Senin, 21 Sep 2026
light_mode

Jangan-jangan Kita Ulat Bulu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
  • print Cetak


Jakarta –
Sebelum saya berangkat kerja pagi ini, seperti biasa istri saya mengingatkan agar ekstra hati-hati di jalan, mengingat sebaran ulat bulu sudah sampai ke Jatiasih, beberapa kilometer saja dari rumah kami.

Rupanya ia mengikuti sedemikian rupa berita-berita di media massa soal ulat bulu itu.

Mulanya diberitakan ulat-ulat bulu itu berbiak dan menyerbu beberapa kawasan di Probolinggo dan Jombang Jawa Timur. Ulat-ulat itu merengsek pohon-pohon mangga dan menyebar sedemikian rupa ke mana-mana.

Bagi istri saya, berita ulat bulu itu lebih berbahaya ketimbang kebocoran reaktor nuklir di PLTN Fukushima Jepang. Istri saya tidak saja dibuat merinding oleh ulat bulu, tapi juga diserang fobia dan merasa terteror.

Membayangkannya saja sudah merinding, apalagi melihat dari televisi ribuan ulat bulu di tetanaman dan tembok-tembok warga di Probolinggo itu. Istri saya langsung menjerit dan sepertinya sebentar lagi terjangkiti gatal-gatal di seluruh badan.

Saya sendiri merinding kalau ketemu ulat. Sewaktu kecil, di suratkabar langganan bapak saya, Suara Merdeka terbitan Semarang, ada komik strip Tarzan karya Edgar Rice Burroughs yang saya sangat suka. Saking sukanya, saya mau jadi Tarzan.

Hanya mengenakan celana kolor dan pisau mainan, bersama temen-teman sebaya, kami main tarzan-tarzanan di sawah, kebun, kuburan, lereng bukit, sungai, bahkan kolam ikan yang airnya berlumpur. Maklum kami hidup di desa.

Tapi persoalannya saya segera gagal menjadi Tarzan sejati karena takut sama ulat. Bagaimana mau jadi Tarzan beneran (kalau pelawak Srimulat kami panggil Taresan), jika sama ulat saja ngibrit?

Lama-lama Tarzan agak saya lupakan. Kemudian tertarik kepada Batman, pemberantas kejahatan yang gambarnya saya lihat di poster film yang dibentangkan di mobil keliling pewarta pemutaran film itu ke desa-desa.

Lalu, saya ingin jadi Batman atau Superman, seperti dibayangkan penyanyi cilik Adi Bing Slamet dalam satu lagunya. Anda ingat bait lagunya? Saya sih ingat, begini, “Aku ingin menjadi Batman Superman, Batman Superman, ooo, gagah perkasa!

Dengan sarung yang diikatkan ke leher dan kain mendominasi punggung, jadilah saya Batman. Tapi, lama-lama saya juga merasa gagal menjadi Batman. Soalnya saya tak bisa terbang.

Namanya juga anak-anak, proses identifikasi diri terus terjadi.

Ternyata tak hanya Tarzan dan Batman yang jagoan, masih banyak yang lain; Flash Gordon, Johny Quest, Deni Manusia Ikan, Sinbad Si Pelaut, Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, Mario Halley, dan sebagainya. Belum lagi para ksatria yang dijelenterehkan dalam komik-komik wayang.

Lama-lama saya tak lagi mempersoalkan saya harus mengidentifikasikan diri sebagai apa, kecuali sebagai saya apa adanya.

Pada masa remaja, ketertarikan pada lawan jenis pun muncul. Mulailah saya mempersoalkan potongan rambut, jerawat dan sebagainya.

Paradigma “saya adalah saya” sudah melekat sejak saya menonton film-film remaja di zaman itu, seperti Gejolak Kawula Muda atau Catatan si Boy.

Saya merasa semakin jauh dari karakter sang tokoh; remaja penari breakdance atau Si Boy yang kontroversial. Saya merasa apa yang saya tonton adalah dunia lain, dunia yang tidak mungkin saya menjangkaunya.

Walaupun begitu, budaya pop tetap saya ikuti, sampai saya baca berita Menteri Penerangan Harmoko mengkritik Betharia Sonata karena menyanyikan lagu-lagu cengeng.

