Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Mengenal Bahasa Mandailing (bagian 1)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 17 Nov 2016
  • print Cetak

Oleh: Basyral Hamidi Harahap (in memoriam)

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

Almarhum Basyral Hamidi Harahap

LANGGAM BICARA

Langgam bicara orang Mandailing disebut pantis, irama dan intonasinya disebut landung, lemah lembut dan berirama yang diucapkan dengan nada yang rendah. Cara bertutur seperti ini merupakan pengaruh lingkungan Mandailing yang subur. Banyak pohon dan kurang berangin.

Sehingga dengan suara yang bernada rendah sudah cukup untuk berbicara atau bahkan untuk memanggil orang di kejauhan. Orang juga menyebut langgam bicara orang Mandailing  lambok mangalangoi, lemah lembut namun melagu.

Langgam bicara orang Mandailing juga disebut bergaya diplomatis. Mereka sangat perasa dengan timbang rasa yang kuat, sehingga seringkali mereka tidak mengucapkan kata tidak. Sebagai gantinya mereka mengucapkan kata-kata lain yang bermakna  tidak dengan nada khas ditambah dengan bahasa tubuh.

Langgam bicara orang Barumun, Sosa, Sosopan adalah campuran langgam bicara orang Angkola dan Mandailing. Lingkungannya pun mirip dengan kedua wilayah itu. Orang Mandailing sejak berabad-abad sudah berdiam di wilayah  Barumun, Sosa, dan Sosopan.

Uraian singkat di atas hanya informasi tentang variasi langgam bicara orang Mandailing. Variasi langgam bicara ini sangat terasa apabila kerabat dari berbagai daerah itu hadir dan berbicara dalam forum adat siriaon maupun siluluton.

Selain bahasa percakapan sehari-hari, bahasa daerah Mandailing juga memiliki kata-kata yang hanya dipakai dalam peristiwa dan saat-saat tertentu. Misalnya ada yang disebut bahasa parkapur, yaitu bahasa yang dipakai oleh pawang kapur dalam mencari pohon-pohon kayu kapur besar yang berisi kapur.

Bahasa ini juga dipakai oleh pencari hasil hutan yang memiliki banyak kata tabu di hutan-hutan belantara. Kata kamper atau kamfer atau camphor berasal dari kata kapur itu.

Ada pula bahasa partondung, bahasa tabas dan bahasa andung. Bahasa partondung atau bahasa sibaso dipakai oleh datu untuk melakukan suatu pekerjaan. Bahasa tabas atau bahasa datu dipakai oleh datu berupa mantra-mantra yang dibacanya ketika mengobati orang sakit.

Selain itu ada lagi bahasa bura atau bahasa jampolak yaitu bahasa kasar yang terucap ketika sedang marah atau mengejek. Bahasa puraga yaitu bahasa sehari-hari atau bahasa hasomalon.

Bahasa adat yang dipakai dalam forum-forum adat adalah bahasa sastra yang sarat berisi kata-kata kunci  nilai-nilai budaya. Bahasa aling-alingan yaitu bahasa yang penuh basa-basi, tamsilan atau sindiran, misalnya tamu yang sedang kehausan atau ingin agar minumannya ditambah oleh tuan atau nyonya rumah, maka tamu tersebut mengatakan bahwa udara sangat panas, dan lain-lain.

Bahasa turi-turian yang dipakai oleh penutur kisah-kisah sastra lama yang menggunakan segala gaya bahasa yang ada sesuai dengan jalan ceritanya.  Bahasa turi-turian dapat dipadankan dengan bahasa Dalang dalam pewayangan Jawa dan Sunda.

Bahasa marhata balik semacam bahasa prokem yang membalik, mengubah letak huruf dalam setiap kata, misalnya poso-poso menjadi osop-osop, bayo menjadi oyab, dan lain-lain. Bahasa ini dipakai oleh kelompok tertentu, misalnya remaja.

Penulis pernah mendengar bahasa ini diucapkan secara fasih oleh inang-inang yang berasal dari Tapanuli Selatan yang sedang berdagang di atas kapal dalam pelayaran dari Belawan ke Tanjung Priok.

Mereka naik di Tanjung Pinang dalam rangka perjalanan mereka berdagang Singapura-Jakarta. Secara leluasa mereka  bercakap-cakap dalam bahasa ini  di depan petugas  pabaen yang tidak memahami bahasa sandi itu.

