Jumat, 21 Agu 2026
light_mode

Mencium Aroma Sereh dalam “Model Pembangunan Alternatif” Madina

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

Ketika Pemerintah Belajar Sistem — Organisasi Tani Justru Tidak Diajak

 

 

Oleh: Tim Mandailing Epicentrum

 

Ada sesuatu yang menarik dari langkah Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal belakangan ini.

Di tengah kebiasaan lama pembangunan daerah yang sering berhenti pada pembagian bibit dan proyek musiman, Pemkab Madina justru terlihat mulai bergerak ke arah yang lebih serius: belajar mengelola sereh wangi dari hulu sampai hilir.

Bukan cuma dinas pertanian.
Bukan cuma urusan kebun.

Rombongan yang dibawa bahkan lintas sektor:

* koperasi,
* pemberdayaan desa,
* hingga OPD terkait lainnya.

Kalau dibaca secara serius, ini sebenarnya sinyal penting:

> pemerintah mulai sadar bahwa pertanian bukan sekadar tanam-menananam, tetapi soal membangun sistem ekonomi.

Dan itu patut diapresiasi.

Karena selama ini terlalu banyak program pertanian lahir dengan pola lama:

* bagi bibit,
* foto bersama,
* panen simbolik,
* lalu selesai.

Petani ditinggalkan sendirian menghadapi hilir dan harga pasar yang brutal.

Maka ketika pemerintah mulai bicara “hulu sampai hilir”, publik tentu berharap ada arah baru:

* hilirisasi,
* industri pengolahan,
* koperasi tani,
* akses pasar,
* bahkan rantai ekspor.

Apalagi jika dikaitkan dengan:

* Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution,
* Pelabuhan Palimbungan,
* kawasan ekonomi Batahan,
* dan jalur pantai barat selatan Sumut,

maka sereh wangi memang bisa dibaca sebagai bagian dari “model pembangunan alternatif” Madina:

> ekonomi desa berbasis agroindustri rakyat.

Tetapi justru karena ini terlihat serius, ada satu pertanyaan yang terasa makin mengganggu:

> Mengapa organisasi tani tidak ikut diajak?

Di Madina, publik mengenal adanya kelompok dan jaringan organisasi tani seperti:

* KTNA,
* HKTI,
* hingga berbagai komunitas petani lokal yang selama ini bersentuhan langsung dengan realitas lapangan.

Kalau tujuan kunjungan itu adalah membangun sistem pertanian rakyat, bukankah mereka justru pihak yang paling penting untuk dilibatkan?

Karena birokrasi punya kewenangan.
Tetapi petani punya pengalaman.

Pejabat bisa menyusun program.
Tetapi petani yang memahami:

– karakter lahan,
– keterbatasan infrastruktur,
– keamanan berusaha,
– pola gagal panen,
– permainan tengkulak,
– hingga kenyataan pahit saat harga anjlok.

Dan sering kali, pembangunan pertanian gagal justru karena pemerintah terlalu percaya bahwa semua bisa diselesaikan lewat rapat OPD.

Pertanyaan ini penting bukan untuk menyerang bupati. Justru sebaliknya.

Kalau Pemkab Madina benar-benar ingin membangun model ekonomi pertanian baru, maka pembangunan itu tidak boleh terlalu birokratis. Ia harus melibatkan:

* organisasi tani,
* koperasi petani,
* pelaku penyulingan,
* UMKM,
* bahkan jaringan pemasaran.

Sebab pertanian modern bukan lagi proyek dinas. Ia adalah ekosistem sosial-ekonomi.

Dan ekosistem tidak mungkin hidup kalau petaninya hanya dijadikan objek, bukan subjek.

Di titik inilah aroma sereh itu menjadi menarik.

Karena publik mulai mencium dua kemungkinan sekaligus.

Kemungkinan pertama:

> Madina memang sedang serius membangun model ekonomi desa baru.

Tetapi kemungkinan kedua juga ada:

> jangan-jangan ini masih pembangunan gaya lama — hanya saja kemasannya lebih modern.

Bedanya: dahulu bagi bibit.
Sekarang studi banding.

Padahal inti persoalannya tetap sama:

> apakah rakyat benar-benar dilibatkan sejak awal?

Sebab sejarah pembangunan kita terlalu sering dipenuhi proyek yang terlihat hebat di meja pemerintah, tetapi terasa asing di tangan petani.

