Selasa, 21 Jul 2026
light_mode

‘Raja Sawit’, LABA ATAU BALA ?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 1 Jun 2018
  • print Cetak

Oleh : NURSAMSI*

 

Nursamsi

Di Indonesia tanaman kelapa sawit menjadi tanaman primadona bahkan ditingkat internasional, siapa yang tidak tergiur dengan harga dan keuntungan yang diperoleh darinya. Banyak petani dan pelaku usaha terjun di dalamnya.

Begitu juga dengan industri-industri di tanah air banyak yang berkecimpung mengambil anugrah darinya. Hal ini tentu sangat menguntungkan Indonesia mengingat Indonesai sebagai “raja” minyak sawit di pasar international. Indonesia adalah eksportir pertama dunia dengan pangsa ekspor 48,8 persen dari total permintaan dunia yang kemudian disusul oleh Malaysia dengan total ekspor 21 persen.

Total ekspor Indonesia ke dunia mencapai 22.882.036 ton. Tidak tanggung-tanggung menjadi produsen terbesar dunia memberikan sumbangan positif bagi perekonomian Indonesia serta penyumbang devisa negara. Perolehan ini terlihat dari nilai ekspor sawit dan turunannya mencapai 10 persen terhadap nilai ekspor total Indonesia. Berdasarkan data tahun 2017, ekspor sawit menyumbang sebesar 250 Triliun terhadap PDB. Negara tujuan ekspor terbesar Indonesia meliputi India, Belanda, Singapura, Italia, Spanyol, Thanzania, Jerman dan Kenya. Negara importir terbesar adalah India dengan total impor 6.402.914 ton.

Komoditas perkebunan lain yang menjadi komoditas ekspor serta turunannya adalah kakao, kopi dan karet. Tetapi sawit menjadi komoditas ekspor terbesar dan menjadi penguasa pasar. Keadaan ini memang menjadi kabar baik mengingat posisi strategis Indonesia di pasar sawit dunia, disisi lain posisi ini juga posisi yang menakutkan.

Hal ini bisa jadi mimpi buruk bagi Indonesia jika terlalu menggantungkan ekspor pada komoditas kelapa sawit  mengingat banyaknya kampanye hitam yang mendiskreditkan  sawit Indonesia. Isu yang dilontarkan terkait isu lingkungan, pembakaran hutan, mempekerjakan anak di bawah umur, peyebab kanker dan banyak lagi. Belum lagi parlemen Eropa menyatakan penggunaan sawit di Uni Eropa akan berakhir pada tahun 2021, yang menjadi periode awal diterapkannya undang-undang konsumsi energi Eropa yang baru. Eropa akan melarang produk-produk yang mengandung minyak sawit masuk ke wilayahnya salah satunya karena dianggap sawit Indonesia pemicu deforestasi.

Belanda, Italia, Spanyol, Jerman dan Inggris adalah importir minyak sawit terbesar Indonesia untuk biofuelnya. Meski pangsa pasar Indonesia ke Eropa hanya 3.199.796 ton atau sekitar 14%. Tetapi pernyatan Uni Eropa yang menyudutkan minyak sawit Indonesia dapat mempengaruhi dunia baik di negara Uni Eropa ataupun negara importir lainnya. Hal ini dapat dilihat dari share market sawit Indonesia di pasar internasional yang menurun dari 56 persen di tahun 2015 turun menjadi 53,6 persen di tahun 2016 dan di 48,8 persen di tahun 2017.

“Anti minyak sawit” Indonesia bisa saja menjadi alasan bagi Uni Eropa untuk melindungi minyak nabati yang juga diproduksi di negara tersebut. Minyak rapseed, minyak kedelai, minyak bunga matahari menjadi barang substitusi bagi minyak sawit. Sah-sah saja, selain meningkatkan tariff, “menjelek-jelekkan” minyak sawit menjadi salah satu alasan untuk mengurangi impor sawit di wilayah Uni  Eropa demi melindungi petani sumber minyak nabatinya.

Besarnya sumbangan minyak sawit terhadap devisa negara juga perlu dikhawatirkan, tatkala “mimpi buruk” terjadi. Sebagai respon Idonesia terhadap kampanye negatif minyak sawit, perbaikan persawitan Indonesia mulai dari hulu ke hilir menuntut untuk pengembangan kelapa sawit dan turunannya yang berwawasan lingkungan, seritifikasi, dan melakukan kampanye klarifikasi tuduhan-tudahan negatif terhadap sawit Indonesia. Memang perlu untuk terus mempertahankan posisi Indonesia sebagai “raja” sawit dunia, tetapi kita tidak bisa terus ngotot untuk membela mati-matian sawit Indonesia, tetap saja jika importir menghentikan impor sawit kenegaranya, kita bisa apa? Siap-siap saja devisa negara akan tergerus menurun dan akan sangat berdampak terhadap neraca perdagangan Indonesia, tidak hanya industri, bahkan petani akan merasa sakit kalau-kalau harga sawit Indonesia turun. -Ibarat sangat menyanjung satu anak, anak yang lain dapat terabaikan-.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah melakukan diversifikasi, baik diversifikasi negara tujuan maupun diversifikasi komoditas ekspor. Banyak komoditas Indonesia yang tidak kalah eksistensinya di pasar internasional seperti kopi, kakao dan bahkan lada yang dulu sempat berjaya. Diversifikasi dapat menjadi strategi jitu menangkis perang dagang sehingga kalau-kalau “mimpi buruk” itu terjadi tidak terlalu berdampak buruk terhadap neraca perdagangan internasional Indonesia.

