Sabtu, 12 Sep 2026
light_mode

Wawancara dengan Askolani CEO Tympanum Novem (Bagian II)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 14 Nov 2012
  • print Cetak

Banyak kemajuan yang sudah dicapai Tympanum Novem sejak muncul tahun lalu melalui film perdana Mandailing “Biola Na Mabugang”. Banyak pihak yang menyebutkan bahwa film ini mengawali gerbong dinamika genre baru dalam segmen hiburan di kawasan Mandailing dan bekas daerah Tapanuli Selatan secara umum. Dalam sebuah kesempatan di tengah-tengah penggarapan film “Lilu”, kami menyempatkan wawancara dengan Askolani Nasution, CEO Tympanum Novem.

BAGIAN II


Kenapa baru sekarang ada gerakan model Tympanum?

Saya yakin, bukan hanya kami yang prihatin terhadap kondisi seni budaya kita. Jauh sebelum ini juga sudah muncul berbagai diskursus tentang eksistensi seni budaya Mandailing di kalangan seniman dan budayawan kita, bahkan di lingkungan kelas sosial tertentu. Dulu kita berharap muncul melalui wadah organisasi seniman budayawan daerah. Tapi sampai sekarang tak ada wadah yang representatif semacam itu. Karena itu, kita kumpulkan kawan-kawan seide, dan terbentuklah Tympanum Novem tahun lalu.

Apa sebenarnya yang membuat Anda prihatin?

Nyaris tak ada perhatian kita terhadap pakem seni budaya Mandailing. Budaya misalnya hanya tampak dalam prosesi pesta pernikahan saja. Di luar itu nyaris pudar semua. Ada kecenderungan di hampir setiap etnis dengan makin memudarnya karakteristik lokal dan tanpa disadari ada transformasi yang masif ke bentuk budaya nasional yang diusung media massa. Selain itu, makin banyak ekspansi bahasa Indonesia terhadap bahasa lokal, sehingga tiap hari ada saja idiom bahasa lokal yang digantikan bahasa nasional. Itu ancaman, karena hanya menunggu waktu bahasa-bahasa daerah ini akan punah. Coba saja baca buku-buku berbahasa daerah kita, makin banyak diksi yang tidak kita pahami. Itu pertanda ancaman kepunahan. Ada kematian bahasa. Dan itu diakui dalam ilmu linguistik.

Karena itu Anda menggunakan bahasa Mandailing Klasik dalam Film “Biola Na Mabugang” dan “Tias”?

Benar. Kita berniat menghidupkan kembali bahasa purba itu. Kami kira itu dulu beresiko karena cerita akan sulit dipahami. Ternyata tidak, itu malah memancing keingintahuan anak-anak terhadap muatan maknanya. Bahkan menjadi daya tarik film. Karena bagi sebagian penonton berumur, itu membangkitkan nostalgia ke masa anak-anak. Dan penelitian membuktikan bahwa rata-rata manusia Timur pikirannya lebih terkooptasi terhadap masa lalu dibandingkan masa depan. Itu menjadi salah satu acuan pemasaran bagi banyak bisnis media. Kita harus jeli melihat pangsa pasar ini.

Anda belajar pemasaran juga, ya?

Ya, harus. Sebagus apapun kemasannya, kalau isinya tak mendatangkan daya tarik pasar, tetap gagal namanya. Tiap produk seni budaya harus berorientasi pasar, kalau tidak, kita tidak survive. Bengkel Teater Rendra juga begitu, Putu Wijaya, Arifin C. Noer, Riantiarno, Butet Kertajasa, dan lain-lain. Kalau tidak bagaimana mereka bisa makan. Tentu saja sepanjang kita tetap bisa menjaga dimensi-dimensi pemberdayaan sosialnya, mencerdaskan, ada idealisme, perfeksionis. Jangan juga melulu market oriented seperti sebagian besar produk televisi kita. Itu pelacuran seni namanya. Kita mengeksploitasi seni dan manusia hanya untuk bisa tetap berjuang. Tympanum bergerak dalam ranah itu.

