Sabtu, 28 Feb 2026
light_mode

Puasa dan Kepedulian Sosial

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 17 Mei 2019
  • print Cetak

Dua anak dari kalangan fakir miskin mengais rezeki dari pembuangan sampah.

 

Puasa bagi ummat Islam, adalah pengabdian  sekaligus training mental. Puasa tidak hanya mengajarkan kepada kita menahan diri dari makan, minum, tapi juga menahan nafsu-nafsu pancaindera, dan hati.

Puasa Ramadhan tidak hanya sekadar masalah ubudiyah yang mendatangkan pahala dan ganjaran di akhirat kelak, tapi juga mendatangkan pengaruh yang langsung dalam kehidupan dunia ini.

Dari segi jasmaniyah, puasa bermanfaat sekali dalam menjaga kesehatan. Para dokter sepakat bahwa puasa itu menyehatkan, sebagaimana Rasulullah telah menetapkan 14 abad yang lalu dalam sebuah haditnya,” Puasalah, tentu kamu sehat.”

Dari segi ruhiyah, puasa adalah latihan disiplin terhadap peraturan. Melaksanakan dan menjauhi larangan bukan karena takut sanksi dan hukuman, tapi merupakan pengabdian atas dasar cinta kepada hukum-hukum Allah. Puasa membentuk sikap mental, watak dan kepribadian yang patuh dan disiplin.

Selain itu, puasa juga mengajarkan kesabaran. Orang yang sedang berpuasa berjuang menguasai dan mengendalikan hawa nafsunya, dengan mempertinggi sifat sabar, yaitu kemampuan untuk mengatur dan memimpin, memperkuat daya tahan dan kesanggupan menderita.

Dari Ibnu Majah diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda,” Puasa itu separuh kesabaran.”

Dari segi kemasyarakatan, puasa mendidik kaum muslimin untuk mengurangi bibit-bibit diskriminasi, sekaligus memperkokoh kesetiakawanan sosial.

Di luar bulan Ramadhan, orang kaya menikmati segala kemewahannya, makan serba  ada dan memenuhi segala selera. Sebaliknya, orang miskin hidup serba kekurangan, dapat makan 3 kali sehari untung-untungan, apalagi utuk memenuhi standar gizi. Akan tetapi, dalam bulan Ramadhan ini semuaa manusia punya kedudukan sama. Baik yang kaya maupun yang miskin sama-sama laparnya. Tidak makan dan minum, juga tidak berhubungan suami istri. Bila tiba saat berbuka, mereka serentak makan. Semua merasakan nikmatnya.

Banyak masjid, mushalla atau rumah menyediakan ta’jil bersama. Di sana semua kaum muslimin membaur jadi satu, tak peduli kaya dan miskin, bersila dan berderet menghadapi makanan. Diharapkan dari sana tumbuh rasa kebersamaan dan hilang diskriminasi sosial…

Pada bulan Ramadhan, semua kaum muslimin dilatih untuk merasakan pahit getirnya menahan lapar. Maksudnya, agar mereka ikut juga merasakan derita lapar yang dialami sebagian besar masyarakat  ‘akar rumput’ yang menahan lapar setiap hari dalam jangka waktu yang panjang. Orang yang merasakan derita lapar seperti ini jumlahnya tidak sedikit, dan menyebar di berbagai belahan bumi, di negara maju maupun di lingkungan komunitas suku-suku. Harapan selanjutnya, lahir sifat santun dan kasih sayang kepada orang yang nasibnya tak semujur dirinya.

Kepada orang kaya, lewat ibadah puasa ini Allah hendak mendidik mereka agar  tajam ruhaninya, peka perasaan sosialnya, mau peduli terhadap sesama yang nasibnya kurang beruntung, misalnya yatim piatu, fakir miskin, anak jalanan, kaum gelandangan, dst.

Orang tidak selamanya kaya. Setiap saat manusia bisa mengalami kebangkrutan.

Tak menutup kemungkinan anak sendiri menjadi yatim, bahkan yatim piatu, sebab kematian siapa yang menduga datangnya.

Peluang beramal terbuka luas di depan kaum muslimin. Apalagi hadirnya krisis ekonomi di negeri kita masih nampak belum kunjung berakhir. Inilah saatnya mendemonstrasikan amal di bulan Ramadhan. Jika kita lihat, sebagian besar orang yang kurang beruntung adalah juga kaum muslimin, dengan jumlah yang mancapai 40 juta jiwa lebih.

Apa artinya? Bahwa memiliki sikap peduli kepada orang yang kurang beruntung merupakan tuntunan agama. Malah orang yang tidak mau peduli dengan nasib mereka disebut pendusta agama. Omong kosong seseorang mengaku Islam kalau tidak memiliki sikap ingin membantu saudaraanya yang dalam kesusahan.