Bahasa andung, merupakan bahasa yang diucapkan dalam suasana perpisahan, misalnya andung seorang gadis sesudah akad nikah ketika hendak meninggalkan orangtuanya menuju rumah suaminya.

Atau andung mencurahkan perasaan duka ketika orangtua atau kerabat meninggal dunia. Bahasa andung sudah jarang diucapkan orang, khususnya andung menangisi orang yang meninggal. Ini merupakan pengaruh ajaran islam yang melarang meratapi orang yang meninggal. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kepala Desa Gunungtua Jae Diadukan ke Polisi

    Kepala Desa Gunungtua Jae Diadukan ke Polisi

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemerintah Desa Gunungtua Jae, Kecamatan Panyabungan, Madina ditengarai tak lagi kapabel. Kepercayaan rakyat kepada Kepala Desa, Mardan Rangkuti terlihat kian menurun. Hari ini, Senin (3/2/2020) warga Gunungtua Jae mengadukan kepala desa mereka ke Polres Madina. Berkas pengaduan diterima Kasi Umum Polres Madina. Dua hari sebelumnya atau Sabtu (1/2) warga juga melakukan […]

  • DCS Dapil 5 NASDEM Madina

    DCS Dapil 5 NASDEM Madina

    • calendar_month Selasa, 9 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 5 dari NASDEM Madina. Memperebutkan 9 kursi Meliputi Kecamatan Panyabungan Utara, Siabu, Bukit Malintang, Huta Bargot dan Naga Juang.

  • Proxy War dan Neo Imperialisme!

    Proxy War dan Neo Imperialisme!

    • calendar_month Senin, 12 Jun 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Umar Syarifudin (Lajnah Siyasiyah DPD HTI Jatim)   Dalam beberapa kesempatan, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo mengingatkan Indonesia saat ini tengah menghadapi bahaya proxy war atau perang asimetris. Proxy war terjadi di Indonesia melaui beberapa cara, di antaranya narkoba, konflik antar kelompok, maupun terorisme. Panglima TNI mengingatkan tentang Proxy War sebagai ancaman nyata bagi […]

  • DanaTak Cukup, Kontingen Porsadin Sumut Dimungkinkan Gagal Berangkat ke Tingkat Nasional

    DanaTak Cukup, Kontingen Porsadin Sumut Dimungkinkan Gagal Berangkat ke Tingkat Nasional

    • calendar_month Kamis, 9 Nov 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kontingen Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (Porsadin) dari Sumatera Utara dimungkinkan gagal berangkat ke ajang nasional di Pasuruan, Jawa Timur. Kemungkinan gagal itu diakibatkan oleh ketidakseriusan pemerintah daerah menyediakan biaya. Sebanyak 5 orang dalam kontingen yang akan ke tingkat nasional itu berasal dari Mandailing Natal (Madina) yang tampil menjadi […]

  • Batang Natal dan Ulu Pungkut Juga Harus Direnegosiasi

    Batang Natal dan Ulu Pungkut Juga Harus Direnegosiasi

    • calendar_month Selasa, 9 Apr 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Wakil Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution menyatakan bahwa kawasan Batang Natal dan Ulu Pungkut juga perlu dimasukkan dalam daftar renegosiasi kontrak karya PT.Sorikmas Mining. Itu dikatakan Dahlan Hasan pada rapat dengar pendapat di DPRD Madina, Selasa (9/4/2013) membahas tuntutan warga Kecamatan Naga Juang yang menginginkan kawasan bukit Sambung dikeluarkan dari kontrak […]

  • Pohon Karet Ditebang, Warga Simangambat Gugat Oknum Bupati Madina

    Pohon Karet Ditebang, Warga Simangambat Gugat Oknum Bupati Madina

    • calendar_month Kamis, 15 Agt 2019
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tiga warga Kelurahan Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) mengugat oknum bupati Madina ke Pengadilan Negeri. Ketiga warga yang menggugat masing-masing : Muslih, Pardomuan Nasution dan Suhdi Efendi. Gugatan didaftarkan melalui kuasa hukum, Amir Mahmud,S.Ag, MH. CLA pada tanggal 9 Agustus 2019 di Pengadilan Negeri (PN) Mandailing Natal dengan nomor […]

expand_less