Rabu, 22 Apr 2026
light_mode

CANDI SIMANGAMBAT, RIWAYATMU KINI

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 12 Okt 2016
  • print Cetak

Catatan Ringkas : Askolani Nasution
Ketua Pendiri Gerep Institute

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Reruntuhan Candi Siwa di Simangambat

Candi Simangambat diyakini telah ada sejak abad ke-9 masehi dari masa Hindu-Budha klasik. Lebih tua dari candi-candi lainnya di kawasan Mandailing, misalnya Candi Bahal atau Candi Portibi yang selama ini lebih populer di wilayah bekas kabupaten Tapanuli Bagian Selatan. Kawasan candi di Padang Lawas baru dibangun pada abad 11 masehi. Jadi ada rentang waktu 200 tahun setelah candi kawasan Simangambat dibangun.

Candi Simangambat menguatkan deskripsi tentang kawasan kebudayaan Mandailing yang tertera dalam Kitab Negara Kertagama yang ditulis Mpu Prapanca tahun 1365 masehi. Candi ini juga membuktikan bahwa penduduk sudah ada yang menatap di kawasan Mandailing yang usianya jauh lebih tua dari klaim tarombo (legenda silsilah) dari etnik Toba. Candi ini juga mementahkan anggapan yang diyakini selama ini bahwa penduduk Mandailing terbentuk dari sebaran penduduk dari Utara yang katanya terjadi pada abad ke-15 masehi.

Berdasarkan penelitian Arie Sudewo dari Balai Arkeologi beberapa tahun lalu, Candi Simangambat memiliki konstruksi yang sama dengan candi Sewu di Jawa Tengah. Candi Sewu sendiri dibangun pada abad delapan masehi. Adanya kesamaan konstruksi itu menimbulkan asumsi berpikir bahwa kebudayaan (dengan tujuh unsurnya) penduduk di sekitar candi Sewu setara dengan kebudayaan penduduk di kawasan Mandailing pada abad yang sama. Dengan begitu, abad ke delapan masehi, Mandailing sudah memiliki peradaban yang tinggi.

Asumsi lainnya, jika candi Sewu memiliki ratusan candi, (sewu sendiri berarti seribu), maka di sekitar Candi Simangambat juga terdapat “banyak” candi lainnya yang belum ditemukan. Asumsi terakhir ini semakin kuat dengan adanya candi “Saba Siabu” dan rangkaian candi yang diyakini tertimbun di sekitar Aek Milas Siabu hingga sepanjang aliran sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk yang mengalir di bawah jembatan Bonandolok.

Dari konstruksinya dan patahan arca “kepala kala”, Candi Simangambat, juga diyakini merupakan pintu gerbang sebelah Barat dari sebuah kerajaan besar. Klaim itu juga menimbulkan asumsi baru bahwa sebelah Timur Candi Simangambat merupakan sebuah kawasan kerajaan besar yang membentang sekurang-kurangnya hingga sepanjang aliran Sungai Aek Siancing – Aek Badan – dan Aek Sipuruk.

Selain itu, beberapa catatan tentang adanya jejak peradaban yang membentang dari Candi Simangambat hingga ke daerah aliran sungai Barumun juga menimbulkan asumsi baru bahwa kawasan antara Candi Simangambat-aliran Sungai Aek Badan hingga ke arah Utara pernah menjadi pusat peradan besar.

Candi ini pada awalnya dipublikasikan oleh peneliti Belanda, Bosch dan Schintger, tahun 1920. Tahun 2008 dilakukan penelitian oleh tim peneliti Universitas Sumatera Utara. Tahun 2009 kembali dilakukan penelitian oleh Balai Arkeologi Medan. Hasil-hasil penelitian itu dipublikasikan dalam berbagai laporan, termasuk laporan yang amat mendetail dari Arie Sudewo.

Struktur Candi Simangambat masih ditemukan dengan jelas dari susunan batu bata merah di bagian dalam dan batu pasir di bagian luar. Ditemukan juga struktur batu berhias dan patung kepala kala. Pembangunan candi ini dengan bentangan yang luas menimbulkan asumsi besarnya jumlah penduduk kawasan ini pada saat itu. Selain itu, candi dengan ornamen yang khas, menunjukkan tingginya ilmu arsitektur masyarakat sekitar.

