Rabu, 22 Jul 2026
light_mode

PELESTARIAN WARISAN BUDAYA MANDAILING (1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 5 Apr 2014
  • print Cetak

Oleh: Z Pengaduan Lubis

Bangsa Mandailing, suku bangsa Mandailing atau kelompok etnis (ethnic group) Mandailing adalah salah satu dari sekain ratus suku bangsa penduduk asli Nusantara. Dari zaman dahulu sampai sekarang suku bangsa tersebut turun-temurun mendiami wilayah etnisnya sendiri yang terletak di Provinsi Sumatra Utara.

Menurut tradisinya orang Mandailing menamakan wilayah etnisnya itu “Tano Rura Mandailing” yang artinya ialah tanah lembah Mandailing. Tapi namanya yang populer sekarang ialah Mandailing, sama dengan nama suku bangsa yang mendiaminya.

Masyarakat Mandailing merupakan masyarakat agraris yang patrilineal. Sebagian besar warganya bertempat tinggal di daerah pendesaan dan hidup sebagai petani dengan mengolah sawah dan mengerjakan kebun karet, kopi, kulit manis, dsb.

Eksistensi masyarakat Mandailing sebagai suku bangsa atau kelompok etnis diperlihatkan dan dikukuhkan oleh kenyataan bahwa masyarakat Mandailing mempunyai kesatuan kebudayaan dan juga bahasa sendiri yang membuatnya berbeda atau dapat dibedakan dari suku bangsa yang lain. Dan juga karena warga masyarkat Mandailing menyadari adanya identitas dan kesatuan kebudayaan mereka sendiri yang membuat mereka (merasa) berbeda dari warga masyarakat yang lain.

Secara historis, eksistensi atau keberadaan suku bangsa Mandailing didukung oleh kenyataan disebut nama Mandailing dalam puluh atau syair ke-13 kitab Nagarakretagama yang ditulis oleh Prapanca sekitar tahun 1365 (abad ke-14). Dalam hal ini, Said (tanpa tahun:9) antara lain mengemukakan bahwa “teks sair ke-13 Negarakertagama tersebut dalam huruf Latin bahasa Kawi, dapat dikutip sebagian sebagai berikut:

“Lwir ning nuasa pranusa pramuka sakahawat kaoni
ri Malayu/ ning Jambi mwang Palembang i Teba
len Darmmacraya tumut/ Kandis, Kahwas Manangkabwa
ri Siyak i Rekan Kampar mwang Pane/
Kampe Haru athawa Mandahiling i Tumihang Perlak
mwang i Barat//”

Seperti terlihat pada teks tersebut ekspansi Majapahit ke Malaya (Sumatra) merata sejak dari Jambi, Palembang, Muara Tebo, Darmasraya, Haru, Mandahiling, jelasnya Mandailing. Meperhatikan bahwa nama Mandailing tidak ada duanya di Indonesia, maka yang dimaksud tidak lain dari Mandailing yang lokasinya di Tapanuli Selatan. Demikian dikemukan oleh Said.

BUDAYA MANDAILING
Sistem sosial, adat istiadat dan pemerintahan dalam waktu yang terbatas tentu tidak dapat membicarakan budaya Mandailing secara keseluruhan. Oleh karena itu yang akan dibicarakan pada kesempatan ini hanyalah sebagian kecil dari unsur dan aspeksnya saja.

Meskipun sudah banyak terjadi perubahan, tapi sampai saat ini, dalam struktur masyarakat Mandailing yang patrilineal terdapat kelompok-kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah (blood ties) dan hubungan perkawinan (affinial ties). Kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan darah, oleh orang Mandailing dinamakan marga (clan). Hubungan kekerabatan (kinship) antara orang-orang Mandailing dalam satu marga disebut kahanggi (abang-adik).

Kelompok kekerabatan yang dibentuk berdasarkan hubungan perkawinan (affinal ties) terdiri dari dua bagian, yaitu kelompok kerabat pemberi anak gadis dalam perkawinan (bride giver) yang dinamakan mora dan kelompok kerabat penerima anak gadis (bride receiver) yang dinamakan anak boru.

Dengan demikian dalam masyarakat Mandailing terdapat tiga kelompok kekerabatan (kingrous), yaitu mora, kahanggi (orang-orang yang se-marga atau yang punya hubungan kekerabatan berabang-adik) dan anak boru. Ketiga kelompok kekerabatan tersebut digunakan oleh masyarakat Mandailing sebagai komponen tumpuan untuk sistem sosialnya yang dinamakan Dalian Natolu (tumpuan yang tiga).

Sistem sosial yang dinamakan Dalian Natolu itu berfungsi sebagai mekanisme untuk melaksanakan adat dalam kehidupan masyarakat Mandailing. Perwujudan pelaksanaan adat yang menggunakan sistem sosial Dalian Natolu sebagai mekanismenya dapat dilihat pada waktu penyelenggaraan upacara adat.

Dalam masyarakat Mandailing suatu upacara adat hanya dapat diselengarakan jika didukung bersama oleh mora, kahanggi dan anak boru yang berfungsi sebagai tumpuan atau komponen sistem Dalian Natolu. Kalau salah satu di antaranya tidak ikut mendukung, maka dengan sendirinya upacara adat tidak boleh atau tidak dapat diselenggarakan.

