Selasa, 20 Okt 2026
light_mode

Rivalitas Abdul Haris Nasution vs Zulkifli Lubis (bagian 1 dari 2 tulisan)

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Rabu, 3 Agt 2022
  • print Cetak

Abdul Haris Nasution dan Zulkifli Lubis

 

Rivalitas antara Abdul Haris Nasution vs Zulkifli Lubis adalah perseteruan hebat dalam sejarah Angkatan Darat Indonesia. Persamaan suku, sebagai sama-sama orang Mandailing yang berasal dari Tapanuli Selatan, tidak membuat mereka jadi sekutu atau saling berkongsi. Bahkan ada yang menyebut, Zulkifli Lubis dan A.H. Nasution sebenarnya masih ada hubungan sepupu.

Ketika kemelut antara pemerintah pusat dengan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra bergejolak, Gatot Subroto pernah berkelakar kemelut itu “sebetulnya” adalah “Perang saudara” Nasution dengan Lubis. Nasution selaku KSAD jelas berada di pihak pemerintah, sementara Lubis berada di pihak pemberontak. Di akhir perang saudara itu, PRRI kalah oleh tentara pusat yang berada di bawah komando Nasution.

Siapa A.H. Nasution dan Zulkifli Lubis?

Sebelum Perang Dunia II, Nasution sudah jadi guru di Musi Dua, Sumatra Selatan. Nasution adalah lulusan dari Hogere Kweekschool (Sekolah Guru) di Bandung. Berbekal ijazah SMA kolonial, Algemeene Middelbare School (AMS), Nasution mendaftar masuk militer Belanda. Dia berhasil diterima di Koninklijk Militaire Academie (Akademi Militer Kerajaan Belanda) di Bandung. Tak sampai tiga tahun belajar, Nasution diangkat menjadi vandrig (letnan muda) dalam satuan infanteri dari angkatan bersenjata kolonial bernama Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL).

Kerajaan Belanda pasti berharap Nasution bertempur melawan balatentara Jepang demi Ratu Wilhelmina. Gaji seorang letnan muda di KNIL sekitar 100 gulden, angka yang cukup lumayan. Namun, setelah berbulan-bulan pertempuran, Nasution memilih desersi dari KNIL. Setelah mengendap-endap, dengan bersangu sarung, Nasution kabur dari Jawa Timur.

Dengan sepeda pancal, dia mengayuh melintasi Jawa Tengah dan berkelana ke beberapa kota di Jawa Barat. Di zaman Jepang, dia tinggal di Bandung dan tidak banyak tingkah. Dia bahkan manut ikut serta di Seinendan Bandung. Rumah yang dikunjunginya adalah rumah keluarga Gondokusuma. Putri Mr. Gondokusuma dengan seorang perempuan Indo bermarga Rademaker, Sunarti, belakangan digaet Nasution jadi istrinya.

Sementara Nasution ikut serta dalam barisan balatentara Ratu Wilhelmina, Zulkifli Lubis seharusnya menikmati masa manis di SMA-nya di AMS bagian B, Yogyakarta. Tapi sekolahnya harus berantakan karena Perang Pasifik. Padahal Zulkifli Lubis yang anak guru itu adalah siswa pintar.

Zulkifli Lubis, yang sempat dipanggil Kifli sebelum zaman Jepang, lalu setelah itu dipanggil Lubis, mendaku dalam memoarnya berjudul Senarai Kiprah Sejarah (1993). “Dalam pelajaran berhitung dan sejarah,” katanya, “saya mendapat nilai sepuluh. Apalagi berhitung, di luar kepala, saya tetap nomor satu” (hlm. 41).

Jepang tak menjadikan Lubis sekolah dengan baik dan menjerumuskannya dalam dunia militer. Menurut pengakuan Kemal Idris dalam Bertarung Dalam Revolusi (1996), bersama Zulkifli Lubis, dirinya termasuk 50 pemuda pilihan yang dilatih dalam Seinen Dojo Tangerang. Selain Lubis dan Idris, Supriyadi pemimpin pemberontakan PETA Blitar dan tokoh peristiwa Lengkong Daan Mogot juga jebolan Seinen Dojo (hlm. 38).

Ketika Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA) terbentuk, di Boei Gyugun Renseitai di Bogor, mereka jadi asisten pelatih dan berbaur sebagai calon Shodancho PETA. Pernah juga Lubis dan Idris ditugasi melatih pasukan pribumi di Bali.

Militer Jepang tak hanya membuatnya sebagai tentara yang bisa melatih tentara, tapi lebih dari itu. Menurut catatan Ken Conboy dalam Intel: Menguak Tabir Dunia Intelijen Indonesia (2007), Lubis “ditempatkan di pusat intelijen regional di Singapura pada pertengahan 1944. Di sana ia menyerap bukan saja teori tapi juga aplikasi prakteknya” (hlm. 1).

