Sabtu, 30 Mei 2026
light_mode

Pemuda 1928 Hingga Pemuda Masa Kini

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 28 Okt 2017
  • print Cetak

Askolani Nasution

 

Oleh : Askolani Nasution

Dimensi Sumpah Pemuda adalah cara pandang pemuda melihat Indonesia sebagai satu uniti totalitas yang visioner, zonder kepentingan personal atau kelompok. Itu yang dilakukan para generasi terdahulu dari Angkatan 1928 dan 45.

Soekarno, Hatta, dan lain-lain bisa hidup senang dan kaya kalau mereka mau berdamai dengan kekuasaan, karena mereka memiliki pendidikan tinggi yang amat langka pada masa itu, tidak sampai 100 orang jumlah sarjana. Tapi mereka memilih jalan perjuangan, dibui, diasingkan, disengsarakan. Tan Malaka mati dalam pembuangan, Syahrir juga.

Dalam konteks kekinian, sedikit sekali pemuda yang berani memilih jalan sulit itu. Saya melihat banyak pemuda yang memilih berjuang dan berorganisasi hanya untuk jalan menuju hidup nyaman. Mereka sekedar bagian dari sistem yang lebih tinggi, onderbow dari kelompok sosial dan politik tertentu saja, yang pandangan dan sikap-sikapnya hanya membeo pada interest tertentu juga. Tentu karena tuntutan hedonisme dan gaya hidup senang yang menjadi tren. Berlomba memiliki kenderaan bagus, asesoris mahal dan berkelas, dan seterusnya.

Konsep sosial mereka tidak orisinil, hanya mengadopsi konsep orang lain, gamang berbicara, tidak terampil menulis, tidak konsepsional, dan macet memilih bentuk-bentuk perjuangan yang variatif. Kita lebih banyak mengambil cara-cara aksi massa yang sama dan tidak cerdas, paling-paling hanya demo seperti gaya Angkatan 66 dan 98. Berani karena ramai saja.

Syahrir dan Sukarni misalnya dari Angkatan 45 berani memilih gerakan bawah tanah. Mereka menolak kerja sama dengan Jepang, bahkan menculik Soekarno-Hatta untuk memproklamirkan kemerdekaan. Adam Malik memilih radio dan Kantor Berita sebagai alat perjuangannya. Sehari sebelum proklamasi mereka berani mencetak naskah proklamasi dan menyebarluaskannya melalui radio dan kurir. Dan ketika Indonesia merdeka, mereka tidak larut dalam kekuasaan, tetap menjadi pejuang.

Angkatan 66 menggandeng militer untuk menumbangkan Orde Lama. Itu yang dilakukan Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, David Napitupulu, Dr. Syahrir, dan lain-lain. Budiman Sudjatmiko dkk dari Angkatan 98 berani melakukan gerakan yang melawan dominasi militer dalam Orde Baru. Dan semuanya akhirnya berkuasa dan larut dalam kekuasaan itu.

Begitu banyak isu-isu sosial yang idealnya bisa dimainkan oleh generasi pembaru, tapi kita tak melihat ada yang sepenuh hati menceburkan diri dalam perjuangan seperti itu. Semua memilih jalan aman, menempel tokoh-tokoh yang ada, dan bersabar menunggu giliran saja seperti antrian. Padahal itu butuh waktu lama dan tidak efektif. Tapi tak ada yang mau melakukan lompatan jauh ke depan, (Istilah Mao Tse Tung yang mengubah Cina menjadi komunis sekaligus kapitalis).

Semua zaman ada isunya, butuh metode baru juga. Kemiskinan, ketimpangan sosial, pemerataan yang lamban, rendahnya kualitas hidup, dominasi ekonomi asing, dan lain-lain, sepatutnya menjadi visi perjuangan baru bagi pemuda kekinian. Dan rakyat Indonesia itu khas, mereka mau mati untuk orang yang tulus. Tapi tak ada yang memanfaatkan tipikal itu lagi setelah era Soekarno. Tak ada yang mau mengambil langkah itu!

