Rabu, 15 Jul 2026
light_mode

Ayo Mudik, Kawan!

  • account_circle Roy Adam
  • calendar_month Minggu, 1 Mei 2022
  • print Cetak

Mochtar Nasution/Istimewa.

ARTIKEL (Mandailing Online) – Lebih kurang tiga tahun sudah kita “Berperang” dengan virus Corona. Perang sengit yang banyak memakan korban dan selama berlangsung banyak dampak yang ditimbulkannya. Bukan hanya krisis kesehatan semata, tapi juga upaya pencegahan yang dinilai banyak orang bertabrakan dengan kaidah spritual dan keyakinan beragama yang dimiliki.

Perang terhadap virus ini tidak hanya memorak-porandakan perekonomian, tapi juga mendisrupsi tradisi dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Salah satunya adalah mudik yang dalam dua tahun terakhir terpaksa ditiadakan. Bahkan terkesan mustahil untuk dilakukan.

Dalam kurun waktu dua itu, sebagai makhluk pribadi dan sosial kita dikenalkan dengan berbagai metode baru sebuah perayaan, mulai model pesta pernikahan memakai zoominar hingga salat berjamaah dengan ketentuan jarak. Bahkan pada awal-awal pandemi banyak rumah ibadah yang terpaksa ditutup demi mencegah penyebaran virus yang telah menelan jutaan korban di seluruh dunia.

Pun, hal yang sama juga diberlakukan untuk pusat keramaian, termasuk rumah makan atau restoran. Kemudian, melihat sekelompok orang berjemur pada awal-awal matahari terbit menjadi hal yang jamak. Beragam kegiatan yang pada mulanya begitu sulit dikerjakan justru menjadi kebiasaan seiring pemberlakuan lockdown mini, PSBB, PPKM dan sederet istilah lainnya.

Sebagian dari publik menjadi frustrasi akibat pemberitaan Covid-19 secara massif dan bertubi-tubi. Sialnya, diperparah dengan regulasi yang silih berganti. Para pekerja baik kantoran maupun swasta terpaksa dan dipaksa untuk WFH ( Work From Home), suatu kegiatan yang awalnya sangat membingungkan sekaligus ‘membagongkan’, terlebih bagi mereka yang gaptek (gagap teknologi).

Tahun ini seiring dengan melandainya penyebaran Covid-19 berikut dengan virus turunannya, mudik pun mulai diperbolehkan kendatipun tetap mengetatkan prokes sebagai syarat utamanya. Cuti bersama yang selama dua tahun ini ‘hilang” kembali hadir. Geliat ekonomi meski pelan, tapi pasti mengalami peningkatan.

Dalam dua tahun terakhir kita ‘dipaksa’ menjadi kaum rebahan dengan segala dinamika dan tantangannya. Dua tahun juga tak terasa air mata sering menetes mendengar sanak famili dan keluarga yang wafat akibat virus ini. Akhirnya di tahun 1443 H ini kita bisa kembali mengunjungi ayah/ibu dan sanak saudara lainnya di kampung. Kondisi ini bisa diibaratkan seperti anak kecil yang diberi permen. Pelonggaran mudik ini pun disambut dengan penuh suka cita.

Suatu hal yang amat sangat diidamkan dan dirindukan untuk bisa sungkem dikaki orang tua, bersilaturrahmi dengan saudara, berbagi cerita suka dan duka, dan saling bertegur sapa untuk mengenang kembali masa lalu akhirnya bisa ditunaikan. Dua tahun terakhir ini kita hanya bisa silaturahmi melalui video call, tapi tahun ini bisa bersimpuh, bersalaman, dan berpelukan langsung.

Perasaan rindu yang membuncah akhirnya tertuntaskan dengan adanya pelonggaran mudik tahun ini. Bahkan banyak pemerintah daerah turut serta memudahkan para pemudik dengan mengadakan program mudik gratis. Begitu ada informasi yang membolehkan mudik, hati yang selama ini was-was berubah jadi gembira. Kita pun mulai sibuk menghitung biaya perjalanan, biaya tiket, biaya oleh-oleh, uang THR dan sebagainya. Kita seakan mendapat durian runtuh dan tentu saja hal ini tidak ingin dilewatkan begitu saja. Bahkan celengan anak-anak dirumah pun ‘dikorbankan” untuk menambah biaya selama di kampung nantinya.

Mudik bukan hanya sebatas itu, Kawan. Bukan sekadar melepas rindu dengan kampung halaman.Tidak hanya untuk bersalaman dan silaturrahmi saja. Bukan pula hanya untuk tanya kabar sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa. Mudik tentu bukan sekedar pulang kampung semata.

Setiap saat kita bisa pulang kampung dan tidak mesti menunggu momen hari raya. Mudik juga bukan karena suka cita meluapkan kegembiraan menyambut 1 Syawal, tapi lebih dari itu. Ada sesuatu yang nilainya abstrak dalam mudik ini sehingga meskipun berdesak-desakan, berjubel, bahkan menggunakan mode transportasi roda dua pun dilakukan untuk menempuh perjalanan pulang kampung.

