Selasa, 13 Okt 2026
light_mode

Komponen Mandailing di Medan Deklarasi Tolak Batak

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 13 Nov 2017
  • print Cetak

Pendeklarasian penolakan label Batak oleh suku Mandailing di Medan, Senin 13 November 2017

MEDAN (Mandailing Online) – Penolakan terhadap label “Batak” terus bergulir dari kaum Mandailing di Indonesia.

Komponen Mandailing di Kota Medan, Senin (13/11/2017) mendeklarasikan pernyataan sikap menolak label Batak terhadap etnis Mandailing. Deklarasi itu bertempat di Amaliun Food Court, Medan.

Komponen-komponen kaum mandailing Kota Medan itu meliputi tokoh perantau asal Mandailing, Ikatan Keluarga Nasution (Ikanas) Provinsi Sumatera Utara, Naposo Nauli Bulung, Ikatan Mahasiswa Mandailing Natal, dan Ikatan Mahasiswa Mandailing Julu.

Dinyatakan, bahwa persepsi bahwa Mandailing adalah sub etnis Batak dengan istilah Batak Mandailing adalah sebuah kekeliruan yang fatal dalam memahami sejarah, identitas dan budaya orang Mandailing.

Prof Zulkarnain Lubis, akademisi, dalam pertemuan ini menyatakan, bahwa tidak ada orang atau siapapun yang berhak mengklaim sesuatu komunitas selain komunitas itu tersendiri. Orang Jawa lah yang berhak mengklaim orang Jawa, dan Orang Mandailing lah yang berhak mengklaim bahwa mereka orang Mandailing. Orang Mandailing lah yang berhak mengklaim sebagai Mandailing, bahkan negara pun tidak berhak. Semakin banyak yang mengaku Mandailing bukan Batak maka semakin sah dan sadar bahwa Mandailing bukan Batak.

Prof Yamin Lubis sebagai akademisi berdarah Mandailing dan tokoh Mandailing menyatakan  bahwa “Saya tahu sejarah, dan sekarang saya bersama kalian, dan ini adalah hak kita sebagai orang Mandailing. Kalau ada orang yang merasa gerah, silahkan, kalau ada yang beda pendapat silahkan. Sejarah orang Mandailing adalah Mandailing”.

Sementara itu, H Syahrir Nasution dari perwakilan tokoh masyarakat Mandailing di Binjai menjelaskan deklarasi ini adalah meluruskan sejarah, sebab tidak ada orang yang bisa lari dari sejarah. Dengan mengutip pesan Pendi Keling , “Pedati jalan terus, penumpang yang tidak mau ikut, kalau mau turun, ya turun”.

M Taufik Nasution mewakili panitia (generasi Muda Mandailing) menyebutkan bahwa ada semacam stigma yang salah tentang Mandailing yakni adanya stigma bahwa Mandailing adalah Batak. Yang kedua, dalam beberapa media masih disebutkan bahwa Mandailing adalah Batak.

Taufik melanjutkan bahwa kegiatan ini bertujuan hanya 2 hal pesan pokok penting: Pertama, mengungkap kebenaran, jangan sampai ada pemaksaan kehendak oleh suatu suku bangsa terhadap Mandailing.

Kedua, mendorong pemerintah untuk mendudukkan suku bangsa Mandailing dalam posisi yang jelas, bukan dikait-kaitkan dengan etnis lain.

Pernyataan Sikap Mandailing bukan Batak itu yakni :

  1. Mencermati perkembangan dan perubahan sosial budaya Mandailing dalam era kekinian yang telah mengalami pergeseran ke arah yang salah, terutama soal persepsi tentang Mandailing yang dibangun oleh kolonial Belanda dan sudah dibantah orang Mandailing sejak tahun 1922.
  2. Persepsi bahwa Mandailing adalah sub etnis Batak dengan istilah Batak Mandailing adalah sebuah kekeliruan yang fatal dalam memahami sejarah, identitas dan budaya orang Mandailing.
  3. Dengan ini kami tegaskan kembali, bahwa Mandailing bukan Batak dan bukan merupakan sub etnis Batak. Mandailing berdiri sendiri diantara etnis/suku lainnya dalam menopang janji setia terhadap NKRI, Pancasila dan UUD 1945.
  4. Pernyataan ini dibuat untuk dipahami setiap generasi Mandailing di kemudian hari dan pihak-pihak yang berkepentingan agar dapat memaklumi usaha-usaha perlindungan terhadap hak asasi gambar masyarakat hukum adat Mandailing sesuai Konstitusi Republik Indonesia.
  5. Himbauan kepada masyarakat Mandailing dimanapun berada untuk mendukung dan ikut menyatakan/mendeklarasikan Mandailing Bukan Batak.

