Sabtu, 7 Mar 2026
light_mode

Ketika Candi Simangambat Ditelantarkan

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Senin, 7 Jan 2019
  • print Cetak

Dr (Phil) Ichwan Azhari mengamati kepingan-kepingan candi Simangambat

 

Pengantar redaksi :

Pada 14 Desember 2018 yang lalu, Dr. Phil. Ichwan Azhari seorang sejarawan, pengajar dan ahli filologi Indonesia mengunjungi candi Siwa di Simangambat, Kecamatan Siabu, Mandailing Natal. Dia ditemani budayawan Mandailing, Askolani Nasution.

Dr. Phil. Ichwan Azhari menyaksikan puing-puing candi yang berserakan, lokasi candi yang terlantar bahkan ditelantarkan.

Mungkin beliau terkejut bahkan satir melihat puing-puing terlantar itu. Bagaimana tidak, candi yang memiliki nilai tinggi sebagai bukti dan fakta-fakta ril peradaban masa lalu Mandailing justru ditelantarkan.

Berikut ungkapan hati Dr. Phil. Ichwan Azhari yang dicopy Mandailing Online dari akun facebook-nya.  

 

Sering saya baca orang orang Mandailing bangga dengan ketuaan sejarah mereka karena naskah kuno Jawa tahun 1364 (Negarakertagama) menyebut keberadaan Mandahiling yang ingin “disapa” Gajah Mada. Kebanggaan orang Mandailing dan juga etnik lain di kawasan Tapanuli bagian Selatan didukung ditemukannya puluhan candi di kawasan itu. Lalu memori ketuaan itu kadang dikontraskan dengan etnik lain yang tidak memiliki peninggalan setua ini.

Tapi apakah mereka, termasuk pemerintah daerahnya, mau merawat peninggalan berbasis keberagaman kuno itu? Jawabnya sama saja, tak dan tak peduli, biarkan hancur, dihancurkan berkeping keping. Saat saya melangkah di reruntuhan candi Hindu Jawa abad 9 di Simangambat pada 14 Desember 2018 yang lalu, sesak dada dan semakin tak suka mendengar jargon pidato para pejabat pusat dan daerah : “bangsa yang besar adalah bangsa yang menjaga warisan sejarahnya”. Lagi-lagi di sini saya harus mafhum negeri ini bukan (belum?) Bangsa yang besar.

Budayawan Mandailing, Askolani Nasution saat mendampingi Dr (Phil) Ichwan Azhari mengunjungi situs candi Simangambat.

Memasuki kompleks candi ini saya disambut kambing kambing yang berlarian karena terganggu oleh kedatangan saya. Patahan patahan candi yang mirip dengan candi Sewu di Jawa berceceran di atas tanah becek. Saya berada disebuah rumah ibadah yang diserang beberapa abad yang lalu oleh sebab yang tidak jelas, dan di tempat yang sama kini saya merasa diserang oleh ketidak pedulian bangsa yang tidak besar ini. Siapa yang peduli mempertahankan benteng peradaban masa lalu yang penting ini? Tak juga orang orang Mandailing yang bangga disebut sebut dalam Negarakrtagama itu?

Dari puing puing candi itu saya mengirim WA ke sahabat saya arkeolog Ery Sudewo yang pada 2009 pernah melakukan eskavasi di sini. Dialah yang mengungkapkan dengan sangat baik kaitan candi Simangambat ini sebagai jejak peradaban Jawa kuno abad 9 di Mandailing, jadi jauh sebelum Negarakertagama mencatatnya. Saya minta kirim foto pahatan yang mirip dengan pigura candi di Jawa. Mas Ery mengirim beberapa foto dan saya cari-cari diantara reruntuhan itu, tapi tak ada. Satu potongan relif candi berukir yang ditemukan Mas Eri ada saya temukan, tapi hidungnya kini sudah dihancurkan. Usai eskavasi 2009 team Balai Arkeologi Medan memunguti dan menyelamatkan berbagai potongan batu itu untuk dititip di kantor camat setempat supaya aman. Tapi malah tidak aman, pecahan itu dihancurkan pakai mesin, berspekulasi ada butiran emas di dalamnya.

Situs candi Simangambat saat dieskavasi Balai Arkeologi Medan 2009

Sekelilingnya sudah dibuat pagar oleh BPCB, tapi lahan itu belum dibebaskan pemerintah pusat dan daerah. Saya tanya kira kira berapa harga area seluas ini. Dijawab pemandu saya pak Aslokani, sekitar 60 juta rupiah. Kecillah uang segitu bagi bupati Madina, untuk menyelamatkan satu warisan sejarah penting hubungan Jawa – Mandailing kuno. Atau biarkan dia hancur sebelum sempat diteliti dan dipelajari sebagai sumber inspirasi ? Padahal yang menghebohkan kawasan Mandailing saat ini : emas , emas , dan emas, sudah berlangsung 1200 tahun yang lalu, yang mendorong orang dari berbagai bangsa datang dan menyisakan monumen peradaban di situ. Sampai Gajah Mada pun bersumpah akan mengambil Mandailing.