Itu konsep Anda atau konsep Tympanum?

Saya yakin kawan-kawan di Tympanum rata-rata memahami itu. Itu terbukti dari empat produksi yang sudah kita buat. Saya kenal orang-orang Tympanum bukan setahun dua tahun lagi. Aes, Fikri, Ewin saya kenal sebagai seniman murni. Mereka bahkan rela tidak dibayar kalau itu menyangkut penguatan sosial. Dan itu sering kita diskusikan. Kita juga beranjak dari keterbukaan, kejujuran komunual. Tak banyak cingcong. Kalau nyaman, ya kerja; kalau tak nyaman ya keluar. Kita tak mau ribut-ribut soal jasa misalnya. Bukan seniman kalau semua diukur dengan materi, dan bukan seniman kalau bawaannya kasar. Itu mungkin yang bisa menguatkan kita di Tympanum.

Apa target Tympanum sebenarnya?

(Diam sebentar). Kita terlalu banyak keinginan. Ingin ada pakem musik mandailing yang benar-benar tampak karakter Mandailingnya mulai dari ornamen, komposisi, ritme, dan lirik. Kita ingin film Mandailing yang dicintai warganya, yang jelas tampak karakter lokalnya mulai dari bahasa, perwajahan, kostum, hingga ilustrasi musik. Kita ingin menghidupkan kembali idiom dan diksi bahasa Mandailing yang hampir punah. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam ornamen gedung, pola perkampungan, bahkan pemerintahan. Kita ingin karakter Mandailing tampak dalam software berbasis IT. Kita ingin buku-buku yang ber-roh Mandailing. Kita ingin mengukuhkan sejarah perdaban Mandailing.


Revolusi Kebudayaan targetnya?

Kesimpulannya mungkin begitu. Tapi tentu tetap ada orang yang trauma dengan sebutan revolusi karena mungkin mencaman bagi kemapanan tertentu. Itu semua kerja berat dan tak mungkin kami lakukan sendiri. Tapi ada atau tidak dukungan, insya allah tetap kami lakukan. Karena selalu harus ada martir untuk setiap perubahan sosial. Dan akan butuh waktu lama, banyak cobaan, dan lain-lain. Tak apa-apa. Jangan ada pembiaran terhadap keruntuhan budaya kita. Jangan sampai Mandailing seperti punahnya peradaban Inca (tertawa)

Sejak kapan Anda punya pikiran seperti ini?

Tiap orang tak bisa menghindar dari dinamika daya tarik pemikiran. Dalam analisa berpikir saya sebenarnya amat western, saya menolak segala yang menentang logika, kecuali pengakuan terhadap Tuhan, karena itu butuh kerendahhatian manusia. Saya amat yakin kita jangan hanya menjadi spesialis, harus juga generalis. Kita mesti belajar banyak hal mulai dari filsafat, ilmu logika, ilmu sosial, ekonomi (makro dan mikro), budaya, seni, komunikasi, dan teori-teori pemberdayaan, psikologi juga. Kita semua butuh pengetahuan untuk bisa mengemas sesuatu. Makin efektif pendekatan, makin rendah cost-nya, itu prinsip marketing dalam arti luas (ekonomi, politik, logika, dan lain-lain). Misalnya, kalau seseorang bisa kita tarik simpatinya dengan sapaan yang menenangkan, mengapa harus dengan membayar tiket? Hiduplah dengan lentur, sepanjang tetap pada langkah penguatan potensi diri. Hiduplah dengan banyak tujuan, tak baik terlalu sederhana dalam berpikir.

Hidup seperti itu apa tidak capek?

