Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Siboru Deak Parujar dan Tanah Mandailing

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 14 Jan 2019
  • print Cetak

Bindu

Oleh: Edi Nasution (in memorial)

*Dikutip dari artikel “Mandala Holing”

 

Meskipun kelompok etnik (suku-bangsa) Mandailing memiliki aksara tradisional yang disebut Surat Tulak-tulak, dan biasa digunakan untuk menuliskan kitab-kitab kuno yang dinamakan Pustaha, namun Pustaha itu umumnya bukan berisi tentang ‘cacatan sejarah’ orang Mandailing, melainkan tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan tentang waktu yang dipandang baik dan buruk, serta ramalan tentang mimpi (Z. Pangaduan Lubis, 1986: 43-44).

Salah satu sumber sejarah kuno yang menyebut-nyebut nama ‘Mandahiling (Mandailing) adalah kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada zaman Majapahit yaitu Negarakertagama.

Selain itu nama Mandailing (‘tano padang bakkil bandailing’) disebut-sebut juga di dalam sastra klasik Toba-tua, yaitu Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar (Batara Sangti, 1977: 278). Tonggo-tonggo tersebut berbunyi sebagai berikut:

Baen ma gondang ni Ompunta, Tuan Humara-Hiri, Si Humara Naboru, par-aji tamba-tua, par-aji pulung-pulungan; sinonduk ni Ompunta Sibaso Nabolon, na marsigantung ditali siubar, na meat di mombang boru”.

“Sian tano hondur, tano malambut, tano hulambu jati, sian tano padang bakkil bandailing, tano siogung-ogung; parsirangan ni tano, pardomuan ni aek; Sian i ma dalan laho tu ginjang, partiatan ni Ompunta: Debata Natolu Suhu, Naopat Harajaon tu banua tonga on”.

Disi ma parangin-anginan ni Ompunta ‘Siboru Deakparujar’, sideak uti-utian, sigodang ujar-ujaran:

  1. Na manjadihon : ‘Gana na so boi tolonon, bulan naso boi oseon’
  2. Sian I ma mula ni : ‘Dung-dang’
  3. Mula ni  : ‘Sahala’
  4. Mula ni : ‘harajaon’
  5. Mula ni : ‘Gantang tarajuan, Hatian pamonari’
  6. Mula ni : ‘Pungga si sada iht’
  7. Mula ni : ‘Ninggala Sibola tali’
  8. Sian i ma : ‘Boli nii boru muli dohot si namot ni anak’
  9. Mula ni  : ‘Goar ni bao na so boi dohonon’
  10. Nunga disihataon i : ‘Di ninggor ni ruma, dipagohan di pinggol nia- debata’.”

Kalau Tonggo-tonggon Si Boru Deak Parujar tersebut dialih bahasakan secara bebas dan terbatas ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut:

Tonggo-Tonggo Siboru Deakparujar

Palulah gendang dari Empu kita, Tuan Kumarakumari, Si Kumara perempuan, per-aji tambah tua, per-aji ramu-ramuan; suami dari Empu Kita Sibaso Nabolon, yang bergantung pada tali siubar, yang hinggap di mombang boru.

Dari tanah lembah, tanah kelabu sejati, dari tanah bakil Mandailing, tanah yang termasyhur, bagaikan suara yang merdu, perpisahan daripada tanah, pertemuan daripada air: ‘Dari situlah tangga jalan ke atas, perturunan daripada Empu Kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke benua tengah ini.

Di situlah bertamasya Empu kita Siboru Deakparujar, yang banyak cerdik, yang banyak akal:

  1. Yang mengamanatkan : “Tidak boleh makan sumpah, tidak boleh mengingkari ikrar”
  2. Asal mula  : “Kepercayaan”
  3.   Asal mula : “Sahala”
  4. Asal mula : “Kerajaan”
  5.   Asal mula : “Gantang pengukuran, dacing kebenaran”
  6.   Asal mula :  “Batu-asahan satu seikat”
  7.   Asal mula :   “Bajak bagai pembelah tali”
  8. Di situlah asal mula: “Penerimaan beli atas perkahwinan anak perempuan dan pembayaran jujuran bagi perkahwinan anak lelaki”
  9.  Asal mula:  “Nama besan yang tak boleh disebut”
  10. Ini telah dinukilkan : “Pada kuda-kuda rumah asli, dipacakkan batu barani dan di kuping kuda dewata”.

