Senin, 2 Mar 2026
light_mode

Sengkarut Sengketa Lahan di Sumut Makin Kusut

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 11 Feb 2025
  • print Cetak

Oleh: Alfisyah Ummu Arifah
Pegiat Literasi Islam Kota Medan

Sengkarut sengketa lahan di Sumut tak ada habis-habisnya. Setelah daerah Helvetia, kini berlanjut daerah Selambo di Kecamatan Percut Sei Tuan. Negara butuh solusi tuntas untuk sengketa lahan dimanapun berada. Bagaimanapun keamanan dan kenyamanan adalah hal utama bagi warga di tempat tinggalnya.

Beredar video singkat di media sosial yang menunjukkan warga Jalan Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Medan, Sumatera Utara, berlarian menyelamatkan diri akibat bentrokan dengan kelompok lain. Dalam video tersebut, terlihat warga yang didominasi oleh ibu-ibu (emak-emak) berlari berhamburan menyelamatkan diri akibat serangan yang menggunakan petasan (Kompas.com, 4/2/25).

Berdasarkan video yang diunggah akun Instagram @ceritamebidang, bentrokan tersebut melibatkan dua kelompok yang sedang memperebutkan lahan eks Hak Guna Usaha (HGU) milik PTPN, yaitu pihak pengembang dan kelompok tani. Ya, lagi-lagi karena perseteruan pengembang (oligarki) dan masyarakat bawah. Mengapa selalu muncul sengketa lahan terus menerus?

Butuh Solusi yang Solutif

Jika konflik agraria ini terjadi di suatu wilayah, itu membuktikan ada yang tidak benar dari penguasa di tempat itu. Ada yang tidak duduk dalam penatalaksanaan pengaturan ruang hidup. Pengaturan itu mengharuskan ada campur tangan hukum pencipta tanah itu. Jika sudah begitu, kasus konflik agraria tak akan terulang. Namun selama pengaruh kapitalisme yang menjadi pijakan masalah lahan (agraris), selama itu pula konflik berulang dan berulang seterusnya.
Sebab sistem agraria kapitalisme memihak pada para kapital atau oligarki. Undang-undang pertanahan pun dibuat sesuai kepentingan segelintir elit oligarki itu. Tidak berlaku sama untuk semua masyarakat.

Lalu bagaimanakah seharusnya solusi untuk menyelesaikan sengketa lahan rakyat? Jawabannya bukanlah semata dengan pembuatan sertifikat tanah atau bagi-bagi sertifikat tanah secara gratis. Solusi yang demikian hanya menghasilkan buntut ikutan di belakang hari dan memunculkan masalah baru.

Bukan tidak mungkin ada dua pemilik sertifikat tanah yang sama, dan kasus lahan lainnya yang berakhir pada sengketa.

Tidak ada jalan lain untuk menyelesaikan kasus sengketa lahan selain solusi lahan yang sesuai syariat islam. Artinya kita harus kembali kepada aturan Islam.

Islam adalah agama yang sempurna. Terhadap konflik lahan, islam memiliki konsep yang sangat jelas atas kepemilikan lahan. Islam menjadikan penguasa sebagai pengurus dan pelindung rakyat termasuk pelindung kepemilikan lahan.

Bagaimana mekanismenya? Semua berpulang pada konsep kepemilikan lahan yang mendudukkan bahwa pemilik lahan adalah Allah Taala.

Firman-Nya, “Dan kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allahlah kembali.” (QS An-Nuur [24]: 42).

Berdasarkan ayat itu, kita dapat menarik hukum terkait pengelolaan lahan. Allah mewajibkan manusia, siapapun dia, dan di bumi manapun berada untuk menggunakan hukum Allah dalam menyelesaikan sebuah konflik, termasuk konflik lahan. Allah sebagai Sang Pemilik lahan secara hakiki menentukan seperangkat mekanisme yang mudah dan tegas dalam hukum-hukum pertanahan yang rinci.