Selain diversifikasi komoditas, Indonesia bisa mengubah dan menambah arah perdagangan sawitnya, seperti ke wilayah Asia, Oceania, Amerika dan Afrika. Mencari sahabat baru importir sawit dan turunannya dengan terus melakukan perbaikan industri persawitan Indonesia dari hulu ke hilir. ***

 

*Penulis lahir di Salambue, 26 September 1994. Kini tinggal di Sorkam, Tapanuli Tengah. Email : samsihutabarat@gmail.com.
Pendidikan Formal : Mahasiswa Semester II, Program Studi  Magister Sains Agribisnis IPB. Pendidikan Strata Sarjana (S1) : Program Studi Agribisnis, Universitas Sumatera Utara, SMA : SMA N 1 Panyabungan, Kab. Mandailing Natal.
Pendidikan Informal: 2012-2013 : Pengurus Gabungan mahasiswa Bidikmisi (GAMADIKSI), USU. 2012-2013 : BKM Al-Mukhlisin, sebagai Anggota Divisi Seni dan Budaya. 2015-2016 : Pengurus Ikatan Mahasiswa Agribisnis Sosial Ekonomi Pertanian (IMASEP) USU. 2015-2016 : Remaja Mesjid Gang Dipanegara Kelurahan Padang Bulan. 2015 : Panitia dan MC seminar Reksadana dan Investasi oleh program studi Agribisnis dan Bank Mandiri cabang USU.2018-sekarang: Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Sumatera Utara (IKAMAPSU), IPB. 2018-sekarang: Himpunan Mahasiswa Muslim Pascasarjana (HIMMPAS), IPB.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Biang Kerok Kisruh Seleksi KPID Sumut Hadapi Gugatan Rp 1,3 M

    Biang Kerok Kisruh Seleksi KPID Sumut Hadapi Gugatan Rp 1,3 M

    • calendar_month Jumat, 20 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Diduga menjadi biang kerok kisruh pelik Seleksi Pemilihan Calon Anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumut periode 2021-2024, Ketua Komisi A DPRD Sumut, Hendro Susanto hadapi gugatan senilai Rp 1,3 Milyar dan harus menjalani sidang perdana awal bulan Juni 2022. Tujuh orang Calon Anggota KPID Sumut periode 2021-2024, yakni Valdesz Junianto […]

  • Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Front Ulama Kabupaten Mandailing Natal, KH Abdul Baits Nasution, Lc. MA negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan bulan puasa Ramadhan. Kemerdekaan itu menurut KH Abdul Baits berkat perjuangan rakyat dan jihad para ulama. “Dan dengan niat ikhlas mereka, maka diperolehlah kemerdekaan. Karena itulah, kita jangan sampai lupa […]

  • Harga Kakao di Madina Bertahan

    Harga Kakao di Madina Bertahan

    • calendar_month Senin, 25 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Semenjak pemerintah menerapkan Bea Keluar (BK) kakao (coklat–red), harga komoditas ini pada tingkat petani di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tak lagi bisa menyentuh level Rp 20.000/kg seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Harganya kini hanya mampu bertahan pada level Rp 15.000 hingga Rp 17.000/kg. Menurut pemhakuan sejumlah petani, sebelum BK kakao diberlakukan, harga jual kakao […]

  • Mantu Tewas di Malam Takziah Ibu Mertua

    Mantu Tewas di Malam Takziah Ibu Mertua

    • calendar_month Sabtu, 21 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Ditabrak Truk di Jalinsum Sipirok-Psp SIPIROK- Airmata Maslian Siregar (55) masih menetes di pipi usai pemakaman ibunya, Ompu Asmia (90), Kamis (19/1) pagi. Ompu Asmia meninggal Rabu (18/1) sekira pukul 14.00 WIB. Namun, belum lagi airmata itu mengering, Maslian harus menangis kembali saat takziah malam pertama sang ibu. Sebab, suaminya, Saruddin Batubara (55) tewas dalam […]

  • Raja Sahlan Bakal Tersangka

    Raja Sahlan Bakal Tersangka

    • calendar_month Selasa, 12 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Raja Sahlan Nasution, orang dekat Bupati Nonaktif Madina Hidayat Batubara menjadi calon tersangka kasus dugaan korupsi pembangunan RSUD Panyabungan Madina. Status pesakitan yang bakal disandang Staf Ahli Bupati Madina ini terungkap dalam sidang lanjutan terdakwa Hidayat, di Pengadilan Tipikor, Senin (11/11). Majelis hakim kesal pada saksi Raja Sahlan yang selalu menjawab […]

  • Keluarga Korban Proyek PT Jakon Berencana Laporkan Perusahaan ke Polisi

    Keluarga Korban Proyek PT Jakon Berencana Laporkan Perusahaan ke Polisi

    • calendar_month Rabu, 27 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keluarga korban lobang maut pekerjaan perbaikan drainase jalan lintas sumatera di pasar lama panyabungan, Mandailing Natal ( Madina ) berencana laporkan kelalaian PT Jaya Kontruksi ( Jakon ) sebagai penanggung jawab karena telah lalai dalam pekerjaan sehingga mengakibatkan orang jadi korban. Jack selaku abang kandung Aini Safitri korban luka karena masuk ke […]

expand_less