Kita tidak mengetahui kapan Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar itu tercipta atau diciptakan. Yang kita ketahui ialah bahwa Siboru Deakparujar adalah tokoh mitologi dalam kebudayaan Toba. Menurut mitologi Toba, Siboru Deakparujar adalah puteri Debata Mulajadi Nabolon, yang dititahkannya turun dari ‘benua atas’ ke ‘benua tengah’ membawa sekepal tanah, untuk menempa bumi di atas lautan.

Namun dalam usahanya menempa bumi, Siboru Deakparujar mendapat gangguan dari Naga Padoha (Raja Padoha), tetapi akhirnya dia berhasil menyelesaikan tugasnya itu. Kemudian Debata Mulajadi Nabolon menitahkan Siraja Odap-odap turun ke bumi untuk menjadi suami Siboru Deakparujar.

Dari perkawinan Siboru Deakparujar dengan Siraja Odap-odap, lahirlah seorang putera yang bernama Siraja Ihatmanusia, dan seorang puteri yang bernama Siboru Ihatmanusia. Kedua bersaudara tersebut kawin dan kemudian mendapat tiga orang putera. Masing-masing Siraja Miok-miok, Patundal Nabegu dan Siraja Lapas-lapas. Dari keturunan Siraja Miok-miok kemudian hari lahirlah Siraja Batak, yang dipandang sebagai nenek moyang (leluhur) orang Batak.

Menurut Batara Sangti, tonggo-tonggo ialah doa yang disusun secara puitis dan diucapkan waktu sajian besar dan kecil (1977: 270). Dalam Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar jelas disebutkan bahwa “tanah bakil Mandailing tanah yang termasyhur, bagaikan suara gung yang merdu (suara gong yang merdu biasanya menarik perhatian dan dapat didengar sampai ke tempat yang jauh). Dari situlah (dari tanah Mandailing) jalan ke atas, ‘perturunan’ (tempat turun) dari Empu kita: Debata Nan Tiga, Nan Tiga Segi, Nan Empat Kerajaan, ke ‘benua tengah’ (ke bumi -) ini”. Berdasarkan tonggo-tonggo (doa) tersebut, jelaslah bahwa sejak zaman dahulu kala (sejak adanya tokoh mitologi Siboru Deakparujar), orang Toba (Batak) telah mengakui kemasyhuran tanah Mandailing. Lebih penting dari itu, Tonggo-tonggo Siboru Deakparujar dengan jelas menyebutkan pula bahwa tanah Mandailing merupakan tempat tangga jalan ke atas (kayangan), dan menjadi tempat turun Dewa (Debata Nan Tiga) ke ‘benua tengah’ (bumi) ini.

Selanjutnya tonggo-tonggo tersebut  menyatakan pula bahwa “di situlah” (di tanah Mandailing) bertamasya Siboru Deakparujar. Dengan demikian dapat ditafsirkan bahwa kemungkinan sekali justru di tanah Mandailing itu pulalah Siboru Deakparujar turun dari kayangan. Sebab tonggo-tonggo-nya menyebutkan “dari situlah (dari tanah Mandailing) tangga jalan ke atas (kayangan)”.

Oleh karena itu, tidak tertutup pula kemungkinan bahwa di tanah Mandailing pulalah Siboru Deakparujar kawin dengan Siraja Odap-adap. Selanjutnya keturunan mereka lahir dan berkembang di tempat tersebut. Kemudian dapat dikemukakan hipotesis, bahwa setelah keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap berkembang di tanah Mandailing, generasi selanjutnya dari keturunan mereka, seperti misalnya Siraja Batak (keturunan generasi ke empat dari Siraja Miok-miok, atau generasi ke enam dari keturunan Siboru Deakparujar dan Siraja Odap-odap) pindah ke tempat lain meninggalkan tanah Mandailing dan pergi ke tanah Toba.

