Jumat, 5 Jun 2026
light_mode

Pertumbuhan Transportasi di Mandailing Masa Kolonial

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 2 Jun 2022
  • print Cetak

Jalan Pos di Mandailing tahun 1890. Arsip Leiden, Belanda (Madina Madani/Basyral Hamidi Harahap)

 

Oleh: Askolani Nasution
Budayawan

Tanggal 15 Desember 1847, Belanda menggalakkan kebijakan tanaman kopi di kawasan Mandailing Angkola. Asisten Residen A.P. Godon melibatkan pemerintahan raja-raja tradisional untuk memobilisasi budi daya kopi secara massal.

Pemerintah kolonial memaksa setiap penduduk untuk menanam kopi dan hasilnya wajib dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. Tetapi sampai pertengahan tahun 1849, penduduk menolak menjual kopinya kepada pemerintah kolonial. Sebab, harga kopi di lingkungan pedagang Cina jauh lebih tinggi.

Ulu dan Pakantan menjadi kawasan penting. Selain karena pusat penanaman kopi, kawasan itu juga menjadi pusat misionaris kristen. Bahkan tahun 1833, agama Kristen sudah diperkenalkan di Pakantan. Karena itu, gereja tertua di kawasan Mandailing Angkola berada di Pakantan. J.C. Schoggers ditunjuk sebagai penguasa Oeloe an Pakanten. Ia kemudian digantikan oleh W. van der Valck pada bulan Januari 1854.

Tahun 1854, di berbagai wilayah Mandailing Angkola juga merebak korban harimau. Terjadi kepanikan sosial karena seringnya jatuh korban. Akhir tahun 1854, dua orang dokter lulusan STOVIA asal Mandailing, Asta (dari Salambue) dan Angan, dipulangkan ke Mandailing untuk mengelola rumah sakit. Keduanya adalah senior Willem Iskander yang pertama memperoleh pendidikan modern di Mandailing.

Rumah sakit itu, selain untuk korban harimau, juga diperuntukkan untuk berbagai persoalan kesehatan masyarakat. Pada saat itu misalnya, penyakit infeksi menjadi hal yang urgen. Banyak kematian yang ditimbulkan oleh penyakit itu. Selain itu, juga pertolongan pertama terhadap kelahiran yang menyebabkan tingginya kematian ibu dan anak. Tenaga kesehatan yang ada pada waktu itu, hanya cukup untuk melayani orang-orang Eropah yang tinggal di kawasan Mandailing.

Askolani Nasution

Bulan Juli tahun 1855 Gubernur Militer Pantai Barat Sumatera berkunjung ke Mandailing. Ia melaporkan betapa Mandailing amat berbudaya. Kemajuannya di bidang pertanian dan pertumbuhan jalan-jalan baru amat membanggakan. Asisten Residen Mandailing Angkola, A.P. Godon memang harus diakui banyak memajukan Mandailing, terutama sarana transportasi ke wilayah-wilayah terisolir, membuka pendidikan bagi bumi putra, dan layanan kesehatan. Sarana-sarana modern itu dulu tidak dikenal sebelum masuknya kolonialisme Belanda.

Hingga tahun 1862, kopi masih menjadi masalah penting. Bahkan menyebabkan gejolak sosial. Terutama karena penduduk dipaksa untuk membawa sendiri hasil panen kopinya ke Natal. Kuli panggul berontak karena berbulan-bulan mereka tidak pulang ke rumah. Beberapa kuli panggul membuang sendiri kopi panggulannya ke sungai Batang Natal. Selain karena buruknya sarana transportasi, mereka juga tidak diberi upah.

Hal itu menimbulkan gejolak sosial dan penentangan terhadap raja-raja tradisional yang memobilisasi mereka. Karena itu, A.P. Godon merencanakan jalan pos ke Natal.

Jembatan Batang Gadis, Panyabungan, dibangun dengan konstruksi kayu dan beratap ijuk. Sebelumnya, jembatan itu hanya dihubungkan dengan rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Setelah 180 hari bekerja, jembatan itu selesai dibangun dan dapat dilewati pedati.

Pada saat itu, jembatan Batang Toru hanya berupa rambin yang tidak bisa dilewati pedati. Baru pada tahun 1880, jembatan Batang Toru dapat dilewati pedati. Karena itu, ekspor kopi Mandailing dikirim ke Pantai Barat Natal.

Jalan pos Panyabungan-Natal dibuat lebar dan bagus. Sebanyak 2.650 orang laki-laki dipaksa membuka jalur transportasi itu. Kerja paksa pembukaan jalan menelan banyak korban karena penyakit dan kekurangan makan. Para pekerja itu terdiri dari 100 orang laki-laki setiap huta.

Dengan selesainya Jalan Pos Panyabungan-Natal, Tano Bato tumbuh menjadi kota transit penting menuju Natal. Selain menjadi tempat bermukim orang Eropah, di kota itu juga terdapat rumah-rumah penginapan. Tentu juga menjadi pusat pembibitan kopi untuk kawasan Mandailing.

Pembukaan jalan baru menjadi prioritas kolonialisme Belanda. Selain untuk mendukung distribusi kopi, juga untuk menyatukan Residen Tapanuli. Rute Panyabungan-Natal saja tidak memadai. Rute menuju Air Bangis juga dibangun mulai dari Muara Sipongi.

Rute menuju Padangsidimpuan, Sipirok hingga kawasan Toba juga menjadi prioritas. Rute itu diperlukan karena kawasan Tapanuli Bagian Utara dijadikan sebagai pusat pengembangan kristenisasi yang sebelumnya gagal di wilayah Mandailing. Padangsidimpuan disiapkan sebagai pusat pemerintahan baru menggantikan Panyabungan.

