Selasa, 14 Jul 2026
light_mode

Mixing PAI dan PKn, Matching?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 27 Jun 2020
  • print Cetak

Oleh : Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen Pendidikan Islam

Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) meminta klarifikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang sedang membahas kemungkinan penggabungan mata pelajaran PAI dengan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Jika upaya penggabungan PKN dan PAI menjadi satu mata pelajaran, Mahnan menegaskan, AGPAII menolak kebijakan itu karena menimbulkan persoalan besar. Dia mengatakan, PAI dan PKN masing-masing memiliki materi yang mendalam jadi dengan penggabungan dapat mereduksi masing-masing mata pelajaran (mapel). Untuk PKN yang materinya berisi Pancasila, juga sebaiknya tidak direduksi melalui penggabungan dengan PAI.

Pancasila, menurut Mahnan, adalah sebuah sumber hukum, filsafat dan nilai yang tidak akan kering digali. Pancasila harusnya jadi mapel sendiri sebagai strategi penguatan ideologi Pancasila. (Republika.co.id. 19/06/06/2020)

Pendidikan Indonesia kembali diguncang satu issu yang menghebohkan. Jagad sosial media dan media mainstream memberitakan hal tersebut sepanjang sepekan terakhir. Issu itu adalah wacana meleburkan atau menggabungkan dua mata pelajaran menjadi satu. Yaitu pelajaran pendidikan Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan atau PKn.

Wacana ini jelas menuai kritik dan juga kontroversi dikalangan pendidik. Khususnya bagi guru pendidikan Islam. Bahkan ke depan bisa berimbas pada banyak hal. Oleh karena itu, wacana tersebut dapat dikritisi melalui beberapa sudut pandang berikut.

Pertama, rencana terhadap peleburan dua mata pelajaran tersebut jelas harus dipertanyakan. Logika apa yang dipakai untuk membuat mixing antara Pendidikan Islam dan Kewarganegaraan. Bukankah sudah puluhan tahun kedua mapel tersebut terpisah secara disiplin ilmu dan tidak terintegrasi? Lalu kenapa hari ini pemerintah begitu getol untuk melakukan peleburan? Bahkan sekedar dasar pemikiran untuk melakukan hal tersebut pun tidak disampaikan ke publik. Setidaknya pemerintah memberitahukan alasan terkuat yang tidak terbantahkan untuk meleburkan dua mata pelajaran tersebut.

Kedua, Menhan menyebutkan bahwa penggabungan kedua mapel tersebut akan mereduksi materi dan pemahaman dari substansi kedua mata pelajaran. Memang benar. Sebab Agama Islam sendiri memuat materi-materi pembelajaran yang selama ini disusun berdasarkan ajaran Islam yaitu bersumber dari Alquran, Hadist, Fiqih, dan Sejarah Islam. Sementara materi pembelajaran kewarganegaraan lebih kepada penanaman moral, nasionalisme, dan juga tata negara. Dimana dasar pemikiran yang dipakai adalah mendominasi nilai-nilai budaya lokal yang tidak semuanya diterima Islam serta bercampur dengan pemikiran asing seperti Barat.

Ketiga, dalam penggabungan kedua mapel ini yang sangat mungkin mengalami banyak reduksi adalah agama Islam. Sebab, nantinya ajaran Islam akan didudukkan di bawah pelajaran Kewarganegaraan yang dianggap lebih tinggi daripada ajaran agama. Dengan senjata ampuh atas nama Pancasila dan Nasionalisme, ajaran Islam yang tadinya murni akan disesuaikan dengan paham sekuler dan ortodok zaman Kegelapan Demokrasi. Tanpa digabung saja, ajaran Islam sudah banyak direduksi apalagi jika kelak benar-benar terjadi. Agama khususnya Islam akan terus ditekan.

Keempat, setiap kebijakan yang membawa nama ideologi bangsa, selalu menyeret-nyeret agama. Apakah Islam, Kristen, Hindu,Buddha, dan Kong Hu Chu. Tetapi yang terus dijadikan sorotan dan mendapat tekanan adalah ajaran agama Islam.

Kelima, mixing PAI dan PKn hanya akan menyakiti profesi para guru agama Islam di Indonesia. Hal ini juga akan membuat kesempatan guru PAI untuk mengajar semakin sempit sebab bisa digantikan oleh mereka yang berlatar belakang pendidikan kewarganegaraan. Bukankah sama saja negeri ini pelan-pelan tapi pasti ingin menghilangkan ruh generasi muda kaum muslimin dan membatasi lahirnya para guru PAI? Dan yang paling sakit, jika guru PAI kelak tidak akan laku lagi.

