Sabtu, 7 Mar 2026
light_mode

API KEKUASAAN

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2020
  • print Cetak

Oleh : Askolani Nasution
Budayawan/Sutradara

 

Kalau ada rasa kekuasaan yang bisa dikecap di lidah, saya yakin rasanya asin seperti garam. Sebab, ketika Anda menapakinya selalu butuh jalan yang sulit. Bahkan ketika Anda menggenggamnya, jauh lebih sulut lagi menungganginya. Sekali Anda tergelincir, bukan hanya butuh lima tahunan untuk menaikinya lagi, Anda juga bisa kehilangan seluruh keramahtamahan dari para kacung yang dulu mendudukkan Anda seperti dewa.

Tentu saja. Hal tersulit dalam kehilangan kekuasaan adalah rontoknya pujian, teguran basa-basi, tepuk tangan palsu, dan keramahan palsu dari mereka yang hidupnya dari pemujaan. Padahal, itu yang rasanya manis dan acapkali memabukkan. Maka, dikisahkan juga dalam kitab-kitab mazmur, betapa ketika Tuhan menciptakan manusia, para setan yang pertama protes. Sebab, segala sifat haus duniawi itu melekat pada makhluk ciptaan baru itu.

Kata orang, kekuasaan itu tak ada cukupnya. Ia seperti minum air laut. Makin banyak diminum, makin haus. Selalu ada keinginan untuk menumpuk kekuasaan hingga menjadi surplus.

Begitulah dalam setiap putaran pilkada, setiap kelompok kekuasaan membangun faksinya. Masing-masing ada benderanya. Bendera itu ikon pembeda. Juga bagian dari jargon. Seolah-olah kalau tanpa jargon, Pilkada tidak syah. Ya kan? Mana ada yang tanpa jargon.

Jargon itu cara kita mengkemas maksud (terselubung). Seakan-akan sebuah jargon akan menyihir setiap orang untuk masuk ke dalam kerumunan itu. Padahal ia memang hanya kerumunan yang terbentuk sesaat menjelang Pilkada, bukan bangunan ideologi yang ditumbuhkan dengan sistem kader.

Politisi kita nyaris tanpa kader. Itulah yang hilang dalam perjalanan demokrasi di Indonesia, terutama di daerah. Soekarno, Agus Salim, itu kader Cokroaminoto. Adam Malik, Chairul Saleh, itu kader Soekarno. Dan seterusnya, akan sangat panjang kalau dipreteli. Sebagai kader, mereka tumbuh dewasa dengan jepitan ideologi yang khusuk. Mereka juga dibesarkan ideologi itu.

Sekarang? Orang tumbuh atas simbiosis mutualisme saja. Ukurannya keuntungan timbal balik, bukan kesamaan cara pandang, apalagi ikatan ideologi. Bahkan para kader yang direkrut menjelang pendaftaran pilkada, misalnya, tak butuh kesamaan ideologi. Ia hanya dibutuhkan untuk mengatakan “yes” saja, mampu mendistribusikan pilihan, mengelola dukungan untuk hari pencoblosan, dan tentu dengan hitungan distribusi keuangan yang terukur.

Tentu saja. Paslon juga tak punya ideologi. Karena itu partainya bisa apa saja. Partai dalam konteks Pilkada seperti mencari pendamping pengantin untuk hari-H pesta pernikahan saja. Terserah siapa, yang penting mau. Karena ia bukan pasangan yang akan dipakai sehabis pesta nikah selesai.Dan ini, namanya pendamping pengantin, ya wajar dong minta dikasih upah harian. Sebab, begitu pengantin naik ranjang, mereka yang pertama dibuang.

Namanya pendamping pengantin, pengunjung pesta juga tidak peduli. Mau baju merah, kuning, hijau, emang gua pikirin. Semua tahu, mereka tidak sedang menyalami pendamping pengantin, tetapi pengantinnya. Tidak akan ada yang menanya agama pendamping pengantin, pernah maling atau tidak, karena memang tidak untuk dianggap. Ia hanya jumlah yang mesti dicukupkan: delapan kursi di DPRD Madina.

