Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

Gordang Sambilan dan Sopo Godang, Sebuah Kontekstualitas Kekinian

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 24 Jan 2017
  • print Cetak

Oleh: ASKOLANI NASUTION
Budayawan Mandailing

Askolani Nasution

Arsitektur Mandailing, baik Bagas Godang, Sopo Godang, Gordang Sambilan, dan lain-lain, harus disikapi dari dua dimensi, yakni dimensi adat dan dimensi budaya. Dua-duanya terletak pada tataran yang berbeda, seperti dua sisi mata uang logam.

Dari segi dimensi adat, Bagas Gordang Sambilan dan Sopo Godang merupakan bagian dari istana tradisional raja-raja Mandailing yang amat terikat dengan konsepsi adat dan berlaku mengikat. Bagas Godang, misalnya, selain menjadi tempat tinggal keluarga raja, juga menjadi pusat pemerintahan “harajaon”.

Bagas Godang sebagai sebuah sistem arsitektur, bukan bangunan tunggal sebagaimana istana raja-raja tradisional di daerah lain. Pada Bagas Godang melekat sekurang-kurangnya ornamen Sopo Godang dan Alaman Bolak. Kadang-kadang juga terdapat Sopo Gondang, Sopo Jago, Opuk Godang, dan lain-lain. Semuanya memiliki fungsi dan filsafat masing-masing yang terikat dan saling menunjang, dan dibangun dalam satu kawasan yang berhubungan. Jadi, sebuah Sopo Godang misalnya, tidaklah dibangun di tempat yang berjauhan dengan Bagas Godang.

Selain itu, Sopo Godang juga dibuat berbentuk rumah panggung, berkolong, dan tidak berdidinding, agar setiap penduduk (halak na jaji) bisa menyaksikan dan mendengarkan berbagai konsep dan keputusan “harajaon” yang menyangkut hidup bersama. Itu sesuai dengan fungsi dan makna yang melekat pada arsitektur Sopo Godang, yakni”

  1. Fungsi Legislasi, yakni Sopo Godang sebagai tempat memusyawarahkan berbagai peraturan adat, baik kaidah maupun baris-baris hukum yang berlaku tetap dan mengikat segenap individu. Peraturan adat itu dapat berupa patik, uhum, ugari, hapantonon, dan lain-lain. Jadi, berbagai keputusan hukum tradisional ditetapkan di Sopo Godang.
  2. Fungsi Yudikatif, yakni Sopo Godang sebagai Balai Sidang, tempat memutuskan perkara menyangkut pelanggaran norma dan adat tertentu, baik yang dilakukan individu maupun kelompok. Ketika terjadi pelanggaran norma dan adat, maka di Sopo Godang berkumpul namora-natoras yang mewakili unsur pemerintahan “harajaon” untuk memutuskan hukuman atau denda atas suatu pelanggaran adat. Semua sidang itu disaksikan terbuka oleh setiap orang (halak na jaji).
  3. Fungsi Resepsionis. Kunjungan tamu-tamu kehormatan diterima di Sopo Godang, bahkan dijadikan juga sebagai tempat menginap bagi musyafir yang bermalam di huta tersebut.
  4. Fungsi Estetis. Sopo Godang juga dijadikan sebagai tempat pertunjukan kesenian tradisional.

Karena fungsi itu, Sopo Godang disebut dengan istilah Sopo Sio Rangcang Magodang, inganan ni partahian paradatan, parosu-rosuan ni hula dohot dongan. Artinya, “Balai Sidang Agung, tempat bermusyawarah melakukan sidang adat, menjalin keakraban para tokoh terhormat dan para kerabat.”

Dengan begitu, Sopo Godang tidak sebatas fungsi pemerintahan tradisional, tetapi juga fungsi sosial yang menjembatani antara kekuasaan “harajaon” dengan masyarakat banyak (halak na jaji). Karena itu Sopo Godang, sekalipun dibangun di depan istana (Bagas Godang), tapi posisinya lebih dekat ke pemukiman warga dari pada istana raja Mandailing. Bagas Godang dan Sopo Godang juga tidak dibatasi pagar. Itu menguatkan fungsi sosial yang melekat pada arsitektur keduanya.

 

* * *

 

Berbagai ikon tradisional Mandailing sepatutnya jangan hanya diletakkan dalam posisi adat saja, tetapi juga dalam sudut pandang kebudayaan. Tentu saja ada yang memiliki nilai-nilai sakral karena terikat dengan ketentuan prosesi adat yang tidak bisa dilanggar. Misalnya, proses pemberian marga, penabalan nama dan gelar kehormatan, dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa ikon tertentu yang sepatutnya dapat membuat segenap pemangku adat dapat berlapang dada untuk melepasnya menjadi bagian dari publik (halak na jaji). Misalnya, Gordang Sambilan. Benar bahwa Gordang Sambilan adalah musik “raja” dan hanya dimainkan dalam prosesi adat tertentu. Benar bahwa dengan melepasnya menjadi domain publik, akan mengurangi tingkat kesakralannya. Tetapi jika niat kita untuk mempopulerkan instrumen Gordang Sambilan sebagai ornamen musik Mandailing, rasanya harus ada perlakuan baru yang lebih lentur terhadap seni tradisi ini, sehingga setiap orang dapat merasa menjadi bagian dari kebudayaan itu. Misalnya, kemudahan untuk pementasan Gordang Sambilan untuk maksud publisitas secara luas di luar prosesi adat.

