Kamis, 17 Sep 2026
light_mode

Sembilang Pauh di Pantun Melayu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
  • print Cetak

Ada sebuah ungkapan yang sangat dikenal di dunia Melayu: ”Kalau tak pandai berpantun, jangan mengaku orang Melayu”.

Adagium ini menunjukkan bagaimana pantun telah memegang peran penting dalam kehidupan sehari hari masyarakat Melayu. Bagi mereka, jika hendak dipandang sebagai orang yang berilmu dan berpengaruh, harus tahu bagaimana menafsir pantun. Juga harus tahu bagaimana cara membalas pantun. Pun bagaimana cara mengemas pantun. Itu juga penting bagi yang ”hendak berada di tengah balai (tempat terhormat)”.

Pantun itu harus dipelajari. Cara berpantun dan cara menyampaikan pantun, akan menunjukkan kadar dan kelas dalam kehidupan bermasyarakat.

Artinya, berpantun itu tidak boleh sembarangan. Ada aturan, dan kaedahnya, terutama pada sampirannya. Dari pantun diketahui berilmu tidaknya yang berpantun. Jika tidak, dia akan ditertawakan orang.

Lihatlah pantun ini:

Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang di tapak tangan
Biar jauh beribu batu
Hilang di mata di hati jangan

Ini pantun lama yang sangat dikenal di dunia Melayu. Bukan saja karena isinya yang menunjukkan bagaimana perasaan rindu itu tak kenal batas dan waktu. Tapi juga lihatlah sampirannya. Yang sarat makna.

Ikan sembilang itu punya sengat yang berbisa, tapi kenapa boleh diletakkan di telapak tangan? Ternyata pucuk pauh dan delima batu itu adalah penawar racun.

Itu contoh sampiran pantun yang sangat berkualitas dan sampiran (pembayang) yang menunjukkan pencipta pantun itu berilmu.

Karya sastra yang demikian itu, menempatkan pantun sebagai salah satu karya sastra lisan dunia melayu paling tua. Lebih tua dari syair dan genre sastra lama. Sejak lahir orang Melayu sudah diajar berpantun. Lagu nina bobok anak mereka sarat dengan pantun. Pantun nasihat , pantun kasih sayang, dan lainnya.

Pantun memang salah satu sarana berkomunikasi dalam masyarakat Melayu. Cara berbahasa, cara bertutur kata, cara menyampaikan pendapat dengan santun, melalui kiasan, dengan sindiran, ajuk mengajuk, dan juga boleh menjadi sebuah ”tamparan”yang memalukan. Menghina pun bisa dengan pantun.

Pantun termasuk karya sastra melayu lama yang bermula dari tradisi lisan.  Setelah ditemukan tradisi tulis melalui huruf arab melayu dan huruf rumi (latin), pantun mulai ditulis dan dibukukan. Tapi dalam praktik budaya Melayu sehari-hari pantun tetap disampaikan secara lisan. Dalam percakapan sehari hari. Dalam acara perkawinan. Dalam cara berkasih sayang. Dalam pidato. Bahkan dulu, berperang juga dimulai dengan berpantun. Yakni untuk membakar semangat, untuk mengejek dan memanas manaskan lawan. Seperti dulu dalam perang Raja Kecik (Siak) dengan Tengku Sulaiman (Riau).

Sekarang tradisi berpantun masih hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Melayu, terutama di Kepulauan Riau. Terutama untuk tradisi perkawinan . Menghantar mas kawin dan lainnya, juga dilakukan dengan pantun. Berbalas balas antara pihak pengantin lelaki dan perempuan. Sumbang kalau perkawinan tidak ada tradisi berpantun. Pemantun merupakan profesi yang sangat diminati.

Sekarang pantun sudah menjadi Warisan Dunia Tak Benda. Orang pertama di dunia Melayu yang mengumpulkan dan menerbitkan pantun sebagai buku adalah Engku Muda Haji Ibrahim. Ia seorang pembesar di kerajaan Melayu Riau yang hidup sezaman dengan Raja Ali Haji, dan kemudian disebut  sebagai bapak pantun melayu modern. (Rida K Liamsi)

Rida K. Liamsi adalah sastrawan Melayu dari Riau.