Dan kalau organisasi tani saja tidak ikut duduk dalam proses belajar sistem ini, publik berhak bertanya:

> pembangunan sereh wangi ini sebenarnya sedang dibangun bersama petani — atau hanya sedang dibangun untuk petani?***

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dinas Kependudukan Dimutilasi, 3 SKPD Baru Diciptakan

    Dinas Kependudukan Dimutilasi, 3 SKPD Baru Diciptakan

    • calendar_month Jumat, 7 Okt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal saat ini menunggu pengesahan Susunan Organisasi Perangkat Daerah dari Biro Otda Sumatera Utara. Perubahan Susunan Organisasi Perangkat Daerah itu sebelumnya telah direkomendasikan oleh DPRD Mandailing Natal (Madina) pada Jum’at (30/9) lalu dalam rapat paripurna berdasar berdasar laporan Panitia Khusus (Pansus) DPRD Madina. Di dalam laporan Pansus yang […]

  • Kandidat dan Jargon

    Kandidat dan Jargon

    • calendar_month Selasa, 15 Sep 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Ini dia masing-masing pasangan calon bupati/wakil bupati Mandailing Natal untuk Pilkada 2015. Nomor urut 1 pasangan Yusuf Nasution-Imron Lubis mengusung jargon “Berhasil”. Nomor urut 2 pasangan Dahlan Hasan-Jakfar Sukhairi berjargon “Lanjutkan”. Nomor urut 3 pasangan Saparuddin Haji-Miswaruddin Daulay mencuatkan jargon “Sahabat Muda”. Desain/grafis   : Dahlan Batubara  

  • Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    Jembatan Gantung Desa Kampung Baru Madina Ambruk

    • calendar_month Jumat, 3 Feb 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Jembatan gantung yang melintasi Sungai Batang Gadis, di Desa Kampung Baru, Kecamatan Panyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), ambruk. Penyebabnya luapan air Sungai Batang Gadis di akhir tahun 2011 lalu. Akibatnya, warga di lima desa di seberang sungai kesulitan beraktivitas seperti sekolah dan bekerja. Jembatan gantung sepanjang 110 meter dengan lebar sekitar satu meter […]

  • Warga dan Muspika Tinjau Lahan Sangketa Yang Digarap PT.PSU

    Warga dan Muspika Tinjau Lahan Sangketa Yang Digarap PT.PSU

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATANG NATAL (Mandailing Online) – Warga 4 Desa bersama camat, Danramil dan Polsek Muara Soma kembali melakukan peninjauan lahan adat yang dikuasi PT. PSU di Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal (Madina). Laha-lahan tersebut telah ditanami sawit oleh PT. PSU (PT.Perkebunan Sumatera Utara), padahal lahan-lahan itu sudah bersertifikat atas nama masyarakat. Ke-empat desa itu adalah Desa […]

  • Ketua DPRD Terdakwa, APBD Binjai Terbengkalai

    Ketua DPRD Terdakwa, APBD Binjai Terbengkalai

    • calendar_month Kamis, 5 Jan 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BINJAI- Status tersangka Ketua DPRD Binjai, Ir Haris Harto, mulai menggangu kinerja wakil rakyat dan pemerintahan kota Binjai. Sementara pengesahan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2012 belum dilakukan, khawatir dibatalkan di kemudian hari bila Haris berstatus terpidana. Usulan penonaktifan Ketua DPRD Binjai itu diterima Biro Otonomi Daerah (Otda) Pemprovsu dari unsure pimpinan DPRD Binjai melalui […]

  • Gugatan SUKA Diterima MK, Jadwal Sidang Akan Ditetapkan

    Gugatan SUKA Diterima MK, Jadwal Sidang Akan Ditetapkan

    • calendar_month Selasa, 19 Jan 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    JAKARTA (Mandailing Online) – Gugatan pasangan SUKA tentang sengketa Pilkada Madina diterima. Selanjutnya menunggu jadwal persidangan di Mahkamah Konstitusi (MK). Paslon nomor urut 1, HM Jafar Sukhairi Nsution-Atika Azmi Utammi Nasution atau lebih populer sebutan SUKA melakukan gugatan ke MK di Jakarta melalui kuasa hukum Dr.H.Adi Mansar, SH, M.Hum dan kawan-kawan. Menggugat KPUD terkait keputusan […]

expand_less