Jangan bilang capek untuk hidup yang hanya sekali. Itu tidak menghargai hidup namanya. Tuhan memperpanjang umur kita bukan tanpa maksud saya kira. Walaupun alam ini rumit dan semua atas kehendak Tuhan, Tuhan tetap mengenal kita sebagai ciptaannya. Kematian saya kira bukan sekedar takdir, tetapi batas berakhirnya kesempatan untuk melakukan sesuatu. Karena itu, jika tidak melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, sama artinya dengan mengakhiri hidup kita sendiri.(MO/Holik)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 65,21 Persen ODGJ Berat di Madina Sudah Dapat Pelayanan

    65,21 Persen ODGJ Berat di Madina Sudah Dapat Pelayanan

    • calendar_month Rabu, 7 Jun 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  jumlah penderita Orang Dengan Gangguan Jiwa Berat (ODGJ) tahun 2022 di Kabupaten Mandailing Natal terdapat 420 orang, Skizoprnia 418 orang, dan Psikotik Acut 2 orang. Sementara pasien yang di Pasung ada 20 orang, namun dari 20 pasien pasung ini terdapat 3 orang pasien pasung Situasional atau (Lepas buka pasung). data ini […]

  • Golkar Madina Tetapkan 5 Calon Bupati

    Golkar Madina Tetapkan 5 Calon Bupati

    • calendar_month Sabtu, 14 Des 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rapat Pleno diperluas DPD Partai Golkar Madina, Sabtu (14/12/2019) menetapkan 5 calon bupati Madina yang akan diajukan ke DPD Golkar Sumut. Kelima calon itu adalah H. Aswin Parinduri, M. Sofwat Nasution, Dahlan Hasan Nasution, Indra Porkas Lubis dan Ahmad Huzein Nasution. Rapat pleno diperluas itu berlangsung di D’San Hotel, […]

  • Antisipasi Kelangkaan Gas LPG, Pemkab Madina Surati Distributor dan Pangkalan

    Antisipasi Kelangkaan Gas LPG, Pemkab Madina Surati Distributor dan Pangkalan

    • calendar_month Sabtu, 29 Mar 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Mengantisipasi kelangkaan gas LPG 3Kg bersubsidi menjelang dan hari lebaran, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumut sudah menyurati para Distributor/Agen dan Pangkalan agar tidak melakukan hal-hal diluar ketentuan. Surat itu nomor 510/171/DISDAG/2025 tanggal 27 Maret 2025 prihal Ketersediaan Gas LPG 3Kg Bersubsidi ditujukan kepada para Distributor/Agen dan Pangkalan Gas LPG 3Kg […]

  • KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    KPU Tetapkan Hasil: Saipullah-Atika Menang

    • calendar_month Rabu, 4 Des 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) menetapkan perolehan suara pasangan calon (Paslon) pada pemilihan bupati dan wakil bupati Madina, Selasa (3/12/2024) pukul 22.15 Wib di aula kantor KPU Madina. Hadir dalam penetapan perolehan suara Paslon yakni, lima orang komisioner termasuk Ketua KPU Madina Muhammad Ikhsan Matondang, Ketua Bawaslu Madina […]

  • Ini Langkah PUPR Madina untuk Mengembalikan Produktivitas Lahan Pertanian

    Ini Langkah PUPR Madina untuk Mengembalikan Produktivitas Lahan Pertanian

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Agar lahan pertanian bisa kembali produktif dan pemukiman masyarakat terhindar dari bahaya banjir, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Mandailing Natal akan melaksanakan beberapa pekerjaan baik untuk rehabilitasi jaringan irigasi maupun rehabilitasi tanggul sungai yang akan direalisasikan di akhir tahun 2025 ini, Dimana ada […]

  • Partisipasi Pemuda Dalam Percepatan Pembangunan di Mandailing Natal

    Partisipasi Pemuda Dalam Percepatan Pembangunan di Mandailing Natal

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Maradotang Pulungan   Baik buruknya suatu bangsa dilihat dari kualitas pemudanya. Tergantung pada karakter dan moral pemudanya. Sampai-sampai untuk menggambarkan betapa berharganya pemuda sebagai aset suatu bangsa, Presiden Soekarno pernah mengatakan “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncangkan dunia”. Pemuda adalah simbol kekuatan, masa depan dan harapan suatu bangsa. Pemuda memiliki tipe […]

expand_less