Selain dikenal sebagai sastrawan, beliau juga tokoh media massa terutama setelah sukses menakhodai Riau Pos, pun berhasil mengembangkan banyak perusahaan di bawah grup Riau Pos.

Artikel di atas adalah oretan Rida K Liamsi yang menulis pandangannya tentang pantun yang diminta Dahlan Iskan dan menjadi pelengkap artikel “Ulang Pantun” di Disway edisi Rabu (9/2/2022).

Sumber: Dicopy dari sebagian Disway edisi 9 Pebruari 2022

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tempat Maksiat Menjamur, Santri Musthofawiyah Unjuk Rasa ke Kantor Bupati Madina

    Tempat Maksiat Menjamur, Santri Musthofawiyah Unjuk Rasa ke Kantor Bupati Madina

    • calendar_month Senin, 30 Mar 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sekitar seribu santri Pesantren Musthofaiyah Purba Baru melakukan unjuk rasa ke kantor Bupati Mandailing Natal (Madina), Senin (30/3) menuntut bupati agar menutup seluruh kafe esek-esek. Mereka berjalan kaki dari pondok pesantren Musthafawiyah menuju kantor bupati berjarak sekira 3 kilo meter. Dalam orasinya, pengunjuk rasa meminta Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution […]

  • SMA Negeri 1 Natal Sukses Gelar Bulan Bahasa

    SMA Negeri 1 Natal Sukses Gelar Bulan Bahasa

    • calendar_month Minggu, 30 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Natal (Mandailing Online) – Rangkaian acara digelar dalam kegiatan Bulan Bahasa SMA Negeri 1 Natal, Mandailing Natal selama tiga hari, tanggal 27 – 29 Oktober 2016. Kegiatan yang bertema “Dengan Bahasa Kami Berkarya” itu dibuka pada hari Kamis (27/10) lalu oleh Kepala SMA Negeri 1 Natal, Drs, Oloan Nasution. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa kegiatan […]

  • Format Pusi Demo di Kejaksaan Cabang Sibuhuan

    Format Pusi Demo di Kejaksaan Cabang Sibuhuan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

      Usut Tuntas Pemalsuan Dokumen Honorer K-II   PALAS – Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Birokrasi (Format Pusi) Kabupaten Palas melakukan aksi demo di depan Kantor Kejaksaan Negeri Padangsidimpian cabang Sibuhuan, tepatnya di Jalan Kihajar Dewantara Padang Luar Sibuhuan, Selasa (19/5). Saat itu, pengunjuk rasa meminta kejaksaan mengusut tuntas dugaan adanya permainan […]

  • Skema Penghitungan Jam Mengajar Diubah

    Skema Penghitungan Jam Mengajar Diubah

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Ringankan Beban Tatap Muka di dalam Kelas JAKARTA – Perhitungan jam mengajar saat ini memicu polemik. Banyak guru bersertifikat gagal mendapatkan tunjangan profesi pendidik (TPP). Pemicunya mereka gagal mengejar beban mengajar 24 jam tatap muka per pekan. Sistem perhitungan beban mengajar itu segera diubah. Rencana pengubahan sistem penghitungan beban jam mengajar ini tertuang dalam revisi […]

  • KPU Sumut Klarifikasi Pengaduan Seleksi Komisioner Kabupaten/Kota

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum Provinsi Sumatera Utara mengklarifikasi pengaduan terkait dugaan kecurangan proses seleksi calon komisioner di kabupaten/kota. Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut Yulhasni di Medan, Rabu (16/10) mengatakan, berdasarkan pengaduan yang disampaikan, pihaknya meminta klarifikasi tersebut terhadap enam tim seleksi calon anggota KPU kabupaten/kota. Keenam tim seleksi yang dipanggil untuk […]

  • Amrun Daulay Diadili Usai Lebaran

    Amrun Daulay Diadili Usai Lebaran

    • calendar_month Sabtu, 27 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat Amrun Daulay dalam kasus dugaan korupsi di Departemen Sosial. Pemanggilan Amrun untuk menandatangani berkas pelimpahan kasus dari penyidikan ke penuntutan. Seperti dilansir detik.com, Amrun tiba di Gedung KPK, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Kamis (25/8/2011) sekitar pukul 09.00 WIB. Kurang […]

expand_less