Kemudian di tempat itu ia berkembang. Dengan kata lain, berdasarkan penafsiran terhadap Tonggo-tonggo Si Boru Deak Parujar tersebut, nenek moyang Siraja Batak, mulai dari Si Boru Deak Parujar dan Si Raja Odap-adap sampai kepada Guru Tantan Debata, yaitu ayah dari Si Raja Batak sendiri, setelah besar kemudian meninggalkan tempat tersebut (Mandailing) dan pergi ke tempat lain yaitu tao Toba.

*(http://gondang.blogspot.com/2013/12/banua-mandailing.html)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pola tanam serentak perlu diperhatikan

    Pola tanam serentak perlu diperhatikan

    • calendar_month Selasa, 28 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN – Pemkab Madina sudah sepantasnya melakukan terobosan baru dalam program pola tanam serentak di kalangan petani khususnya petani di kawasan Panyabungan, karena langkah ini salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman pangan di samping penggunaan benih unggul. Demikian Koordinator II Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI) Kabupaten Madina Dahlan Batubara, pagi ini. Menurutnya, […]

  • Menteri Pertanian Rencanakan Bantu Madina

    Menteri Pertanian Rencanakan Bantu Madina

    • calendar_month Jumat, 10 Okt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan akan membantu Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di sektor pertanian. Itu dikatakannya saat Bupati Madina Saipullah Nasution bersama 11 kepala daerah beraudiensi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Kamis (9/10/2025). Pertemuan itu membahas beberapa hal ketahanan pangan, termasuk hilirisasi sektor pertanian. Saipullah menjelaskan, Menteri […]

  • Tim Safari Ramadhan Kunjungi Kebun PTPN IV di Madina

    Tim Safari Ramadhan Kunjungi Kebun PTPN IV di Madina

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN : Ketua Majelis Taklim & Syiar Islam (MTSI) Pusat PTPN IV Taufiqurrachman bersama Ketua Tim IV Safari Ramadhan Aminuddin Thoha serta anggota (Syahrul Aman Siregar, Rabiullah Harahap, Syahrial Nasution, Alhusri Naipospos), berkesempatan melakukan Safari Ramadhan di Kebun Mandina Grup (Kebun Timur, Kebun Batang Laping, Proyek Plasma) yang dipusatkan di Mess Batang Laping yang terletak […]

  • Mutasi Jabatan di Pemkab Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mutasi jabatan dilakukan di lingkungan Pemkab Mandailing Natal, Rabu (4/6/2013). Pelantikan berlangsung di gedung serba guna, Parbangunan, Panyabungan dipimpin Sekretaris Daerah M Daud Batubara atas nama bupati Madina Hidayat Batubara. Sebanyak 169 PNS yang ikut dalam rotasi jabatan itu terbagi dalam dua surat keputusan. Untuk eselon II terdapat 6 nama yang […]

  • Bupati Gratiskan Sewa Los Pasar Tapanuli 3 Bulan

    Bupati Gratiskan Sewa Los Pasar Tapanuli 3 Bulan

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) akan menggratiskan sewa los pasar Tapanuli selama tiga bulan kepada pedagang. Itu dikatakan Bupati Mandailing Natal (Madina) H. Saipullah Nasution dalam acara dialog pedagang dengan pemerintah di Pasar Kuliling, Panyabungan, Jumat (26/9/2025). “Sewa los bagi pedagang sayur dan kue-kue basah gratis sampai akhir tahun. Pembayaran sewa baru […]

  • Jalan Medan-Berastagi longsor

    Jalan Medan-Berastagi longsor

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Jalan Medan-Berastagi di Dusun Listrik Desa Lau Mulgap, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara longsor sejak Minggu (29/12) kemarin pukul 20.30 WIB. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara Asren Nasution di Medan, hari ini, mengatakan longsor terjadi setelah menerima curah hujan yang tinggi pada Minggu malam. Tanah longsor tersebut mengikis […]

expand_less