Sabtu, 29 Agu 2026
light_mode

BAHASA DAN AKSARA MANDAILING (bagian 2 selesai)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 2 Apr 2018
  • print Cetak

Askolani Nasution dan Surat Tulak-tulak

 

Oleh : ASKOLANI NASUTION
Budayawan

 

TATA BAHASA MANDAILING

Pada tahun 1861, HN Van Der Tuuk, ahli tata bahasa Belanda, menulis buku “Stukken in het Mandailingsch”, tulisan ilmiah pertama tentang bahasa Mandailing yang terbit di Amsterdam. Melalui buku itu, bahasa Mandailing  dikenal secara luas.

Bahasa Mandailing memiliki banyak perbedaan dengan bahasa daerah lainnya di Nusantara. Jika bahasa Jawa misalnya dibedakan atas dua ragam penggunaan berdasarkan kelas sosial pendengarnya, bahasa halus dan bahasa kasar, maka bahasa Mandailing jauh lebih luas lagi ragamannya. Perbedaan itu tidak menyangkut kelas sosial. Misalnya, bahasa seorang raja Mandailing tetap sama dengan bahasa rakyat biasa. Perbedaan ragam pengungkapan ada pada tataran situasi.

Ada lima ragam bahasa Mandailing berdasarkan situasi penggunaannya, yakni:

  • Ragam Bahasa Adat. Ragam ini digunakan dalam prosesi adat, baik saat proses pernikahan, kemalangan, dan lain-lain. Pilihan kata yang digunakan merujuk kepada pilihan kata klasik yang amat berbeda dengan pilihan kata yang dikenal dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan beberapa kata yang digunakan dalam prosesi adat, tidak pernah lagi digunakan dalam komunikasi sehari-hari.

Contohnya:

“Marhite-hite tu ujung ni tahi.” Kata [marhite-hite] dan [tahi] tidak ditemukan lagi dalam ragam komunikasi sehari-hari. Terjadinya perbedaan ini karena dalam prosesi adat setiap orang dibedakan kedudukannya atas kahanggi, anak boru dan mora. Selain itu, urutan pembicaraan juga diatur berdasarkan mekanisme tertentu yang disebut ruas. Ruas tersebut mengatur materi atau inti pembicaraan yang harus dilalui secara berurutan.

  • Ragam Bahasa Andung (situasi bersedih).Ragam ini digunakan saat seseorang meratapi kemalangan yang sedang menimpanya. Misalnya ratapan ketika orang tua, suami/istri, anak, atau kekasihnya meninggal. Penutur akan mengungkapkan kesedihannya dengan bahasa tertentu dan disampaikan dengan lagu tertentu.
  • Ragam Bahasa Parkapur (komunikasi di hutan) Ragam ini digunakan saat berada di lingkungan hutan. Beberapa kata yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari dianggap pantang diucapkan dalam lingkungan rimba. Tentu karena kepercayaan bahwa rimba dikuasai oleh penguasa rimba. Misalnya harimau. Jadi untuk menyebut harimau diganti menjadi ‘nagogoi’. Karena kata itu dianggap lebih halus. Dalam lingkungan hutan setiap orang dituntut untuk berprilaku santun, baik dalam tingkah laku maupun ucapan.
  • Ragam Bahasa Somal (komunikasi sehari-hari) Ragam ini digunakan dalam komunikasi sehari-hari tanpa mengenal usia dan jenis kelamin. Bahasa ini lah yang disebut bahasa Ibu, yaitu bahasa yang diturunkan kepada anak dalam lingkungan keluarga. Bahasa tersebut tidak ada perbedaan pilihan kata dalam penggunaan di lingkungan rumah, di antara teman sebaya, maupun di lingkungan sosial penutur. Jumlah koso kata yang digunakan tidak terhingga, juga variasi ungkapannya.
  • Ragam Bahasa Bura (situasi marah) Ragam ini digunakan dalam situasi emosional. Kebanyakan digunakan oleh wanita saat mengekspresikan rasa marahnya kepada orang lain. Kata-kata yang digunakan dianggap tidak patut diucapkan dalam situasi normal. Selain menggunakan kata tertentu juga disampaikan dengan nada yang keras.

Misalnya:

Seseorang dituntut untuk terampil memilih kosa kata yang tepat untuk ragam yang sesuai. Misalnya, Sirih, sama dengan napuran (ragam adat), simanggurak (ragam andung), burangir (ragam nabiaso), dan siroan (ragam parkapur). Karena itu, dalam bahasa Mandailing, setiap konteks dan latar komunikasi berbeda, akan berbeda juga diksi (kata) yang digunakan.

 

AKSARA TULAK-TULAK 

Memang tidak semua suku bangsa memiliki sistem aksara (tulisan) tersendiri. Adanya sistem aksara menandakan bahwa suatu suku bangsa, termasuk Mandailing Natal, merupakan suku bangsa yang amat bermartabat dan  berbudaya pada masa dahulu.

Ada 21 jenis huruf dalam Aksara Mandailing yang dikelompokkan ke dalam sebutan Ina ni Surat, yakni:

Ina ni Surat

 

Kelompok huruf tersebut belum sepenuhnya bisa digunakan dalam pembentukan kata, karena belum memenuhi semua morfem pembentuk bunyi.  Selain karena belum memiliki simbol bunyi [e] dan [o], juga belum memiliki bunyi konsonan atau huruf mati. Karena itu, Ina ni Surat tersebut harus dipadukan lagi dengan Anak ni Surat.