Apa yang diimpikan Bosch dan Schinitger yang tahun 1920 pertama kali terkejut menemukan jejak peradaban monumental ini? Apa yang dipikirkan Mckinnon, Uli Kozok dan terakhir Daniel Perred saat juga pernah ke sini? Adakah para peneliti luar ini mengharap bakal munculnya satu bangsa (bernama Indonesia) menyelamatkan kompleks situs situs berkelas dunia ini?

Relief candi yang mirip candi di Jawa

Saya hentikan khayal agar tak berkembang. Saat melangkah pulang : saya lihat kambing kambing di balik pagar melirik saya yang telah mengganggu mereka bermain diruntuhan candi itu. “Hai kambing, masuklah lagi, bermain sepuasnya diruntuhan peradaban kuno ini.”

Di halaman dan bawah tangga rumah warga, saya lihat pecahan batu candi berceceran. Tak saya foto batu batu candi yang merupakan teks teks jejak peradaban kuno itu, agar tak makin sesak dada ini. (Ichwan Azhari)

 

 

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Daftar ke KPU, Dahlan-Aswin Busana Adat

    Daftar ke KPU, Dahlan-Aswin Busana Adat

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pasangan Dahlan-Aswin memakai busana adat Mandailing menuju kantor KPU Madina untuk mendaftar, Minggu (6/9/2020). Pasangan ini diiringi rombongan sekira 1.600 orang konvoi berkendara mobil dan beca bermotor dari Sipolu-polu menuju gedung KPU Madina. Sebelumnya Dahlan-Aswin berangkat dari Sopo Godang Kotasiantar menuju Sipolu-polu. Pasangan Dahlan Hasan Nasution-Aswin Parinduri didaftarkan sebagai bakal calon […]

  • Pintu Pilpres 2024 Sudah Terbuka Akankah Ada Perubahan

    Pintu Pilpres 2024 Sudah Terbuka Akankah Ada Perubahan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mei 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: Ummu Umar Momen Hari Raya Idulfitri 1443 H menjadi ajang bagi para politikus untuk bersilaturahmi Lebaran. Kegiatan bernuansa politik berbalut silaturahmi mulai dari hari H hingga masa libur Lebaran dimanfaatkan untuk saling berkunjung. Meski ada kegiatan yang dinilai tidak bernuansa politik, tetap ada saja pihak-pihak yang menggunakan simbol-simbol yang mengarah kepada persiapan menuju Pemilu […]

  • Lanjutan Pembangunan Mesjid Al Muhajirin Tabuyung Butuh Dana

    Lanjutan Pembangunan Mesjid Al Muhajirin Tabuyung Butuh Dana

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MUARA BATANG GADIS (Mandailing Online) – Masjid Al-Muhajirin di Km18, Desa Tabuyung, Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal (Madina) butuh dana pembangunan lanjutan. bangunan masjit selama ini jenis kayu, warga berinisiatif melakukan rehab berat dan mengganti fisik kayu dengan beton atas swadaya masyarakat. Tetapi pengerjaan terhambat, lantaran tak mencukupinya biaya. Karena itu, masyarakat berharap adanya […]

  • Empati Atika di Zona Banjir

    Empati Atika di Zona Banjir

    • calendar_month Kamis, 23 Des 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pelayanan pemerintah daerah kepada rakyat itu relatif terbatas, karena menyangkut faktor dana dan sistem. Tetapi empati tidak ada batasnya. Karena sumbernya berasal dari hati ke hati. Suatu getaran emosional yang mampu merasakan apa yang orang lain rasakan. Empati membuat seseorang merasa mampu berada dalam posisi orang lain. Melihat dengan mata orang lain, mendengarkan dengan telinga […]

  • Nama-Nama PNS Yang Mutasi

    • calendar_month Rabu, 5 Jun 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Ansor, S.Pd.MM yang selama ini menjabat kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata dimutasi menjadi kepala BLU STAIM dalam mutasi di lingkungan Pemkab Mandailing Natal, Rabu (4/6/2013). Sementara kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata yang baru dijabat oleh Ahmad Meinul Lubis, AP yang selama ini menjabat Kepala Kantor Pelayanan Perizinan […]

  • Rencana Perpanjangan Jabatan Kepala Desa Perlu Kajian Serius

    Rencana Perpanjangan Jabatan Kepala Desa Perlu Kajian Serius

    • calendar_month Rabu, 25 Jan 2023
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Pada tanggal 17 Januari 2023 ratusan kepala desa berdemonstrasi di depan gedung DPR RI untuk menuntut perpanjangan masa jabatan kepala desa yang awalnya 6 tahun menjadi 9 tahun. Alasan tidak cukup waktu untuk membangun desa karena masih ada ketegangan politik setelah Pilkades, dan perlu persiapan 1 tahun untuk menyiapkan diri sebelum masuk masa Pilkades kembali […]

expand_less