Nilai abstrak itu tidak akan ditemukan di perkantoran, di perkotaan, di bangku kuliah juga tidak akan ditemukan sekalipun di kompleks rumah mewah tempat Anda tinggal. Nilai ini jualah yang akan memaksa Anda untuk pulang. Ada perasaan damai di rumah orang tua meskipun hanya dibalut papan seadanya, tidur tanpa AC, dan keleluasaan jalan-jalan tanpa khawatir dibegal.

Mudik sudah menjadi tradisi dan kultur yang tidak akan lekang oleh transformasi zaman sekalipun nanti kita jauh meninggalkan revolusi industri 4,0. Mudik akan tetap menjadi kebutuhan spritual lengkap dengan dimensi kemanusiaan. Selamanya akan dituturkan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya.

Ayo mudik, Kawan!T

Taqobbalallohu Minna Waminkum.

 

 

Oleh: Mochtar Nasution

Penulis adalah Kolomnis Mandailing Online

Berdomisili di Panyabungan, Mandailing Natal

  • Penulis: Roy Adam

Rekomendasi Untuk Anda

  • 10.649 Pelamar CPNS Tak Lulus

    10.649 Pelamar CPNS Tak Lulus

    • calendar_month Minggu, 26 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Medan, Dari 14.679 pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Pemko Medan, 3.707 pelamar ternyata tidak mengikuti ujian untuk memperebutkan 324 formasi. Dengan demikian, 10.649 pelamar CPNS Pemko Medan dinyatakan tidak lulus. Sebagian di antara mereka menjadi pengangguran. Informasi dihimpun wartawan dari salah seorang staf di Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Medan, Rabu (22/12/2010), ada […]

  • KTNA Madina Juara I Stan Pameran Peda KTNA Sumut

    KTNA Madina Juara I Stan Pameran Peda KTNA Sumut

    • calendar_month Sabtu, 13 Agt 2016
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    BATUBARA (Mandailing Online) – KTNA Mandailing Natal (Madina) meraih juara I Lomba Stan Pameran di Pekan Daerah (Peda) KTNA tingkat Provinsi Sumatera Utara. Pekan Daerah Kontak Tani Nelayan Andalan itu di buka oleh Gubernur Sumatera Utara Tengku Ery Nuradi  tanggal 9 Agustus dan ditutup Jum’at (12/8/2016) di Desa Pulau Sejuk, Kecamatan Lima Puluh Kabupaten Batubara. […]

  • Kebutuhan Tenaga Ahli Teknologi Informasi Mencapai 1.000 Orang per Bulan

    Kebutuhan Tenaga Ahli Teknologi Informasi Mencapai 1.000 Orang per Bulan

    • calendar_month Rabu, 10 Mei 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      Sumber : Bisnis.com / Editor : Dahlan Batubara JAKARTA (Mandailing Online) – Jika Anda atau anak Anda bingung memilih jurusan di perguruan tinggi, dan mudah mencari kerja setelah wisuda, maka ini satu solusi. Permintaan terhadap tenaga ahli Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) di Indonesia mencapai 1.000 per bulan. Tetapi akibat minimnya generasi muda yang menekuni […]

  • Dana Reklamasi Tambang Emas Ilegal Kotanopan Dipertanyakan

    Dana Reklamasi Tambang Emas Ilegal Kotanopan Dipertanyakan

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Terkait bekas tambang emas ilegal  di Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal yang direklamasi menjadi areal penanaman tanaman muda masih menjadi tanda tanya besar. Pasalnya akrifitas ilegal tersebut seolah dilegalkan oleh pemerintah karena melibatkan diri dalam program reklamasi. Camat Kotanopan Muslih Lubis yang dikonfirmasi seputar dari mana anggaran reklamasi tersebut mengaku tidak […]

  • Izin Tambang Rakyat di Madina Masih Dihadang UU Minerba

    Izin Tambang Rakyat di Madina Masih Dihadang UU Minerba

    • calendar_month Selasa, 29 Nov 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Harapan rakyat untuk bisa menambang emas secara legal nampaknya masih jauh untuk tercapai. Pasalnya, upaya Pemkab Mandailing Natal (Madina), Sumut memperoleh Izin Pertambangan Rakyat (IPR) masih berat. Meski pemerintah Indonesia beberapa bulan lalu telah menerbitkan 8 titik Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) di Madina, namun untuk menjadikannya menjadi IPR tidak semudah […]

  • Mengeksploitasi Galian C di Kelurahan Sihitang, Excavator PU Diangkut Paksa

    Mengeksploitasi Galian C di Kelurahan Sihitang, Excavator PU Diangkut Paksa

    • calendar_month Kamis, 15 Sep 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Satu unit Excavator milik Dinas PU Pemkab Tapsel ‘diangkut paksa’ dari lokasi eksploitasi galian C di Kelurahan Sihitang, Kecamatan Psp Tenggara, Senin (12/9) malam. Uniknya, yang melakukannya LSM LIRa dan diserahkan ke Mapolres Kota Padangsidimpuan. Wali Kota LIRa Psp Edi Ariyanto Hasibuan, kepada METRO, di Sekretariat Kantor LIRa, Jalan Jenderal Sudirman, Rabu (14/9), mengatakan, langkah […]

expand_less