Lalu panggung akan dikemas. Makin besar iring-iringan, makin gagah di foto. Dan dalam dunia maya sekarang, foto seolah-olah akan membentuk citra baru, kemasan baru, dan diyakini soliditasnya sampai ke bilik suara. Karena keyakinan itu, banyak kandidat kaget ketika dihitungan akhir suara mereka kalah, padahal mereka pemilik kerumunan paling waw. Mereka lupa bahwa, itu yang di foto, hanya kerumuman yang dibentuk sesaat, tanpa ikatan ideologi. Namanya kerumunan, ia tidak bisa diikat oleh apa pun.

Beda masa pra kemerdekaan dulu. Begitu diumumkan Cokroaminoto akan berpidato di rapat akbar, orang-orang akan berdatangan, ada atau tidak jangung rebus sebagai cemilan. Karena orientasinya pendidikan politik, memahat kecerdasan bernegara, menguatkan kesadaran berbangsa, perasaan senasib sepenanggungan, dan seterusnya. Tidak ada yang berpidato sambil mengatakan: “Pilihlah Aku!”. Kalau kita menang akan bla…bla..bla….

Pemimpin politik pada waktu itu pengakuan sosial. Ia tidak butuh jumlah suara coblosan untuk disebut pemimpin. Mereka juga tak membayar orang untuk dicoblos, misalnya. Mereka hanya menumbuhkan kepercayaan sosial bahwa bersama mereka hidup setiap orang akan lebih baik.

Orang juga melihat ketulusan mereka. Orang tahu, kalau Soekarno menjilat kekuasaan, ia bisa amat kaya. Karena ia insiyur teknis yang hanya terhitung dengan jari jumlahnya. Tapi mereka memilih hidup miskin. Dan orang tahu, memang mereka semua miskin. Hatta, Agus Salim, makan saja susah.

Sekarang? Semua bisa menghitung betapa kekuasaan alat untuk mengumpulkan kekayaan. Menjadi pemimpin artinya menjadi punya kekuasaan untuk masuk ke akses-akses pendapatan personal. Semua tahu tentang itu, dan karena itu semua ngiler melihat daya tarik itu. Dan karena itu juga politisi tidak ragu untuk berinvestasi.Seakan-akan sebuah wilayah kekuasaan politis sama dengan wilayah dagang. Seolah-olah memimpin sama artinya dengan membangun perusahaan baru, ada cost, ada event break point, aba laba bersih, dan seterusnya. CSR-nya juga sudah dihitung. Itu yang akan dibagi-bagi untuk semua pendukung.

Dengan konsep itu kita menerjemahkan demokrasi politik. Dan makin tinggi jabatannya, makin mahal maharnya, dan makin besar benefit keuntungan, makin banyak para pemuja, makin banyak foto kita di media, makin banyak karangan bunga, makin banyak nyanyian, dan seterusnya.

Dengan itulah para tiran melebarkan cakar kekuasaannya: Fir’aun, Nero, Hitler, Stalin, Mussolini, Castro, dan seterusnya.

Tapi dapatkan kekuasaan memberi kepuasan pada manusia? Ketika sampai pada puncaknya, ia seperti orgasme. Hilang gairah untuk hidup. Maka, begitulah Nero, penguasa Romawi,ketika seluruh kekuasaan sudah ditangannya, ia malah mengabrasi dirinya sendiri. Ia bisa punya semua, tapi ia kehilangan cinta pada gadis pencari kayu bakar, kekasihnya sebelum berkuasa dulu. Ia akhirnya berdiri di bukit Roma, lalu membakar kota Roma.

Api itu, adalah metafora betapa ketulusan seorang gadis pencari kayu bakar jauh lebih berharga dari sebuah kekuasaan yang surplus. Itu juga yang dirasakan Don Corleone, bos mafia dari Sisilia di film “The God Father”. Gangster berhati dingin itu pada akhirnya menangis di depan jasad putrinya yang tertembak, menyadarkan hari tuanya, betapa sebuah kekuasaan bisa membeli apa saja, tapi ia tidak bisa membeli ketulusan.

