Rabu, 21 Okt 2026
light_mode

CANDI SIMANGAMBAT, RIWAYATMU KINI

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 12 Okt 2016
  • print Cetak

Catatan Ringkas : Askolani Nasution
Ketua Pendiri Gerep Institute

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Candi Simangambat diyakini telah ada sejak abad ke-9 masehi dari masa Hindu-Budha klasik. Lebih tua dari candi-candi lainnya di kawasan Mandailing, misalnya Candi Bahal atau Candi Portibi yang selama ini lebih populer di wilayah bekas kabupaten Tapanuli Bagian Selatan. Kawasan candi di Padang Lawas baru dibangun pada abad 11 masehi. Jadi ada rentang waktu 200 tahun setelah candi kawasan Simangambat dibangun.

Candi Simangambat menguatkan deskripsi tentang kawasan kebudayaan Mandailing yang tertera dalam Kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 masehi. Candi ini juga membuktikan bahwa penduduk sudah ada yang menatap di kawasan Mandailing yang usianya jauh lebih tua dari klaim tarombo (legenda silsilah) dari etnik Toba. Candi ini juga mementahkan anggapan yang diyakini selama ini bahwa penduduk Mandailing terbentuk dari sebaran penduduk dari Utara yang katanya terjadi pada abad ke-15 masehi.

Berdasarkan penelitian Arie Sudewo dari Balai Arkeologi beberapa tahun lalu, Candi Simangambat memiliki konstruksi yang sama dengan candi Sewu di Jawa Tengah. Candi Sewu sendiri dibangun pada abad delapan masehi. Adanya kesamaan konstruksi itu menimbulkan asumsi berpikir bahwa kebudayaan (dengan tujuh unsurnya) penduduk di sekitar candi Sewu setara dengan kebudayaan penduduk di kawasan Mandailing pada abad yang sama. Dengan begitu, abad ke delapan masehi, Mandailing sudah memiliki peradaban yang tinggi.

Asumsi lainnya, jika candi Sewu memiliki ratusan candi, (sewu sendiri berarti seribu), maka di sekitar Candi Simangambat juga terdapat “banyak” candi lainnya yang belum ditemukan. Asumsi terakhir ini semakin kuat dengan adanya candi “Saba Siabu” dan rangkaian candi yang diyakini tertimbun di sekitar Aek Milas Siabu hingga sepanjang aliran sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk yang mengalir di bawah jembatan Bonandolok.

Dari konstruksinya dan patahan arca “kepala kala”, Candi Simangambat, juga diyakini merupakan pintu gerbang sebelah Barat dari sebuah kerajaan besar. Klaim itu juga menimbulkan asumsi baru bahwa sebelah Timur Candi Simangambat merupakan sebuah kawasan kerajaan besar yang membentang sekurang-kurangnya hingga sepanjang aliran Sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk.

Selain itu, beberapa catatan tentang adanya jejak peradaban yang membentang dari Candi Simangambat hingga ke daerah aliran sungai Barumun juga menimbulkan asumsi baru bahwa kawasan antara Candi Simangambat-aliran Sungai Aek Badan hingga ke arah Utara pernah menjadi pusat peradan besar.

Candi ini pada awalnya dipublikasikan oleh peneliti Belanda, Bosch dan Schintger, tahun 1920. Tahun 2008 dilakukan penelitian oleh tim peneliti Universitas Sumatera Utara. Tahun 2009 kembali dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi Medan. Hasil-hasil penelitian itu dipublikasikan dalam berbagai laporan, termasuk laporan yang amat mendetail dari Arie Sudewo.

Struktur Candi Simangambat masih ditemukan dengan jelas dari susunan batu bata merah di bagian dalam dan batu pasir di bagian luar. Ditemukan juga struktur batu berhias dan patung kepala kala. Pembangunan candi ini dengan bentangan yang luas menimbulkan asumsi besarnya jumlah penduduk kawasan ini pada saat itu. Selain itu, candi dengan ornamen yang khas, menunjukkan tingginya ilmu arsitektur masyarakat sekitar.

Semua asumsi itu tentu saja memerlukan kajian arkeologi dan entografi yang mendalam terutama peran pemerintah daerah dan lembaga pelestarian kebudayaan Mandailing. Sekurang-kurangnya dengan sebuah studi yang mendalam, plus pelestarian, akan mampu menjelaskan secara komprehensif tentang manusia Mandailing di masa lalu, itu yang menjadi kita hari ini. Bukan macam sekarang, semua serba mengambang. Seolah-olah kita yang sekarang ada begitu saja tanpa sejarah yang lengkap.