Kita sibuk mencetak foto-foto kita di baliho besar-besaran, memamerkan jabatan sosial kita, berbicara seperti tokoh yang menjadi patron kita dalam melihat sudut pandang sosial, minus pilihan strategi, minus orisinalitas dalam berpikir, gamang memilih jalan perjuangan. Menjadi patron orang lain tidak akan memuat kita melebihi orang yang kita patroni, karena tidak berani memilih jalan yang khas kita sendiri.

Apa yang kita peroleh dalam hidup akhirnya amat kecil, menikah, punya anak, punya pekerjaan tetap, punya mobil yang nyaman, dan berbagai jebakan sosial lainnya. Lalu kita mati tanpa pernah menjadi orang besar, tanpa pernah membuat sejarah, hanya menjadi bagian dari sejarah orang lain saja yang porsinya kecil.

Padahal, hanya mereka yang berani mengambil jalan sulit yang akan ditulis namanya sepanjang sejarah. Itu yang melakat pada Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Syahrir, Hariman Siregar, dan lain-lain. (Penulis adalah budayawan, tinggal di Madina)

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Amrun Daulay Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara

    Amrun Daulay Terancam Hukuman 20 Tahun Penjara

    • calendar_month Selasa, 20 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Partai Demokrat Amrun Daulay menjalani sidang perdana di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Mantan Sekdaprov Sumut ini didakwa bersalah dalam kasus dugaan korupsi pengadaan mesin jahit dan impor sapi di Kementerian Sosial rentang waktu tahun 2004-2006. Seperti dilansir detik.com, pembacaan dakwaan dilakukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Pengadilan […]

  • Atika: Terimakasih Kepada Semua Pihak Tangani Dampak Bencana

    Atika: Terimakasih Kepada Semua Pihak Tangani Dampak Bencana

    • calendar_month Jumat, 12 Des 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    ​PANTAI BARAT (Mandailing Online) – Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) Atika Azmi Utammi Nasution berterima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat dan tergerak hatinya menyelamatkan warga di kawasan Pantai Barat Madina selama bencana alam melanda. ​”Terima kasih untuk semua jajaran yang sudah bekerja keras mengevakuasi warga, memastikan kebutuhan mereka tetap aman,” ujar Atika, Kamis (11/12/ […]

  • Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    Ima Madina : Kondisi Madina Makin Parah, Ridwan Rangkuti : Bupati Madina Harus Rangkul Semua Elemen

    • calendar_month Senin, 22 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Madina harus merangkul semua elemen agar roda pemerintahan sukses lima tahun ke depan. “Kalau tidak, yakinlah bupati dan wakil bupati akan kewalahan di masa mendatang,” kata Ketua Persatuan Advokad Indonesia Wilayah Tabagsel, Ridwan Rangkuti,SH.MH yang dilansir Malintang Pos, Sabtu (20/8/2016). “Saya pikir setelah mengamati selama hampir tiga bulan ini, langkah […]

  • DCS dapil 3 PDIP Madina

    DCS dapil 3 PDIP Madina

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Daftar Calon Sementara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Pemilihan Umum Tahun 2014 Dapil 3 PDIP Madina

  • Pelantikan bupati terpilih Padang Lawas segera

    Pelantikan bupati terpilih Padang Lawas segera

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara, mengirimkan berkas hasil pemilihan kepala daerah setempat ke legislatif untuk proses pelantikan pasangan bupati dan wakil bupati terpilih. “Berkasnya sudah dikirim agar segera diproses,” kata anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Padang Lawas Rahmat Efendi Siregar di Medan, hari ini. Menurut Rahmat, pengiriman […]

  • Bupati Hadiri Zikir di HUT Madina

    Bupati Hadiri Zikir di HUT Madina

    • calendar_month Rabu, 5 Mar 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Zikir – Plt Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution diapit tokoh masyarakat Ismail Lubis (Oji Atas) dan ustaz Mahyudin sebelum memulai kegiatan zikir. Seribuan kaum muslimin dan muslimat melakukan zikir dan do’a di halaman masjid agung Nur Ala Mur, Panyabungan dalam rangka menyongsong Milad Kabupaten Mandailing Natal (Madina) 1998-2014 yang jatuh pada 9 Maret 2014. (foto: […]

expand_less