Di akhir hidupnya, Don Corleone duduk di bawah kayu, angin menghembuskan daun-daun gugur, dan lalu lelaki itu terguling dari kursi roda, jatuh di dekat anjingnya. Anjing itu menggonggong, tapi tak mampu menolongnya.***

 

Penulis tinggal di Mandailing Natal, Sumut

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • H-4 hingga H+1, Truk Dilarang Melintas di Sumut

    H-4 hingga H+1, Truk Dilarang Melintas di Sumut

    • calendar_month Selasa, 14 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN, Untuk kenyamanan arus mudik, truk-truk akan dilarang melintasi wilayah Sumatra Utara (Sumut) sejak H-4 hingga H+1. Truk pengangkut sembako dan BBM saja yang masih diperbolehkan melintasi Sumut. Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Raden Heru Prakoso mengatakan ini diberlakukan karena volume kenderaan akan meningkat tajam menjelang Lebaran dan dikhawatirkan akan menyebabkan kemacetan jika truk-truk […]

  • Pangdam: Penembakan di Aceh tak ganggu pilkada

    Pangdam: Penembakan di Aceh tak ganggu pilkada

    • calendar_month Selasa, 3 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEULABOH – Panglima Kodam Iskandar Muda (IM) Mayjen TNI Adi Mulyono menegaskan bahwa aksi penembakan yang menewaskan warga Aceh di malam pergantian tahun baru 2012 tidak terkait unsur politik pemilukada. “Saya tegaskan aksi penembakan yang terjadi selama ini sama sekali tidak mengarah untuk menganggu berlangsungnya pemilukada di Aceh,” katanya tadi malam. Pernyataan tersebut menanggapi adanya […]

  • Babak Baru Kasus Smartvillage, Direktur PT ISN Ditetapkan Tersangka

    Babak Baru Kasus Smartvillage, Direktur PT ISN Ditetapkan Tersangka

    • calendar_month 21 jam yang lalu
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA ( Mandailing Online )– Kejaksaan Negeri Mandailing Natal (Madina) melalui Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Jupri Banjarnahor mengumumkan Direktur PT Infomedia Solusi Net (ISN) sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Smartvillage di Kabupaten Madina tahun 2023. Hal ini disampaikan Jupri dihadapan wartawan di Kantor Kejari Madina, Jum’at (5/3/2026). “Dalam kasus dugaan korupsi proyek Smartvillage […]

  • Di Madina, Warga Temukan Alat Hisap Sabu dan Warga Serbu Rumah Diduga Sarang Narkoba

    Di Madina, Warga Temukan Alat Hisap Sabu dan Warga Serbu Rumah Diduga Sarang Narkoba

    • calendar_month Jumat, 21 Nov 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    MADINA (Mandailing Online ):Warga desa Hutabargot Lombang di Kecamatan Hutabargot, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) dihebohkan dengan penemuan belasan bekas alat hisap narkoba jenis sabu sabu di tumpukan sampah saat warga melaksanakan gotong royong. Kamis 20/11/2025. Kepala Desa Hutabargot Lombang, Muhammad Said Pulungan membenarkan informasi tersebut. Penemuan ini semakin memperkuat dugaan bahwa Kecamatan Hutabargot […]

  • Jelang Lengser, Kepala Daerah Dilarang Mutasi

    Jelang Lengser, Kepala Daerah Dilarang Mutasi

    • calendar_month Minggu, 6 Mar 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA- Banyaknya praktik kecurangan yang dilakukan kepala daerah sebelum mengakhiri masa jabatan membuat Kemendagri menyusun aturan baru. Yakni, enam bulan sebelum masa jabatan berakhir kepala daerah dilarang mengeluarkan kebijakan strategis. “Sebelum mundur, mereka (kepala daerah) biasanya mengeluarkan kebijakan strategis yang menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri Reydonnyzar Moenek. Pria yang […]

  • Syariah Islam Butuh Diterapkan, Bukan Direkontekstualisasi

    Syariah Islam Butuh Diterapkan, Bukan Direkontekstualisasi

    • calendar_month Jumat, 5 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memberikan sambutan pada pembukaan Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) yang ke-20 di Surakarta, Senin (25/10/2021). Dalam sambutan itu, dia antara lain menyampaikan pentingnya melakukan rekontekstualisasi sejumlah konsep fikih dalam rangka merespon tantangan zaman. Dia menambahkan bahwa ketidakstabilan sosial dan politik, perang saudara dan terorisme disebabkan oleh tindakan kelompok-kelompok […]

expand_less