Abdurrahman al-Maliki menyatakan bahwa tanah atau lahan dapat dimiliki dengan enam cara menurut hukum Islam, yaitu melalui jual beli, waris, hibah, menghidupkan tanah mati, tahjir (membuat batas pada tanah mati), dan iqtha’ (pemberian negara kepada rakyat). Enam cara inilah yang harus diambil manusia sebagai cara mendapatkan tanah secara halal. Di luar cara ini adalah sebuah pelanggaran pada Allah secara nyata.

Syariat Islam dari Allah mengizinkan individu muslim maupun non muslim untuk memiliki lahan untuk keperluan yang dibolehkan syariat. Misalnya keperluan tempat tinggal, usaha, maupun pertanian.

Kepemilikan lahan dalam Islam tidak ditentukan oleh surat kepemilikan tanah, meskipun itu boleh sebagai aturan administrasi saja, bukti kepemilikan sementara sebagai pengelola lahan. Allah menentukan caranya dengan aktivitas menghidupkan atau mengelola lahan yang memang tidak ada pemiliknya. Bukan tanah milik orang lain, umum dan tanah negara.

Hal ini berdasarkan perkataan Rasulullah saw., “Barang siapa menghidupkan tanah yang mati, maka tanah itu (menjadi) miliknya.” (HR Bukhari). Ketentuannya siapa yang menghidupkan tanah mati. Tanah mati bukanlah laut, sungai, gunung, atau yang bukan tanah milik umum atau negara. Jadi menghidupkan tanah di laut yang merupakan milik umum adalah haram sebagaimana pemagaran laut yang terjadi hari ini berikut SHM-nya (Sertifikat Hak Milik).

Tidak cukup ketentuan itu saja. Ada ketentuan lainnya yang mengikat. Syariat Islam juga menetapkan ambang batas penelantaran lahan yang boleh dimiliki tadi. Apabila lahan yang telah dimiliki dengan cara dipagari, atau ditanami tetapi tidak  dikelola, maka negara bisa menyita lahan tersebut dan memberikannya pada individu ataupun perusahaan yang mampu mengelolanya. Ketetapan ini didasarkan pada ijmak sahabat yang terjadi pada masa Khalifah Umar bin Khaththab.

Imam Abu Ubayd dalam kitab Al-Amwal meriwayatkan bahwa Khalifah Umar ra. Mengambil lahan milik Bilal bin Al-Harits al-Mazani yang merupakan pemberian dari Rasulullah (saw.). Amirulmukminin Umar bin Khaththab berkata kepada Bilal, “Sesungguhnya Nabi saw. tidaklah memberikan lahan ini padamu sekadar untuk dipagari dari orang-orang, tetapi beliau memberikannya padamu untuk dikelola. Maka ambillah yang sanggup engkau kelola dan kembalikan sisanya.”

Tanah yang sanggup dikelola saja. Ini membatasi seseorang untuk memonopoli tanah di luar kemampuannya.

Lalu, sampai kapan itu? Jawabannya sampai batas waktu penelantaran tanah sampai akhirnya nanti akan ditarik oleh penguasa untuk diberikan pada pihak lain adalah setelah tiga tahun. Amirul Mukminin Umar Ra juga mengatakan kepada kaum muslim, “Tidak ada hak (kepemilikan) bagi orang yang memagari (lahan) setelah tiga tahun.” Penelantaran lebih tiga tahun berturut-turut menjadi ketentuan tanah bukan lagi miliknya.

Jadi negara tidak berhak semena -mena merampas lahan milik warga muslim maupun nonmuslim sekalipun ketika mereka tidak memiliki surat kepemilikan lahan. Apalagi jika itu terindikasi untuk kepentingan pengembang (oligarki). Itu deliknya lebih berat lagi karena penguasa memihak pada pihak yang menekan mereka. Selama rakyat bisa membuktikan bahwa tanah itu telah dipatok, ditanami  atau dikelolanya serta tidak ditelantarkan lebih dari tiga tahun, maka tanah itu miliknya. Begitulah, tanah garapan di daerah Selambo itu sejatinya tetap manjadi milik warga selama dia mengelolanya.