Selain itu juga rute menuju Padang Lawas dan Sibolga. Rute menuju Padang Lawas diperlukan untuk memelihara keamanan di kawasan itu setelah ditinggalkan Paderi.

Sementara itu, Sibolga akan disiapkan menjadi pelabuhan utama dan tentu sebagai ibu kota Residen Tapanuli. Untuk kelancaran transportasi ke Sibolga, jembatan Batang Toru harus bisa dilewati pedati. Apalagi kemudian kawasan Batang Toru akan dijadikan sebagai kawasan perkebunan.

Penetapan jalur arteri politik dan ekonomi itu dikuatkan melalui Keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia. Keputusan nomor 22 itu ditetapkan tanggal 21 November 1862. Beberapa pembangunan jalur transportasi yang ditetapkan dalam keputusan itu adalah ruas jalan:

1) Kotta Nopan – Laroe
2) Laroe – Fort Elout (Panyabungan)
3) Fort Elout (Panyabungan) – Siaboe
4) Siaboe – Soeroematingi
5) Soeroematingi – Sigalangan
6) Sigalangan – Padang Sidempoean
7) Padang Sidempoean – Panabassan
8) Panabassan – Batang Taro
9) Batang Taro – Loemoet
10) Loemoet – Parbirahan
11) Parbirahan  Toeka
12) Toeka – Sibogha

Poros transportasi itu tentu bukan rute baru. Sejak masa perdagangan garam, rute itu sudah dikenal sebagai titik-titik persinggahan pengendara berkuda. Rata-rata berjarak antara 10 sampai 20 km, atau satu etape dalam menggunakan kuda.

(Penggalan dari buku saya “Sejarah dan Kebudayaan Mandailing”, 2022)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Keselamatan Warga Prioritas Pemkab Madina

    Keselamatan Warga Prioritas Pemkab Madina

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      ​PANTAI BARAT (Mandailing Online) – Keselamatan warga menjadi prioritas Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina) saat bencana banjir dan longsor di tengah intensitas hujan yang tinggi sekitar dua pekan terakhir. ​Hal itu disampaikan Wakil Bupati Atika Azmi Utammi di hadapan para kepala desa di Kecamatan Batahan dan masyarakat Desa Banjar Aur, Kamis (11/12/ 2025). ​”Karena […]

  • Warga Giring Dua Truk Pengangkut Kayu ke Polsek Ranah Batahan

    Warga Giring Dua Truk Pengangkut Kayu ke Polsek Ranah Batahan

    • calendar_month Sabtu, 10 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PASAMAN BARAT (Mandailing Online) – Dua truk bermuatan kayu gelondongan ditangkap warga dan menggiringnya ke Polsek Ranah Batahan, Jum’at (9/9/2022). Truk itu digiring puluhan warga ke kantor Polsek Ranah Batahan, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat pada Jum’at malam. Kayu-kayu itu diduga ditebangi secara ilegal di kawasan sepanjang Sungai Batang Batahan, Kecamatan Ranah Batahan. Penangkapan truk […]

  • Ahbabun Nabi Mandailing Natal Kutuk Presiden Parancis

    Ahbabun Nabi Mandailing Natal Kutuk Presiden Parancis

    • calendar_month Senin, 2 Nov 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Majelis Shalawat Ahbabun Nabi SAW, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menilai Presiden Prancis Emmanuel Macron telah melakukan kecerobohan yang disengaja untuk melukai hati umat Islam dan membuktikan dia sangat dangkal dalam memaknai toleransi, kebebasan dan keberagaman. “Sangat lumrah apabila umat Islam marah, karna Macron telah menghina agama dan Nabi Muhammad SAW. Pernyataan […]

  • Ribuan Karyawan Mengamuk dan Bakar Perusahaan di Batam

    Ribuan Karyawan Mengamuk dan Bakar Perusahaan di Batam

    • calendar_month Selasa, 20 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATAM: Ribuan karyawan subkontrak PT Nexus Engineering Kawasan Industri Kabil Kota Batam mengamuk dan membakar perusahaan tempat mereka bekerja, Selasa sekitar pukul 08.30 WIB. Menurut salah seorang karyawan, Niko, kejadian tersebut dipicu salah seorang karyawan dipukul oleh oknum diduga anggota TNI yang bertugas diperusahaan, karena karyawan yang belum diketahui namannya itu salah parkir. “Ribuan karyawan […]

  • Nasib Driver Ojol Terpuruk dalam Genggaman Kapitalis

    Nasib Driver Ojol Terpuruk dalam Genggaman Kapitalis

    • calendar_month Selasa, 11 Apr 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Dewi Soviariani Ibu dan pemerhati umat Siang malam berjuang di jalan untuk mengais rupiah yang kian hari kian susah. Driver ojol makin menderita nasibnya saat potongan besar yang dilakukan oleh aplikator berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Ibarat sapi perah, para driver ojol tersebut menjadi pelaksana teknis yang menghasilkan uang untuk disetorkan pada perusahaan aplikatornya. […]

  • Pemkab Madina Ungkap Fakta-Fakta Ketidakberesan KP USU

    Pemkab Madina Ungkap Fakta-Fakta Ketidakberesan KP USU

    • calendar_month Selasa, 16 Okt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pihak Dinas Kehutanan dan Perkebunan Mandailing Natal (Madina) mengungkap fakta-fakta ketidakbersan KP USU dalam kegiatan Investasi di Madina. Fakta-fakta itu yang menjadi dasar bagi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Madina mencabut izin KP USU dalam investasi perkebunan sawit di Kecamatan Muara Batang Gadis pada bulan Juni lalu. Fakta-fakta yang ditamukan pada Koperasi […]

expand_less