Minggu, 6 Sep 2026
light_mode

Sisi Pilkada : Terbentur dan Remuk

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2020
  • print Cetak

Oleh : Roy Samsuri Lubis

 

Manusia mati meninggalkan nama, merupakan adagium yang paling tepat menggambarkan eksistensi Sutan Ibrahim di bumi Nusantara. Pria yang punya nama kebangsaan Datuk Sutan Malaka ini cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia, mulai dari era kolonial, awal kemerdekaan bahkan sampai saat ini. Bahkan saking populernya, pernah satu masa ia dianggap satu-satunya yang layak menjadi pemimpin tertinggi bangsa ini, entah itu presiden entah perdana menteri.

Salah satu ungkapan populer dari tokoh yang akrab disapa Tan Malaka ini adalah “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk”. Ini merupakan pemakaian istilah untuk menggambarkan bagaimana Tan Malaka terbentuk menjadi seorang revolusioner. Ia, sama seperti tokoh-tokoh perubahan lainnya mengalami benturan. Benturan itu membuat level kenikmatan dan ekspektasi turun dari asalnya. Benturan-benturan itu menyebabkan mati rasa, tidak hanya sakit tetapi juga kesenangan.

Ibaratnya kita sedang berpuasa. Puasa adalah benturan dari kebiasaan kita untuk makan dan minum kapan saja, tapi nyatanya saat puasa kita harus terbentur dengan lapar dan dahaga sehingga air putih di awal senja menjadi barang yang sangat istimewa. Padahal setiap harinya air putih tidak pernah seistimewa itu.

Umumnya benturan itu menyebabkan kita lebih kuat dan tumbuh menjadi manusia dengan mental yang jauh lebih terasah, kebijksanaan yang seakan tak bertepi dan terbentuk menjadi manusia yang lebih baik. Namun, belakangan ini adagium itu terpatahkan di tengah corong demokrasi sedang bergema lantang sembari menjual janji-janji politisi. Politik, ilmu siasat yang digandrungi segala lapisan masyarakat ini menjadi antitesis dari adagium itu.

Palagan politik yang dijewantahkan melalui pemilu menjadi ujung tombak rusaknya kalimat populer dari Tan Malaka tersebut. Pemilu yang semestinya bisa membentuk masyarakat yang lebih dewasa menyikapi hiruk pikuk politik serta menumbuhkembangkan wawasan berdemokrasi justru menjadi benturan yang merusak organ vital manusia, otak. Kewarasan menjadi barang mahal nan langka.

Itu pula yang terlihat belakangan ini di tengah-tengah masyarakat Mandailing Natal menyambut pilkada yang akan diselenggarakan Desember mendatang. Narasi-narasi yang sering berbenturan di ruang publik ternyata tidak mampu memunculkan personal yang terbentuk dari sisi kecakapan, kebijakan dan kedewasaan berdemokrasi.

Terlebih jika ditinjau dari sisi media sosial. Meski media sosial tidak menjanjikan kemenangan pada pilkada, tapi kemudahan akses menedekati konstituen tak bisa dipandang enteng dalam menimbulkan opini publik. Hal ini pula yang dilihat oleh pendukung atau tim pemenangan sebagai ruang yang harus dieksplorasi sebaik mungkin untuk menimbulkan argumen final tentang calon yang diusung maupun lawan politik. Opini yang terbentuk hanya satu tujuan, menonjolkan calon dukungan dengan cara apa pun, termasuk cara-cara picik dan licik.

Tak mengherankan jika kemudian adu argumen yang awalnya bagus untuk diskusi justru tak jarang berakhir dengan umpatan. Saling umpat dan saling caci menjadi pemandangan yang akrab di lini masa media sosial. Bahkan keseringannya muncul mengalahkan anjuran dokter untuk minum obat.

Kemenangan politik seperti harga mati sehingga cara-cara yang elegan kerap ditinggalkan dan mengedapankan cara-cara culas. Bahkan perbedaan pilihan seperti menjadi sebuah tabu. Akibatnya, masyarakat yang tidak punya ‘kepentingan urgen’ selayaknya tim pemenangan atau simpatisan barisan depan harus terbentur satu sama lain. Mereka yang kehidupannya sebatas cari pagi untuk dimakan malam harus disibukkan dengan opini-opini yang dimunculkan oleh mereka kaum terdidik dan terpelajar yang duduk di samping calon-calon penguasa.

Opini publik yang dibentuk oleh masing-masing kubu politik berhasil masuk ke dalam gang-gang kecil di desa-desa yang ada di Mandailing Natal ini dan memecah persaudaraan yang selama ini terjalin dengan baik. Padahal dalam politik ada semacam preambule “Yang abadi hanya kepentingan. Hari ini lawan esok lusa kawan”.

Kalimat sakti itu pula yang akhirnya mengantarkan Pak Prabowo duduk di kursi Menteri Pertahanan setelah terlebih dahulu berjanji timbul tenggelam bersama rakyat. Prabowo timbul sebagai Menteri Pertahanan sementara rakyat tenggelam dalam kekecewaan. Itu belum termasuk kebencian kepada tetangga yang saban waktu mengantar rendang daging ke rumah belum reda semata karena pilihan politik.