Hal yang sama juga berlaku untuk ikon kebudayaan Mandailing lain, misalnya Sopo Godang. Tak ada salahnya berlapang dada untuk membagi arsitektur Sopo Godang keluar dari Alaman Bolak, sepanjang tujuannya untuk menyebarluaskan keunikan entitas Mandailing. Katakanlah untuk tujuan menarik kunjungan wisata, atau seperti yang dilakukan “Kampoeng Kaos Mandailing” untuk mensinkronkannya dengan berbagai produk ekonomi kreatif bernuansa kebudayaan Mandailing yang mereka produksi.

Berbagai ornamen seni dan budaya tradisi kita sudah waktunya diperkenalkan secara luas. Dan publik, bukan hanya wisatawan, bahkan kita masyarakat Mandailing (halak na jaji), juga berkeinginan untuk mengenal dan menjiwai berbagai keunikan budaya bersama itu. Hanya dengan begitu adat dan budaya tidak terendap di lingkungan “harajaon” saja. Menularkan kearifan lokal tentu tak cukup hanya sebatas retorika, tetapi sedapat mungkin melibatkan banyak orang dalam dimensi keunikan itu. Yang tidak bisa dibagi itu marga, silsilah, dan sejarah masa lalu. Ketika kita bisa dengan mudah memberi gelar kehormatan untuk orang yang bukan bangsa Mandailing, mengapa kita tidak berlapang dada untuk membiarkan bangsa sendiri untuk mengagungkan seni budaya tradisi bersama kita?***

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dugaan Malapraktik, Kuasa Hukum Minta Penjelasan RS Permata Madina

    Dugaan Malapraktik, Kuasa Hukum Minta Penjelasan RS Permata Madina

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasus dugaan malapraktik kembali mencuat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara. Keluarga pasien berinisial RSH resmi melayangkan somasi atau teguran hukum pertama kepada RS Permata Madina, Senin (30/3/2026). Langkah hukum tersebut disampaikan melalui kuasa hukum dari Kantor Hukum Nur Miswari, S.H. & Rekan sebagai upaya meminta klarifikasi sekaligus penyelesaian secara […]

  • Pj Kades Rumbio Nekat Kangkangi Surat Edaran Bupati Madina

    Pj Kades Rumbio Nekat Kangkangi Surat Edaran Bupati Madina

    • calendar_month Sabtu, 1 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online) Pj Kepala Desa Rumbio, Kecamata Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal( Madina ) nekat kangkangi surat edaran Bupati tentang pengangkatan dan pemberhentian perangkat desa. Kepala Desa Rumbio Borkat Parlagutan Lubis telah mengganti Perangkat Desa nya secara sepihak tanpa kordinasi dengan pihak Kecamatan sesuai dengan surat edaran Bupati Madina. Dalam surat edaran tersebut secara […]

  • Kepdes Sibanggor Julu Ralat Pernyataannya Tentang Atika Tak Temui Warga Pasca Insiden SMGP

    Kepdes Sibanggor Julu Ralat Pernyataannya Tentang Atika Tak Temui Warga Pasca Insiden SMGP

    • calendar_month Jumat, 16 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Desa Sibanggor Julu, Awaluddin Nasution, Jum’at (16/9/2022) mengklarifikasi tentang pernyataannya di media massa yang menyatakan Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi – selaku ketua Tim Investigasi – tidak pernah datang menemui warga di Sibanggor Julu pasca semburan gas di  PT SMGP yang terjadi 24 April 2022. Namun, fakta yang […]

  • Sakit dan Dirawat di RSUD Panyabungan. Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Jenguk Journalis Senior Iskandar Hasibuan

    Sakit dan Dirawat di RSUD Panyabungan. Cabup Madina Harun Mustafa Nasution Jenguk Journalis Senior Iskandar Hasibuan

    • calendar_month Kamis, 17 Okt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Panyabungann ( Mandailing Online) : Peduli terhadap journalis, Calon Bupati Madina nomor urut 1 Harun Mustafa Nasution jenguk Wartawan senior Iskandar Hasibuan yang sedang sakit di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan. Harun sendiri tiba di RSUD Panyabungan malam malam usai kegiatan kunjungan selesai. Ia didampingi tim dan sejumlah wartawan. ” Bang Iskandar Hasibuan […]

  • Siabu Hingga Barumun Diyakini Pusat Peradaban Mandailing Abad 9 Masehi

    Siabu Hingga Barumun Diyakini Pusat Peradaban Mandailing Abad 9 Masehi

    • calendar_month Kamis, 3 Mar 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Kawasan Siabu hingga Barumun diyakini sebagai pusat peradaban Mandailing di abad 9-11 masehi, jauh sebelum priodeisasi marga-marga. Hipotesa itu dikuatkan oleh banyaknya temuan-temuan artefak, situs dan material candi mulai dari arah Siabu menuju arah Barumun di Padang Lawas yang dilakukan Timpanum Novem Multimedia. Temuan terakhir terjadi pada Rabu (2/3/2016) oleh tim […]

  • PNS protes kebijakan Wabup

    PNS protes kebijakan Wabup

    • calendar_month Jumat, 10 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    LIMAPULUH – Aksi demo PNS di gedung DPRD Kabupaten Batubara memprotes kebijakan Wabup Gong Matua Siregar, berbuntut panjang. Kerana hal itu mengarah penghinaan kepada Wabup sesuai isi poster yang dibawa massa pada aksi tersebut. ”Ini merupakan penghinaan terhadap diri saya,” tukas Wakil Bupati (Wabup), Gong Matua Siregar, pagi ini, seraya mengaku telah memanggil Sekda, sekaligus […]

expand_less