Rabu, 14 Okt 2026
light_mode

Islamisasi Nusantara (Indonesia) atau Nusantaraisasi (Meng-Indonesiakan) Islam?

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Kamis, 12 Mei 2022
  • print Cetak

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam
Dosen dan Pengamat Politik

Janggal! Ahistoris! Tanpa bukti dalil! Itulah sederetan kata yang tepat disematkan untuk pernyataan salah satu menteri yang menjabat saat ini. Karena mengeluarkan pernyataan yang mengundang bingung publik dan juga sempat viral belum lama ini. Sebagai seorang pejabat bahkan dianggap punya kapasitas intelektual secara keilmuan tentu setiap ucapannya menuai perhatian.

Seperti dilansir dari beberapa media, menteri tersebut menyatakan bahwa  sebenarnya yang harus dilakukan adalah menusantarakan atau ia sebut meng-Indonesiakan Islam bukan mengislamisasi Nusantara. Pernyataan ini menjadi kontroversi lagi di kalangan intelektual khususnya umat Islam. Bukankah selama ini yang dipahami dari aspek hisroris adalah Islamisasi?

Setiap wilayah yang didatangi oleh kaum Muslim semata-mata adalah dorongan syiar dawah, yang berarti ada proses untuk mengenalkan sesuatu yang baru hingga mendapat tempat pada objek sasaran yang dituju (dakwah). Jika demikian, manakah sebenarnya pernyataan yang tepat baik secara historis maupun secara syariah? Karena tentu saja, standar kebenaran harus dikembalikan kepada syariah sebagai hukum yang ditetapkan oleh As-Syari’ ( Allah SWT)

Antara Mengislamkan Nusantara dan Menusantarakan Islam

Jelasnya, pernyataan menteri tersebut bermakna bahwa Islam harus mampu menyesuaikan diri dengan budaya setempat (kearifan lokal). Seperti di Indonesia yang sangat kaya dengan adat istiadat, budaya, dan kebiasaan. Sehingga yang perlu itu adalah meng-Indonesiakan Islam (menusantarakan Islam).

Andai harus memaksakan kehendak si Menteri untuk mengaplikasikan pernyataan tersebut, lalu Islam seperti apakah yang cocok di Nusantara (Indonesia) sesuai kearifan lokal? Apakah budaya buka aurat harus diterima dan Islam menyembunyikan dalil kewajiban menutup aurat?

Lalu khomar. Budaya lokal yang menghalalkan khomar haruskah diterima Islam hingga jadi halal? Dan sebagainya. Apakah termasuk korupsi yang sudah jadi budaya nasional harus diterima Islam? Hingga Islam harus dibungkam dan dipaksa menerima kondisi negeri ini yang sudah mendekati hancur.

Dalih pendekatan normatif selalu jadi senjata andalan untuk menepis kewajiban menerapkan syariat Islam secara kafah. Kalimat “yang penting substansinya bukan istilah atau namanya”. Padahal, substansi itu bisa dipahami dari istilah (bahasa) juga bukan? Syariat adalah istilah/bahasa.

Substansinya adalah hukum yang diturunkan oleh Allah SWT untuk diterapkan dalam kehidupan manusia dan rahmat bagi seluruh alam. Jika tidak diterapkan, bagaimana substansi itu bisa dipahami dan diperoleh?

Mengindonesiakan Islam dengan maksud menjadikan Islam harus tunduk pada nilai-nilai lokal di Indonesia adalah pemikiran yang keliru dan ahistoris. Sebab sejarah telah membuktikan bahwa Islam datang ke Nusantara dan terjadi Islamisasi pada semua aspek kehidupan.

Para ulama yang membawa Islam ke Nusantara mempelajari kebiasaan masyarakat pra Islam, dan melakukan pendalaman dalil-dalil Al-Quran terkait kebiasaan-kebiasaan tersebut. Menandai mana kebiasaan atau pemikiran yang bertentangan dengan Islam sehingga harus dibuang total, mana yang boleh diambil tanpa harus mengganggunya dan tetap original karena sifatnya mubah, dan mana yang bisa dihiasi dengan islami.

Tidak semua kearifan lokal sifatnya mubah/boleh, ataupun haram. Setiap daerah punya pemikiran dan adat istiadat yang berbeda. Sehingga harus diteliti lebih mendalam. Jika dalil penolakannya sudah jelas dalam Islam, maka tidak perlu mengkompromikannya dengan hukum Islam agar bisa diterima.

Oleh karena itu, yang benar-benar terjadi baik secara historis dan perintah dari Allah swt adalah mengislamkan Nusantara atau Indonesia. Artinya, Islam harus jadi standar baik-buruk, benar-salah ketika masyarakat Indonesia telah menerima dan memeluk Islam sebagai keyakinannya.

