Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

PELESTARIAN WARISAN BUDAYA MANDAILING (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
  • print Cetak

Oleh: Z Pengaduan Lubis

Bangsa Mandailing, suku bangsa Mandailing atau kelompok etnis (ethnic group) Mandailing adalah salah satu dari sekain ratus suku bangsa penduduk asli Nusantara. Dari zaman dahulu sampai sekarang suku bangsa tersebut turun-temurun mendiami wilayah etnisnya sendiri yang terletak di Provinsi Sumatra Utara.

Menurut tradisinya orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya itu “Tano Rura Mandailing” yang artinya ialah tanah lembah Mandailing. Tapi namanya yang populer sekarang ialah Mandailing, sama dengan nama suku bangsa yang mendiaminya.

Masyarakat Mandailing merupakan masyarakat agraris yang patrilineal. Sebagian besar warganya bertempat tinggal di daerah pendesaan dan hidup sebagai petani dengan mengolah sawah dan mengerjakan kebun karet, kopi, kulit manis, dsb.

Eksistensi masyarakat Mandailing sebagai suku bangsa atau kelompok etnis diperlihatkan dan dikukuhkan oleh kenyataan bahwa masyarakat Mandailing mempunyai kesatuan kebudayaan dan juga bahasa sendiri yang membuatnya berbeda atau dapat dibedakan dari suku bangsa yang lain. Dan juga karena warga masyarkat Mandailing menyadari adanya identitas dan kesatuan kebudayaan mereka sendiri yang membuat mereka (merasa) berbeda dari warga masyarakat yang lain.

Secara historis, eksistensi atau keberadaan suku bangsa Mandailing didukung oleh kenyataan disebut nama Mandailing dalam puluh atau syair ke-13 kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Prapanca sekitar tahun 1365 (abad ke-14). Dalam hal ini, Said (tanpa tahun:9) antara lain mengemukakan bahwa “teks sair ke-13 Negarakertagama tersebut dalam huruf Latin bahasa Kawi, dapat dikutip sebagian sebagai berikut:

“Lwir ning nuasa pranusa pramuka sakahawat kaoni
ri Malayu/ ning Jambi mwang Palembang i Teba
len Darmmacraya tumut/ Kandis, Kahwas Manangkabwa
ri Siyak i Rekan Kampar mwang Pane/
Kampe Haru athawa Mandahiling i Tumihang Perlak
mwang i Barat//”

Seperti terlihat pada teks tersebut ekspansi Majapahit ke Malaya (Sumatra) merata sejak dari Jambi, Palembang, Muara Tebo, Darmasraya, Haru, Mandahiling, jelasnya Mandailing. Meperhatikan bahwa nama Mandailing tidak ada duanya di Indonesia, maka yang dimaksud tidak lain dari Mandailing yang lokasinya di Tapanuli Selatan. Demikian dikemukan oleh Said.

BUDAYA MANDAILING
Sistem sosial, adat istiadat dan pemerintahan dalam waktu yang terbatas tentu tidak dapat membicarakan budaya Mandailing secara keseluruhan. Oleh karena itu yang akan dibicarakan pada kesempatan ini hanyalah sebagian kecil dari unsur dan aspeksnya saja.

Meskipun sudah banyak terjadi perubahan, tapi sampai saat ini, dalam struktur masyarakat Mandailing yang patrilineal terdapat kelompok-kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah (blood ties) dan hubungan perkawinan (affinial ties). Kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah, oleh orang Mandailing dinamakan marga (clan). Hubungan kekerabatan (kinship) antara orang-orang Mandailing dalam satu marga disebut kahanggi (abang-adik).

Kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan perkawinan (affinal ties) terdiri dari dua bagian, yaitu kelompok kerabat pemberi anak gadis dalam perkawinan (bride giver) yang dinamakan mora dan kelompok kerabat penerima anak gadis (bride receiver) yang dinamakan anak boru.

Dengan demikian dalam masyarakat Mandailing terdapat tiga kelompok kekerabatan (kingrous), yaitu mora, kahanggi (orang-orang yang se-marga atau yang punya hubungan kekerabatan berabang-adik) dan anak boru. Ketiga kelompok kekerabatan tersebut digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai komponen tumpuan untuk sistem sosialnya yang dinamakan Dalian Natolu (tumpuan yang tiga).

Sistem sosial yang dinamakan Dalian Natolu itu berfungsi sebagai mekanisme untuk melaksanakan adat dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Perwujudan pelaksanaan adat yang menggunakan sistem sosial Dalian Natolu sebagai mekanismenya dapat dilihat pada waktu penyelenggaraan upacara adat.

Dalam masyarakat Mandailing suatu upacara adat hanya dapat diselengarakan jika didukung bersama oleh mora, kahanggi dan anak boru yang berfungsi sebagai tumpuan atau komponen sistem Dalian Natolu. Kalau salah satu di antaranya tidak ikut mendukung, maka dengan sendirinya upacara adat tidak boleh atau tidak dapat diselenggarakan.

Keadaan yang demikian itu menunjukkan dan membuktikan bahwa dalam kehidupan masyarakat Mandailing adat dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial Dalian Natolu. Oleh karena itu, adat masyarakat Mandailing disebut adat Dalian Natolu.

