Sabtu, 5 Sep 2026
light_mode

Penggalangan Infaq Biaya Berobat Aldi Suphandi, Santri Berprestasi Terancam Amputasi

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 27 Sep 2016
  • print Cetak

Catatan : Damra Tua Parlindungan Siregar, SHI
                (wali kelas Aldi Suphandi Hasibuan)

Aldi Suphandi (kiri), Damra Tua Parlindungan Siregar menyerahkan sumbangan MDI kepada orang tua Andi Suphandi, Marwan Hasibuan. Turut menyaksikan wakil ketua Organisasi Pelajar Ma’had Darul Ikhlash, Anwar Syadad dan anggota tim relawan, Muhammad Fahim Nala (19/9/2016)

Aldi Suphandi (kiri), Damra Tua Parlindungan Siregar menyerahkan sumbangan MDI kepada orang tua Andi Suphandi, Marwan Hasibuan. Turut menyaksikan wakil ketua Organisasi Pelajar Ma’had Darul Ikhlash, Anwar Syadad dan anggota tim relawan, Muhammad Fahim Nala (19/9/2016)

Setelah membaca berita utama di Malintang Pos dan Mandailing Online, opini publikpun terbentuk.

Opini itu sangat urgen dalam upaya menggalang infaq bagi biaya perobatan Aldi Sphandi Hasibuan, santri cerdas dari keluarga miskin yang kini membutuhkan biaya agar kakinya tak diamputasi.

Awalnya ustadz Muhammad Ilyas Nasution, S.PdI, merilis balik berita. Ustadz yang terkenal piawai membawa berita ini meletakkan lembaran informasi di meja dan tempat strategis. Dengan mudah beritanya disantap dalam sajian pasar pembaca. Kita sebut saja di warung putri ustadz Hudzaifah, yang merupakan ‘gedung’ parlemennya Ma’had Darul Ikhlash, ‘kantor cabang’ dekat kantor koperasi, dan kantor guru sebagai pusat aktivitas pesantren mendapat bagian kopian berita ini.

Suasana perbincangan hangat tercipta tentang Aldi Suphandi. Sekarang kata sepakat didapatkan : “Apa yang mesti diperbuat untuk membantu santri berprestasi yang terancan diamputasi itu?”

Babak cerita Aldi dimulai akhir pekan Juli lalu. Ketika MDI menggelar penyerahan hadiah kepada para juara kelas. Tepuk tangan sahut menyahut terdengar riuh rendah memberi apresiasi kepada para sang juara. Berderet dan berturut dipanggil nama-nama mereka satu persatu menuju beranda kelas, yang dindingnya didominasi cat warna kuning.

Di antara tiang-tiang penyangga atap sekolah, dengan menghadap ke arah santri, suara berat berwibawa Ustadz Nasrullah dari Mompang Jae, terdengar : “Selamat, ananda adalah anak didik yang unggul di kelas, jadilah orang yang mengabdi kepada nusa, bangsa dan agama,” seraya menggengam erat tangan para juara.

Tapi ada yang terasa hambar dalam acara ini, ibarat sambal kentang pokir tanpa cabe dan garam. Atau gulai patayat berupa bulung gadung tanpa ciak-ciak dan rimbangya. Pengumuman Juara Kelas hari itu tidak dihadiri seorang santri. Dia dikenal di antara teman-temannya, kalem, bersahabat dan berprestasi. Dia adalah Aldi Suphandi Hasibuan.

Tiga karakter Istimewa
Santri yang kalem

Kita sebut kalem karena kata mereka dia selalu bersifat tenang bila ayah guru dan ustadz masuk dan mengajar di ruang kelas, tidak seperti teman-temannya yang masih bersifat kekanak-kanakan.

Sebagian teman-temannya masih sering reseh dan rusuh ketika study berlangsung. Maklum, masih kelas 1, baru tamat SD. Tetapi lain halnya dengan santri Aldi, dia berbeda dengan teman-temannya, lebih bersikap dewasa.