Semua asumsi itu tentu saja memerlukan kajian arkeologi dan entografi yang mendalam terutama peran pemerintah daerah dan lembaga pelestarian kebudayaan Mandailing. Sekurang-kurangnya dengan sebuah studi yang mendalam, plus pelestarian, akan mampu menjelaskan secara komprehensif tentang manusia Mandailing di masa lalu, itu yang menjadi kita hari ini. Bukan macam sekarang, semua serba mengambang. Seolah-olah kita yang sekarang ada begitu saja tanpa sejarah yang lengkap.

Lebih buruk lagi lagi kita menganggap bahwa pelestarian budaya itu yang sampai pada tahap menuliskan nilai-nilai adat dan budaya saja, yang implementasinya hanya sebatas pemberian marga, gelar kehormatan, dan prosesi adat lainnya. Tanggung jawab kita hari ini adalah bagaimana mewariskan sejarah dan kebudayaan itu kepada generasi setelah kita, selagi semuanya masih membekas.

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • 49 Rumah di Tagilang Julu Wajib Relokasi

    49 Rumah di Tagilang Julu Wajib Relokasi

    • calendar_month Jumat, 19 Okt 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Sebanyak 49 rumah di Desa Tagilang Julu Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal wajib direlokasi pasca banjir. Itu dikatakan  Camat Muara Batang Gadis, Sahrul Matondang, Kamis (18/10/2018). Rumah wajib relokasi itu diharuskan karena berada di sepanjang jalur rawan banjir yang berasal dari arus Sungai Tagilang. Banjir melanda pemukiman desa […]

  • Indonesia for Sale, Dampak Kebijakan Ala Penguasa Kapitalis

    Indonesia for Sale, Dampak Kebijakan Ala Penguasa Kapitalis

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk menawarkan harga lahan lebih murah bagi perusahaan asing yang ingin berinvestasi di Indonesia. Jokowi ingin harga lahan bisa lebih murah dari negara-negara lain agar Indonesia tak kalah saing. Jokowi menjelaskan jika negara lain memberikan harga tanah 500.000, maka pemerintah Indonesia harus bisa dibawahnya. Jokowi […]

  • Hidayat Minta Dibebaskan

    Hidayat Minta Dibebaskan

    • calendar_month Jumat, 17 Jan 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    MEDAN – Bupati Mandailing Natal (Madina) non aktif Hidayat Batubara meminta kepada majelis hakim Pengadilan Tipikor Medan untuk membebaskan dirinya dari dakwaan serta tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Melalui penasehat hukumnya, John K Azis, dalam pembacaan pledoi (pembelaan) terdakwa membantah telah menyuruh Khairul Anwar untuk meminta fee proyek sebesar Rp1,5 miliar dari kontraktor Surung Panjaitan. Di […]

  • Seorang Polisi Dikeroyok Tiga Pengedar Ganja

    Seorang Polisi Dikeroyok Tiga Pengedar Ganja

    • calendar_month Senin, 12 Mei 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasat Narkoba Polres Mandailing Natal (Madina) AKP Timbul Sihombing menyatakan, Senin (12/5/2014) pihaknya masih terus melakukan penyelidikan kasus pengeroyokan terhadap anggota Satuan Narkoba saat melakukan tugas. “Diduga anggota kita dikeroyok pada saat melakukan penangkapan terhadap pelaku tindak pidana narkotika golongan 1 jenis ganja,” sebutnya menjawab wartawan. Anggota Satuan Narkoba Bripka Frans […]

  • PP Madina Minta Anuar Shah Tetap Ketua PP Sumut

    PP Madina Minta Anuar Shah Tetap Ketua PP Sumut

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan, Ketua Majelis Pengurus Cabang Pemuda Pancasila (MPC PP) Kabupaten Mandailing Natal (Madina) Sahriwan Nasution alias Kocu meminta Anuar Shah alias Aweng tetap menjadi Ketua MPW PP Sumatera Utara Periode 2012-2017. “Alasan kita kenapa meminta Aweng tetap menjadi Ketua MPW PP Sumut antara lain, solidaritas organisasi kepemudaan yang saat ini semakin maju dan berkembang dan […]

  • Pemkab Madina Menuju Layanan Satu Data

    Pemkab Madina Menuju Layanan Satu Data

    • calendar_month Kamis, 10 Feb 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam rangka menuju layanan satu data Indonesia, Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal (Pemkab Madina) menggelar rapat koordinasi di aula kantor Bupati Madina, Parbangunan, Kamis (10/2). Layanan satu data ini nantinya untuk memudahkan masyarakat mengakses setiap informasi yang dikeluarkan oleh pemerintah. Rapat yang dihadiri OPD di lingkungan Pemkab Madina ini dipimpin oleh Sekretaris […]

expand_less