Selasa, 21 Apr 2026
light_mode

Jangan-jangan Kita Ulat Bulu

  • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
  • calendar_month Sabtu, 23 Apr 2011
  • print Cetak


Jakarta –
Sebelum saya berangkat kerja pagi ini, seperti biasa istri saya mengingatkan agar ekstra hati-hati di jalan, mengingat sebaran ulat bulu sudah sampai ke Jatiasih, beberapa kilometer saja dari rumah kami.

Rupanya ia mengikuti sedemikian rupa berita-berita di media massa soal ulat bulu itu.

Mulanya diberitakan ulat-ulat bulu itu berbiak dan menyerbu beberapa kawasan di Probolinggo dan Jombang Jawa Timur. Ulat-ulat itu merengsek pohon-pohon mangga dan menyebar sedemikian rupa ke mana-mana.

Bagi istri saya, berita ulat bulu itu lebih berbahaya ketimbang kebocoran reaktor nuklir di PLTN Fukushima Jepang. Istri saya tidak saja dibuat merinding oleh ulat bulu, tapi juga diserang fobia dan merasa terteror.

Membayangkannya saja sudah merinding, apalagi melihat dari televisi ribuan ulat bulu di tetanaman dan tembok-tembok warga di Probolinggo itu. Istri saya langsung menjerit dan sepertinya sebentar lagi terjangkiti gatal-gatal di seluruh badan.

Saya sendiri merinding kalau ketemu ulat. Sewaktu kecil, di suratkabar langganan bapak saya, Suara Merdeka terbitan Semarang, ada komik strip Tarzan karya Edgar Rice Burroughs yang saya sangat suka. Saking sukanya, saya mau jadi Tarzan.

Hanya mengenakan celana kolor dan pisau mainan, bersama temen-teman sebaya, kami main tarzan-tarzanan di sawah, kebun, kuburan, lereng bukit, sungai, bahkan kolam ikan yang airnya berlumpur. Maklum kami hidup di desa.

Tapi persoalannya saya segera gagal menjadi Tarzan sejati karena takut sama ulat. Bagaimana mau jadi Tarzan beneran (kalau pelawak Srimulat kami panggil Taresan), jika sama ulat saja ngibrit?

Lama-lama Tarzan agak saya lupakan. Kemudian tertarik kepada Batman, pemberantas kejahatan yang gambarnya saya lihat di poster film yang dibentangkan di mobil keliling pewarta pemutaran film itu ke desa-desa.

Lalu, saya ingin jadi Batman atau Superman, seperti dibayangkan penyanyi cilik Adi Bing Slamet dalam satu lagunya. Anda ingat bait lagunya? Saya sih ingat, begini, “Aku ingin menjadi Batman Superman, Batman Superman, ooo, gagah perkasa!

Dengan sarung yang diikatkan ke leher dan kain mendominasi punggung, jadilah saya Batman. Tapi, lama-lama saya juga merasa gagal menjadi Batman. Soalnya saya tak bisa terbang.

Namanya juga anak-anak, proses identifikasi diri terus terjadi.

Ternyata tak hanya Tarzan dan Batman yang jagoan, masih banyak yang lain; Flash Gordon, Johny Quest, Deni Manusia Ikan, Sinbad Si Pelaut, Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, Mario Halley, dan sebagainya. Belum lagi para ksatria yang dijelenterehkan dalam komik-komik wayang.

Lama-lama saya tak lagi mempersoalkan saya harus mengidentifikasikan diri sebagai apa, kecuali sebagai saya apa adanya.

Pada masa remaja, ketertarikan pada lawan jenis pun muncul. Mulailah saya mempersoalkan potongan rambut, jerawat dan sebagainya.

Paradigma “saya adalah saya” sudah melekat sejak saya menonton film-film remaja di zaman itu, seperti Gejolak Kawula Muda atau Catatan si Boy.

Saya merasa semakin jauh dari karakter sang tokoh; remaja penari breakdance atau Si Boy yang kontroversial. Saya merasa apa yang saya tonton adalah dunia lain, dunia yang tidak mungkin saya menjangkaunya.

Walaupun begitu, budaya pop tetap saya ikuti, sampai saya baca berita Menteri Penerangan Harmoko mengkritik Betharia Sonata karena menyanyikan lagu-lagu cengeng.

Dalam sebuah diskusi belum lama ini, berposisi sebagai moderator, saya mengomentari ringan uraian wartawan senior Budiarto Shambazy yang menjadi salah satu pembicara di diskusi itu.