Keadaan yang demikian itu menunjukkan dan membuktikan bahwa dalam kehidupan masyarakat Mandailing adat dan pelaksanaannya tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial Dalian Natolu. Oleh karena itu, adat masyarakat Mandailing disebut adat Dalian Natolu.

Dasar dari adat Dalian Natolu sebagai pranata hidup masyarakat Mandailing ialah olong (cinta dan kasih sayang) dan domu (keakraban). Olong (cinta dan kasih sayang) antara sesama manusia melahirkan domu (keakraban) antara satu sama lain. Adanya domu (keakraban) antara manusia membuktikan bahwa mereka hidup dengan olong (cinta dan kasih sayng).

Untuk membuat olong (cinta dan kasih sayang) dan domu (keakraban) menjelma atau terwujud dalam kehidupan masyarakat Mandailing, diciptakan adat yang dilandasi oleh “Patik” (ketentuan-ketentuan dasar atau komandemen). Adat diisi dengan “Uhum” (kaidah-kaidah dan hukum).

Dan dalam kehidupan masyarakat Mandailing adat harus dijalankan menurut “Ugari” (tata cara pelaksanaan adat) dengan menggunakan satu sistem sosial yang dinamakn Dalian Natolu (Tumpuan Yang Tiga) sebagai mekanismenya. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Konsistensi Atika Menyelamatkan Anak-Anak dari Judi Online dan Narkoba

    Konsistensi Atika Menyelamatkan Anak-Anak dari Judi Online dan Narkoba

    • calendar_month Jumat, 25 Okt 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Awal Juni 2024, bertempat di Desa Muara Mais, dalam acara Festival Permainan Leluhur dan Pemberian Makanan Tambahan kepada Anak-anak dan Balita se-Kecamatan Tambangan, Atika Azmi Utammi Nasution memulai kampanye pembatasan ponsel pada anak. Atika, saat itu belum cuti sebagai wakil bupati, menyampaikan keresahannya terhadap maraknya judi daring (judi online), pornografi, […]

  • Jalan di Panyabungan Barat Hancur

    Jalan di Panyabungan Barat Hancur

    • calendar_month Senin, 30 Mei 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN BARAT ( Mandailing Online) – Kondisi jalan di Panyabungan Barat sekarang ini cukup memperihatinkan karena terdapat banyak lobang-lobang di tengah badan jalan, untuk itu masyarakat sangat mengharapkan uluran tangan Pemda Madina maupun anggota DPRD yang berasal dari Dapil I. Seperti yang disebutkan oleh salah seorang tokoh masyarakat Panyabungan Barat kepada Mandailing Online di warung […]

  • Kepdes Sibanggor Julu Ralat Pernyataannya Tentang Atika Tak Temui Warga Pasca Insiden SMGP

    Kepdes Sibanggor Julu Ralat Pernyataannya Tentang Atika Tak Temui Warga Pasca Insiden SMGP

    • calendar_month Jumat, 16 Sep 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kepala Desa Sibanggor Julu, Awaluddin Nasution, Jum’at (16/9/2022) mengklarifikasi tentang pernyataannya di media massa yang menyatakan Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi – selaku ketua Tim Investigasi – tidak pernah datang menemui warga di Sibanggor Julu pasca semburan gas di  PT SMGP yang terjadi 24 April 2022. Namun, fakta yang […]

  • Aneh, Lurah Longat Tidak Pegang RAB dan Keterangan Berubah-ubah

    Aneh, Lurah Longat Tidak Pegang RAB dan Keterangan Berubah-ubah

    • calendar_month Senin, 22 Nov 2021
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    LONGAT (Mandailing Online) – Keanehan terus bermunculan pada penganggaran Dana Kelurahan Longat tahun 2021. Terbaru adanya pengakuan Lurah Longat Mukhlis Nasution yang tidak memegang RAB Dana Kelurahan. Padahal sesuai dengan Permendagri Nomor 130 tahun 2018 pasal 12 ayat 1 menyebutkan “Kepala daerah menetapkan lurah selaku Kuasa Pengguna Anggaran untuk melaksanakan kegiatan pembangunan sarana dan prasarana […]

  • Demo di Polres, Mahasiswa Anggap Polisi Lemah Ke Penambang Emas Ilegal di Madina

    Demo di Polres, Mahasiswa Anggap Polisi Lemah Ke Penambang Emas Ilegal di Madina

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Berdemo di depan mako Polres Madina Puluhan Mahasiswa dari berbagai organisasi mahasiswa meminta polisi mengamankan pelaku ilegal mining di Madina, pasalnya akan merugikan masyarakat sekitar. “Kami mendesak agar pihak Polres Madina segera menertipkan segala aktivitas pertambangan emas ilegal yang dilakukan oleh oknum oknum yang tak bertanggung jawab di Muara Batang […]

  • Panyabungan Ibu Kota Kabupaten (bagian 2)

    Panyabungan Ibu Kota Kabupaten (bagian 2)

    • calendar_month Kamis, 15 Okt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Kota Multi Etnis Oleh : Basyral Hamidi Harahap Sejarahwan Mandailing Pusat Kebudayaan Sejarah tamaddun, peradaban, mencatat bahwa sungai adalah sarana peradaban yang tinggi. Sarana itu dimiliki oleh kota Panyabungan yaitu beberapa sungai: Batang Gadis, Aek Pohon, Aek Mata, dan Aek Rantopuran yang mengaliri areal persawahan yang sangat luas di bagian barat Panyabungan. Keadaan alam […]

expand_less