Pengalaman itulah yang membuat Lubis punya nyali besar untuk menyusun Badan Istimewa—suatu badan intelijen di awal sejarah Republik—dan tak lupa mengangkat dirinya dengan pangkat Kolonel. Itu membuat Lubis begitu penting bagi Presiden Sukarno. Ken Conboy menulis: “Ia [Zulkifli Lubis] menjadi salah seorang dari beberapa perwira militer yang dapat membangunkan Soekarno dari tidurnya guna memberikan penjelasan atas suatu kejadian penting” (hlm. 5).

Selain itu, di tubuh militer Republik, Lubis mendirikan Penyelidik Militer Chusus (PMC). Satuan ini kerap bentrok dengan banyak satuan militer, termasuk Divisi Siliwangi, yang dipimpin Kolonel Nasution. (bersambung)

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gordang Sambilan dan Sopo Godang, Sebuah Kontekstualitas Kekinian

    Gordang Sambilan dan Sopo Godang, Sebuah Kontekstualitas Kekinian

    • calendar_month Selasa, 24 Jan 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh: ASKOLANI NASUTION Budayawan Mandailing Arsitektur Mandailing, baik Bagas Godang, Sopo Godang, Gordang Sambilan, dan lain-lain, harus disikapi dari dua dimensi, yakni dimensi adat dan dimensi budaya. Dua-duanya terletak pada tataran yang berbeda, seperti dua sisi mata uang logam. Dari segi dimensi adat, Bagas Gordang Sambilan dan Sopo Godang merupakan bagian dari istana tradisional raja-raja […]

  • Harun Mustafa, Pers, Rakyat Miskin

    Harun Mustafa, Pers, Rakyat Miskin

    • calendar_month Jumat, 12 Nov 2021
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Fakta menunjukkan, tidak semua penyakit dapat ditangani RSU Panyabungan akibat keterbatasan dokter spesialis dan keterbatasan peralatan. Terutama pasien kanker dan tumor. Akibatnya banyak pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit lain di Medan atau sesekali ke rumah sakit di Padang. Tentu tidak ada masalah jika pasien yang dirujuk itu dari kalangan keluarga yang mampu secara […]

  • RSUD Panyabungan Perlu Direformasi

    RSUD Panyabungan Perlu Direformasi

    • calendar_month Rabu, 22 Des 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Penilaian Satma PP Madina MADINA- Ketua Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila (Satma PP) Madina Tan Gozali Nasution, menilai Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan perlu direformasi. Pimpinan dan jajaran struktural selayaknya diganti. Reformasi tersebut demi peningkatan citra RSUD Panyabungan di mata masyarakat. Penilaian ini disampaikan Tan Gozali Nasution, kepada METRO, Selasa (21/12), usai sidang paripurna anggota […]

  • Kartu Pedagang Berfungsi Kartu Parkir Elektrik Akan Diterapkan di Pasar Baru Panyabungan

    Kartu Pedagang Berfungsi Kartu Parkir Elektrik Akan Diterapkan di Pasar Baru Panyabungan

    • calendar_month Senin, 3 Feb 2025
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Dalam waktu dekat kartu parkir elektrik bagi pedagang akan diberlakukan di komplek Pasar Baru Panyabungan, Mandailing Natal (Madina), Sumut. Kartu parkir elektrik ini bertujuan mempermudah dan meringankan padagang dalam hal urusan dan biaya parkir. Setiap pedagang nantinya akan memiliki kartu yang diterbitkan pemerintah daerah melalui Dinas Perdagangan Madina. Namanya Kartu Pedagang […]

  • KPK Dalami Pengaduan Dugaan Korupsi Bupati Dairi

    KPK Dalami Pengaduan Dugaan Korupsi Bupati Dairi

    • calendar_month Selasa, 4 Feb 2014
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – Divisi Pengaduan Masyarakat (Dumas) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) hingga kini masih terus menelaah laporan pengaduan dugaan korupsi Bupati Dairi, Jhonny Sitohang Adinegoro yang disampaikan “Masyarakat Peduli Dairi” pertengahan Januari lalu. Menurut Juru Bicara KPK, Johan Budi, penelaahan sangat diperlukan sebagai pintu masuk bagi upaya penanganan dugaan korupsi. Karena itu prosesnya juga tidak dapat […]

  • Rancu Pendidikan

    Rancu Pendidikan

    • calendar_month Senin, 28 Des 2020
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Oleh : Roy Samsuri Lubis Editor / tinggal di Madina Pendidikan secara umum diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Sedangkan menurut Ki […]

expand_less