Dasar dari adat Dalian Natolu sebagai pranata hidup masyarakat Mandailing ialah olong (cinta dan kasih sayang) dan domu (keakraban). Olong (cinta dan kasih sayang) antara sesama manusia melahirkan domu (keakraban) antara satu sama lain. Adanya domu (keakraban) antara manusia membuktikan bahwa mereka hidup dengan olong (cinta dan kasih sayng).

Untuk membuat olong (cinta dan kasih sayang) dan domu (keakraban) menjelma atau terwujud dalam kehidupan masyarakat Mandailing, diciptakan adat yang dilandasi oleh “Patik” (ketentuan-ketentuan dasar atau komandemen). Adat diisi dengan “Uhum” (kaidah-kaidah dan hukum).

Dan dalam kehidupan masyarakat Mandailing adat harus dijalankan menurut “Ugari” (tata cara pelaksanaan adat) dengan menggunakan satu sistem sosial yang dinamakn Dalian Natolu (Tumpuan Yang Tiga) sebagai mekanismenya. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • LHKPN Saipullah Sah, Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    LHKPN Saipullah Sah, Rekomendasi Bawaslu Cacat Hukum

    • calendar_month Selasa, 26 Nov 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) resmi menindaklanjuti surat rekomendasi Bawaslu Madina nomor 098/PP.00.02/K.SU-11/11/2024 perihal pelanggaran administratif Paslon nomor urut 2, Saipullah Nasution dan Atika Azmi Utammi (SAHATA) , Senin (25/11/2024). Dalam menindaklanjuti surat rekomendasi Bawaslu, KPU Madina mengeluarkan jawaban dengan nomor surat 1512/PL.03.3-SD/1213/2/2024. Poin ketiga nomor tiga […]

  • Putra Mandailing Natal Ikuti Pameran Kaligrafi Internasional

    Putra Mandailing Natal Ikuti Pameran Kaligrafi Internasional

    • calendar_month Jumat, 15 Apr 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PADANGSIDIMPUAN (Mandailing Online) – Salah satu putra Mandailing Natal (Madina) Drs. Mukti Hidayatullah Nasution, MM, akan mengikuti Pameran Kaligrafi Kontemporer Internasional. Pameran yang diselenggarakan oleh Pusat pengkajian dan pengembangan Islam Jakarta (Jakarta Islamic Centre) ini mengusung tema “The Power of Quran” dengan diikuti oleh 26 negara, antara lain Saudi Arabia, Kuwait, Syiria, India, Amerika, Inggris, […]

  • 2 Oknum PNS Teror Remaja Ternyata Kasubbag

    • calendar_month Jumat, 31 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 3Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dua tersangka PNS yang ditangkap polisi karena meneror dan memeras remaja, selama ini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian (Kasubbag) di Pemkab Madina. Sekretaris Daerah Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Daud Batubara menjawab wartawan, Kamis (30/5/2013) menyatakan kedua tersangka tercatat sebagai Kasubbag di instansi yang berbeda. Kedua tersangka, yakni IA (bukan IE-Red) adalah […]

  • Wabup Atika: Saya Masih Harus Belajar dan Butuh Doa Masyarakat

    Wabup Atika: Saya Masih Harus Belajar dan Butuh Doa Masyarakat

    • calendar_month Kamis, 18 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution mengaku masih harus belajar banyak hal dan butuh doa masyarakat agar istiqamah dalam mengemban amanah memimpin Madina. Hal itu Atika utarakan pada laman facebook-nya Atika Azmi Utammi pada Kamis (18/11) malam. “Saya sadar masih banyak yang perlu saya pelajari dalam mengambil langkah […]

  • Massa Demo ke DPRD Madina, Menyegel 3 Ruangan Fraksi

    Massa Demo ke DPRD Madina, Menyegel 3 Ruangan Fraksi

    • calendar_month Kamis, 27 Sep 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ratusan elemen masyarakat Mandailing Natal (Madina) yang tergabung dalam Forum Masyarakat Penyelamat Madina berunjukrasa ke DPRD Madina, Rabu (27/9), menuntut agar segera mungkin lembaga wakil rakyat menghentikan kisruh politik karena sudah membahayakan daerah. Aksi demo ini berlangsung disaat belum mulainya rapat paripurna DPRD Madina akibat belum cukup quorum. Kelompok 18 terdiri […]

  • Kapoldasu: Nilai Investasi di Daerah Ini akan Meningkat

    Kapoldasu: Nilai Investasi di Daerah Ini akan Meningkat

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Palas – Kantor Polres Padanglawas mulai dibangun di atas lahan seluas 5 hektare (Ha). Pembangunan ditandai peletakan batu pertama oleh Kapoldasu Irjen Pol Drs Eko Hadi Sutedjo SH MSi, Senin (24/11) di Desa Siborna Bunut, Kecamatan Sosa. Tanah tersebut merupakan hibah dari Pemkab Palas yang sebelumnya dihibahkan PT PHG. Irjen Pol Drs Eko Hadi Sutedjo […]

expand_less