Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

Siboru Deak Parujar dan Tanah Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 14 Jan 2019
  • print Cetak

Bindu

Oleh: Edi Nasution (in memorial)

*Dikutip dari artikel “Mandala Holing”

 

Meskipun kelompok etnik (suku-bangsa) Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut Surat Tulak-tulak, dan biasa digunakan untuk menuliskan kitab-kitab kuno yang dinamakan Pustaha, namun Pustaha itu umumnya bukan berisi tentang ‘cacatan sejarah’ orang Mandailing, melainkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang dipandang baik dan buruk, serta ramalan tentang mimpi (Z. Pangaduan Lubis, 1986: 43-44).

Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama ‘Mandahiling‘ (Mandailing) adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada zaman Majapahit yaitu Negarakertagama.

Selain itu nama Mandailing (‘tano padang bakkil bandailing’) disebut-sebut juga di dalam sastra klasik Toba-tua, yaitu Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar (Batara Sangti, 1977: 278). Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru”.

“Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on”.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

  1. Na manjadihon : ‘Gana na so boi tolonon, bulan naso boi oseon’
  2. Sian I ma mula ni : ‘Dung-dang’
  3. Mula ni  : ‘Sahala’
  4. Mula ni : ‘harajaon’
  5. Mula ni : ‘Gantang tarajuan, Hatian pamonari’
  6. Mula ni : ‘Pungga si sada iht’
  7. Mula ni : ‘Ninggala Sibola tali’
  8. Sian i ma : ‘Boli nii boru muli dohot si namot ni anak’
  9. Mula ni  : ‘Goar ni bao na so boi dohonon’
  10. Nunga disihataon i : ‘Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol nia- debata’.”

Kalau Tonggo-tonggon Si Boru Deak Parujar tersebut dialih bahasakan secara bebas dan terbatas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-ramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

  1. Yang mengamanatkan : “Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar”
  2. Asal mula  : “Kepercayaan”
  3.   Asal mula : “Sahala”
  4. Asal mula : “Kerajaan”
  5.   Asal mula : “Gantang pengukuran, dacing kebenaran”
  6.   Asal mula :  “Batu-asahan satu seikat”
  7.   Asal mula :   “Bajak bagai pembelah tali”
  8. Di situlah asal mula: “Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki”
  9.  Asal mula:  “Nama besan yang tak boleh disebut”
  10. Ini telah dinukilkan : “Pada kuda-kuda rumah asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata”.

Kita tidak mengetahui kapan Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari ‘benua atas’ ke ‘benua tengah’ membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Namun dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk menjadi suami Siboru Deakparujar.

Dari perkawinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil (1977: 270). Dalam Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh). Dari situlah (dari tanah Mandailing) jalan ke atas, ‘perturunan’ (tempat turun) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke ‘benua tengah’ (ke bumi -) ini”. Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke ‘benua tengah’ (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut  menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggo-nya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”.

Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba.

Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penafsiran terhadap Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar tersebut, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Si Raja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut (Mandailing) dan pergi ke tempat lain yaitu tao Toba.

*(http://gondang.blogspot.com/2013/12/banua-mandailing.html)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • SEBARAN POTENSI & MANFAAT ENERGI PANAS BUMI DI INDONESIA

    SEBARAN POTENSI & MANFAAT ENERGI PANAS BUMI DI INDONESIA

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: J. Simanjuntak  (Anggota Ikatan Ahli Panas Bumi Indonesia)   Berdasarkan data dari PLN yang dilansir pada tahun 2004, Indonesia ke depan akan kekurangan pasokan listrik. Situasi ini memaksa pemerintah untuk menambah kebutuhan energi. Masalah ini menjadi semakin berat dengan semakin menipisnya cadangan minyak negara (± 10 tahun mendatang) dan juga batubara. Energi geothermal […]

  • Reses Sobir di Manyabar, dari Infra hingga Ekonomi

    Reses Sobir di Manyabar, dari Infra hingga Ekonomi

    • calendar_month Senin, 23 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Lanjutan pambangunan jalan usaha tani sepanjang sekitar 850 meter menjadi salah satu ajuan Desa Manyabar, Panyabungan saat reses anggota DPRD Madina dari Partai Golkar, Sobir Lubis,SH melakukan reses di Desa itu, Senin (23/12/2019). Sepanjang 30 meter telah dibangun menggunakan Dana Desa. Sehingga sekitar 800 meter lagi membutuhkan dukungan dana dari APBD Madina. Menurut Kepala […]

  • Ombudsman Surati Gubsu, Ranto Sibarani: Semua Calon KPID Sumut Tersandera!

    Ombudsman Surati Gubsu, Ranto Sibarani: Semua Calon KPID Sumut Tersandera!

    • calendar_month Rabu, 20 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Sumut secara resmi menyurati Gubernur Sumut Edy Rahmayadi untuk mempertanyakan tindakan korektif Gubernur atas temuan maladministrasi yang berimplikasi pada hasil pemilihan 7 komisioner KPID Sumut 2022-2025. Dalam surat bernomor B/0284/LM.11-02/0015.2022/IV/2022 perihal Monitoring Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan (LAHP) yang dikirimkan pada 18 April 2022 itu, Ombudsman Perwakilan Sumut […]

  • Atika dan PKS Bantu Korban Ledakan Tabung LPG

    Atika dan PKS Bantu Korban Ledakan Tabung LPG

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bersama calon wakil bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution memberikan bantuan kepada keluarga korban ledakan tabung gas LPG. Bantuan jenis uang tunai itu diserahkan di ruang perawatan RSU Panyabungan, Selasa (30/6/2020) oleh Atika Azmi Utammi dan Ketua DPD PKS Madina, Ustad Wahiddin Arjun. Korban ledakan itu satu […]

  • Warga Madina Dihimbau Pakai Masker

    Warga Madina Dihimbau Pakai Masker

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Madina menghimbau warga Madina agar memakai masker jika keluar dari rumah. Sejauh ini belum ada pernyataan resmi pemerintah daerah Madina tentang tingkat ketebalan asap di Madina dan sudah sejauh mana dampak kerawananya terhadap kesehatan manusia. Namun, sejumlah supir angkutan umum yang diwawancarai mandailing Online, Jum’at (9/10) menyatan jarak pandang dalam […]

  • Plt. Bupati: Polemik Tambang Rakyat Akibat Kesalahan Pemerintah

    Plt. Bupati: Polemik Tambang Rakyat Akibat Kesalahan Pemerintah

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Plt Bupati mengakui, bahwa selama ini pemerintah lah yang salah terkait maraknya tambang rakyat liar serta tidak tertatanya lokasi-lokasi gelondongan emas (galundung) yang menyebar di pemukiman-pemukiman penduduk. Dilema tambang rakyat di Madina selama ini terkait belum adanya penghunjukan WP yang diperlukan bagi tahapan awal bagi proses legalitas usaha tambang mineral maupun […]

expand_less