Dalam seminar bertajuk penataan sistem politik itu, Mas Budiarto mengajak kita meneropong politik Indonesia dari atas. Dia mengistilahkannya dengan “helikopter politik.”

Lantas ia sampai pada fenomena Wikileaks dan pemberitaan yang menghebohkan oleh dua suratkabar besar di Australia menyangkut Presiden SBY dan beberapa elite politik kita belum lama ini.

Mas Budiarto mengartikan. itu adalah peringatan Barat atas praktik demokrasi Indonesia dan rezim politik negeri ini.

Mereka seperti menjawil kita : eh hati-hati ya, kalau kamu begini terus!

Tentu saja, ada di antara Anda yang menolak penafsiran itu. Anda mungkin memandang kehebohan Wikileaks itu kebetulan saja, dan tak ada kaitannya dengan Barat. Lagi pula apa urusannya kita dengan Barat.

Itu bisa diperdebatkan lebih lanjut, yang jelas fenomenanya memang menghebohkan. Mas Budiarto menafsirkannya peringatan, tapi saya katakan padanya ada peringatan lain yang tak kalah menghebohkan. Serbuan ulat bulu itu!

Dengan gaya sok metafisik, saya kemukakan pertanyaan, mengapa ulat bulu itu didatangkan ke Indonesia? Jawabnya, fenomena alam alias anomali cuaca. Mengapa sampai anomali cuaca? Karena ini dan itu. Mengapa hanya tempat-tempat tertentu saja ulat bulu itu merambah? Mengapa bukan Jakarta?

Singkat kata, kehadiran ulat bulu itu, peringatan langsung Tuhan kepada kita. Semacam karikatur yang digambar langsung oleh Tuhan. Bagaimana mungkin bangsa ini maju, manakala perwatakan manusianya banyak yang berhenti sekedar di fase ulat dan tidak kunjung menjadi kepompong, apalagi kupu-kupu?

Dalam ikonografi fabel-fabel tertentu, ulat menggambarkan watak yang rakus, menjijikkan, dan membuat sengsara yang lain dengan bulu-bulunya.

Ia melahap yang mengenyangkan perutnya. Tetapi serakus-rakus ulat tetap masih lebih rakus manusia. Manusia tak hanya menyantap makanan yang masuk ke perutnya, tapi juga aspal, semen, pasir, apapun.

Ulat tak bisa membenarkan tindakan-tindakannya. Manusia tidak. Manusia sibuk mencari-cari pembenaran atas kerakusannya, terutama kerakusan kekuasaan.

Saya ungkapkan yang begitu itu, supaya diskusi jadi marak dan gayeng, bukannya demi sekadar mengkritik pemerintah atau para politisi, sebab jangan-jangan kita-kita malah ulat-ulat bulunya.

Mungkin kita suka rakus demikian rupa, melampaui batas, dan berencana suatu saat akabn bertobat, tapi tak tobat-tobat juga. Kalaupun bertobat, hanya formalitas dan artifisial, dalam arti akan segera mengulanginya lagi suatu saat nanti.

Betapa banyak perlambang yang hadir di dunia ini. Manusia sendiri, sejak zaman purba, butuh perlambang dan mitos-mitos. Tapi, kemudian datang ilmu pengetahuan yang lebih bertumpu pada tradisi ilmiah dan rasionalitas.

Supaya tulisan ini tidak menyesatkan, baiklah saya kutipkan penjelasan ilmiah seorang pakar dari UGM, “Perubahan iklim terutama temperatur lingkungan ikut mempengaruhi populasi ulat bulu, karena temperatur yang meningkat dapat mempercepat siklus hidup ulat itu. Meningkatnya populasi ulat bulu juga disebabkan semakin berkurangnya musuh alami, seperti burung, parasitoid, dan predator lain.

Terdapat dua spesies ulat bulu yang menyerang daun mangga di Probolinggo, yakni Arctornis sp dan Lymantria Atemeles Collenette. Ulat bulu itu bersifat nokturnal, aktif pada malam hari. Tidak mengherankan jika pada malam sering terdengar seperti suara hujan, padahal saat itu sesungguhnya ulat bulu sedang memakan daun mangga.

Oleh karena itu, harus ada langkah untuk segera mengendalikan membludaknya populasi ulat. Terlebih kemampuan produksi telur ulat betina mencapai 70-300 butir per ulat.

Jadi, urusan kita bertambah lagi hari-hari ini; menghadapi ulat-ulat bulu itu. O, kalau saja novelis John Steinbeck mencerap fenomena perulat-buluan ini, mungkin ia tidak akan menulis Of Mice and Men (1937), tetapi Of Ulat Bulu and Man.

