:

“Bupati galak.”

Bukan sekadar tegas. Tetapi galak. Terasa kasar.

Mudah meledak.
Gemar membentak.
Cepat mencopot.
Dan nampak senang memperlihatkan ketegasan di depan publik.

Nama Asri Ludin Tambunan kini menjadi pusat atmosfer baru birokrasi Deli Serdang.

Sebagian orang memuji. Sebagian lain mulai takut. Dan sebagian lagi memilih diam.

Obat Kejut

Harus diakui, kemunculan model pemimpin seperti ini memang punya pasar politik sendiri.

Di tengah rakyat yang muak melihat ASN lamban, pelayanan lelet, dan budaya “asal bapak senang”, sosok kepala daerah yang keras sering dianggap seperti obat kejut.

Masalahnya, obat kejut bisa berubah menjadi racun kalau dosisnya berlebihan.

Dan tanda-tanda itu mulai tercium di Deli Serdang.

ASN mulai bekerja bukan karena kesadaran pelayanan. Tetapi karena takut.

Takut dipanggil.
Takut dimarahi.
Takut dipermalukan.
Takut dicopot.

Soal Membesar

Beberapa media lokal sudah merekam serpihan-serpihan situasi mencekam itu.

Seperti Daltonews.com yang memberitakan penertiban tenaga honorer dan penyesuaian besar-besaran kebijakan ASN di lingkungan Pemkab Deli Serdang.

Begitu juga IDN Times Sumut mengangkat cerita ASN guru yang dipecat akibat pelanggaran disiplin berat.

Lalu, Visi News menayangkan cerita tentang guru PPPK menangis karena kontraknya tidak diperpanjang.

Sementara di akar birokrasi, cerita-cerita kecil berseliweran makin cepat:
pegawai mendadak dipanggil,
pejabat berubah drastis jadi penurut,
guru takut salah bicara,
ASN mulai sibuk membaca arah angin politik.

Dan di sinilah persoalan mulai membesar. Birokrasi yang sehat dibangun di atas sistem. Bukan ketakutan.

Laju Uang Rakyat

Tetapi ada lapisan lain yang lebih menarik dibongkar: laju uang rakyat. Bagaimana alirannya. Progresnya?

Sekeras apa pun gaya memimpin seorang bupati, ukuran akhirnya tetap sederhana: Apakah pembangunan bergerak meningkatkan kesejahteraan rakyat?

Atau, birokrasinya justru hanya sibuk menebarkan rasa takut?

Data Progress Report Pengendalian Pembangunan Sumut menunjukkan APBD Deli Serdang 2026 berada di kisaran Rp4,21 triliun.

Hingga April-Mei 2026, realisasi belanja belum benar-benar menunjukkan akselerasi besar.

Yang paling menarik adalah belanja modal — indikator utama pembangunan fisik, baru sekitar Rp573 miliar atau 13,59 persen dari total APBD.

Artinya apa?

Sebagian besar uang daerah masih berputar di belanja rutin birokrasi.

Sementara publik belum melihat ledakan pembangunan yang sebanding dengan kerasnya atmosfer pemerintahan.

Ini mulai memunculkan pertanyaan yang lebih tajam:

Kalau birokrasi sudah dibuat tegang sedemikian rupa…, mana hasil nyatanya?

Jalan mana yang melompat progresnya?
Sekolah mana yang melonjak kualitasnya?
Layanan publik mana yang berubah drastis?
Investasi mana yang benar-benar masuk dalam jumlah besar?

Ketegasan tanpa hasil, bakal berubah menjadi pertunjukan kekuasaan.

Bagi-bagi Proyek?

Lalu masuk ke wilayah paling sensitif: proyek. Bagi-bagi proyek atau proyek bagi-bagi?

Di dunia politik lokal, proyek adalah bahasa kekuasaan paling jujur. Nyata. Konkrit. PL atau lelang?

Ketika kekuasaan baru terbentuk, publik otomatis mulai memantau: Siapa pemain barunya? Siapa kontraktor yang dekat lingkaran kekuasaan?
Siapa yang tiba-tiba mendapat ruang?

Siapa pulak yang mulai hilang?

Portal detikSumut sempat mengungkit porsi anggaran Rp 3 miliar untuk pembangunan Polsubsektor Sunggal lewat APBD Deli Serdang 2026 dengan skema pengadaan langsung (PL).

Bagi publik awam, mungkin itu dianggap biasa saja. Gak masalah. Lanjut.

Tetapi bagi orang-orang yang lama mengamati politik anggaran daerah, frasa “pengadaan langsung” selalu punya gema khusus dan gaung besar. Karena, di situlah biasanya loyalitas mulai dirawat. Makin banyak yang merapat. Apalagi kalau yang oposan bisa jinak.

Pelan-pelan. Diam-diam. Tidak berisik. Senyap.

Rantai Dinasti

Dan di atas semua itu, ada satu kata yang mulai beredar di ruang publik: “Tambunan.”

Tentu saja, bukan semata soal marga. Tetapi soal kekhawatiran klasik politik Indonesia: dinasti,  jejaring, dan konsolidasi kekuasaan.

Karena publik di Sumut pun sudah terlalu sering melihat pola yang sama:

  • birokrasi ditekan,
  • loyalitas dibangun,
  • proyek diarahkan,
  • kritik dipelankan,
  • lalu lingkar kekuasaan mengeras.

Apalagi ketika DPRD pun terlihat relatif tenang. Ya, suasana makin senyap.

Kemudian, ada Japos.co yang bikin publikasi: LKPJ bupati berjalan mulus. Cepat dapat persetujuan. Nyaris tanpa kegaduhan besar.