Artinya, untuk para politisi yang utama adalah ‘kepentingan’ meski mengabaikan perasaan dan benturan yang terjadi di masyarakat. Konstituen tetap dirundung kekecewaan dan penyesalan sementara para politisi yang akhirnya menang atau kalah justru saling tertawa sambil sesekali minuh teh berharga ratusan ribu. Benturan-benturan yang terjadi di masyarakat justru bak bola salju yang menggelinding semakin jauh dan semakin besar.

Pemilu yang telah dilewati dalam beberapa tahun ke belakang adalah benturan yang seharusnya membentuk publik yang dewasa baik secara politik maupun demokrasi. Namun, yang terjadi justru terbentur, terbentur, terbentur, remuk.

Pilkada kali ini harus bisa membentuk masyarakat yang lebih baik dari segi kedewasaan berpolitik dan berdemokrasi. Setiap orang-orang yang punya ‘kepentingan’ harus berani meredam ego dan tendensius. Toh, pada akhirnya orang akan lebih mudah diajak dengan bahasa yang santun. Pilihan memenangkan hati masyarakat tersedia dalam banyak bentuk, baik dan buruk. Bijak rasanya jika tim pemenangan dan simpatisan memilih cara yang baik. Terlalu riskan kehangatan ruang publik warga Mandailing Natal harus tercederai oleh mereka yang berebut kursi kekuasaan.***

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • LBH: Judi sulit diberantas

    LBH: Judi sulit diberantas

    • calendar_month Sabtu, 16 Apr 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN – Salah satu program yang belum tuntas dilakukan pihak kepolisian ialah pemberantasan judi di Indonesia. Baru-baru ini Wakil Wakapolri, Nanan Soekarna meginstruksikan masing-masing Polda harus mengambil tindakan tegas memberantas praktik perjudian. Perjudian yang sedang merebak di Indonesia ialah judi toto gelap (togel). Penjual togel bertebaran di mana-mana. Penggemarnya tidak terlepas orang tua dan anak […]

  • Madina, ICW dan Korupsi

    Madina, ICW dan Korupsi

    • calendar_month Rabu, 1 Sep 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Korupsi lahir di tengah situasi dimana oligharki politik mendominasi dalam pembuatan kebijakan publik di satu sisi dan tiadanya public accountability sebagai mekanisme pertanggungjawaban kekuasaan di sisi yang lain. Kondisi ini diperparah dengan sempitnya ruang partisipasi politik karena tidak adanya peluang dalam sistem politik yang dapat digunakan untuk meminta pertanggungjawaban wakil rakyat di parlemen. Tali mandat […]

  • PT SMGP Bagikan Sembako Kepada Anak Yatim dan Lansia

    PT SMGP Bagikan Sembako Kepada Anak Yatim dan Lansia

    • calendar_month Selasa, 21 Jun 2016
    • account_circle webmaster
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – PT Sorik Marapi Geothermal Power adakan pembagian sembako di 30 desa yang tersebar di 3 kecamatan yakni Kecamatan Lembah Sorik Marapi, Kecamatan Puncak Sorik Marapi dan Kecamatan Panyabungan Selatan pada Senin,(20/6). Kegiatan Safari Ramadhan berupa pembagian paket sembako  sejumlah 1.550 paket kepada anak yatim dan orang tua lanjut usia (jompo)  di […]

  • Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

    Georgette Lepaulle Tak Pernah Merasa Terlambat Ucapkan Syahadat

    • calendar_month Jumat, 13 Des 2013
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Ia memutuskan menjadi seorang Muslimah karena tertarik dengan keramahan Muslim di sekelilingnya. Dalam usianya yang menginjak 91 tahun, Georgette Lepaulle memutuskan masuk Islam. Meski sudah tua nan renta, ia tidak pernah merasa terlambat dalam membuat langkah terbaik dalam hidupnya. Georgette sebenarnya sudah lama tahu tentang Islam karena ia mempunyai tetangga Muslim. Rumahnya yang berada di […]

  • Lebaran, Tambang Emas Ilegal Stop Operasi Buat Sungai Batang Natal Terlihat Jernih

    Lebaran, Tambang Emas Ilegal Stop Operasi Buat Sungai Batang Natal Terlihat Jernih

    • calendar_month Rabu, 2 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Batang Natal ( Mandailing Online ): berhentinya aktifitas tambang emas ilegal di Kecamatan Batang Nata dan Lingga Bayu Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) membuat sungai batang natal terlihat bersih dan bening. Menurut warga karena aktifitas tambang emas ilegal yang berhenti beroperasi karena libur lebaran. ” palingan berapa hari ini aja pak sungainya bersih. Itupun […]

  • Mahasiswa Diskusi dengan Saipullah Seputar Visi-Misi SAHATA

    Mahasiswa Diskusi dengan Saipullah Seputar Visi-Misi SAHATA

    • calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Panyabungan Timur (IMPATI) mengajak calon Bupati Mandailing Natal (Madina) nomor urut 2 Saipullah Nasution berdialog interaktif seputar visi-misinya memajukan Kabupaten Madina lima tahun kedepan. Dialog yang berlangsung dalam suasana akrab dan kekeluargaan itu diadakan di Posko Pemenangan Saipullah – Atika (SAHATA), Jalan Willem Iskander, […]

expand_less