Minggu, 30 Agu 2026
light_mode

Mengenal Partanian Organik di Jepang Metode Bangau Putih

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Selasa, 5 Okt 2021
  • print Cetak

Bangau putih hilang dari langit Jepang sejak tahun 1970-an.

Sekarang ratusan bangau berhasil kembali ke alam.

Sangat jarang dimanapun di dunia ini spesies yang pernah hilang hidup harmonis dengan manusia di lingkungan manusia.

Keajaiban ini terjadi karena melalui efford yang kuat dari mereka yang ingin hidup berdampingan dengan bangau lagi.

Kota Toyooka sedang berusaha untuk bangkit.

Toyooka berpenduduk 80.000 jiwa berada di kawasan lembah, aliran air besar mengalir di sekitarnya.

Sungai Maruyama memberikan keberkahan bagi petani di lembah itu. Ada banyak rawa dan sawah di sekitar sungai itu.

Bangau putih memiliki nafsu makan yang tinggi. Mereka memakan hewan kecil seperti kodok, belalang, capung dan ikan loaches.

Dengan meningkatkan populasi hewan-hewan kecil itu akan dapat meningkatkan populasi bangau putih.

Ministry of Agriculture, Foresty, and Fisheries dalam laporan awal tahun 2021 mengungkapkan, para petani berusaha keras untuk meningkatkan populasi bangau putih.

Bangau putih di masa lalu hidup di hampir semua penjuru Jepang.

Kepunahan bangau putih terjadi akibat polusi lingkungan yang diakibatkan oleh pestisida dan pupuk sintetis yang digunakan petani.

Tetsuro Inaba, seorang simulator dari asosiasi pertanian di Jepang menuturkan “dalam pertanian konvensional kita menggunakan pestisida untuk mengendalikan gulma maupun hama. Lama-lama kita menggunakan dosis yang makin tinggi dan kehidupan yang ada di sawah akan terganggu dan mati”.

Dia mengungkapkan, banyak orang yang pesimis bahwa mustahi menerapkan metode pertanian yang ramah lingkungan, dimana bangau dan kehidupan lainnya bisa saling berdampingan dengan manusia.

Namun, segala pesimis itu dapat dibantah oleh metode pertanian “Bangau Putih”.

“Prinsip dasar ini adalah, bagaimana selama budidaya padi kita bisa menjaga mahluk-mahluk hidup tetap dapat hidup baik sepanjang tahun,” kata Inaba.

Metode ini menekankan untuk tidak menggunakan pestisida dan pupuk sintetis yang sangat mengganggu ekosistem di sawah.

Tetapi tanpa pestisida tentu gulma dan hama akan mengganggu produksi tanamam padi.

Untuk mengatasi hal ini, para petani di lembah itu menggunakan metode yang berbeda dari budidaya padi pada umumnya.

Dan kawasan Hyogo di Shunji-Toyooka ini menjadi pusat metode “Bangau Putih” di Jepang.

Di sini Asosiasi Petani Bangau Putih mengembangkan metode pertanian organik mereka.

Titik vital pertanian ini adalah tata kelola air (irigasi) pada sawah.

Petani mengisi sawah mereka dengan air dari musim dingin hingga musim semi.

Tujuannya agar bangau dan kehidupan lainnya dapat bertahan selama musim dingin.

Tapi bukan hanya perendaman padi sawah, setelah panen mereka menebarkan campuran dedak padi dan kompos ke lahan sawah, tujuannya memberi makan kehidupan yang ada di lahan itu.

Hewan cacing memakan makanan itu dengan menggali tanah dan membuang kotorannya ke dalam air. Kotoran itu pupuk yang sangat baik untuk tanaman padi.

Kotoran itu terakumulasi di permukaan tanah menciptakan tekstur halus dan lapisan lumpur lembut.

Lapisan lumpur itu juga menutup pertumbuhan biji gulma, sehingga sangat efektif menekan gulma.