Lebih buruk lagi lagi kita menganggap bahwa pelestarian budaya itu yang sampai pada tahap menuliskan nilai-nilai adat dan budaya saja, yang implementasinya hanya sebatas pemberian marga, gelar kehormatan, dan prosesi adat lainnya. Tanggung jawab kita hari ini adalah bagaimana mewariskan sejarah dan kebudayaan itu kepada generasi setelah kita, selagi semuanya masih membekas.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • STAIM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru

    STAIM Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru

    • calendar_month Sabtu, 11 Jun 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Sekolah Tinggi Agama Islam Mandailing Natal (STAIM) telah membuka pendaftaran bagi calon mahasiswa baru untuk Tahun Akademik 2016/2017. ”Untuk tahun ini, kita membuka pendaftaran dua gelombang sehingga masyarakat dapat lebih memaksimalkan waktu untuk mendaftarkan putra putriya,” kata Moechtar Nasution, Ketua Panitia Pelaksana Penerimaan dan Penyaringan Mahasiswa didampingi Kasubbag Umum Suandi Batubara, […]

  • Ketua Satma PP Madina Kecam Arogansi Polisi

    Ketua Satma PP Madina Kecam Arogansi Polisi

    • calendar_month Jumat, 15 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Tindakan refresif aparat Polres Mandailing Natal (Madina) terhadap Koordinator Aksi Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Peduli Madina Tan Gozali yang juga Ketua Satma PP Madina pada saat unjuk rasa di Kantor Bupati Madina, Selasa (12/10/2010) lalu, akan dilaporkan ke Prompam Polda Sumatera Utara dan Mabes Polri. Tindakan refresif yang dilakukan aparat kepolisian terhadap Tan Gozali […]

  • MARSIDAO-DAO (episode 4)

    MARSIDAO-DAO (episode 4)

    • calendar_month Selasa, 23 Feb 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Novel Mandailing Naisuratkon : Dahlan Batubara Andos dope torang niari i, ma tarbege sora ni kuhuran ni Si Siti tingon dapur ni bagas i, marsitune-tunean dohot sora ni tarahim tingon masojid, ima namaraek kotu Subuh. Gamok-gamok dope ilala ia mata nia namangkuhuri. Alaklai nia si Imran les namodom dope i amparan parpodoman ni alai i […]

  • Musim Tanam Padi Tiba, PUPR Madina Bersihkan Saluran Irigasi Skunder

    Musim Tanam Padi Tiba, PUPR Madina Bersihkan Saluran Irigasi Skunder

    • calendar_month Rabu, 11 Okt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN ( Mandailing Online )- Kepala Dinas PUPR Kabupaten Mandailing Natal Elpianti Harahap, S.T mengatakan persoalan berkurangnya air irigasi untuk lahan pertanian akan berdampak luas dan rente dan akhirnya menurun produk pertanian berupa gabah dan naiknnya harga beras. ” Semua itu satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara tersediannya air yang cukup, pupuk, pengelolaan lahan pertanian […]

  • Inspektorat : Nasib Kepala Desa Gunungtua Jae di Tangan Rakyat

    Inspektorat : Nasib Kepala Desa Gunungtua Jae di Tangan Rakyat

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Rakyat Desa Gunung Tua Jae, Kecamatan Panyabungan akan menentukan nasib kekuasaan kepala desa mereka. Rakyat yang akan memutuskan sikap apakah masih mempercayai atau memilih mosi tak percaya terhadap kepala desa dalam forum Musyawarah Desa. Itu dikatakan Ketua Tim Pemeriksa Inspektorat Kabupaten Madina, Rahmad Daulay menjawab Mandailing Online di ruang kerjanya, Rabu […]

  • Keluarga Korban Pencabulan Minta Tersangka Serahkan Diri

    Keluarga Korban Pencabulan Minta Tersangka Serahkan Diri

    • calendar_month Senin, 29 Apr 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Keluarga korban meminta tersangka pencabulan di Desa Sopo Batu menyerahkan diri ke polisi. Hal itu ditegaskan Muhammad Nur, ayah korban, warga Desa Sopo Batu, Kecamatan Panyabungan, Madina kepada Mandailing Online di Panyabungan, Senin (29/4/2019) didampiingi kuasa hukum, Subur Siregar,SH. Sebab, tersangka berinisial Ar (23 tahun) yang juga warga Desa Sopo Batu […]

expand_less