Dalam sebuah diskusi belum lama ini, berposisi sebagai moderator, saya mengomentari ringan uraian wartawan senior Budiarto Shambazy yang menjadi salah satu pembicara di diskusi itu.

Dalam seminar bertajuk penataan sistem politik itu, Mas Budiarto mengajak kita meneropong politik Indonesia dari atas. Dia mengistilahkannya dengan “helikopter politik.”

Lantas ia sampai pada fenomena Wikileaks dan pemberitaan yang menghebohkan oleh dua suratkabar besar di Australia menyangkut Presiden SBY dan beberapa elite politik kita belum lama ini.

Mas Budiarto mengartikan. itu adalah peringatan Barat atas praktik demokrasi Indonesia dan rezim politik negeri ini.

Mereka seperti menjawil kita : eh hati-hati ya, kalau kamu begini terus!

Tentu saja, ada di antara Anda yang menolak penafsiran itu. Anda mungkin memandang kehebohan Wikileaks itu kebetulan saja, dan tak ada kaitannya dengan Barat. Lagi pula apa urusannya kita dengan Barat.

Itu bisa diperdebatkan lebih lanjut, yang jelas fenomenanya memang menghebohkan. Mas Budiarto menafsirkannya peringatan, tapi saya katakan padanya ada peringatan lain yang tak kalah menghebohkan. Serbuan ulat bulu itu!

Dengan gaya sok metafisik, saya kemukakan pertanyaan, mengapa ulat bulu itu didatangkan ke Indonesia? Jawabnya, fenomena alam alias anomali cuaca. Mengapa sampai anomali cuaca? Karena ini dan itu. Mengapa hanya tempat-tempat tertentu saja ulat bulu itu merambah? Mengapa bukan Jakarta?

Singkat kata, kehadiran ulat bulu itu, peringatan langsung Tuhan kepada kita. Semacam karikatur yang digambar langsung oleh Tuhan. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, manakala perwatakan manusianya banyak yang berhenti sekedar di fase ulat dan tidak kunjung menjadi kepompong, apalagi kupu-kupu?

Dalam ikonografi fabel-fabel tertentu, ulat menggambarkan watak yang rakus, menjijikkan, dan membuat sengsara yang lain dengan bulu-bulunya.

Ia melahap yang mengenyangkan perutnya. Tetapi serakus-rakus ulat tetap masih lebih rakus manusia. Manusia tak hanya menyantap makanan yang masuk ke perutnya, tapi juga aspal, semen, pasir, apapun.

Ulat tak bisa membenarkan tindakan-tindakannya. Manusia tidak. Manusia sibuk mencari-cari pembenaran atas kerakusannya, terutama kerakusan kekuasaan.

Saya ungkapkan yang begitu itu, supaya diskusi jadi marak dan gayeng, bukannya demi sekadar mengkritik pemerintah atau para politisi, sebab jangan-jangan kita-kita malah ulat-ulat bulunya.

Mungkin kita suka rakus demikian rupa, melampaui batas, dan berencana suatu saat akabn bertobat, tapi tak tobat-tobat juga. Kalaupun bertobat, hanya formalitas dan artifisial, dalam arti akan segera mengulanginya lagi suatu saat nanti.

Betapa banyak perlambang yang hadir di dunia ini. Manusia sendiri, sejak zaman purba, butuh perlambang dan mitos-mitos. Tapi, kemudian datang ilmu pengetahuan yang lebih bertumpu pada tradisi ilmiah dan rasionalitas.

Supaya tulisan ini tidak menyesatkan, baiklah saya kutipkan penjelasan ilmiah seorang pakar dari UGM, “Perubahan iklim terutama temperatur lingkungan ikut mempengaruhi populasi ulat bulu, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu. Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain.

Terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang daun mangga di Probolinggo, yakni Arctornis sp dan Lymantria Atemeles Collenette. Ulat bulu itu bersifat nokturnal, aktif pada malam hari. Tidak mengherankan jika pada malam sering terdengar seperti suara hujan, padahal saat itu sesungguhnya ulat bulu sedang memakan daun mangga.

Oleh karena itu, harus ada langkah untuk segera mengendalikan membludaknya populasi ulat. Terlebih kemampuan produksi telur ulat betina mencapai 70-300 butir per ulat.