Kenapa kita sebut dia bersahabat? Vicky Wijaya, seorang abang kelas, punya kenangan persahabatan dengannya. Vicky (begitu panggilan akrabnya) pernah satu perjalanan di waktu sore hari menuju seberang jalan lintas Sumatera. Bersama teman lainnya meninggalkan lokasi pemondokan putra.Tujuan mereka sama, menikmati es kelapa sambil menonton kendaraan yang lalu lalang berkeliaran di jalan raya.

Memang diakui, es kelapa di warung ini sedap rasanya. Apalagi harganya cukup familiar untuk kalangan santri. Cukup Rp2000 saja, kita sudah bisa menukmati cairan es yang berkolaborasi kelapa muda, dengan menggunakan pipet putih di gelasnya. Mendengar cerita saja, hampir saja tenggorokan kita hilang rasa dahaganya.

“Tapi itu dulu, waktu dia masih bersama kami. Sekarang rasanya ada yang kurang, dia tidak lagi ikut menikmati es kelapa ustadz..!” kenang Vicky saat membeli gorengan buat tambah menu makanannya di warung Ustadz Parlin.

Berprestasi

Aldi adalah santri yang berasal dari Kampung Al-Qur’an, gagasan Bupati Mandailing Natal, Huraba. Sejak namanya dipanggil dalam acara pengumuman juara, dan tidak bisa langsung menerima hadiahnya, telah menjadi cerita diantara civitas Ma’had Darul Ikhlash. Menjadi juara III diatas 38 orang adalah mengagumkan di saat dia kondisi sakit. Kegigihannya memang luar biasa. Pantang menyerah, aktif hadir selama ujian meski menahan rasa sakit. Dan Alhamdulillah, juara tetap bisa diraihnya. Tambahan lagi, sangat rajin mengikuti program tahfidz al-Qur’an.

Penggalangan Dana Masih Maraton

Secara maraton penggalangan dana diadakan dua kali putaran. Kita sebut maraton karena rentang waktu enam bulan Pesantren Darul Ikhlash baru mampu menyumbangkan sekitar Rp 3.280.000. Dengan rincian, tahap pertama Rp1.340.000, sedangkan tahap kedua Rp1.940.000.

Kita paham, sumbangan ini masih kecil dibanding kebutuhan biaya perobatan Aldi. Tapi kitapun juga mafhum, keadaan ekonomi rumah tangga pesantren. Paduan amal saleh santripun paling mampu rata-rata Rp2.000 persiswa. Tambahan lagi, harga bahan baku penghasilan orangtua pun belum memiliki harga lumayan.

Jadi tidak mungkin maraton ini akan cepat sampai ke tujuan. Syukur! Kabar tentang sakitnya Aldi diketahui para alumni. Dengan diarsiteki Saudara Jamaluddin Siregar, alumni Ma’had Darul Ikhlash yang mempersunting idaman hatinya dari Desa Pagaran Tonga, mulai melanjutkan pembangunan opini di media sosial. Hasilnya, lebih dari Rp 1.000.000 dana terkumpul.

Masih menggunakan jejaring media sosial, gerakan kaki masih berjalan dengan terseok-seok. Tetapi akan tetap tegar berjalan hingga sampai dapat menggalang dana buat adiknya Aldi.

Tersebutlah satu nama, Qariamin Dalimunthe. Dia ini salah seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di ibu kota Propinsi Sumatera Utara. Berbekal relasi yang baik dengan Ustadz Muhammad Ilyas Nasution, Amin (sapaan akrabnya) mendapat rekomendasi untuk melangkah di laman dan halaman “rumah” para alumni. Dan buah tangan para alumni lain tetap kita nantikan.