Anak ni Surat digunakan untuk mengubah vokal [a] bervariasi menjadi bunyi vokal [i], [e], [o], dan [u]. Selain itu juga pembentuk bunyi [-ng] dan bunyi konsonan. Penanda Anak ni Surat tersebut adalah:

Anak ni Surat

 

Berikut ini contoh penggabungan Anak ni Surat dengan Ina ni Surat dalam proses pembentukan hata.

Gabungan Anak ni Surat dengan Inang ni Surat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Selain itu, Aksara Tulak-tulak juga menggunakan huruf pangolat yang ditandai dengan simbol . Huruf ini berfungsi untuk membuat bunyi konsonan atau huruf mati di akhir suku kata. Misalnya:

Huruf Pangolat

 

Catatan: perhatikan penggunaan huruf [ng] pada kata [hambeng] dan [kombang]. Pada kata [hambeng] huruf [ng] masih digunakan, tetapi pada kata [kombang] huruf [ng] hanya menggunakan penanda [-] saja yang diletakkan di sudut kanan atas konsonan terakhir. ***

(Askolani Nasution adalah Sarjana Sastra dan Budayawan Mandailing)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Rencanakan Dana TT Untuk Perbaikan 2 Tanggul Jebol di Kawasan Siabu

    Bupati Rencanakan Dana TT Untuk Perbaikan 2 Tanggul Jebol di Kawasan Siabu

    • calendar_month Jumat, 10 Feb 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    SIABU (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H.M Ja’far Sukhairi Nasution akan mengalokasikan Dana Tidak Terduga (TT) Tahun 2023 untuk memperbaiki dua tanggul yang jebol akibat bencana alam yang terjadi pada Desember 2022 di Kecamatan Siabu. Itu diungkap Kepala Dinas Pertanian Madina, Siar Nasution didampingi Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina, Mukhsin […]

  • Tak Berkategori

    KPK Tangkap Bupati Mandailing Natal

    • calendar_month Kamis, 16 Mei 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    KPK menangkap Bupati Mandailing Natal Hidayat Batubara atas dugaan suap dalam alokasi Bantuan Dana Bawahan dari Provinsi Sumatera Utara kepada Kabupaten Mandailing Natal APBD 2013. Hidayat yang ditangkap di Medan, Rabu (15/5/2013) siang tadi, tiba di gedung KPK pukul 22.45 WIB.(detik)

  • Proyek Panas Bumi di Mandailing Natal dan Solusinya

    Proyek Panas Bumi di Mandailing Natal dan Solusinya

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh : Asrori Nasution   Latar Belakang Krisis energi merupakan salah satu masalah yang dihadapi negara-negara di seluruh dunia saat ini. Setiap negara berlomba untuk mencari sumber energi yang dinyatakan lebih ramah lingkungan dan dapat mencukupi kebutuhan energinya. Pada sisi yang lain, pemakaian energi fosil yang terus menerus ternyata diperkirakan akan habis alias tidak […]

  • Saber Pungli Harus Investigasi Pungli Honorer Kesehatan, Pungli KTP, Pungli Naik Pangkat, Pungli Pendidikan, Pungli Pencairan Dana

    Saber Pungli Harus Investigasi Pungli Honorer Kesehatan, Pungli KTP, Pungli Naik Pangkat, Pungli Pendidikan, Pungli Pencairan Dana

    • calendar_month Rabu, 22 Feb 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) –  Oknum-oknum PNS atau pejabat, siap-siap masuk penjara jika masih hobi melakukan pungutan liar (pungli) dalam layanan publik maupun penerimaan honorer serta kenaikan pangkat. Sejauh ini, rumor di masyarakat sudah lama beredar bahwa instasi yang diduga sering melakukan pungli meliputi Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Kependudukan, Badan Kepegawaian, Dinas PU, Dinas Keuangan. […]

  • Langkah Pemkab Madina Atasi Keterbatasan BBM Akibat Bencana Alam

    Langkah Pemkab Madina Atasi Keterbatasan BBM Akibat Bencana Alam

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bencana alam yang melanda Sumatera Utara mengakibatkan pasokan BBM tersendat ke Kabupaten Mandailing Natal (Madina), terutama terputusnya jalur darat dari depot Sibolga. Ketersediaan BBM di Madina juga menjadi terbatas. Agar pendistribusian Bahan Bakar Minyak (BBM) merata kepada masyarakat Pemkab Madina memberlakukan pembatasan pembelian di seluruh SPBU wilayah setempat selama pasokan terbatas. […]

  • H. Awaluddin, Galakkan Santunan Jompo dan Yatim

    H. Awaluddin, Galakkan Santunan Jompo dan Yatim

    • calendar_month Jumat, 12 Mar 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Anggota DPRD Mandailing Natal dari PKS, H. Awaluddin terus menggalakkan silaturrahmi sekaligus penyantunan jompo dan anak yatim. Hari ini, Jum’at (12/3/2021) santunan berlangsung di Desa Huta Bargot Dolok, Kecamatan Hutabargot. Penyerahan santunan dipusatkan di rumah Solahuddin Pulungan. Dalam kesempatan tersebut H. Awaluddin menyampaikan bahwa penyantunan anak yatim dan jompo tersebut untuk […]

expand_less