Dan sungguh provokatif jika terus dibenturkan dengan kearifan lokal. Karena sudah jelas, Islam datang membawa syariat. Dan dalam hukum syariat, ada perkara yang haram, sunah, mubah, makruh, haram.

Karenanya, menusantarakan atau mengindonesiakan Islam sama saja mengatakan Islam itu tidak tinggi karena harus tunduk pada kearifan lokal. Padahal Allah SWT telah menjamin ketinggian Islam seperti yang disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis:
“Alislamu ya’la wala yula” (Islam itu tunggi dan tidak ada yang melebihnya) oleh karena itu, stop penghinaan terhadap Islam dan argumen-argumen yang bisa membawa kekeliruan terhadap khalayak.

Islam tidak perlu dipoles dengan apapun. Karena Islam sudah sempurna. Indonesia atau Nusantara dan negeri muslim lainnya berkewajiban untuk menegakkan Islam secara Kafah (totalitas). Allahu a’lam bissawab.

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Foto Naskah Ujian SD di Facebook Ternyata Rekayasa

    Foto Naskah Ujian SD di Facebook Ternyata Rekayasa

    • calendar_month Kamis, 16 Jun 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Misteri foto kertas ujian sekolah dasar di Mandailing Natal yang beredar di Facebook akhirnya terkuak. Foto-foto itu sempat menggegerkan publik karena tidak sinkron poin-poin pertanyaan dengan poin-poin jawaban. Setelah ditelusuri, ternyata lembar pertanyaan di foto itu adalah naskah untuk kelas 3, sedangkan lembar jawabannya naskah untuk kelas 5. Penelusuran yang dilakukan Mandailing Online di sejumlah […]

  • Inovasi Baru Seorang Petani di Huraba, Produksi Padi 118 Kaleng Per Bun-Bun

    Inovasi Baru Seorang Petani di Huraba, Produksi Padi 118 Kaleng Per Bun-Bun

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

      SIABU (Mandailing Online) – Seorang petani bernama Edi Ibrahim di Desa Huraba Kecamatan Siabu, Mandailing Natal (Madina) berhasil memperoleh hasil produksi padi sebesar 118 kaleng per bun-bun untuk varietas Inpari Sidenuk dan 150 kaleng untuk varietas Siganteng. Perolehan ini berkat inovasi perlakuan pola baru pada tanaman padi yang diterapkan Edi Ibrahim. Satu bun-bun setara […]

  • OPUK

    OPUK

    • calendar_month Jumat, 1 Apr 2022
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    (Indikator  Kesejahteraan Pangan Mandailing di Masa Lalu)   Oleh: Dr. M. Daud Batubara, MSi   “Bercocok tanam padi itu berkah”. Begitu hal yang sering terdengar bila bincang-bincang dengan petani di pedesaan Mandailing. Bangsa Mandailing memang memiliki hubungan kehidupan yang sangat kuat dengan bercocok tanam padi. Padahal tanaman padi ini, bila di hitung secara matematis, hasilnya […]

  • Tim Dahlan-Sukhairi Masih “Wait and See”

    Tim Dahlan-Sukhairi Masih “Wait and See”

    • calendar_month Kamis, 27 Agt 2015
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tim Pemenangan pasangan calon bupati Madina Dahlan Hasan Nasution-Jakfar Sukhairi Nasution sejauh ini masih “Wait and See”. Mengintip apa saja strategi dan langkah-langkah kubu Yusuf-Imron. Itu dikatakan Ketua Tim Pemenangan Dahlan-Sukhairi, Saparuddin Ansari Nasution melalui tim pemenangan Binsar Nasution menjawab mandailing Online, Kamis (27/8). Berdasar itu nantinya Tim Pemenangan Dahlan-Sukhairi menyiapkan […]

  • Dana Desa Tambangan Pasoman Disorot Warga

    Dana Desa Tambangan Pasoman Disorot Warga

    • calendar_month Kamis, 20 Sep 2018
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Kasus demi kasus Dana Desa sepertinya tiada henti mencuat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Warga Desa Tambangan Pasoman, Kecamatan Tambangan, Madina menyampaikan kegelisahan kepada Mandailing Online, Senin (17/9/2018) terkait pelaksnaan Dana Desa di desa itu. Hanya saja, mereka meminta identitasnya tak ditulis. Warga menyatakan bahwa pengaduan telah dikirim kepada Polres Madina […]

  • HISTORISME MANDAILING

    HISTORISME MANDAILING

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Askolani Nasution Budayawan Mandailing Pengantar Nama Mandailing acapkali diletakkan pada kerangka historis yang tidak sesuai. Peletakan itu tentu karena tidak pernah melalui kajian sejarah dan arkeologi yang relevan. Hal itu yang menyebabkan distorsi sosial dalam berbagai kebutuhan. Historime Mandailing Tentu tidak mudah untuk menentukan kapan manusia dan kebudayaan Mandailing muncul pertama kali di […]

expand_less