Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Pemuda 1928 Hingga Pemuda Masa Kini

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 28 Okt 2017
  • print Cetak

Askolani Nasution

 

Oleh : Askolani Nasution

Dimensi Sumpah Pemuda adalah cara pandang pemuda melihat Indonesia sebagai satu uniti totalitas yang visioner, zonder kepentingan personal atau kelompok. Itu yang dilakukan para generasi terdahulu dari Angkatan 1928 dan 45.

Soekarno, Hatta, dan lain-lain bisa hidup senang dan kaya kalau mereka mau berdamai dengan kekuasaan, karena mereka memiliki pendidikan tinggi yang amat langka pada masa itu, tidak sampai 100 orang jumlah sarjana. Tapi mereka memilih jalan perjuangan, dibui, diasingkan, disengsarakan. Tan Malaka mati dalam pembuangan, Syahrir juga.

Dalam konteks kekinian, sedikit sekali pemuda yang berani memilih jalan sulit itu. Saya melihat banyak pemuda yang memilih berjuang dan berorganisasi hanya untuk jalan menuju hidup nyaman. Mereka sekedar bagian dari sistem yang lebih tinggi, onderbow dari kelompok sosial dan politik tertentu saja, yang pandangan dan sikap-sikapnya hanya membeo pada interest tertentu juga. Tentu karena tuntutan hedonisme dan gaya hidup senang yang menjadi tren. Berlomba memiliki kenderaan bagus, asesoris mahal dan berkelas, dan seterusnya.

Konsep sosial mereka tidak orisinil, hanya mengadopsi konsep orang lain, gamang berbicara, tidak terampil menulis, tidak konsepsional, dan macet memilih bentuk-bentuk perjuangan yang variatif. Kita lebih banyak mengambil cara-cara aksi massa yang sama dan tidak cerdas, paling-paling hanya demo seperti gaya Angkatan 66 dan 98. Berani karena ramai saja.

Syahrir dan Sukarni misalnya dari Angkatan 45 berani memilih gerakan bawah tanah. Mereka menolak kerja sama dengan Jepang, bahkan menculik Soekarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan. Adam Malik memilih radio dan Kantor Berita sebagai alat perjuangannya. Sehari sebelum proklamasi mereka berani mencetak naskah proklamasi dan menyebarluaskannya melalui radio dan kurir. Dan ketika Indonesia merdeka, mereka tidak larut dalam kekuasaan, tetap menjadi pejuang.

Angkatan 66 menggandeng militer untuk menumbangkan Orde Lama. Itu yang dilakukan Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, David Napitupulu, Dr. Syahrir, dan lain-lain. Budiman Sudjatmiko dkk dari Angkatan 98 berani melakukan gerakan yang melawan dominasi militer dalam Orde Baru. Dan semuanya akhirnya berkuasa dan larut dalam kekuasaan itu.

Begitu banyak isu-isu sosial yang idealnya bisa dimainkan oleh generasi pembaru, tapi kita tak melihat ada yang sepenuh hati menceburkan diri dalam perjuangan seperti itu. Semua memilih jalan aman, menempel tokoh-tokoh yang ada, dan bersabar menunggu giliran saja seperti antrian. Padahal itu butuh waktu lama dan tidak efektif. Tapi tak ada yang mau melakukan lompatan jauh ke depan, (Istilah Mao Tse Tung yang mengubah Cina menjadi komunis sekaligus kapitalis).

Semua zaman ada isunya, butuh metode baru juga. Kemiskinan, ketimpangan sosial, pemerataan yang lamban, rendahnya kualitas hidup, dominasi ekonomi asing, dan lain-lain, sepatutnya menjadi visi perjuangan baru bagi pemuda kekinian. Dan rakyat Indonesia itu khas, mereka mau mati untuk orang yang tulus. Tapi tak ada yang memanfaatkan tipikal itu lagi setelah era Soekarno. Tak ada yang mau mengambil langkah itu!

Kita sibuk mencetak foto-foto kita di baliho besar-besaran, memamerkan jabatan sosial kita, berbicara seperti tokoh yang menjadi patron kita dalam melihat sudut pandang sosial, minus pilihan strategi, minus orisinalitas dalam berpikir, gamang memilih jalan perjuangan. Menjadi patron orang lain tidak akan memuat kita melebihi orang yang kita patroni, karena tidak berani memilih jalan yang khas kita sendiri.