Suasana pun justru terasa semakin sunyi. Padahal, kadang kala, yang terlalu sunyi itu lebih menyeramkan daripada ribut.

Hilang Radar

Yang paling berbahaya, bukan bupati yang marah-marah. Tetapi ketika seluruh birokrasi mulai kehilangan keberanian berpikir.

Ketika semua bawahan hanya berkata:
“Siap, pak.”
“Siap, pak.”
“Siap, pak.”

Maka, kepala daerah sedang kehilangan radar terpenting: saran dan kritik dari dalam.

Sejarah kekuasaan daerah di Indonesia berkali-kali menunjukkan: Pemimpin yang terlalu ditakuti sering terlambat menyadari bahwa bawahannya sebenarnya hanya sedang “bermain aman”.

Mereka tampak loyal.

Padahal diam-diam menjaga jarak.

Niat Baik

Mungkin Asri Ludin Tambunan memang ingin membersihkan birokrasi.

Mungkin niatnya benar. Gak neko-neko. Baik.

Dan harus diakui, Pemkab juga mulai mempromosikan capaian pelayanan kesehatan, digitalisasi, hingga program UHC gratis.

Tetapi publik tetap punya hak untuk bertanya:

Apakah Deli Serdang seaungguhnya sedang membangun pemerintahan yang elegan?

Atau, sedang membangun kerajaan administratif berbasis rasa takut?

Kalau guru mulai gemetar…. Terus, ASN mulai membisu…. Kritik publik dan teguran legislatif mulai hilang…. Proyek mulai dipelototi….
Tapi, pembangunan belum juga melompat jauh ke depan.

Maka, yang tumbuh bukan sekadar disiplin. Tetapi suasana mencekam.

Aroma itu mulai menyengat. Dari Deli Serdang merembes ke celah-celah bibir Sumut.

Pelan-pelan. Sayup-sayup: “Sssstt….
Awak takut dipecat, Kedan….”. ***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Aturan Syariat Terhadap Perempuan Kembali Dipropogandakan Negatif!

    Aturan Syariat Terhadap Perempuan Kembali Dipropogandakan Negatif!

    • calendar_month Kamis, 9 Sep 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Semenjak Taliban menguasai Afganistan, isu miring terhadap perempuan dan syariat kembali dihembuskan. Siapa lagi kalau bukan sekelompok pemikir liberal yang mengatasnamakn perjuangan hak-hak perempuan. Merekalah kaum feminis yang diracuni pemikirannya jauh dari nilai-nilai Islam dan mendewakan budaya kebebasan Barat liberal. Implementasi sebagian syariat Islam bagi kaum perempuan […]

  • Jalur Darat Sudah Bisa Dilalui

    Jalur Darat Sudah Bisa Dilalui

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Banjir Bandang Tongging KARO- Setelah sempat terputus total pascalongsor dan banjir bandang, jalur transportasi darat antara Tongging-Paropo, Sikodon-kodon, Silalahi dan sejumlah desa tetangga di Kabupate Dairi sudah dapat dilalui. “Tadi sore, lima dari delapan titik longsoran di badan jalan telah kita bersihkan. Sebenarnya target, Jumat (4/2) sore jalan sudah dapat dilalui kenderaan roda empat. Namun […]

  • Kontes legislatif makan korban?

    Kontes legislatif makan korban?

    • calendar_month Kamis, 25 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Pemilu legislatif 2014 masih 3,5 tahun lagi. Namun, bagi warga negara memiliki kepedulian dan keinginan untuk mengabdi sebagai anggota legislatif, bukanlah waktu yang panjang. Untuk mengikuti kontes legislatif diperlukan kesiapan yang memadai, baik materi maupun mental. Selama ini paradigma yang berkembang mengikuti pencalonan anggota legislatif membutuhkan biaya besar dan itu pun belum menjamin […]

  • Total 15 Desa Diterjang Bandang di Palas

    Total 15 Desa Diterjang Bandang di Palas

    • calendar_month Minggu, 2 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PADANG LAWAS (Mandailing Online) – Berdasar data BNPB, total 15 desa menjadi terjangan banjir bandang di Kabupaten Padang Lawas (Palas), Sumatera Utara. Desa-desa itu meliputi Desa Tanjung Baru, Muara Malinto, Tandolan, Siadam, Tamiang, Pasar Tamiang, Tanjung Barani, Manggis, Pinarik, Siojo, Paran Manggis, Huta Nopan, Tangga Batu, Paran Dolok, dan Desa Aek Sorik. Banjir bandang terjadi […]

  • Kembalilah Kepada Sang Pencipta

    Kembalilah Kepada Sang Pencipta

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nurhabibah, S. Pd Ketika kemaksiatan merajalela. Keangkuhan tampak di mana mana. Hampir di setiap penjuru dunia kemungkaran menjadi hal yang biasa. Di saat alam sudah mulai muak. Namun Allah SWT yang Maha Kasih yang Maha Sayang, memberi peringatan melalui mahluk kecilnya yang bernama corona. Virus ini telah menyebar di 198 negara. Di China, […]

  • Aneh, Lurah Longat Tidak Pegang RAB dan Keterangan Berubah-ubah

    Aneh, Lurah Longat Tidak Pegang RAB dan Keterangan Berubah-ubah

    • calendar_month Senin, 22 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Online) – Keanehan terus bermunculan pada penganggaran Dana Kelurahan Longat tahun 2021. Terbaru adanya pengakuan Lurah Longat Mukhlis Nasution yang tidak memegang RAB Dana Kelurahan. Padahal sesuai dengan Permendagri Nomor 130 tahun 2018 pasal 12 ayat 1 menyebutkan “Kepala daerah menetapkan lurah selaku Kuasa Pengguna Anggaran untuk melaksanakan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana […]

expand_less