Willem Iskander Jadi Pahlawan Nasional: Why Not?
- account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
- calendar_month 12 menit yang lalu
- print Cetak

Oleh: Komunitas Pengusul Willem Iskander Pahlawan Nasional
Indonesia sering ribut mencari teladan pendidikan nasional. Nama-nama besar terus diperingati. Seminar digelar. Hari pendidikan dirayakan saban tahun. Tetapi di tengah gegap-gempita itu, ada satu nama dari tanah Mandailing yang seperti berdiri sunyi di pinggir sejarah nasional:
Willem Iskander.
Atau lebih tepatnya:
Sati Nasution.
Pertanyaannya, sederhana saja:
> kalau tokoh seperti Willem Iskander belum layak jadi Pahlawan Nasional, lalu ukuran kelayakan kita sebenarnya apa?
Mari jujur membaca sejarah.
Ketika sebagian besar bumiputera masih dianggap “kelas bawah” oleh kolonial, Willem Iskander justru sudah berpikir tentang pendidikan rakyat.
Bukan di Jawa.
Bukan di pusat kekuasaan.
Tetapi di Tanobato, Mandailing.
Tahun 1862, ia mendirikan Kweekschool Tanobato — sekolah guru bumiputera yang menjadi salah satu pelopor pendidikan modern di Sumatra. Bahkan banyak sejarawan menilai sekolah itu termasuk eksperimen pendidikan pribumi paling maju pada zamannya.
Ini bukan perkara kecil.
Karena di masa itu:
* pendidikan modern masih barang mewah,
* rakyat pribumi belum dipandang pantas maju,
* dan kolonial lebih suka rakyat tetap bodoh daripada kritis.
Tetapi seorang anak Mandailing bernama Sati Nasution justru pulang dari Belanda membawa gagasan:
> bangsa yang ingin bangkit harus mulai dari sekolah.
Dan ironisnya, gagasan itu muncul jauh sebelum pendidikan nasional menjadi slogan politik Indonesia modern.
Masalahnya mungkin satu:
Willem Iskander lahir terlalu cepat.
Sati Nasution datang sebelum republik berdiri.
Sebelum nasionalisme Indonesia punya panggung besar.
Sebelum sejarah ditulis dari sudut Jakarta dan Jawa.
Akibatnya, pengaruhnya lama terkunci sebagai “tokoh daerah”.
Padahal jika memakai ukuran objektif, modal historis Willem Iskander sangat kuat:
* pelopor pendidikan bumiputera,
* punya karya sastra,
* punya pemikiran kemajuan,
* minim kontroversi politik,
* dan membawa semangat kebangkitan intelektual pribumi.
Lalu kurangnya di mana?
Di sinilah kita mulai melihat problem lama Indonesia:
> sejarah nasional sering lebih ramah kepada tokoh yang populer, dibanding tokoh yang benar-benar meletakkan fondasi.
Banyak tokoh besar daerah kalah bukan karena jasanya kecil.
Tetapi karena:
* dokumentasi lemah,
* promosi sejarah minim,
* dan tidak punya “lobi narasi” di tingkat nasional.
Padahal bangsa besar seharusnya mampu melihat jasa, bukan sekadar gema popularitas.
Willem Iskander bukan sekadar guru.
Ia simbol bahwa dari Mandailing pernah lahir gagasan besar tentang:
* pendidikan,
* kemajuan,
* dan martabat bumiputera.
Ia membuktikan bahwa intelektualisme Indonesia tidak lahir dari satu wilayah saja.
Dan mungkin di situlah alasan kenapa namanya penting diangkat hari ini:
> agar Indonesia tidak terus membaca sejarah dengan mata yang terlalu sempit.
Pertanyaan akhirnya sederhana:
kalau negara bisa memberi ruang bagi banyak tokoh lain dengan pengaruh regional yang kuat, lalu mengapa Willem Iskander harus terus menunggu?
Why not?
- Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