Apa yang kita peroleh dalam hidup akhirnya amat kecil, menikah, punya anak, punya pekerjaan tetap, punya mobil yang nyaman, dan berbagai jebakan sosial lainnya. Lalu kita mati tanpa pernah menjadi orang besar, tanpa pernah membuat sejarah, hanya menjadi bagian dari sejarah orang lain saja yang porsinya kecil.

Padahal, hanya mereka yang berani mengambil jalan sulit yang akan ditulis namanya sepanjang sejarah. Itu yang melakat pada Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Hariman Siregar, dan lain-lain. (Penulis adalah budayawan, tinggal di Madina)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Susah Dilewati :

    Susah Dilewati :

    • calendar_month Jumat, 19 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Susah Dilewati : Para pengguna Jalan penghubung Panyabungan Gunung Baringin dititik desa Parmompang terpaksa harus berhati-hati karena amblas. Kerusakan ini sudah berlangsung lama namun belum upaya perbaikan dari Pemerintah Daerah setempat. (Hol)

  • Tujuh Pejabat Pemkab Madina Dilantik

    Tujuh Pejabat Pemkab Madina Dilantik

    • calendar_month Rabu, 3 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 7 pejabat eselon III Pemkab Mandailing Natal (Madina) dilantik, Rabu (3/11/2021). Pelantikan dilakukan Wakil Bupati Madina, Atika Azmi Utammi Nasution di aula setdakab Madina. Tujuh pejabat itu, Parmonangan Hutasuhut, ST,MM dilantik untuk jabatan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Arbiuddin Syhaputra Hakim Harahap SSTP,MM (Sekretaris Dinas Pendidikan);  Rahmad Daulay, ST […]

  • Proyek Panas Bumi di Mandailing Natal dan Solusinya

    Proyek Panas Bumi di Mandailing Natal dan Solusinya

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Asrori Nasution   Latar Belakang Krisis energi merupakan salah satu masalah yang dihadapi negara-negara di seluruh dunia saat ini. Setiap negara berlomba untuk mencari sumber energi yang dinyatakan lebih ramah lingkungan dan dapat mencukupi kebutuhan energinya. Pada sisi yang lain, pemakaian energi fosil yang terus menerus ternyata diperkirakan akan habis alias tidak […]

  • Gagasan Ketahanan Produksi di Madina Masa Covid-19

    Gagasan Ketahanan Produksi di Madina Masa Covid-19

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Saat ini pemerintah pusat hingga daerah, juga DPR hingga DPRD “memproklamirkan” bantuan langsung tunai (BLT) dan Sembako untuk rakyat mengatasi dampak ekonomi akibat pandemi Corona (Covid-19). Pertanyaannya: apakah BLT dan sembako itu cukup mengatasi krisis ekonomi rakyat? Berapa lama ketahanan sembako itu? Cukupkah untuk 3 bulan pertama? Lalu setelah 3 bulan pertama berlalu, apakah negara […]

  • Tympanum Novem Films Ditawari Selenggarakan Workshop Sastra Mandailing

    Tympanum Novem Films Ditawari Selenggarakan Workshop Sastra Mandailing

    • calendar_month Selasa, 21 Jan 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Dalam rangka penguatan dan pengembangan sastra Mandailing, para budayawan di Mandailing bersama para perantau menyatukan pendapat bahwa harus ada upaya ril saat ini. Salah satunya adalah rangsangan bagi penulisan sastra-sastra. Termasuk penulisan cerita berbahasa Mandailing, baik dalam bentuk cerita pendek maupun novel. Terkait dengan itu, Tympanum Novem Films mendapat tawaran kerja […]

  • Paripurna DPRD Madina Setujui Bahas 14 Ranperda

    Paripurna DPRD Madina Setujui Bahas 14 Ranperda

    • calendar_month Selasa, 30 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA : Seluruh fraksi di DPRD Mandailing Natal (Madina) menyetujui 14 rancangan peraturan daerah (Ranperda) yang diajukan Pemkab untuk dibahas. Persetujuan itu diputuskan dalam siding paripurna pandangan fraksi-fraksi atas pengajuan ranperda tersbeut, di geudng dewan, Panyabungan,sidang paripurna dipimpin Ketua DPRD As Imran Khatamy Daulay SH, dihadiri Pejabat Bupati Ir.Aspan Sopian Batubara. Fraksi PKS lewat juru […]

expand_less