Pada musim semi hingga musim panas adalah musim membesarkan anak di kalangan bangau putih. Sedangkan akhir Mei adalah musim tanam di lembah itu.

Para petani menjaga akar padi tetap kuat agar tahan pada serangan penyakit. Ini langkah awal dalam pertanian organik.

Setelah penanaman, petani meningkatkan level air. Rumput akan cepat tumbuh jika level air rendah. Dan rumput harus ditekan agar padi tidak terganggu.

Air yang dalam tidak hanya mengendalikan gulma, tetapi juga menunjang kehidupan hewan-hewan kecil di antara rumpun padi.

Pada bulan Juni umumnya petani melakukan pengeringan pada lahan padi, untuk drainase pertengahan musim panas bertujuan menambah oksigen ke dalam tanah dan menguatkan akar padi.

Tetapi, jika lahan dikeringkan maka kehidupan hewan-hewan kecil akan terancam dan mati.

Maka metode pertanian “Bangau Putih” akan menunda pengeringan di bulan tersebut.

Setelah berudu atau cebong sudah berkaki akan dapat bergerak keluar dari air. Dan larva capung pun sudah tumbuh menjadi capung dewasa. hewan-hewan kecil itu tak lagi tergantung pada air.

Pada tahap itu anak-anak bangau pun sudah tumbuh dewasa seperti induknya. Maka mereka sudah bisa terbang kasana kemari.

Petani memperhatikan betul pertumbuhan mahluk-mahluk itu.

Barulah pada bulan Juli petani mengeringkan lahan.

Selama masa pengeringan, hewan-hewan kecil terevakuasi ke parit-parit di sebelah sawah. Petani sangat hati-hati agar mahluk-mahluk itu tetap hidup selama pengeringan.

Rumput atau gulma memang berkembang di masa pengeringan lahan. Tetapi gulma ini akan kalah bersaing dengan padi karena tanaman padi yang sudah besar menghalangi gulma dari sinar matahari.

“Selama priode ini padi akan tumbuh lebih cepat dari gulma. Jadi, tidak ada masalah,” kata Inaba.

Pada tahap buah padi sudah bermunculan, maka hama akan meningkat. Belalang pemakan daun, walang sangit penghisap sari padi.

Tetapi jumlah musuh alami hama itu juga akan bermunculan memakan hama, seperti katak, laba-laba, capung dan mantis. Hewan-hewan kecil itu terpelihara karena penundaan pengeringan, juga tidak adanya pestisida.

Sangat penting untuk dipahami petani, bahwa cara terbaik menangani hama adalah dengan memelihara musuh alami hama itu sendiri. Biarkan mereka hidup di lingkungan yang sama.

Metode “Bangau Putih” dimulai tahun 2003 di hamparan 0,7 hektar oleh 5 orang petani.

Beras yang mereka hasilkan bukan saja aman bagi kesehatan manusia, tetapi rasa nasinya juga nikmat, manis dan pulen.

Dan ini adalah salah satu beras kualitas terbaik di Jepang.

Konsumen juga membeli beras mereka dengan harga tinggi, karena beras ini tidak meracuni tubuh manusia.

Beras mereka sudah diekspor menuju 5 negara.

Kini di tahun 2021 ini luas lahan yang digarap bermetode “Bangau Putih” telah mencapai 4.000 hektar.

Di Indonesia metode organik ini masih sulit terterapkan, karena beras yang dihasilkan dari metode organik sama nilainya dengan beras yang dihasilkan dari metode penggunaan pestisida racun.