Hal inilah yang berlaku dalam sistem pertanahan di negara yang berbasis syariah Islam. Sangat kontras dengan yang terjadi sekarang ini, kepemilikan lahan ditekankan pada kepemilikan sertifikat. Jika ditemukan dua atau lebih sertifikat, maka pemiliknya yang bisa memenangkannya di pengadilan.

Inilah dianggap sebagai sebuah pelanggaran penguasa di dalam islam. Kesalahan pertama mengapa bisa ada dua, tiga bahkan lebih SHM untuk tanah yang sama. Karut marut administrasi lahan itulah yang menjadi sebab sengketanya. Negara abai atas ketidaknyamanan masyarakat. Wajarlah muncul kasus perampasan lahan yang kian masif.

Nah, konflik perampasan lahan ini  adalah bentuk kezaliman yang terkategori dosa besar, apalagi jika spiritnya untuk membela oligarki.
Rasulullah saw. Bersabda, “Siapa yang pernah berbuat aniaya sejengkal saja (dalam perkara tanah), maka nanti ia akan dibebani (dikalungkan pada lehernya) tanah dari tujuh lapis bumi.” (HR Bukhari). Begitu dahsyat hukuman dari Allah bagi perampas lahan warga termasuk penguasa dalam hal ini.

Demikianlah beberapa aturan sistem ekonomi Islam terkait pengaturan lahan. Sangat mudah, cepat dan profesional. Tak ada 2 atau 3 bahkan lebih surat yang dalam waktu bersamaan menjadi bukti kepemilikan lahan. Secara konsep dan bukti sejarah, Islam mampu mengatasi permasalahan konflik lahan secara mudah. Tak pernah ditemukan konflik lahan yang berkepanjangan dan beranak pinak di dalam negara berbasis syariah. Islam akan berupaya menutup celah munculnya kasus perampasan lahan dengan tata kelola tanah dan ruang di suatu wilayah.

Berbeda kontras dengan kondisi hari ini. Konflik agraria menggunung tak selesai dan konflik dimana mana. Pengaruh sistem ekonomi kapitalisme saat ini, sangat meniscayakan penguasaan lahan oleh oligarki yang menimbulkan kerusakan alam dan penderitaan bagi masyarakat lokal.

Nah, ingin Sumut bebas dari sengketa lahan? Hanya bisa jika Sumut menerapkan aturan dari sistem ekonomi Islam saja dalam tata kelola lahannya. Sumut, Indonesia, dunia, perlu adanya sebuah sistem tata kelola lahan yang sinergis dengan sistem politik Islam. Sistem komprehensif inilah yang mampu menerapkan sistem kepemilikan lahan secara manusiawi. Kebutuhan pada sistem politik Islam ini yang kemudian menjadi spirit bersama untuk penegakan sistem pemerintahan islam yang kaffah dan simultan.

Bagaimana caranya agar keinginan menerapkan Islam kaffah dalam segala dimensi ruang hidup manusia itu terealisir? Perlu ada edukasi kepada masyarakat  tentang konsep kepemilikan lahan dalam islam yang terhubung dengan sistem pemerintahan yang juga kompatibel (sesuai).