Sungguh kebijakan pemerintah dalam hal pendidikan terus menjadi polemik. Keputusan sepihak tanpa melibatkan para pakar menjadi habit bagi pemerintah untuk bertindak sewenang-wenang. Meskipun Meteri Pendidikan telah menyangkal wacana tersebut, tetapi DPR dan Asosiasi guru PAI Indonesia telah melayangkan surat terkait penolakan rencana mixing kedua mapel yang dianggap tidak perlu dilakukan. Reaksi yang terus mengalir dari beberapa kalangan pendidik, dan poltiisi menunjukkan bahwa wacana ini memang sedang dibahas.

Sebenarnya, wacana untuk menghapuskan mata pelajaran pendidikan agama Islam bukanlah baru muncul belakangan ini. Namun dalam periode jilid I rezim Jokowi, PDIP pernah mengeluarkan saran agar pendidikan agama Islam dihapus saja dari pendidikan karena berbahaya kepada anak-anak. Hal tersebut pernah terlontar secara langsung dari lisan Megawati sebagai ketua Dewan Pembina PDIP.

Jauh sebelumnya, pendidikan agama Islam juga telah dianggap tidak penting bagi pendidikan nasional dan cita-citanya. Terbukti dengan menjadikan mata pelajaran pendidikan agama Islam di PT non PTAI telah dijadikan mata kuliah umum pilihan. Artinya juka mau diambil silahkan, tidak juga no problem. Dan tidak ada hubungannya dengan kelulusan.

Apalagi saat ini di era RI 4.0 yang mengarahkan seluruh aktifitas kehidupan manusia disesuaikan dengan kebutuhan pasar. Tidak terkecuali dunia pendidikan. Fakultas dan jurusan harus didirikan sesuai dengan permintaan yang laku keras di pasaran. Tentu saja, Fakultas PAI tidak punya stand di pasar global. Sehingga, dipertahankan juga tidak laku. Hanya saja, terlalu extrem jika PAI harus dihapuskan dari PTAI dengan kebijakan. Maka harus dilakukan dengan langkah-langkah yang soft dan bertahap.

Semua ini terjadi di balik agenda sekularisasi dan kapitalisasi dunia Islam. Terlebih kepada generasi masa depannya. Ummat Islam dididik dengan materi-materi pelajaran sekuler dan jauh dari pehaman Islam yang terintegrasi dan holistik.

Jika negeri ini menggandeng sistem pendidikan Islam yang berbasis aqidah, tentu keributan soal peleburan dua rumpun keilmuan tidak perlu terjadi. Sebab, dalam Islam, dasar pemikiran mempelajari ilmu sangat jelas, yaitu aqidah. Jika berhubungan dengan siais, maka Islam menerima hal tersebut meskipun tidak berasal dari pemikiran Islam, tetapi penggunaannya diawasi agar tidak merugikan manusia dan melanggar hukum syara’.

Sementara jika berbau tsaqofah asing, maka akan diberikan hanya di tingkat pendidikan tinggi sebagai komparasi bukan untuk didalami. Pendidikan Agama Islam jelas menjadi prioritas utama kurikulum dalam negara. Sementara keilmuan lain yang sifatnya sains, dan teknologi menjadi penambah semarak dan khazanah keilmuan bagi kaum muslimin. Hukumnya juga fardhu kifayah yang tidak semua orang dituntut untuk mampu memahami dan ahli dibidangnya.

Jika melihat polemik mixing antara PAI dan Kewarganegaraan dari kacamata Islam memang sangat tidak matching. Sebab pendidikan Islam berdiri sendiri dengan landasan aqidah Islam. Dan Pendidikan kewarganegaraan sebagai tsaqofah asing dalam memahami kepemimpinan juga berdiri sendiri. Tidak bisa digabungkan.

Lain halnya dalam sistem pendidikan Islam, dimana tsaqofah kepemimpinan juga harus bersandarkan Alquran dan Hadist. Artinya, ilmu kepemimpinan, mengatur masyarakat, hukum, dan kenegaraan semuanya wajib disandarkan pada pemahaman Islam. Sehingga tidak terjadi dikotomi pemahaman (sekulerisasi) antara Islam dan Kenegaraan. Sebab Islam sendiri memiliki seperangkat aturan yang sudah jelas dalam membangun negara, mengatur masyarakat, dan juga undang-undangnya. Jadi, Islam dan kepemimpinan serta menjadi warga negara yang baik itu matching digabungkan jika dasar berfikirnya adalah Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam disebut dengan fiqh siyasah.

