Sabtu, 13 Jun 2026
light_mode

Hidup Sulit Akibat Harga Karet Murah, Anak-Anak Ikut Mendulang Emas

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 22 Okt 2015
  • print Cetak

 

KOTANOPAN (Mandailing Online) – Kesulitan hidup ditengah rendahnya harga karet, menyebabkan akan-anak harus ikut mengais rezeki menutupi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Ini di Desa Tombang Bustak, Kotanopan, Mandailing Natal Madina). Kalangan anak-anak, remaja, wanita dan para kepala keluarga, berbaur di antara bongkahan batu dan pasir untuk mencari biji emas di Sungai Batang Gadis.

Selama ini penduduk setempat dan mayoritas warga Madina menggantungkan pendapatan keluarga dari komoditi karet, tetapi akibat harga karet yang jatuh dalam beberapa tahun terkahir menyebabkan mayoritas warga Madina kalang kabut akibat pendapatan dari penjualan karet alam tak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.

Warga Tombang Bustak memperoleh peluang mendapatkan bijih emas dengan cara mendulang pasir di badan Sungai Batang Gadis yang dikeruk alat berat milik PT. Tamiang Karya guna keperluan material bangunan.

Pantuan Mandailing Online, Kamis (21/10), sejak pagi hari saat alat berat mulai beraksi untuk memuat material batu dan pasir ke dalam dump truk, puluhan warga sudah menunggu di sekitar lokasi. Masing-masing di antara mereka  membawa ember, goni plastik tempat manampung pasir. Usai alat berat memuat bahan material ke atas dump truk, sang operator pun mengumpulkan pasir untuk warga.

Tidak berselang lama, wargapun  berebut  mengambil pasir. Pasir itu didulang  untuk memilah biji emas dari biji pasir.

Pendapatan warga bervariasi. Mulai dari 10.000 hingga 300.000 rupiah per hari. Tergantung nasib baik.

Semakin siang, warga yang ikutpun semakin banyak, sebab usai pulang sekolah anak-anak di wilayah ini pun akan ikut mendulang biji emas.

Rusli, salah seorang warga yang ikut mendulang, mengatakan, dirinya sudah hampir dua bulan ikut serta mencari emas di sungai itu.

“Hasil yang didapatkan pun bervariasi, terkadang hanya 50 ribu, bisa 100. Ribu, bahkan pernah 300 ribu, tapi kadang tidak ada sama sekali,” ungkapnya.

Diakuinya, dirinya ikut mencari emas  karena rendahnya harga karet. “Harga karet lagi murah, tidak mencukupi kebutuhan, kita terpaksa mencari pekerjaan alternatif. Keberadaan alat berat ini sangat membantu bagi warga di daerah ini, usai memuat material pasir dan batu ke atas dump truk, si operator mengumpulkan  material pasir dan batu untuk warga,” ucapnya.

Sementara itu, Habibi (12) seorang anak yang ikut mendulang mengatakan ikut mencari emas untuk menambah uang saku dan uang sekolah.

“Untuk menambah uang saku dan uang sekolah, lumayan sehari bisa mencapai  20.000 sampai 50.000.  Setiap pulang sekolah kami datang kemari. Kalau hasilnya banyak, terkadang ditabungkan. Sedangkan orangtua tidak melarang sama sekali,” ujarnya.

Dia harus ikut dengan teman sebayanya mendulang emas, karena orang tua sudah tak mampu memberi uang untuk transportasi dan keperluan sekolah akibat rendahnya pendapatan orang tuanya dari pekerjaan menderes pohon karet.

Peliput    : Lokot Husda Lubis
Editor     : Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jalan Rusak Parah di Hutabargot

    Jalan Rusak Parah di Hutabargot

    • calendar_month Rabu, 10 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    HUTABARGOT (Mandailing Online) – Jalan raya Kecamatan Hutabargot, Mandailing Natal, rusak parah, sulit dilalui kenderaan. Pantauan Mandailing Online, Rabu (10/4/2019), badan jalan di titik Desa Huta Bargot Dolok hingga Huta Bargot Nauli kondisinya rusak parah. Aspalnya nyaris tak terlihat lagi menyisakan bebatuan dan tanah. Berdasar keterangan warga, kondisi itu sudah lebih dua tahun, menyebabkan sulitnya […]

  • Tes Paet Pake Sendok

    Tes Paet Pake Sendok

    • calendar_month Sabtu, 8 Jan 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Serial Lopo si Kodir Nisuratkon: Askolani Nasution   Pupu tatap tu jae, tatap tu julu, lek naso dong kalak ro. Marsak roa si Kodir. Olo, marlopo ibantong, ngadong na ro. Nga he marsak iba i? Goreng manyogoti pe lek dursat soni di talam nai. Taru pisang sitambatu na malamun tu muse. Melel doma songon parpibir […]

  • Keterlibatan dalam Politik Kewajiban Setiap Muslim

    Keterlibatan dalam Politik Kewajiban Setiap Muslim

    • calendar_month Rabu, 13 Okt 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam Dosen dan Pengamat Politik Politik merupakan istilah yang masih dianggap sensitif oleh umat Islam mayoritas. Bahkan aktivitas politik juga kerap dipandang sebagai perbuatan yang buruk dan kotor. Pemahaman seperti itu muncul tidak lepas dari fakta yang terlihat dari perilaku para politisi sekarang yang menggandrungi ideologi sekuler-kapitalis maupun sosialis-komunis. Ditengah-tengah hingar bingar […]

  • Urus Surat Rekomendasi Berjualan Bensin Eceran

    Urus Surat Rekomendasi Berjualan Bensin Eceran

    • calendar_month Kamis, 11 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Pengecer Harus Setor Rp200 Ribu ke Camat MADINA- Sejumlah pedagang bensin eceran di Kecamatan Natal dan Muara Batang Gadis, Kabupaten Madina, mengaku memberikan uang sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu kepada camat. Uang itu untuk biaya pengurusan surat rekomendasi atau keterangan usaha. Hal ini disampaikan Irfan Nasution, kepada METRO, Rabu (10/8). Irfan merupakan pedagang eceran […]

  • LABRN Surati Bupati Madina Terkait Pt PSU Unit Patiluban

    LABRN Surati Bupati Madina Terkait Pt PSU Unit Patiluban

    • calendar_month Minggu, 30 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online ): Karena belum melaksanakan kewajiban membangun kebun plasma kepada masyarakat Natal, Kecamatan Natal, Kabupaten Mandailing Natal( Madina) sebesar 20% seperti diamanatkan Undang-undang. Lembaga Adat Budaya Ranah Natal ( LABRN ) mengajukan surat permohonan penangguhan proses perpanjangan HGU PT. PSU ( pt Perkebunan Sunatera Utara ) ke Bupati Mandailing Natal. Surat itu […]

  • Membangun Kembali Koperasi Pertanian, Perlukah?

    Membangun Kembali Koperasi Pertanian, Perlukah?

    • calendar_month Jumat, 1 Jun 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Rizki Puspita Dewanti Mahasiswa Pascasarjana Magister Sains Agribisnis IPB   Meninjau kembali koperasi Indonesia masa Orde Lama Vs Orde Baru Secara konstitusi, Indonesia memberikan ruang yang sangat luas pada gerakan koperasi. Koperasi juga diyakini sangat sesuai dengan budaya dan tata kehidupan bangsa Indonesia. Pada masa Orde Lama, koperasi di Indonesia khususnya koperasi pertanian […]

expand_less