Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Tentang Etek Do Mulo Ni Gondang

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 5 Des 2013
  • print Cetak

Oleh: Edi Nasution

Dari atas dan lereng bukit-bukit yang terdapat di Mandailing, semenjak dulu hingga pada masa sekarang ini masih sering kita dengar sesuatu bunyi yang berirama mempesona dan menggelitik jiwa, yang pada gilirannya dapat memikat perhatian kita.

Suara apakah gerangan? Siapakah yang membunyikannya? Pertanda apakah gerangan? Dan berbagai pertanyaan lainnya yang melintas di dalam benak kita. Bunyi itu ternyata berasal dari hasil kreatifitas manusia yang sedang memainkan alat musik (emic view) yang terbuat dari bambu yang kita kenal dengan nama etek atau otuk.
.
Alat musik tersebut terbuat dari satu setengah ruas bambu (bulu soma) yang banyak ditemukan dalam hutan yang terdapat di bukit-bukit itu. Bambu yang dijadikan alat musik ini mempunyai diameter kurang lebih 18 cm dan pada bagian tengah tabung (tube) bambu dibuat lubang berbentuk empat persegi panjang, yang lebarnya 4 cm dan begitu pula panjangnya kurang lebih 35 cm.

Tube (tabung) bambu terdiri dari satu ruas dan kedua bongkolnya tetap dibiarkan utuh. Kurang lebih setengah ruas yang sisa ke samping dibentuk seperti huruf ’U’ dengan membuang bagian tengahnya. Bahagian bambu yang sisa pada sebelah atas dan bawah mempunyai lebar kurang lebih 4 cm. Dan yang lebih umum, di mana pada sebelah ruas lainnya dibentuk pula hal yang serupa, akan tetapi hanya untuk bagian atas saja, yang panjangnya sekitar 20 cm dan lebarnya kurang lebih 4 cm juga. Umumnya lapisan luar (kulit bambu) tidak dibuang, tapi ada juga alat musik etek yang semua bagian luar bambu yang dibuang, dan kemudian dibubuhi cat pewarna atau tidak dicat sama sekali.

Irama
Alat musik ini dimainkan secara horizontal yang melintang di hadapan musisinya dan agak miring karena diletakkan dilekukan pergelangan kaki kanan atau kiri (tergantung kebiasaan musisinya).

Etek dimainkan dengan ’stik’ yang terbuat dari bambu yang diraut bulat, di mana stik untuk irama konstan (2 buah) mempunyai diameter kurang lebih 1 cm dan panjangnya kira-kira 30 cm, sedangkan stik untuk ritmik peningkah (improvisasi) yang satu buah berdiameter kurang lebih 11/2 cm dan panjangnya 30 cm. Irama ritmik konstan dimainkan pada bagian yang berbentuk ’U’ dengan dua buah stik, sedangkan untuk irama peningkah pada tabung (tube) sebelah atas.

Sama halnya dengan cara meletakkan etek pada lekukan kaki sebelah kiri atau kanan, maka sebagai konsekuensinya akan merubah posisi irama konstan dan peningkah pada kedua tangan. Apabila etek diletakkan di lekukan kaki sebelah kanan, maka tangan kanan berfungsi sebagai pembawa irama konstan dengan dua buah stik, dimana stik yang terbawah akan mengetuk bagian dalam bentuk ‘U’ (bergerak ke atas dan ke bawah), sedangkan stik yang satu lagi hanya mengetuk bagian luar dari sebelah atas bentuk ‘U’ tersebut; seiring dengan itu, stik yang dipegang oleh tangan kiri sibuk pula memainkan ritmik peningkah.

Begitu pula sebaliknya apabila etek diletakkan di lekukan pergelangan kaki kiri, maka irama konstan terdapat di tangan kiri dan irama peningkah pada tangan kanan. Khusus mengenai teknik ini, menurut beberapa musisi etek, teknik yang umum dipakai adalah dengan ritmik konstan di tangan kanan dan ritmik peningkah di tangan kiri. Begitupun, ada pula yang mengatakan bahwa justru sebaliknyalah yang paling baik dalam memainkan instrument etek.

Seperti halnya cara memainkan etek yang telah disinggung di atas, dimana etek diletakkan dilekukan pergelangan kaki yang bertumpu kepada tumit kaki, sementara kaki yang satu ini dengan sendirinya membentuk sudut tumpul dan kaki yang satu lagi terlipat ke arah dalam. Begitu pula dengan tangan kanan (boleh juga tangan kiri) yang memegang dua buah stik untuk memainkan ritmik konstan, dimana satu buah stik diselipkan di antara jari tengah dan jari telunjuk, sementara stik yang satu lagi diletakkan di antara jari telunjuk dan ibu jari dan kemudian tangan yang memegang kedua stik itu dikepal. Tangan lain yang memainkan ritmik peningkah dengan sebuah stik yang digenggam.

Dapat ditambahkan bahwa pada sisi ruas lain umumnya dibuat pula bagian bambu yang lebih pula (seperti telah disinggung di atas), dan bagian ini biasanya dimainkan oleh orang lain dengan ritmik konstan dan variasi, dengan memakai stik yang sama besar dan bentuknya sama dengan stik peningkah.