M Alfan Alfian, Dosen Pascasarjana Ilmu Politik, Universitas Nasional, Jakarta.
Sumber : Antaranews

  • Penulis: Dahlan Batubara (Redaksi)

Rekomendasi Untuk Anda

  • KPU Seharusnya Membatalkan Penetapan Ali makmur Nasution

    KPU Seharusnya Membatalkan Penetapan Ali makmur Nasution

    • calendar_month Rabu, 25 Jun 2014
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    foto: As Imran Khatamy Daulay SH PANYABUNGAN (Mandailing Online)- KPU Mandailing Natal (Madina) harusnya segera membatalkan penetapan Ir.Ali Makmur Nasution sebagai calon terpilih anggota DPRD Madina dikarenakan keputusan KPU batal demi hukum sesuai dengan pasal 220 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012 dan pasal 53 ayat (1) Peraturan KPU Nomor 29 Tahun 2013. Itu […]

  • Maksimalkan Pelayanan, RSUD Panyabungan Tambah 2 Unit Ambulans

    Maksimalkan Pelayanan, RSUD Panyabungan Tambah 2 Unit Ambulans

    • calendar_month Senin, 20 Nov 2023
    • account_circle Muhammad Hanapi
    • 0Komentar

    PUNYABUNGAN (Mandailing Online) – memberi rasa aman bagi pasien khusus nya evakuasi medik yang merupakan bagian dari pelayanan kesehatan dan sistem penanggulangan gawat darurat terpadu, BLU RSUD Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal ( Madina ) menambah 2 unit ambulans. Pertambahan ambulan itu pun diserahkan langsung oleh Bupati Madina H.M.Jakfar Sukhari Nasution secara simbolis kepada Direktur RSUD […]

  • Pj Bupati Madina akan Panggil PT GLP

    Pj Bupati Madina akan Panggil PT GLP

    • calendar_month Sabtu, 30 Okt 2010
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Panyabungan. Pj Bupati Mandailing Mandailing Natal (Madina) Aspan Sofyan akan memanggil PT Gruti Lestari Pratama (GLP) terkait belum jelasnya kebun plasma terhadap masyarakat. Demikian disampaikan Kabag Humas Taufik Lubis kepada MedanBisnis, Rabu (27/10), di Panyabungan. Menurut Taufik, persoalan plasma merupakan hal yang wajib bagi setiap perusaan perkebunan yang diperuntukkan untuk mesyarakat sekitar. Apalagi, perusahaan itu […]

  • Pemkab Kurang Berani Berinvestasi Di Sektor Perkebunan

    Pemkab Kurang Berani Berinvestasi Di Sektor Perkebunan

    • calendar_month Senin, 14 Jan 2013
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 1Komentar

    PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Pemkab Mandailing Natal (Madina) dinilai kurang berani membuka perkebunan milik pemkab. Padahal potensi perkebunan sangat hebat meningkatkan pendapatan daerah menuju otonomi daerah yang lebih mandiri. “Fakta yang ada ternyata sampai sekarang Pemkab Madina belum pernah mengalokasikan anggaran belanja-nya untuk belanja modal secara serius, terencana dan terukur untuk investasi di bidang perkebunan,” […]

  • Seni Etnik Mandailing Juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024

    Seni Etnik Mandailing Juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    MEDAN (Mandailing Online) – Kolaborasi Gordang Sambilan, Gondang dan Tor-tor Mandailing meraih juara I di Culture Fest of North Sumatra 2024. Culture Fest of North Sumatra 2024 diselenggarakan Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara tanggal 6 hingga 7 Mei 2024 di halaman UPT Musium Negeri Sumut, Medan. Grup yang menyabet juara I […]

  • Misteri dan Sejarah Goa Boralla di Hutapungkut, Kotanopan-Madina

    Misteri dan Sejarah Goa Boralla di Hutapungkut, Kotanopan-Madina

    • calendar_month Jumat, 8 Jul 2011
    • account_circle Dahlan Batubara (Redaksi)
    • 0Komentar

    Mendengar nama desa Hutapungkut, kita akan teringat dengan Almarhum Jenderal Besar Abdul Haris Nasution. Betapa tidak, desa yang hampir berpenduduk 2500 jiwa ini adalah tempat kelahiran beliau. Namun siapa sangka, selain desa ini tempat kelahiran putra terbaik bangsa juga desa ini menyimpan Goa yang mempunyai nilai historis bagi perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Goa ini disebut […]

expand_less