Editor: Dahlan Batubara

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pekan Raya Sumatera Utara Harus Menampilkan Wajah Utuh Budaya Mandailing Natal

    Pekan Raya Sumatera Utara Harus Menampilkan Wajah Utuh Budaya Mandailing Natal

    • calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
    • account_circle Dina Syarifah
    • 0Komentar

      Oleh: Dina Syarifah Nasution Pegiat di GEREP INSTITUTE (Pusat Kajian Mandailing Natal)   Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) merupakan salah satu agenda budaya terbesar di Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini bukan sekadar ajang hiburan, melainkan ruang strategis untuk memperkenalkan identitas, kekayaan budaya, serta potensi setiap kabupaten dan kota kepada masyarakat luas. Oleh karena itu, […]

  • PNS harus Tahu Diri dengan Tupoksinya

    PNS harus Tahu Diri dengan Tupoksinya

    • calendar_month Sabtu, 14 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MADINA-Untuk meningkatkan citra dan kinerja Pemkab Madina serta menjawab isu-isu miring terkait bobroknya kinerja aparaturnya, salah satu caranya, pegawainya harus tahu tugas pokok dan fugsi (tupoksi) nya. Dengan adanya persepesi bahwa Pegawai Negeri Sipil (PNS) harus tahu diri dan menghargai tupoksi masing-masing, jelas akan mudah menjalan visi dan misi kepala daerah. Jika PNS tidak tahu […]

  • Astaga… Sertifikasi Masih Di-Pungli, Setiap Guru Kena Rp 150 Ribu

    Astaga… Sertifikasi Masih Di-Pungli, Setiap Guru Kena Rp 150 Ribu

    • calendar_month Sabtu, 21 Mar 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    DUGAAN pungutan liar (pungli) di lingkup Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Blitar, tampaknya, telah menjalar ke mana-mana. Ddiduga kuat, bukan hanya dana bantuan operasional pendidikan (BOP) yang dipungli, melainkan juga dana sertifikasi guru.  Yang miris, pungli itu tidak hanya terjadi di Kecamatan Wonodadi, tetapi hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Blitar. Uang sertifikasi yang dipotong dispendik mencapai […]

  • Bupati Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran

    Bupati Serahkan Bantuan kepada Korban Kebakaran

    • calendar_month Jumat, 6 Mei 2022
    • account_circle Roy Adam
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Bupati Mandailing Natal (Madina) H. M. Ja’far Sukhairi Nasution menyerahkan bantuan secara langsung kepada korban kebakaran di Desa Sirambas, Panyabungan Barat. Dalam kunjungan tersebut Bupati Sukhairi didampingi Kadis Kominfo Sahnan Pasaribu, Camat Panyabungan Barat Raja Hidayat Lubis dan Kepala Desa Abu Hanifah. Bupati Sukhairi memberikan bantuan berupa uang tunai. Sementara bantuan […]

  • Ada Pengadaan Obat Obatan di Distan Madina, Saat Dikonfirmasi, Staf Mengaku Kabid Sedang Tidur

    Ada Pengadaan Obat Obatan di Distan Madina, Saat Dikonfirmasi, Staf Mengaku Kabid Sedang Tidur

    • calendar_month Rabu, 27 Agt 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Berdasarkan data yang dihimpun Mandailing Online ada pengadaan obat obatan di Dinas Pertanian senilai Rp. Rp. 200.498.700. alokasi dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2025. Ada 5 item dari dana sekitar 200 juta lebih tersebut yang dibelanjakan contoh  seperti belanja obat-obatan dengan jenis pengadaan […]

  • Warga : Kolam SMGP Tidak Ada Pagar

    Warga : Kolam SMGP Tidak Ada Pagar

    • calendar_month Minggu, 30 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

      SIBANGGOR (Mandailing Online) – Warga Desa Sibanggor Jae umumnya menyalahkan pihak PT.SMGP terkait tewasnya dua remaja di kolam milik perusahaan itu. Itu diungkapkan warga serta kerabat keluarga korban kepada sejumlah wartawan yang melayat ke kediaman keluarga korban, Minggu (30/9/2018). Kedua korban dimakamkan di desa itu sekitar pukul 10.00 WIB di komplek perkuburan desa. Masing-masing […]

expand_less