Repertoar
alat musikal yang oleh masyarakat Mandailing dinamakan etek atau otuk ini, penamaannya yang demikian itu dikarenakan produk bunyi yang dihasilkannya ketika sedang dimainkan (tek … tek … tek … dan tuk … tuk … tuk …). Etek atau otuk ini dapat diklasifikasikan kepada slit drum, yang dimainkan pada saat seseorang menjaga ladangnya untuk mengusir rasa sepi, dan dapat juga dipergunakan untuk menghalau hama tanaman di ladang, misalnya seperti monyet, kera, tupai dan lain-lain. Biasanya etek ini dapat dijumpai di setiap sopo (gubuk) di ladang dan seringkali dimainkan pada siang hari.

Tidak jarang, antara sesama peladang di lereng-lereng bukit itu memainkan etek secara bersahut-sahutan, layaknya suatu alat komunikasi sesama mereka. Seseorang yang memainkannya mungkin bermaksud mengetahui apakah temannya sudah berada di ladangnya atau tidak. Apabila temannya itu ternyata berada di ladangnya, tentu ia akan membalas panggilan kawannya itu lewat permainan etek pula.

Bertolak dari apa yang dapat diamati melalui permainan etek pada masa sekarang ini, dalam seni pertunjukan etek dapat dimainkan hampir keseluruhan repertoar gondang yang terdapat di Mandailing antara lain seperti gondang moncak, porang, roba na mosok, udan potir dan sebagainya.

Dalam hubungan ini, banyak orang-orang tua di Mandailing mengungkapkan suatu istilah: etek do mulo ni gondang. Begitupun, apa yang disajikan dalam tulisan ini sangat dirasakan keterbatasannya dalam beberapa segi. Untuk itu marilah secara bersama-sama kita perbaiki. (sumber: Blog etek do mulo ni gondang/pernah dimuat dalam Harian Waspada tahun 1991)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pasca Putusan MK, KPU Madina Akan Plenokan Penetapan Cakada Terpilih

    Pasca Putusan MK, KPU Madina Akan Plenokan Penetapan Cakada Terpilih

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      JAKARTA (Mandailing Online) – Pasca putusan MK, Komisi Pemilihan Umum Mandailing Natal (KPU Madina) segera menggelar rapat pleno penetapan calon bupati dan wakil bupati Madina terpilih hasil Pilkada Madina 2024. Mahkamah Konstitusi (MK), Senin (24/2/2025) menolak seluruh permohonan Paslon nomor urut 1, Harun Mustafa Nasution–M. Ichwan Nasution (ON MA). Dengan demikian, Pilkada Madina 2024 […]

  • Payabulan

    Payabulan

    • calendar_month Jumat, 3 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Salah satu tujuan wisata lokal di Mandailing Natal adalah Payabulan, Desa Pangkat Kec. Puncak Sorik Marapi. Alam Payabulan yang sejuk, asri, dengan latar pegunungan Tor Sihite salah satu daya tarik wisatawan lokal di Mandailing Natal.(hol)

  • Pemkab Madina Minta BPSB Teliti Padi Siganteng

    Pemkab Madina Minta BPSB Teliti Padi Siganteng

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online)- Pemkab Mandailing Natal (Pemkab Madina) sudah mengajukan ke Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) agar padi Siganteng diakui sebagai satu varietas tersendiri. Demikian diungkapkan Plt Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution, kemarin terkait salah satu upaya pengembangan padi Siganteng di Mandailing Natal. Padi Siganteng merupakan varietas padi yang memiliki tingkat produksi […]

  • Disebut ‘Pak Pos’ Razman Arif akan Laporkan Mantan Calon Wabup Madina

    Disebut ‘Pak Pos’ Razman Arif akan Laporkan Mantan Calon Wabup Madina

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Razman Arif Nasution, Mantan Kuasa Hukum Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho-Evy Susanti, merasa gerah karena disebut sebagai ‘Pak Pos’ oleh mantan calon Wakil Bupati (Wabup) Mandailing Natal (Madina), Shafron. Sebutan ‘Pak Pos’ itu tertulis di laman facebook pribadi milik Shafron, yang diposting Selasa (8/9) dini hari. Dengan memajang foto Razman Arif saat diwawancarai […]

  • Kakan Peranan Wanita Akui 21 Honorer Belum Gajian

    Kakan Peranan Wanita Akui 21 Honorer Belum Gajian

    • calendar_month Rabu, 31 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 2Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Kantor Peranan Wanita dan Perlindungan Anak Mandailing Natal (Madina), Rinawati membenarkan 21 tenaga honorer di instansi itu belum gajian selama 8 bulan. Dia juga mengakui bahwa honor yang bekerja pada Bagian BKKN tersebut adalah honor provinsi. “Memang honor mereka belum dibayarkan, sebab honor mereka tidak lagi ditampung oleh pihak provinsi, […]

  • Aktifitas Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Dekat Kantor Polsek

    Aktifitas Tambang Emas Ilegal di Kotanopan Dekat Kantor Polsek

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    KOTA NOPAN – (Mandailing Online) – Aneh, Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Jambur Tarutung, Kecamatan Kota Nopan, Madina leluasa beraktivitas meski hanya sekitar ratusan meter dari polsek, Kantor Camat dan bahkan Kantor Koramil Kecamatan Kotanopan. Bebasnya aktifitas tambang emas ilegal menggunakan alat berat jenis excavator itu diduga memiliki jaringan kuat sehingga kelas Polisi dan […]

expand_less