Renungan di Oase

Perjalanan menggalang dana yang cukup melelahkan ini, takkan kenal kata mengeluh. Kata Bung Karno : “Jangan mengeluh, keluh adalah tanda kelemahan jiwa”.  Begitu petuah beliau memberi semangat kepada pemuda Indonesia. Ya, kita akan kuatkan langkah kita. Bangun komunikasi yang bagus. Orang tua Aldi memang sangat membutuhkan uluran tangan kita. Kelak amal yang kita berikan kepada orang lain akan berpulang pada kita. Di sana, di alam akhirat yang kekal adanya, pasti kita dapatkan hasil perjalanannya.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • MERDEKA DI DEPAN ALGORITMA

    MERDEKA DI DEPAN ALGORITMA

    • calendar_month Senin, 3 Agt 2026
    • account_circle Moechtar Nasution
    • 0Komentar

      Oleh: Moechtar Nasution* Penggiat GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Madina)   Pendahuluan Setiap fajar menyingsing hal pertama yang mengetuk kesadaran kita bukanlah derit pintu yang dibuka melainkan membuka telpon selular. Sesuatu yang intim telah berpindah, seakan-akan telepon selular itulah yang menemani malam hingga azan subuh memecah sunyi. Kita hidup di dalam dunia di mana hasrat, […]

  • Gordang Sabilan Ensembel Musik Etnis Terbesar Kedua di Dunia

    Gordang Sabilan Ensembel Musik Etnis Terbesar Kedua di Dunia

    • calendar_month Rabu, 27 Sep 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Gordang Sambilan merupakan ensembel musik etnis terbesar kedua di dunia setelah musik tradisi lain di belahan Benua Afrika. Itu diungkapkan Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina), Jakfar Sukhairi Nasution dalam pidato sambutannya pada pembukaan Festival Gordang Sambilan dan Tor-Tor Mandailing di Taman Raja Batu, Panyabungan, Rabu (27/9/2017). “Gordang sambilan merupakan ensembel […]

  • Iskan Qolba Salurkan Bantuan APD Untuk RSU dan Puskesmas se Tabangsel

    Iskan Qolba Salurkan Bantuan APD Untuk RSU dan Puskesmas se Tabangsel

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota DPR RI dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Iskan Qolba Lubis menyalurkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) ke seluruh RSU dan Puskesmas di kawasan Tapanuli Bagian Selatan (Tabangsel), Sumut. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun, ada 3 Rumah Sakit Umum (RSU) dan 84 Puskesmas kawasan Tabagsel yang menjadi target bantuan Iskan Qolba […]

  • Pemberdayaan Ekonomi Muara Mais: Optimalkan Potensi Lahan untuk Pertanian

    Pemberdayaan Ekonomi Muara Mais: Optimalkan Potensi Lahan untuk Pertanian

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    TAMBANGAN (Mandailing Online) – Masyarakat Desa Muara Mais, Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) menunjukkan semangat dalam meningkatkan perekonomian desa melalui sektor pertanian dan perkebunan. Dengan memanfaatkan lingkungan alam yang subur dan mendukung, warga setempat mengoptimalkan lahan untuk bercocok tanam, terutama komoditas hortikultura dan tanaman perkebunan. Mahasiswa STAIN Madina yang melakukan KKN di desa itu, melaporkan […]

  • Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    Legenda “Seri Bulan, Bujing Sambilan Jogi” di Gua Pastap

    • calendar_month Selasa, 24 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Diceritakan kembali: Askolani Nasution ……………… Cerita ini saya tulis dari kesaksian sesepuh desa di lokasi Gua Pastap, tanggal 6 Desember 2021. Ketika itu saya membawa peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof Dr Obing Katubi dan Tim Literasi dari UMTS. Belum pernah dipublikasikan secara luas. (Askolani Nasution) ………………. Tersebutlah di sebuah luat Tangga Bosi, […]

  • Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    Kemerdekaan RI Atas Ijtihad Para Ulama, Dan Ulama Bersatu Untuk Prabowo

    • calendar_month Jumat, 4 Jul 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ketua Front Ulama Kabupaten Mandailing Natal, KH Abdul Baits Nasution, Lc. MA negara Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan bulan puasa Ramadhan. Kemerdekaan itu menurut KH Abdul Baits berkat perjuangan rakyat dan jihad para ulama. “Dan dengan niat ikhlas mereka, maka diperolehlah kemerdekaan. Karena itulah, kita jangan sampai lupa […]

expand_less