Terkait dengan dengan hal ini Allah Swt mengingatkan,” Tahukan kamu orang yang mendustakan agama? Itulah mereka yang menghardik anak-anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin.”(Al-Ma’uun: 1-3)

Orang-orang miskin, kaum dhu’afa dan anak yatim sangat membutuhkan makanan, kasih sayang dan tempat bernaung. Mereka juga haus keadilan, perhatian dan hak-hak hidup yang lain sebagai sesama anak adam.

Setidaknya, inilah yang hendak digugah dalam Ramadhan kali ini. Setelah di malam harinya ruhani kita diasah dengan qiyamul lail dan tartil Qur’an, dengan perut yang lapar, siangnya kita datangi saudara-saudara kita yang kurang mujur. Kita bantu secukupnya. Kita selami problematika yang dialami dan membantu mencari solusinya. Jangan sampai ada yang menangis—apalagi pada saat lebaran tiba nanti–pada saat kita sedang gembira bersama keluarga tercinta. Semoga Allah menjadikan kita orang yang peduli. Semoga tergugahlah hati kita. (aql/hidayatullah.com)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mata Pribumi Garap Film “Balada Gordang Sambilan”

    Mata Pribumi Garap Film “Balada Gordang Sambilan”

    • calendar_month Senin, 4 Feb 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Satu lagi film mandailing akan beredar. Pihak Mata Pribumi saat ini sudah menyelesaikan kegiatan shoting yang dilakukan di berbagai lokasi di Mandailing Natal. Film garapan sutradara Ikhsan Lubis ini tengah memasuki tahapan penggarapan di studio, baik proses editing maupun pengisian suara. Film yang disponsori Kampoeng Kaos Madina ini dijadwal beredar pada […]

  • Sati Nasution Willem Iskander, 1840-1876 (2)

    Sati Nasution Willem Iskander, 1840-1876 (2)

    • calendar_month Kamis, 6 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Oleh Basyral Hamidy Harahap (Diposting oleh: Erond L. Damanik, M.Si – Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Lembaga Penelitian-Universitas Negeri Medan) Jadi sudah pasti Charles Adriaan van Ophuysen tak pernah bertemu dengan Willem Iskander, apatah lagi sebagai guru bagi Willem Iskander. Yang benar adalah, ada murid Willem Iskander yang sejawat Charles Adriaan van Ophuysen sebagai […]

  • Tender Renovasi Ruang Operasi RSU Natal Gagal

    Tender Renovasi Ruang Operasi RSU Natal Gagal

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tender Renovasi Ruang Operasi RSU Husni Thamrin, Natal, Madina mengalami kegagalan. Pasalnya hingga per 2 September 2020 tak ada penandatangan kontrak. Sedangkan batas akhir pengiriman dokumen kontrak ke Kementerian Keuangan adalah 31 Agustus 2020. Proyek itu adalah Renovasi Ruang Operasi (Pemasangan Peralatan MOT) bernilai Rp 4,6 milyar bersumber dari Dana Alokasi […]

  • Lebih baik PSMS ke LPI

    Lebih baik PSMS ke LPI

    • calendar_month Kamis, 27 Jan 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Medan yang digunakan untuk bantuan kepada PSMS melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Medan senilai Rp6 miliar untuk berlaga di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia harus dipertimbangkan lagi. Pasalnya, masih banyak cabang-cabang olahraga yang memerlukan “suntikan” anggaran dari Pemko dan bukan hanya untuk PSMS saja. Wakil […]

  • Dukungan Arus Bawah Mengalir, Warga Sukarela Dirikan Baliho Ivan Iskandar Batubara

    Dukungan Arus Bawah Mengalir, Warga Sukarela Dirikan Baliho Ivan Iskandar Batubara

    • calendar_month Selasa, 28 Mei 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MAGA LOMBANG ( Mandailing Online ): puluhan orang warga desa Maga Lombang, Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Mandailing Natal dirikan baliho bergambar Bacalon Bupati Madina Ivan Iskandar Batubara. Mereka ternyata dengan suka rela mendirikan baliho bertulisan “Patujoloon Mandailing Standar Baru Kemajuan Daerah”. Tidak hanya kaum bapak yang bergotong royong mendirikan baliho Ivan Iskandar Batubara tersebut, kaum […]

  • Bintara Polri butuh pendidikan

    Bintara Polri butuh pendidikan

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Intimidasi atau teror yang kerap dilakukan oleh anggota kepolisian ditengarai karena kurangnya pendidikan terhadap para bintara Polri. “Padahal para bintara inilah yang berhubungan langsung dengan masyarakat, bukan para perwira,” terang Koordinator KontraS Sumut, Diah Susilowati, kepada Waspada Online, hari ini. Untuk itu, lanjutnya pihak Polri harus memberikan ilmu yang cukup kepada para bintaranya. […]

expand_less