Jadi, urusan kita bertambah lagi hari-hari ini; menghadapi ulat-ulat bulu itu. O, kalau saja novelis John Steinbeck mencerap fenomena perulat-buluan ini, mungkin ia tidak akan menulis Of Mice and Men (1937), tetapi Of Ulat Bulu and Man.

M Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta.
Sumber : Antaranews

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • Wakil Ketua DPRD Tapsel Dilapor ke Polisi

    Wakil Ketua DPRD Tapsel Dilapor ke Polisi

    • calendar_month Minggu, 5 Agt 2012
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    Tapsel (MO)- Diduga melakukan tindak pidana Korupsi atas dana Workshop dan Bimbingan Teknis (bimtek), Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tapanuli Selatan AL dilaporkan ke polisi oleh Lembaga Informasi Rakyat (LiRA) Kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam surat laporan LiRA No: 010/VII/LI-RA/2012 kepada Kapolres Tapsel, AKBP Subandriya yang ditanda tangani Bupati LiRA Mara Halim Harahap disebutkan, telah terjadi dugaan […]

  • Apa yang Diharapkan dari Kedatangan Presiden Jokowi ke Madina? (bagian 2)

    Apa yang Diharapkan dari Kedatangan Presiden Jokowi ke Madina? (bagian 2)

    • calendar_month Senin, 20 Mar 2017
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

                        Untuk itu kita berharap kepada Gubernur Sumatera Utara agar berani melakukan langkah radikal dalam mewujudkan jalur-jalur jalan tol di dua kawasan itu. Kebijakan yang selama ini dilakukan oleh para gubernur maupun bupati/walikota di kawasan ini masih di berkelas kebijakan klasik bernilai keberanian rendah dan kekuatan […]

  • Dua Hari Terlantar di Jakarta, 15 Mahasiswa Sumut Tiba

    Dua Hari Terlantar di Jakarta, 15 Mahasiswa Sumut Tiba

    • calendar_month Minggu, 6 Feb 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Setelah beberapa hari tidak bisa berkomunikasi akibat krisis politik di Mesir, akhirnya Hafizah Siregar berhasil dievakuasi pemerintah dan dikembalikan ke Medan, Jumat (4/2). Setelah diwawancarai wartawan, mahasiswi fakultas Agama Islam itu langsung pulang keluarganya pulang ke rumah di Jalan Genteng Ujung Gang Keluarga No 9 Delitua, Deli Serdang. Diapari Siregar (46) orangtua dari Hafizah Siregar […]

  • 4 Desa di Muara Batang Gadis Terendam, 2 Rambin Putus

    4 Desa di Muara Batang Gadis Terendam, 2 Rambin Putus

    • calendar_month Jumat, 6 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Foto: Rizfan Juliardy PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Sebanyak 4 desa di Kecamatan Muara Batang Gadis, Mandailing Natal (Madina) terrendam sejak Kamis (5/6/2014). Demikian dilaporkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Madina. Banjir ke pemukiman ini akibat meluapnya satu ruas sungai disebabkan tingginya curah hujan sejak Rabu (4/6) yang melanda kawasan itu. Sejauh ini belum diketahui nama […]

  • Tympanum dan Nila Sari Pro Garap Film “Si Bisuk Na Oto”

    Tympanum dan Nila Sari Pro Garap Film “Si Bisuk Na Oto”

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2015
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

        PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Tympanum Novem Multimedia kembali memproduksi film Mandailing. Film yang diproduksi ini berjudul “Si Bisuk Na Oto”. Ini merupakan film ke-9 yang diproduksi Tympanum Novem Multimedia. Kali ini Tympanum tak sendirian, tetapi menggandeng Nila Sari Pro, sebuah production house milik penyanyi Nila Sari. Shooting perdananya dilakukan  Minggu (29/3/2015) lalu di […]

  • Bulan Depan, Program KTP Anak Sudah Jalan

    Bulan Depan, Program KTP Anak Sudah Jalan

    • calendar_month Jumat, 12 Feb 2016
    • account_circle Redaksi Abdul Holik
    • 0Komentar

    JAKARTA – ‎ Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengatakan, penerapan program KTP anak atau Kartu Identitas Anak (KIA) sudah harus berjalan mulai bulan depan.‎ Hal ini ditandai dengan mulai dikumpulkanya para Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) dari seluruh Indonesia. Agar setiap anak lahir, tidak hanya memperoleh akta kelahiran namun juga KIA. ‎”Ini […]

expand_less