Deklarasi ini merupakan kali kedua di akhir 2017 tentang penolakan etnis Mandailing dilabeli Batak. Sebelumnya Raja-Raja Mandailing di Panyabungan, Mandailing Natal para 21 Okober lalu telah juga mendeklarasikan penolakan label Batak. Lalu disusul kegitan diskusi di Medan pada Senin (23/10/2017) yang diselenggarakan Yayasan Madina Centre menghadirkan sejarahwan dan antropolog mengkaji Mandailing bukan batak dari sisi akademis.

 

Sumber : Panitia

Editor : Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga Buang Sampah di Pinggir Jalinsum

    Warga Buang Sampah di Pinggir Jalinsum

    • calendar_month Selasa, 16 Nov 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIPIROK- Sejumlah warga di sekitar Aek Sulum Desa Marsada, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), membuang sampah di pinggir Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Aek Sulum. Akibatnya, di beberapa titik terlihat tumpukan-tumpukan sampah. Ironinya, tempat pembuangan sampah liar itu berdekatan dengan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Aek Sulum yang anjlok sepanjang 50 meter dengan kedalaman sekitar 10 […]

  • Ditanya soal Kemungkinan Jadi Wakapolri, Ini Jawaban Komjen Buwas

    Ditanya soal Kemungkinan Jadi Wakapolri, Ini Jawaban Komjen Buwas

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Wakapolri Komjen (Pol) Badrodin Haiti tak lama lagi akan segera naik jabatan jadi Kapolri. Kini, pertanyaan selanjutnya adalah siapa yang bakal menggantikan posisi Badrodin sebagai Wakapolri. Sejumlah nama jenderal bintang tiga santer disebut-sebut. Salah satunya adalah Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso. Namun, Buwas -sapaan Budi Waseso- justru mengaku saat ini masih fokus […]

  • LKPJ Bupati Madina Molor, Diduga Belum Tuntas Negosiasi Setoran Uang

    LKPJ Bupati Madina Molor, Diduga Belum Tuntas Negosiasi Setoran Uang

    • calendar_month Senin, 9 Jun 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Agenda penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LKPJ) bupati Mandailing Natal (Madina) di rapat rapat paripurna DPRD, Senin (9/6/2014) hingga pukul  12.21 WIB belum juga dibuka.   Sejatinya jadwal pembukaan pukul 9.00 WIB, tetapi satu pun anggota DPRD Madina belum ada yang nongol di ruang paripurna, sementara pihak eksekutif sejak jam 9.00 sudah hadir. […]

  • Gordang Sambilan Budaya Mandailing

    Gordang Sambilan Budaya Mandailing

    • calendar_month Rabu, 18 Sep 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Masyarakat Mandailing terkenal dengan masyarakat yang menjunjung tinggi adat istiadat dan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadikan berbeda dari suku–suku yang ada di Sumatera Utara. Salah satu kesenian khas suku Mandailing adalah Gordang Sambilan. Gordang artinya gendang atau bedug, sedangkan sambilan artinya sembilan. Jadi Gordang Sambilan merupakan gendang atau bedug yang mempunyai panjang dan diameter yang […]

  • THR Tak Cair, SMS ke 08126406526

    THR Tak Cair, SMS ke 08126406526

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pengusaha Diimbau Bayar Paling Lambat Tujuh Hari Sebelum Lebaran Pemkab Tapsel mengimbau seluruh pengusaha untuk segera membayarkan Tunjangan Hari Raya atau THR paling lambat tujuh hari sebelum Idul Fitri. Jika imbauan ini diabaikan maka pemilik usaha yang bersangkutan bisa dipidana. Ini sesuai dengan diatur Peraturan Menteri Tenaga Kerja (Manaker) Ri Nomor Per.04/MEN/1994 tanggal 16 September […]

  • Buntut Kurang Bermasyarakat, Bupati Akan Copot Lurah Panyabungan III

    Buntut Kurang Bermasyarakat, Bupati Akan Copot Lurah Panyabungan III

    • calendar_month Jumat, 29 Sep 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) Bupati Mandailing Natal (Madina) HM Jakfar Sukhairi Nasution akan segera mencopot Andi Bugis dari jabatan Lurah Panyabungan III, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Madina. Pasalnya, warga Panyabungan menilai kinerja Andi Bugis buruk dan enggan bersosialisasi dengan warganya, terutama saat acara-acara keagamaan dan sosial kemasyarakatan lainnya. “Insya Allah, akan ditindak-lanjuti aspirasi warga Panyabungan III,” […]

expand_less