Sabtu, 17 Okt 2026
light_mode

Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
  • print Cetak

Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, kami menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, CEO Tympanum Novem.

BAGIAN II


Kenapa baru sekarang ada gerakan model Tympanum?

Saya yakin, bukan hanya kami yang prihatin terhadap kondisi seni budaya kita. Jauh sebelum ini juga sudah muncul berbagai diskursus tentang eksistensi seni budaya Mandailing di kalangan seniman dan budayawan kita, bahkan di lingkungan kelas sosial tertentu. Dulu kita berharap muncul melalui wadah organisasi seniman budayawan daerah. Tapi sampai sekarang tak ada wadah yang representatif semacam itu. Karena itu, kita kumpulkan kawan-kawan seide, dan terbentuklah Tympanum Novem tahun lalu.

Apa sebenarnya yang membuat Anda prihatin?

Nyaris tak ada perhatian kita terhadap pakem seni budaya Mandailing. Budaya misalnya hanya tampak dalam prosesi pesta pernikahan saja. Di luar itu nyaris pudar semua. Ada kecenderungan di hampir setiap etnis dengan makin memudarnya karakteristik lokal dan tanpa disadari ada transformasi yang masif ke bentuk budaya nasional yang diusung media massa. Selain itu, makin banyak ekspansi bahasa Indonesia terhadap bahasa lokal, sehingga tiap hari ada saja idiom bahasa lokal yang digantikan bahasa nasional. Itu ancaman, karena hanya menunggu waktu bahasa-bahasa daerah ini akan punah. Coba saja baca buku-buku berbahasa daerah kita, makin banyak diksi yang tidak kita pahami. Itu pertanda ancaman kepunahan. Ada kematian bahasa. Dan itu diakui dalam ilmu linguistik.

Karena itu Anda menggunakan bahasa Mandailing Klasik dalam Film “Biola Na Mabugang” dan “Tias”?

Benar. Kita berniat menghidupkan kembali bahasa purba itu. Kami kira itu dulu beresiko karena cerita akan sulit dipahami. Ternyata tidak, itu malah memancing keingintahuan anak-anak terhadap muatan maknanya. Bahkan menjadi daya tarik film. Karena bagi sebagian penonton berumur, itu membangkitkan nostalgia ke masa anak-anak. Dan penelitian membuktikan bahwa rata-rata manusia Timur pikirannya lebih terkooptasi terhadap masa lalu dibandingkan masa depan. Itu menjadi salah satu acuan pemasaran bagi banyak bisnis media. Kita harus jeli melihat pangsa pasar ini.

Anda belajar pemasaran juga, ya?

Ya, harus. Sebagus apapun kemasannya, kalau isinya tak mendatangkan daya tarik pasar, tetap gagal namanya. Tiap produk seni budaya harus berorientasi pasar, kalau tidak, kita tidak survive. Bengkel Teater Rendra juga begitu, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Riantiarno, Butet Kertajasa, dan lain-lain. Kalau tidak bagaimana mereka bisa makan. Tentu saja sepanjang kita tetap bisa menjaga dimensi-dimensi pemberdayaan sosialnya, mencerdaskan, ada idealisme, perfeksionis. Jangan juga melulu market oriented seperti sebagian besar produk televisi kita. Itu pelacuran seni namanya. Kita mengeksploitasi seni dan manusia hanya untuk bisa tetap berjuang. Tympanum bergerak dalam ranah itu.

Itu konsep Anda atau konsep Tympanum?

Saya yakin kawan-kawan di Tympanum rata-rata memahami itu. Itu terbukti dari empat produksi yang sudah kita buat. Saya kenal orang-orang Tympanum bukan setahun dua tahun lagi. Aes, Fikri, Ewin saya kenal sebagai seniman murni. Mereka bahkan rela tidak dibayar kalau itu menyangkut penguatan sosial. Dan itu sering kita diskusikan. Kita juga beranjak dari keterbukaan, kejujuran komunual. Tak banyak cingcong. Kalau nyaman, ya kerja; kalau tak nyaman ya keluar. Kita tak mau ribut-ribut soal jasa misalnya. Bukan seniman kalau semua diukur dengan materi, dan bukan seniman kalau bawaannya kasar. Itu mungkin yang bisa menguatkan kita di Tympanum.

Apa target Tympanum sebenarnya?

(Diam sebentar). Kita terlalu banyak keinginan. Ingin ada pakem musik mandailing yang benar-benar tampak karakter Mandailingnya mulai dari ornamen, komposisi, ritme, dan lirik. Kita ingin film Mandailing yang dicintai warganya, yang jelas tampak karakter lokalnya mulai dari bahasa, perwajahan, kostum, hingga ilustrasi musik. Kita ingin menghidupkan kembali idiom dan diksi bahasa Mandailing yang hampir punah. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam ornamen gedung, pola perkampungan, bahkan pemerintahan. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam software berbasis IT. Kita ingin buku-buku yang ber-roh Mandailing. Kita ingin mengukuhkan sejarah perdaban Mandailing.


Revolusi Kebudayaan targetnya?

Kesimpulannya mungkin begitu. Tapi tentu tetap ada orang yang trauma dengan sebutan revolusi karena mungkin mencaman bagi kemapanan tertentu. Itu semua kerja berat dan tak mungkin kami lakukan sendiri. Tapi ada atau tidak dukungan, insya allah tetap kami lakukan. Karena selalu harus ada martir untuk setiap perubahan sosial. Dan akan butuh waktu lama, banyak cobaan, dan lain-lain. Tak apa-apa. Jangan ada pembiaran terhadap keruntuhan budaya kita. Jangan sampai Mandailing seperti punahnya peradaban Inca (tertawa)

Sejak kapan Anda punya pikiran seperti ini?