Oleh karena itu, jika Indonesia ingin pendidikan nasional ini berkualitas maka ambillah sistem pendidikan Islam. Tentunya, pendidikan Islam juga hanya bisa ditopang jika negaranya juga menerapkan aturan Islam secara kaaffah (menyeluruh). Karena tidak akan mungkin mengambil pendidikan saja berbasis aqidah Islam, sementara negara yang menaunginya beraqidah sekuler. Islam harus diambil seluruhnya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-quran:
يَا اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كآفَّة
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah” (Q.S. al-Baqarah [2]: 208)
Wallahu a’lam Bissawab.***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ironi Korupsi, Ibarat Gelar di Antara Pejabat

    Ironi Korupsi, Ibarat Gelar di Antara Pejabat

    • calendar_month Senin, 19 Des 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Oleh: Dewi Nasution Pegiat Literasi   Disebutkan dalam riwayat Imam At-Turmudzi: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الْحَارِثِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami […]

  • Warga Sihitang dan HMI Sidimpuan Kelola Parkir

    Warga Sihitang dan HMI Sidimpuan Kelola Parkir

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    Tapsel – Warga Lingkungan IV, Kelurahan Sihitang, Kecamatan Padangsidimpuan Tenggara bekerjasama dengan HMI Cabang Padangsidimpuan, melakukan aksi pengalangan dana untuk kelanjuan pembangunan Mesjid Al-Barokah dengan cara mengelola parkir. Ketua Panitia Parkir Al-Barokah, Sukur Nasution kepada Medan Bisnis, mengatakan, momentum wisuda UGN periode XXXIII TA 2014/2015, di Aula Kampus III Eks Asrama Haji, Sihitang, melibatkan keikutsertaan […]

  • Harga Karet Terus Terpuruk, Petani Karet Beralih ke Kopi

    Harga Karet Terus Terpuruk, Petani Karet Beralih ke Kopi

    • calendar_month Selasa, 2 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harga karet alam yang terus terpuruk, menyebabkan petani karet sudah banyak beralih usaha ke tanaman kopi. Demikian dikatakan Ali Musa Manto Lubis, salah seorang petani Kopi di Mandailing Natal (Madina), menjawab Mandailing Online, Senin, (1/8) di Panyabungan. Manto mengungkapkan, berdasar catatan yang dibukukannya, terdapat sekitar 45 % petani karet mulai menyeriusi tanaman […]

  • Gagal Bamus DPRD Juga faktor Uang Sogok

    Gagal Bamus DPRD Juga faktor Uang Sogok

    • calendar_month Sabtu, 11 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan (MO) – Kegagalan Badan Musyawarah (Bamus) DPRD Madina menyelenggarakan rapat membahas jadwal pembahasan Perhitungan APBD 2011, tidak melulu berlatar penekanan politik kepada pemerintahan Hidayat-Dahlan. Motif kebanyakan anggota dewan adalah uang. Banyak anggota dewan ditengarai mematok konpensasi 10 juta rupiah agar bersedia hadir di rapat Bamus. “ ini dikarenakan banyak anggota DPRD saat ini sudah […]

  • 100 Lebih Anak di Madina di Sirkumsisi

    100 Lebih Anak di Madina di Sirkumsisi

    • calendar_month Selasa, 29 Agt 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN( Mandailing Online ) ada 100 san anak di Kecamatan Naga Juang dan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) hari ini selasa 29/8/2023 di Sirkumsisi atau Khitanan. selain khitanan anak, ada juga pelayanan kesehatan gratis pada masyarakat kurang mampu dan operasi bibir sumbing. kegiatan ini berlangsung di dua Puskesmas yakni Puskesmas Naga Juang […]

  • Snowden Bocorkan Penyadapan SBY dan Menteri oleh Australia

    Snowden Bocorkan Penyadapan SBY dan Menteri oleh Australia

    • calendar_month Senin, 18 Nov 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA – Hubungan Indonesia – Australia bakal semakin memanas. Pasalnya, Senin (18/11), whistleblower asal AS, Edward Snowden kepada media Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan harian Inggris The Guardian, membocorkan dokumen yang menunjukkan badan mata-mata Australia telah menyadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan sang istri, Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri senior juga menjadi target penyadapan. AFP […]

expand_less