Nah, ini juga bukan cuma spiritnya, atau substansinya sesuai syariat Islam, tetapi juga secara fisiknya merupakan sistem hidup bernegara berdasarkan islam. Bukan juga cuma  mengenang kejayaan Islam pada masa lalu. Lebih dari itu, penegakan Khilafah adalah desakan kebutuhan umat manusia serta kewajiban seluruh kaum muslim sangat dibutuhkan agar konflik agraria tuntas tanpa sisa. Insya Allah. Wallahu alam

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran Rumah di Tambangan Akibat Arus Pendek.PLN : Intalasi Rumah Bukan Tanggung Jawab PLN

    Kebakaran Rumah di Tambangan Akibat Arus Pendek.PLN : Intalasi Rumah Bukan Tanggung Jawab PLN

    • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Tambangan ( Mandailing Online ): Satu unit rumah milik Nelli (70) terbakar di Desa Tambangan Jae, Kecamatan Tambangan, Madina, Minggu (1/6) sekitar pukul 10.00 WIB. Warga berhasil memadamkan api dengan alat seadanya. Damkar sendiri tiba dilokasi setelah api berhasil dipadamkan warga. Dugaan sementara penyebab kebakaran akibat  konsleting liatrik. Salah satu warga bernama Bakar (52) menerangkan […]

  • RKLA Bagi Sembako kepada Peserta Vaksin

    RKLA Bagi Sembako kepada Peserta Vaksin

    • calendar_month Jumat, 18 Mar 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebagai upaya mendukung program pemerintah, Dewan Pengurus Cabang Rumah Komunikasi Lintas Agama (DPC RKLA) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) turut serta mendorong dan mengajak masyarakat untuk mengikuti vaksinasi. Selain itu, DPC RKLA Madina juga membagikan sembako kepada peserta vaksinasi massal yang dilaksanakan di lapangan Kantor Bupati Lama, Dalan Lidang, Jumat (18/3). Ketua […]

  • Bagaimana Kelanjutan Ribut Golkar di Senayan? Tunggu Kamis

    Bagaimana Kelanjutan Ribut Golkar di Senayan? Tunggu Kamis

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Konflik panas dua kubu Fraksi Partai Golkar di Senayan mereda. Kedua kubu yang berseteru sepakat menunggu hasil rapat paripurna DPR yang dijadwalkan dilaksanakan pada Kamis (2/4) untuk mengetahui siapa yang berhak memimpin fraksi partai berlambang pohon beringin itu. Kesepakatan itu dicapai setelah dilakukan mediasi yang dipimpin oleh Wakil Ketua DPR Fadli Zon. Dia […]

  • Harga TBS Sawit Terjun Tak Terkendali

    Harga TBS Sawit Terjun Tak Terkendali

    • calendar_month Rabu, 27 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit turun drastis menjadi Rp 2.000 hingga Rp 1.000 per kg di tingkat petani di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera Utara. Hal itu imbas dari larangan ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng oleh Presiden Jokowi yang akan diberlakukan sejak 28 April 2022 sampai dengan […]

  • Kejari Madina Periksai Sejumlah Camat Terkait Bimtek Desa

    Kejari Madina Periksai Sejumlah Camat Terkait Bimtek Desa

    • calendar_month Jumat, 6 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online )- Kejaksaan Negeri Mandailing Natal Kamis 5/10/2023 periksa sejumlah Camat terkait pelaksanaan Bimbingan Teknis ( Bimtek ) perangkat desa yang berlangsung beberapa kali. Pemanggilan sejumlah Camat itu juga terkesan tertutup. sumber Mandailing Online menyebut ada 6 Camat di Kabupaten ini yang dimintai keterangannya oleh penyidik Kejaksaan. Sementara, salah seorang Camat yang enggan […]

  • Zubaidah Nasution : Musrenbang Harus Jadi Program Urgen di APBD

    Zubaidah Nasution : Musrenbang Harus Jadi Program Urgen di APBD

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      NAGAJUANG (Mandailing Online) – Anggota DPRD Madina dari Dapil 5 Zubaidah Nasution menekankan agar Musrenbang Nagajuang memberi kontribusi besar bagi pembangunan sektor-sektor urgen yang dibutuhkan rakyat. Serta menjadi program penting APBD daerah. Itu dikatakan Zubaidah dalam sambutannya saat menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Naga Juang, Selasa (11/2). Dalam sambutannya, politisi Partai Golkar itu […]

expand_less