Tiap orang tak bisa menghindar dari dinamika daya tarik pemikiran. Dalam analisa berpikir saya sebenarnya amat western, saya menolak segala yang menentang logika, kecuali pengakuan terhadap Tuhan, karena itu butuh kerendahhatian manusia. Saya amat yakin kita jangan hanya menjadi spesialis, harus juga generalis. Kita mesti belajar banyak hal mulai dari filsafat, ilmu logika, ilmu sosial, ekonomi (makro dan mikro), budaya, seni, komunikasi, dan teori-teori pemberdayaan, psikologi juga. Kita semua butuh pengetahuan untuk bisa mengemas sesuatu. Makin efektif pendekatan, makin rendah cost-nya, itu prinsip marketing dalam arti luas (ekonomi, politik, logika, dan lain-lain). Misalnya, kalau seseorang bisa kita tarik simpatinya dengan sapaan yang menenangkan, mengapa harus dengan membayar tiket? Hiduplah dengan lentur, sepanjang tetap pada langkah penguatan potensi diri. Hiduplah dengan banyak tujuan, tak baik terlalu sederhana dalam berpikir.

Hidup seperti itu apa tidak capek?

Jangan bilang capek untuk hidup yang hanya sekali. Itu tidak menghargai hidup namanya. Tuhan memperpanjang umur kita bukan tanpa maksud saya kira. Walaupun alam ini rumit dan semua atas kehendak Tuhan, Tuhan tetap mengenal kita sebagai ciptaannya. Kematian saya kira bukan sekedar takdir, tetapi batas berakhirnya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, jika tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sama artinya dengan mengakhiri hidup kita sendiri.(MO/Holik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengguna jalan harapkan Pemda cepat atasi longsor di Simarrobu.

    Pengguna jalan harapkan Pemda cepat atasi longsor di Simarrobu.

    • calendar_month Sabtu, 20 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Kenderaan terjebak dalam longsor jalan di Desa Simarrobu Kec. Batang Natal. Pengguna  jalan mengharapkan Pemda agar cepat membersihkan material longsor yang tertimbun kejalan.(hol)  

  • Miniatur Gordang Sambilan

    Miniatur Gordang Sambilan

    • calendar_month Kamis, 15 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Dua gadis Mandailing memperlihatkan miniatur Gordang Sambilan di Kampoeng Kaos Madina, Panyabungan, Mandailing Natal. Kampoeng Kaos Madina terus memproduksi kerajinan aksesoris budaya Mandailing dalam upaya memperkenalkan lebih intens kebudayaan Mandailing di Indonesia dan luar negeri. (foto/naskah: Dahlan Batubara)

  • Sebelum Daftar ke KPU, Cabub Harun Ziarah Makam Ulama Terkemuka di Madina

    Sebelum Daftar ke KPU, Cabub Harun Ziarah Makam Ulama Terkemuka di Madina

    • calendar_month Kamis, 29 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA – Mandailing Online : Harun Mustafa Nasution menziarahi makam makam ulama terkemuka sebelum daftar ke KPU Madina sebagai Calon Bupati Madina. Ada beberapa makam yang di ziarahi sejak lepas subuh tadi termasuk makam syeh H. Abdul Hamid di Desa Hutapungkut di Kota Nopan, Makam Syeh H Abdul Wahab Lubis di Muara Mais, dan makam […]

  •  Pengerjaan SPAM dan Sanitasi di Desa Muarapotan Masih Sesuai Target

     Pengerjaan SPAM dan Sanitasi di Desa Muarapotan Masih Sesuai Target

    • calendar_month Kamis, 29 Agt 2024
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    Kota Nopan ( Mandailing Online) : Kapala Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Mandailing Natal( Madina) Iwan Dermawan mengatakan kegiatan Sanitasi di Desa Muarapotan mendapatkan 50 pemasangan Sanitasi. Untuk pengerjaannya sudah masuki progres 25 persen tahap pertama, diperkirakan rampung di bulan 12 sesuai dengan kontrak. Untuk pengerjaan SPAM sendiri progres sudah mencapai 37 persen. Hal ini […]

  • SDM Mumpuni, RSUD Panyabungan Layak Jadi Rujukan

    SDM Mumpuni, RSUD Panyabungan Layak Jadi Rujukan

    • calendar_month Senin, 25 Okt 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sumber daya manusia (SDM) di RSUD Panyabungan dilihat dari keberadaan tenaga medis dan tingkat pendidikan sangat mumpuni sehingga seharusnya sudah layak jadi rumah sakit rujukan di wilayah Tabagsel. Demikian disampaikan Direktur RSUD Panyabungan dr. Rusli Pulungan saat menerima kunjungan Komisi IV DPRD Madina pada Senin (25/10). “RSUD harusnya menjadi pilihan pertama […]

  • Harga Kantalan Naik, Petani Bernafas

    Harga Kantalan Naik, Petani Bernafas

    • calendar_month Jumat, 30 Des 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Petani karet alam mentah (Kantalan) di Mandailing Natal (Madina) mulai bernafas lega akibat harga karet terus merangkak naik dalam sebulan terakhir. Pantauan di Simangambat Kecamatan Siabu, Jum’at (30/12), harga terrendah sekitar Rp8.500 per Kg, tertinggi sekitar Rp9.500. Sementara itu, pantauan di penjualan Desa Gunung Tua Iparbondar Kecamatan Panyabungan, Kamis (29/12) harga […]

expand_less